"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Dua di Ujung Semester
Hari senin pagi adalah hari selalu punya caranya sendiri untuk dibenci. Dan sialnya hari ini, Asyara harus kembali bertemu dengan Aksa untuk melakukan bimbingan skripsi setelah jam makan siang.
Ketiganya tengah berkumpul di kantin, Asyara duduk seperti biasa, diapit oleh Celine dan Rayna. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan lemas, untung saja hari ini Asyara memakai make up meski tipis, sehingga membuat wajahnya tidak terlalu pucat.
Sebabnya? Sejak dua hari setelah mereka menginap di apartemen Asyara, mual yang dialami Asyara nyatanya tidak hilang. Ketika fajar mulai menyingsing perut Asyara pasti mulai bergejolak seperti diaduk-aduk. Alhasil dia akan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
“Eh, ada kak Asya..” Sena tersenyum, di sebelahnya Melanie hanya diam sambil melipat tangannya di dada. “Kok keliatan pucat kak? Lemes juga keliatannya? Kenapa? Hamil yah?”
Bukan Asyara yang marah, tapi Celine. Gadis itu lebih dulu berdiri dan maju menghadapi Sena. Ia menatap tajam ke arah Sena. “Maksud lo apa ngomong gitu?!”
“Lho? Benarkan?” Sena mendekat, “Bukannya sahabat lo itu, abis itu tidur sama ayah lo sendiri?” tanya Sena berbisik lalu tersenyum miring.
Celine mengepalkan tangannya. Lalu tertawa lalu tertawa pelan. “Kenapa? Lo iri Asya dapat yang lebih baik dari pacar lo, ups… pacar hasil ngerebut maksudnya.”
Tawa kecil terdengar dari Rayna, bahkan Asyara yang masih sempat tertawa di tengah dirinya yang masih lemas. Rayna yang tak tahan juga melihat Sena akhirnya berdiri dan ikut melawan.
“Lo panas ya, kalau nggak ngerusuhin Asya?” skak Rayna, “Raka udah jadi milik lo, apalagi sih yang lo mau? Masa pak Aksa mau lo rebut juga?”
“Emangnya dia mau sama lo?” tanya Rayna berbisik pelan disertai seringaian mengejek ke arah Sena.
“Bangsat!” Sena mengepalkan tangannya, belum sempat ia membalas, Melanie sudah lebih dulu menahan Sena. “Jangan tahan gue Mel!”
Melanie menghela nafas. Ia menatap Celine dan Rayna, lalu Asyara dengan penuh arti. Dipegangnya tangan Sena dan mengajak gadis itu mundur sedikit. “Gue minta maaf atas nama Sena kak, permisi.”
“Mel!” pekik Sena.
Melanie tak mendengarkan, Ia menarik Sena menjauh dari meja Asyara. “Lo cuma buang-buang waktu Sen! Gue punya rencana yang lebih bagus buat mereka.”
<<<<~~~~>>>>
“Pucat sekali, kamu sakit?” tanya Aksa lembut.
Asyara mendongak. Sejak insiden makan sate itu, rasa takut Asyara semakin menguap. Sama sekali hilang. Ia bahkan dengan santai menatap Aksa dengan sinis. Merasa kesal dengan pria yang duduk di seberang meja itu.
“Nggak!” ketus Asyara.
Aksa menggeleng kecil. “Ya sudah kalau tidak.”
Asyara merotasikan matanya malas. Menghela nafas kasar, “Stop bahas yang lain pak. Lebih baik bapak periksa skripsi saya!”
“Ya inikan lagi saya periksa Asyara,” balas Aksa, “Bab satu dan bab dua kamu sudah benar, saya acc, sedangkan bab tiga kamu…”
Asyara menatap Aksa dengan penasaran. Rasa percaya dirinya seketika menguap. Ia yakin ia sudah mengerjakan revisi dengan benar, namun sekarang ia kembali takut karena melihat Aksa yang menatapnya dengan tatapan datar–khas pria itu.
“Kenapa sama bab tiga saya pak?”
“Perlu direvisi sedikit lagi,” jawab Aksa santai. Ia menyerahkan lembaran skripsi pada Asyara. Menunjukkan bagian yang sudah ia tandai dengan tinta merah. “Bagian ini, dan untuk minggu depan, tidak usah lagi membawa lembaran seperti ini. kirim saja filenya sama saya.”
Asyara berdiri membereskan barang-barangnya. Lalu menatap Aksa sinis sebelum pergi. “Nyebelin banget sih pak! Kenapa baru bilang sekarang?! Kan sayang uang saya!”
“Ya makanya terima pertanggungjawaban saya, biar kamu yang pegang kartu saya,” balas Aksa dengan senyumnya, “Saya kasih akses penuh, tanpa limit. Kamu bisa pakai sepuasnya.”
“Nyebelin!” Asyara melangkah keluar meninggalkan tawa puas Aksa yang berhasil menggoda gadis itu.
Di luar ruangan, Asyara melangkah cepat di koridor. Berulang kali ia berdecak kesal karena kelakuan Aksa yang semakin berani menggodanya. Bahkan kadang terang-terangan.
Dengan wajah cemberut, Asyara melangkah ke parkiran. Ia berdiri dengan wajah menekuk tepat di depan pintu mobil. Tangannya membuka pintu dengan sedikit kasar, membuat Rayna dan Celine yang berada di dalam mengelus dada.
Begitu Asyara masuk dan duduk di kursi belakang, Celine langsung menjalankan mobilnya. Sesekali ia melirik Asyara dari spion. “Lo kenapa lagi dah? Siapa yang buat lo kesel?”
“Bokap lo!” jawab Asyara ketus.
Celine langsung diam. Tak berani bertanya lagi.
Baru setengah jalan, Asyara kembali menunjukkan gelagat aneh. Memegang perut, lalu menutup mulut. Ia sempat menepuk bahu Rayna membuat gadis polos itu menoleh dan langsung bereaksi panik.
“Asya! Lo kenapa?! Mual lagi?!”
Asyara mengangguk. Wajahnya pucat lagi.
Celine yang elihat itu langsung menghentikan mobilnya. Asyara langsung turun, lalu menuju tepian yang untungnya adalah selokan besar. Alhasil ia langsung memuntahkan semua isi perutnya.
Hueek…hueek..
Celine dan Rayna langsung mengambil alih. Celine memijat tengkuk Asyara, dan Rayna yang memegangi rambut panjang Asyara agar tidak mengenai muntahan gadis itu. Setelah reda, Asyara kembali dipapah ke dalam mobil. Celine mengambil minyak angin dan Rayna yang mengusap tengkuk serta perut Asyara dengan lembut.
“Kita ke rumah sakit aja ya?” tawar Celine, “Mual lo nggak reda-reda lho,
“Nggak mau!” tolak Asyara keras, “Gue nggak papa, cuma mual biasa.”
“Apaan biasa sampe tiga hari berturut-turut Sya,” tambah Rayna, “Pokoknya hari ini lo harus nurut! Nggak boleh nolak!”
Alhasil karena paksaan, Asyara menurut di bawa ke rumah sakit. Mau menolak pun percuma, Bahkan Rayna sampai pindah ke kursi belakang demi memijat kening Asyara yang terasa berdenyut.
“Gue telfon papa ya Sya,” ucap Celine.
Detik itu juga tubuh Asyara langsung dalam posisi tegak dengan mata membelalak. “Nggak ya! Mau ngapain telfon bokap lo?!”
“Lho, ya… buat nemenin lo. Jadi wali lo, maksudnya,” jawab Celine polos.
“Celine!” gemas Asyara, “Ya nggak perlu sampe telfon pak Aksa! Gue nggak mau!”
“Harus mau!” celetuk Rayna, “Udah Sya, lo diem aja nurut. Jangan banyak protes!”
Asyara berdecak. Ia memalingkan wajahnya, memilih bersandar pada kaca jendela daripada ke bahu rayna. Pertanda gadis itu tengah merajuk. Ia bahkan menepis tangan Rayna saat bahunya disentuh.
Benar saja, sesampainya di rumah sakit, Aksa sudah sampai lebih dulu. Pria itu menunggu di samping mobilnya sambil bersandar. Begitu mobil Celine sampai, Aksa langsung berjalan ke arah pintu dimana Asyara berada.
“Jangan pegang-pegang!” ketus Asyara. “Saya bisa jalan sendiri!”
Namun seperti biasa, takdir seolah tak membiarkan Asyara senang. Tubuhnya hapir saja ambruk jika Aksa tak menahan pinggangnya.
“Lihat? Bisa sendiri bagaimana? Jalan saja kamu mau jatuh,” tegur Aksa dengan nada lembut. Ia menyelipkan tangannya di antara tengkuk dan lutut Asyara, dengan santai mengangkat gadis itu membuat Asyara memekiki terkejut.
“Pak!”
“Diam.”
Rayna dan Celine yang berjalan di belakang mereka saling menyenggol lengan dan tertawa pelan.
Sesampainya di ruangan, Asyara diletakkan di atas bed. Seorang dokter wanita—Annisa namanya, terlihat sudah berumur dengan beberapa helai rambut nya yang sudah memutih. Seorang dokter yang memang direkrut oleh keluarga Erlangga untuk menjadi dokter pribadi keluarga mereka—ia langsung berdiri dan menghampiri mereka.
“Periksa dia.” titah Aksa.
“Baik pak, permisi nona.”
Pemeriksaan pun dilakukan. Dokter Annisa mulai menanyakan keluhan sambil memeriksa Asyara dengan stetoskopnya. “Jadi mualnya sudah terjadi sejak tiga hari berturut-turut? Lalu, maaf sebelumnya, anda sudah menstruasi bulan ini?”
Asyara terdiam. Celine dan Rayna saling menatap satu sama lain. Aksa? Ikut melihat Asyara, menunggu jawaban gadis itu.
Dokter Annisa tersenyum. "Ini masih dugaan saya, sebentar ya.." Dokter Annisa melangkah ke mejanya, ia membuka laci dan mengambil sesuatu lalu memberikan pada Asyara. "Coba yuk, saya beritahu caranya."
Asyara menggigit bibirnya cemas. Benda berbentuk persegi panjang itu terasa begitu menakutkan baginya. "Harus dok?"
Dokter Annisa mengangguk. "Hanya memastikan. Ayo nona Asyara..."
Mau tak mau Asyara bangkit, ia menerima testpack itu dengan tangan gemetar. Di depan kamar mandi, Dokter annisa memberi tau cara pemakaiannya. Setelahnya, Asyara pun masuk ke dalam kamar mandi.
Lima menit kemudian... Asyara keluar, tanpa mau melihat, ia langsung memberikan benda itu ke dokter Annisa.
"Oke, kita tunggu sepuluh sampai lima belas menit ya.." kata Dokter Annisa.
dalam waktu sepuluh sama lima belas menit itu, Asyara benar-benar tak bisa tenang. Sebentar ia mondar-mandir, lalu duduk, nanti berdiri lagi.
"Asyara, nanti kamu pusing," tegur Aksa lembut.
Rayna dan Celine cekikikan berdua. Yang saat itu langsung mendapat tatapan tajam Asyara.
Asyara mendengus, ia kembali duduk di sofa. "Demi tuhan, jangan sampe gue beneran hamil. pleaseee!"
Sepuluh menit kemudian...
Dokter Annisa menatap semua orang, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
"Negatif kan dok?!" desak Asyara, "Bilang Iya dok!"
"Positif kan dok?!" tanya Celine tak mau kalah.
Sementara Aksa hanya diam, namun matanya memancarkan rasa penasaran yang besar.
Dokter Annisa mengangkat tespack itu ke hadapan merek. "Positif, selamat nona Asyara. Pemeriksaan lebih lanjut, silahkan ke poli kandungan."
"Nggaaaaaak!"
"Yeees! Punya mama baru!"
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...