Kiara Alexa seorang gadis desa sederhana berparas cantik yang di persunting oleh Galih ardiansyah anak kepala desa yang bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota. Harus berakhir dalam hitungan jam saja karena sang mempelai Pria mendadak meninggalkan pelaminan 1jam setelah ijab qobul di laksanakan tanpa memberitahu sebab dan alasan pasti membuat acara resepsi pernikahan menjadi berantakan bahkan Kiara sempat pingsan dan harus mendapatkan perawatan intensif karena tidak kunjung sadarkan diri.karena kejadian itu Kiara sempat depresi berat.
Akankah Kiara Alexa mampu bangkit dari keterpurukannya? Akankah ia bisa merasakan kebahagiaan atau sebaliknya? Dan bagaimana pertemuannya dengan seorang pemuda tampan yang lebih segalanya dari suaminya dulu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 16
Galih mendapat telpon dari mertuanya menyuruhnya datang kerumah dengan mengajak istri dan anaknya dengan alasan kangen kepada sang cucu. Tanpa ada kecurigaan sama sekali Galih mengajak keluarga kecilnya untuk berkunjung kerumah mertua yang sedikit jauh dari kediamannya.
Di sana dirinya masih di sambut dengan ramah oleh Pak Robert Papa Manda sampai makan malampun tiba. Setelah makan malam usai pak Robert mengatakan ingin berbicara secara pribadi dengan menantunya itu di ruang kerjanya. Sedangkan yang lain duduk bersantai di ruang keluarga.
Pak Robert berjalan menuju ruang kerjanya di susul Galih dari belakang. Beliau mempersilahkan Galih duduk dan menutup rapat pintu. "Ada apa Pa? "Ucapnya mendahului pria paruh baya itu berbicara.
Dengan menarik nafas panjang Pak Robert menjelaskan bahwa di kantor dirinya sempat di panggil oleh Asisten pribadi perusahaan tentang pembukuan keuangan selama dua tahun yang lalu dan tidak hadirnya Galih menantunya tanpa ada surat pemberitahuan tidak masuk kerja.
"Kemana saja kamu sampai dua hari tidak masuk kerja tanpa memberi kabar, seharusnya kamu meminta surat kuasa dari dokter bahwa kamu sedang sakit atau alasan lain" ucapnya.
Galih hanya diam karena dirinya sendiri juga bingung harus beralasan apa. Tidak mungkin ia mengatakan kalau bangun kesiangan yang ada mertuanya pasti bertanya alasannya. "Apa besok saya harus menghadap ke asisten itu? " tanya Galih mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah kita lihat besok, yang jelas kamu jangan sampai tidak masuk kerja lagi atau kamu akan kehilangan jabatanmu bahkan bisa saja kamu di PHK dari perusahaan " jawab Pak Robert. Galih hanya menganggukan kepalanya.
Sepeninggal Galih dari ruang kerjanya pak Robert terus memikirkan sesuatu agar pembukuan keuangan yang selama ini beliau handle tidak terlihat bahwa dirinya sering memanipulasi setoran. Beliau berfikir keras untuk menyelamatkan dirinya dari korupsi yang di lakukannya bertahun tahun lamanya selama menjabat. "Apa yang harus aku lakukan" gumamnya dalam hati dengan mengotak atik laptopnya.
***
Ke esokan paginya Kiara datang ke pabrik lebih awal karena dirinya mendapat jadwal piket pagi. Ia mulai memainkan alat uji lab dengan sangat lihai "baru kemaren aku mengajarimu kamu sudah menguasainya" ucap Susan dengan mengangkat kedua jempol tangannya. "Ah mbak.. Bagiku ini tidak sulit karena langsung praktek untuk menggunakannya, yang sulit memahami materi dan teori tanpa praktek" jawab Kiara membuat Susan tertawa. "Ya.. Kamu benar" sahutnya.
Dari sudut ruangan itu terlihat Leo yang sedang memperhatikan gerak gerik kedua gadis yang memakai seragam khusus QC. "Kenapa cuma dua orang dimana dia" gerutunya dan kembali lagi mengecek pekerjaannya.
Bintang memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Galih. Galih yang baru saja keluar dari mobilnya melihat mobil yang lebih mewah dari yang ia punya "Siapa pemilik mobil ini" gumanya dalam hati tanpa berkedip memperhatikan body mobil itu dan penasaran siapa pemiliknya. Bintang memperhatikan pria yang berdiri di samping kanan kendaraannya "Apa dia yang namanya Galih" gumamnya dengan menyunggingkan bibirnya.
Keluar dari mobil dengan membusungkan dadanya dan memperlihatkan sikap cuek tanpa menyapa pria yang baru saja di lewatinya.
"Sombong sekali, siapa dia? Tamu atau pegawai kantor ini kenapa aku tidak pernah melihatnya" gumam Galih dalam hati.
Di ruangan Bintang mengatakan kepada Andre untuk membantunya memata matai kinerja personalia dan tangan kananya. "Memang apa yang mereka perbuat" ucap Andre tidak mengerti. "Ceritanya panjang bang nanti aku ceritakan sepulang kerja saja kita nongkrong di kafe aku yang traktir" sahut Bintang mendapat anggukan dari Andre.
Haikal yang datang ke kantor lebih awal ingin membuka ruang kerjanya tetapi ruangan itu terkunci. "Sial, siapa yang berani mengunci ruang kerjaku" gerutunya dengan mondar mandir di depan pintu. Melihat meja rekan kerjanya belum ada yang datang membuatnya semakin naik darah menganggap bahwa itu adalah ulah teman kerja yang tidak menyukainya. Ia menghubungi sekuriti kantor untuk menanyakan kunci serep ruangannya dengan sambungan telpon yang berada di atas meja administrasi.
Setelah melakukan panggilan itu terdengar bunyi lift tanda ada seseorang yang datang. Ia memperhatikan pintu lift hingga terbuka melihat Galih temannya datang ia langsung menghampirinya. "Haikal ada apa? " tanya Galih yang melihat ekspresi temannya yang tidak bersahabat. "Ruangan kita terkunci" ucapnya dengan nada keras. "Apa! " sahut Galih kaget.
"Pasti ada yang sengaja menguncinnya! "Siapa yang berani mengusikku"ujar Haikal dengan amarahnya. Galih memperhatikan meja di sekelilingnya belum ada satupun karyawan yang datang. Ia sempat berfikir kalau dirinya terlalu pagi sampai di kantor melihat jam di dinding ruangan itu menunjukkan pukul delapan pas "Tumben mereka belum datang" gumamnya dalam hati dengan melirik pria di sampingnya.
"Apa kau juga merasa aneh? Tanya Haikal mendapat anggukan langsung dari Galih.
Sepuluh menit kemudian datanglah sekuriti kantor dengan membawa segebok kunci cadangan untuk hal darurat. Sekuriti itu mencoba satu persatu kunci tersebut setelah lama mencoba akhirnya pintu itu dapat terbuka dan tercengang melihat ruangan kosong mlompong tanpa meja ataupun hiasan dinding yang biasanya terpajang di sana.
"Apa apaan ini! " ucap Galih dengan mengeraskan suaranya.
Haikal mencengkram kerah baju sekuriti dan menanyakan keberadaan semua bekakas kerjanya dengan membentak dan mendorongnya dengan kasar sampai sekuriti tersebut tersungkur ke lantai. "Ma'af pak saya tidak tahu apa apa" ucap sekuriti itu dengan mengatupkan kedua tangannya memohon ampun. "Kau tidak berguna" sahut Haikal yang ingin memukul sekuriti itu tetapi di halangi oleh Galih.
"Haikal cukup, jangan gegabah" teriak Galih dan menyuruh sekuriti untuk segera pergi dari hadapannya.
Di lantai paling atas Rey Bintang dan Luna memperhatikan kedua pria arogan itu dengan sambungan Cctv kantor. "Lihatlah Rey mereka sangat kasar sekali, tidak pantas menjadi seorang atasan kamu harus segera mencopot jabatan itu atau memutasinya ke cabang lain" ucap Luna dengan terus memperhatikan layar laptopnya yang tersambung dengan Cctv lantai dua.
"Jangan dulu kak Rey, biarkan dulu mereka menikmati ruangan barunya yang hanya ada lemari berkas sebagai penyekat antara meja karyawan lain dan tidak ada fasilitas mewah lainnya, aku ingin lihat seberapa betah mereka berada di tempat itu" jawab Bintang.
Luna mengangguk setuju dan asisten Rey memberi keleluasaan sepenuhnya pada tuan mudanya "Atur saja sesukamu" ucapnya.
"Aku akan membuat mereka tidak betah berada di kantor ini sampai mereka mengundurkan diri sendiri tanpa susah susah memecatnya" jawab Bintang mantap.
"Apa kau yakin" sahut Rey.
"Emm.. Entahlah! Jawab Bintang cengar cengir dengan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal membuat sekertaris Luna tertawa.
"Oh.. Adik kecilku kau lugu sekali" ucap Luna dengan tawanya.
"Aku sudah besar kak! "Sahut Bintang tidak terima dirinya masih di anggap anak anak.
"Bagiku kau masih adik kecilku yang dulu sering aku pangku di sini dengan bermain game "ucap Luna dengan menepuk pahanya.
Bintang mengingat masa kecilnya yang sering di ajak Papanya ke kantor dan sering mengganggu sekertaris Papanya itu sampai menangis. "Yaa.. aku masih ingat sekali waktu ujung rok mini kakak aku tancapkan ke paku kursi yang sedikit menonjol. Dan di saat kakak berdiri rok itu langsung sobek membuat kakak terduduk lagi dan menangis" ucap Bintang usil membuat sekertaris Luna tertawa dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa malu karena ada asisten Rey di depannya.
***
semangat
Pak Mahendra dia Putrimu pak..