Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELARIAN

Malam itu, langit Amsterdam tampak menggantung rendah, memantulkan bias cahaya lampu kota yang basah oleh sisa gerimis. Di balik jendela kaca setinggi empat meter di lantai paling atas gedung pencakar langit Thorne Group, Victor berdiri tegak dengan postur tubuh yang mendominasi ruangan. Kemeja putih kerjanya sedikit terbuka di bagian atas, menampakkan leher jenjang dengan kulit putih bersih serta otot dada bidang yang tercetak jelas berkat potongan jas mahalnya yang kini tersampir di sandaran kursi kerja. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, kesempurnaan seakan melekat pada dirinya: rahang tegas, hidung mancung terpahat sempurna, dan tinggi badan yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.

Namun, di balik aura dominan dan kesuksesan luar biasa yang membuatnya disegani di seluruh penjuru kota, malam ini Victor merasa seperti seorang tahanan di istananya sendiri.

Pikiran pria itu melayang kembali pada makan malam keluarga dua jam lalu—sebuah agenda rutin yang berubah menjadi medan penyiksaan psikologis bagi Victor. Nyonya Valen, maminya tersayang, sekali lagi menunjukkan ambisi terbesarnya: menikahkan putra tunggalnya. Valen tidak henti-hentinya mendesak Victor untuk segera melangkah ke jenjang serius, membawa serta daftar panjang nama wanita dari kalangan elite sosial Eropa. Puncaknya adalah perjodohan paksa dengan Annelise, seorang wanita berdarah Belanda berambut pirang, berkulit putih pucat bak porselen, berparas cantik, dan memiliki tutur kata yang sangat lembut serta feminim.

Victor mendengus pelan, mengingat bagaimana ia harus duduk berjam-jam di sebuah restoran fine dining bintang lima, berpura-pura tertarik mendengarkan cerita Annelise tentang galeri seni dan koleksi brand mewah wanita itu. Semuanya terasa hambar. Annelise memang sempurna di atas kertas—elegan, berasal dari keluarga terpandang, dan sangat memuja Victor. Tapi bagi Victor, kesempurnaan itu justru terasa seperti sebuah jebakan monoton. Tidak ada percikan gairah, tidak ada tantangan, dan yang paling penting: hatinya sama sekali tidak bergeming.

"Sialan," gumam Victor pelan dengan suara bariton yang terdengar berat di ruangan kerja yang sunyi itu.

Frustasi menghantam dadanya dengan telak. Selama ini, hidup Victor berjalan di atas rel yang ia kendalikan sendiri. Ia membangun kerajaan bisnisnya dari bawah hingga menjadi salah satu konglomerat paling berpengaruh di Amsterdam. Tapi soal urusan pendamping hidup, maminya bertindak seolah-olah hidup Victor adalah proyek korporasi yang harus segera ditenggat. Tekanan itu membuatnya merasa muak. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya di samping wanita yang dipilihkan hanya karena status sosial dan garis keturunan. Ia menginginkan sesuatu yang lebih liar, sesuatu yang bisa meredakan kepenatan luar biasa di kepalanya malam ini.

Victor melirik jam tangan mewahnya yang melingkar pas di pergelangan tangan kokohnya. Pukul sepuluh malam.

Keputusan itu diambilnya dalam hitungan detik. Tanpa memanggil asisten pribadinya, Victor meraih jas hitam berbalut merek desainer ternama, menyambar kunci mobil sport-nya di atas meja marmer, dan melangkah keluar dari ruangan kerjanya dengan langkah lebar penuh karisma. Udara dingin malam Amsterdam menyambutnya begitu ia keluar dari lift privat langsung menuju basement parkiran khusus. Di dalam kabin mobil mewahnya yang berbau kulit asli dan parfum maskulin kelas atas, Victor menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan kota yang mulai lengang menuju satu tempat yang ia tahu bisa memberinya ketenangan sementara dari kebisingan ekspektasi keluarganya.

Tujuannya adalah The Velvet Room, sebuah klub malam paling eksklusif dan tertutup di pusat kota Amsterdam. Tempat ini dikenal bukan sembarang klub; hanya para konglomerat, sosialita papan atas, dan orang-orang berpengaruh yang memiliki akses ke sana. Penjagaannya sangat ketat, suasananya remang-remang dengan dominasi interior velvet merah tua, alunan musik deep house yang menenangkan saraf, serta aroma parfum mahal yang berpadu dengan asap cerutu kelas berat.

Begitu mobilnya berhenti di depan pintu masuk, seorang valet parking langsung sigap membukakan pintu. Victor turun dengan postur tubuh yang mencuri perhatian seketika. Para penjaga pintu yang berdiri tegap langsung membungkuk hormat begitu mengenali wajah sang konglomerat muda yang sering menghabiskan malam di area VIP privat.

"Selamat malam, Tuan Thorne. Meja utama Anda sudah disiapkan di area mezzanine," sambut sang manajer lantai dengan senyum ramah penuh antisipasi.

Victor hanya mengangguk singkat, ekspresinya dingin tanpa senyum. Ia berjalan masuk, membiarkan tubuh tingginya menembus keremangan lampu klub yang berdengung lembut. Bass musik berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya yang masih memikul sisa-sisa emosi akibat tekanan sang mami. Ia memilih duduk di sofa sudut VIP yang menghadap langsung ke lantai dansa di bawah sana, tempat di mana orang-orang berdansa melepaskan penat duniawi mereka.

Seorang pelayan wanita berpakaian rapi segera menghampiri, membawakan sebotol wiski single malt berusia puluhan tahun beserta gelas kristal. Victor menuangkan cairan berwarna amber itu hingga hampir penuh, lalu meneguknya dalam sekali tenggak. Sensasi terbakar menjalari kerongkongannya, namun itu justru yang ia cari—rasa panas yang mampu meredam kekalutan di kepalanya.

"Kalian pikir hidupku adalah boneka yang bisa diatur sesuka hati," desis Victor pelan pada dirinya sendiri, menuangkan gelas kedua sambil menatap pantulan cairan di dalam gelas dengan tatapan tajam.

Di dalam kepalanya, bayangan wajah Annelise yang terlalu manis dan penurut berkelebat, bercampur dengan omelan Nyonya Valen yang terus mendesaknya menikah sebelum usia kepala tiga. Rasanya menyesakkan. Victor adalah seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas segalanya, namun masalah asmara justru menjadi satu-satunya hal yang terasa dipaksakan ke dalam hidupnya. Ia benci diatur. Ia benci perasaan terjebak dalam ekspektasi keluarga besar Thorne.

Wiski kedua kembali tandas. Alkohol mulai bekerja dengan baik, menghangatkan aliran darahnya dan membuat rahangnya yang tadinya kaku sedikit mengendur. Namun, rasa frustrasi itu tidak lantas hilang; ia justru bermutasi menjadi ketidakpedulian yang pekat. Victor menyandarkan punggungnya yang bidang ke sofa beludru merah, melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan klub yang semakin malam semakin dipadati oleh pengunjung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!