Indonesia
NovelToon NovelToon
Lenka Zero

Lenka Zero

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Action / Fantasi / Supernatural / Barat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: SAEFUL ADAM

Dalam perang dunia ke-3, semua penyihir dan esper di dunia di kerahkan oleh masing-masing negara. Seorang pemuda yang awalnya hanya merupakan seorang korban penculikan dan dijadikan tawanan perang, pada akhirnya menjadi seseorang yang akhirnya menghentikan perang tersebut.

Dia memiliki kekuatan fisik, dan teknik bertarung yang tinggi. Dia juga memiliki kemampuan untuk melenyapkan segala kekuatan-kekuatan abnormal yang biasanya hanya ada di film-film atau dunia fantasy. Dengan kekuatan dan keahlian bertempurnya, dia menghentikan peperangan tersebut seorang diri.

Setelah perang usai, beberapa tahunpun telah berlalu dan pemuda itu memulai kehidupan normal yang dia inginkan. Namun, suatu hari dia bersama teman-temannya dipanggil ke dunia lain. Dunia yang dipenuhi dengan monster, sihir, dan juga keberadaan-keberadaan makhluk dunia fantasy lainnya.

Disinilah awal dari legenda seorang pemuda yang akan menjadi Raja dari para Raja, Raja dari para Dewa dan Raja bagi seluruh duniapun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAEFUL ADAM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 – Black Bird Thunder

Setelah meninggalkan Istana, aku memulai petualanganku di dunia lain.

Tujuanku saat ini adalah pergi ke kota terdekat, yaitu Kota Ruins. Raja Class telah memberitahuku bahwa kota ini adalah kota yang dipenuhi dengan ancaman serangan monster paling tinggi di kerajaan ini, karena letaknya bersebelahan dengan hutan Ruins.

Hutan Ruins merupakan salah satu hutan terbesar dan terluas didunia dan juga merupakan salah satu lokasi yang paling berbahaya dan paling ditakuti di dunia. Karena terdapat banyak monster Rank SS keatas jika kau masuk terlalu dalam ke hutan itu.

Ada juga yang mengatakan kalau dikedalaman hutan yang terdalam, terdapat tempat tinggal dari seekor monster yang kekuatannya setara dengan "Sacred Magical Beast" yang merupakan sekumpulan monster tingkat bencana besar dan memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan negara-negara besar dengan mudah.

Namun, monster itu belum bisa dipastikan keberadaannya dan monster Rank SS keatas hanya akan muncul setelah kau masuk ke hutan terlalu dalam. Diluar itu, hanya akan ada monster dari Rank E sampai Rank S yang masih dapat diatasi oleh para petualang.

Meskipun begitu, Raja Class memperingatkan bahwa sebelum aku memiliki pengetahuan yang cukup, aku tidak boleh memasuki hutan itu, aku hanya harus tetap fokus mengikuti arah jalan di peta, menuju Kota Ruins saja, katanya.

"Yah, aku juga telah membaca buku mengenai Hutan Ruins, jadi aku sudah tahu meskipun dia tidak memberitahukannya. Tapi kenapa Raja sangat khawatir jika aku memasuki hutan itu? Dia kan sudah tahu kekuatanku. Aku yakin aku akan baik-baik saja jika bertemu monster sekuat apapun!"

Lenka berpikir seperti itu. Namun, dia tidak tahu kalau yang dikhawatirkan oleh Raja bukanlah para monster. Sebenarnya, Raja telah mengetahui suatu fakta yang mengejutkan tentang Lenka dari para pahlawan, sehingga dia sangat khawatir.

Karena Lenka menghargai kekhawatiran Raja, dia tidak memaksakan rasa penasarannya untuk memasuki hutan Ruins. Dia terus berjalan lurus mengikuti jalan, sesuai dengan arah peta yang diberikan oleh Raja. Namun kenyataannya, dia masih belum bisa membaca peta.

“Hmm, seperti yang kuduga. Seharusnya aku belajar membaca peta sebelumnya, sekarang aku jadi kesulitan, sial!"

Setidaknya, Raja memberitahuku kalau aku hanya perlu lurus terus mengikuti garis putih ini untuk sampai ke Kota Ruins.

Aku mengikuti petunjuk yang dikatakan Raja karena hanya itu yang bisa kulakukan sekarang ini.

Setelah berjam-jam berjalan, hari sudah mulai menjelang malam, aku sudah sampai di samping hutan Ruins.

“Ooh! Jadi, ini Hutan Ruins itu! Pohon-pohonnya besar sekali, seperti di film Jur*ss*c P*rk saja!” Aku membayangkan sebuah hutan raksasa yang dipenuhi dengan Dinosaurus didalamnya.

“Setelah melihatnya, aku jadi ingin memasukinya. Tapi … Raja sudah memperingatkanku untuk tidak melakukannya, sial! … hari juga sudah menjelang malam, apa sebaiknya aku istirahat dulu disini?” Kataku sambil mendekati pohon besar yang menjulang tinggi di luar Hutan Ruins.

Karena hari yang sudah mulai menjelang malam, aku berniat untuk beristirahat. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan seorang wanita dari dalam hutan ….

“Kyaaaaaaaaaa!!!”

“!! …”

Seluruh indera yang kumiliki sangat tajam. Aku bisa mendengar kalau teriakan tadi berada di dalam hutan, di lokasi yang cukup jauh dari tempatku berdiri.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari dengan sangat cepat kearah suara itu berasal.

Dalam waktu kurang dari 2 detik, aku telah berlari sejauh 13 kilometer sampai pada lokasi dimana suara itu berasal. Namun, tidak ada orang disana, aku hanya bisa melihat seekor burung yang sangat besar sedang berdiri diam memperhatikanku.

“ … Hm? Besar sekali burung ini!”

Aku cukup terkejut melihat ukuran burung itu. Baru pertama kali ini, aku melihat burung yang ukurannya hampir mencapai 3 meter.

Burung itu memiliki tubuh seperti ayam dan berwarna hitam, namun kepalanya mirip seperti burung beo, paruh dan cakarnya juga sangat besar dan tajam. Dilihat saja, kau bisa merasakan burung itu adalah burung yang berbahaya.

Namun, aku tidak terlalu peduli dengan itu. Lalu dengan segera, aku kembali fokus untuk mencari orang yang berteriak sebelumnya ….

“Dimana orang yang mengeluarkan teriakan tadi, ya?”

Aku yakin, tempat ini adalah lokasi dimana suara teriakan tadi berasal. Namun, meskipun aku terus mencari, aku tidak melihat ataupun merasakan sedikitpun keberadaan manusia disekitar.

“Hrmm ~ ini aneh! Aku yakin tadi mendengar suara teriakan dengan jelas! Tapi, di sekitar sini tidak ada keberadaan manusia sama sekali.”

Burung besar yang sejak tadi memperhatikan Lenka tiba-tiba mengeluarkan suara yang mengejutkan ….

“Kyaaaaaaaaa!!!”

“… Hah?”

Aku terkejut mendengar suara burung itu. Suaranya terdengar seperti teriakan wanita yang kudengar sebelumnya. Aku langsung paham situasinya ….

“Sialan kau burung jelek! Jadi kau menipuku, ya!”

Aku menatap burung itu dengan kesal. Burung itu tertawa dengan suara aneh, menanggapi kekesalanku seolah-olah dia mengerti dengan apa yang kukatakan.

“Kyoookokokokokok!!!”

Melihat burung itu tertawa mengejek, aku menjadi naik darah. Namun, aku dapat mengendalikan emosiku dengan baik. Lalu, aku memutuskan untuk mengabaikan burung itu dan berbalik pergi meninggalkannya.

“Kyoo?”

Burung itu sadar kalau dia baru saja diabaikan, dia menjadi kesal dan menatap Lenka dengan tatapan seperti pemangsa yang melihat mangsanya. Percikan listrik berwarna kuning muncul dari tubuhnya. Lalu, dia berlari dengan sangat cepat kearah Lenka dan dalam sekejap dia sudah berada dekat di belakangnya.

Lenka menghiraukannya dan terus berjalan. Setelah Lenka berada dalam jarak serangnya, burung itu langsung menyerangnya ….

FHUSS!!

Burung itu melompat dan mengayunkan kakinya dari atas ke bawah dengan kecepatan yang tak mungkin bisa dihindari oleh manusia biasa. Dengan cakarnya, ayunan dari kaki burung itu merobek udara.

“!?”

Namun serangannya tidak mengenai Lenka. Burung itu terkejut karena dia hanya menyerang udara kosong. Burung itu yakin kalau dia telah menyerang tepat pada Lenka untuk merobeknya dari atas.

Namun serangannya tidak mengenai targetnya, burung itu tidak sadar kalau Lenka sebenarnya bergerak dengan sangat cepat untuk menghindari serangannya tadi. Dia juga tidak sadar kalau targetnya sekarang sudah berada tepat disampingnya.

“… Kyo?”

Aku menghindari serangannya dengan sangat mudah, tapi aku tidak langsung membalas serangannya. Aku hanya berdiri diam memperhatikan burung itu yang masih dalam keadaan bingung. Setelah beberapa saat, burung itu menyadari keberadaanku yang ada disamppingnya.

“!! … Kyaaaaaak?”

“Haahahahahahaha!”

Burung itu terkejut dan berteriak seperti wanita, itu lucu sehingga membuatku tertawa.

Melihatku yang tertawa dengan keras, burung itu menjadi sangat kesal dan melancarkan serangan bertubi-tubi dengan ganas.

“!! … Burung ini bisa Taekwondo?!”

Aku sedikit terkejut dengan gerakan kaki dari serangan burung itu, karena terlihat seperti gerakan beladiri. Aku jadi curiga, burung itu telah belajar Taekwondo?

Namun, meskipun begitu ….

“Kyaaaoooook!!!” Teriak burung itu dengan kesal.

Serangannya sama sekali tidak ada yang mengenaiku sekalipun. Aku terus menghindarinya dengan santai menggunakan gerakan yang minimal. Burung itu menjadi semakin marah, tubuhnya mulai mengeluarkan listrik dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Warna tubuhnya mulai berubah menjadi warna kuning sama seperti warna listrik yang dia keluarkan. Dengan perubahan itu, serangannya menjadi jauh lebih cepat dan lebih kuat.

“Hm? Sekarang kau terlihat seperti anak ayam raksasa!”

“Gyooaaaaaak!!!”

Namun, semua perubahan dan peningkatan itu sama sekali tidak berpengaruh padaku. Aku masih dapat menghindari semua serangannya dengan gerakan minimal seperti sebelumnya. Aku juga melakukannya sambil tutup mata, loh!

Burung itu mulai meragukan penglihatannya, karena dia melihat Lenka menutup mata saat menghindari semua serangannya.

“Kyo?”

Burung itu terus dan terus meningkatkan kekuatan dan kecepatan serangnya, sampai dia kehabisan tenaga dan berhenti menyerang.

“Oi! Ada apa? … Apa kau sudah selesai? Hanya itu kemampuanmu? Lemah sekali!”

“Gyooaaaaaak!!!”

Mendengarku meremehkannya, burung itu mencapai puncak amarahnya. Dia mengeluarkan seluruh kekuatannya sampai batas, tubuhnya mulai mengeluarkan asap hitam. Asap hitam itu membumbung tinggidi langit, sehingga terlihat seperti "Awan Cumulonimbus".

*T/N: Awan Cumulonimbus adalah sebuah awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya.*

Setelah beberapa saat, akhirnya asap hitam berhenti keluar dan digantikan oleh sekumpulan listrik yang keluar dan mengelilingi tubuhnya.

“… Apa yang coba dia lakukan?”

Aku penasaran dan tidak berniat untuk menghentikan ataupun mengganggu tindakan burung itu.

Listrik yang mengelilingi burung itu tiba-tiba bergerak dan terkonsentrasi di satu titik. Burung itu membuka paruhnya dan semua listrik terkonsentrasi disana hingga membentuk sebuah bola.

“Apa dia berniat untuk memakannya?”

Setelah seluruh energi listrik berkumpul di satu tempat dan membentuk sebuah bola, burung itu langsung menutup paruhnya dan mulai melakukan ancang-ancang.

“Jadi dia benar-benar memakannya!”

Tidak seperti tebakanku, meskipun burung itu terlihat seperti memakan bola energi listrik yang diciptakannya sendiri, kenyataannya tidak seperti itu.

Setelah melakukan ancang-ancang, burung itu manarik nafas dalam-dalam dari hidungnya. Lalu, dia kembali membuka mulutnya dan menyemburkan gelombang listrik raksasa ke sekumpulan asap hitam yang dia ciptakan tadi.

DARRR!!!

“Woaah! Dia bisa menyemburkan listrik seperti itu, keren sekali!

Setelah burung itu menembakkannya ke langit, energi listrik tadi bersatu dengan kumpulan asap hitam di langit dan itu menciptakan sebuah awan badai.

Melihat awan hitam dilangit yang dipenuhi dengan energi listrik, aku mulai mengerti apa tujuan dari burung itu.

“Jadi, kau mencoba untuk membuat badai petir, ya!”

Tepat setelah aku mengatakannya, burung itu tertawa seperti sedang mengejekku.

“Kyookokokokok!!!”

“Hmph!”

Aku hanya mendengus menanggapi tawa burung itu, lalu melihat kearah langit. Aku bisa mendengar awan hitam itu bergemuruh, seolah-olah menandakan badai akan segera datang.

Setelah beberapa saat, badai benar-benar datang tepat kearahku. Awan hitam dilangit mulai menghujaniku dengan sambaran petir.

DAR DAR DAR ..., !!!

10 kali, 50 kali, 100 kali, petir terus menyambar ku seolah tak akan berhenti sebelum aku menjadi abu. Anehnya, badai petir itu hanya terfokus padaku saja dan tidak menghancurkan area sekitarnya.

Setelah sambaran petir yang ke- 1000 kalinya, akhirnya badai petir itu berhenti dan asap hitam dilangit menghilang.

“….”

Burung itu mematung dengan mulutnya yang terbuka lebar. Burung itu tercengang karena melihat apa yang kulakukan terhadap badai petir tadi.

Dari awal sampai akhir, aku hanya diam ditempat dan tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membiarkan semua sambaran petir mengenaiku dan tidak melakukan penghindaran atau mengeluarkan pertahanan sama sekali.

Namun, semua sambaran petir itu sama sekali tidak memberikan sedikitpun kerusakan padaku. Jangankan luka, bahkan tidak ada sedikitpun goresan pada pakaianku.

Aku hanya tersenyum puas melihat reaksi burung itu.

“Kau pikir hal-hal seperti itu dapat melukaiku? Bahkan dalam mimpimu pun, hal itu tidak akan pernah terjadi!”

Sebenarnya, saat aku dihujani oleh badai petir, aku melapisi seluruh tubuhku dengan energi Zeros, sehingga tubuh dan pakaian yang kukenakan dapat terlindungi dari badai petir tersebut.

Sebagai hasilnya, petir-petir yang menyambar tubuhku langsung lenyap setelah mengenaiku. Karena itulah, tidak ada sedikit pun goresan pada tubuh ataupun pakaianku.

Bahkan meskipun aku tidak menggunakan energi Zeros, tubuhku tidak akan bisa terluka oleh serangan lemah itu. Namun, jika aku tidak menggunakan energi Zeros, mungkin aku akan berakhir dengan telanjang setelah mendapatkan serangan badai petir tersebut, karena seluruh pakaianku akan terbakar sampai menjadi abu.

Setelah puas melihat reaksi burung itu, aku berjalan perlahan mendekatinya.

“Untuk seekor burung, kau dapat menyerang seperti ahli Taekwondo, kau bisa menyembur seperti naga, kau juga bisa menciptakan badai petir yang sangat kuat dan mampu mengendalikannya secara sempurna hingga dapat mengkonsentrasikan semua dampak hanya padaku ....”

Lenka terus berjalan mendekatinya, tidak mengeluarkan sedikitpun niat membunuh. Namun, burung itu tetap merasakan rasa penindasan yang kuat darinya, sehingga dia terus mundur ketika Lenka mendekatinya.

“ –Tadi itu cukup menyenangkan. Itu pertama kalinya aku melihat badai petir, meskipun tidak ada angin topan dan hujan air yang deras, hanya petir saja … itu tetap keren, terima kasih!”

“…”

“Tapi, setelah berjalan seharian dan berlari hingga kesini sebelumnya, membuatku merasa lapar.”

“…”

“Aku tidak tahu berada dimana aku sekarang ini. Aku tidak bisa membaca peta, sialan! Ini semua terjadi karena kesalahanmu, padahal Raja sudah memperingatkanku untuk tidak memasuki hutan ini.”

“…”

“Haah ~ sudahlah lupakan saja! Sekarang …mari kita akhiri saja semua ini!”

Setelah mengatakan itu, akhirnya Lenka mengeluarkan niat membunuhnya ….

“!!?”

Merasakan niat membunuh Lenka, burung itu merasakan ketakutan yang luar biasa, seolah-olah dia sedang berdiri dihadapan kematian. Tubuhnya gemetaran tak terkendali, tidak lama kemudian, diapun langsung kehilangan kesadarannya dan jatuh ke tanah.

“… lemah sekali mentalnya! Padahal aku baru saja melepaskannya! sudah main pingsan saja!” Aku sedikit kecewa dengan burung itu.

Lalu karena penasaran, aku menggunakan [ Penilaian Dewa ] untuk memeriksa status burung itu.

“Penilaian Dewa!”

Race : Black Bird Thunder

Status : King of Black Bird Thunder

Level : 679

Hp : 1 / 360.990

Mp : 0 / 45.000

Strength : 35.670

Agility : 30.880

Dexterity : 31.080

Durability : 26.990

Defense : 25.772

Intelligence : 450

Luck : 55

Skill :

[ Pendorong Kecepatan ]

[ Tubuh Petir ]

[ Menirukan Suara ]

[ Sambaran Petir ]

[ Badai Petir ]

[ Awan Hitam ]

[ Perlawanan Terhadap Racun Tinggi ]

Title :

[ Peniru Suara ]

[ Burung Petir ]

[ Raja terkuat Black Bird Thunder ]

Aku tercengang setelah melihat statusnya.

“Ini bahkan jauh di atas Yoshi dan yang lainnya!”

Status yang dimiliki oleh burung itu, beberapa kali lebih besar dibandingkan dengan para pahlawan, bahkan jika mereka berada dilevel yang sama.

“Hrmm … mungkin karena dia ini monster, jadi statistiknya mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan manusia? … Hrmm~”

“Luck miliknya juga cukup besar untuk seekor monster … Hmph, ternyata dalam keberuntungan, aku bahkan dikalahkan oleh burung sialan ini!”

Aku terus memikirkan alasannya. Setelah beberapa saat, perutku mulai bergemuruh ….

“Aaah, lupakan saja! Lebih baik sekarang aku mencari makanan!”

Aku langsung melirik pada Black Bird Thunder yang tak sadarkan diri.

“… Burung ini terlihat enak!”

*****

Hari sudah sangat gelap, tidak ada sedikitpun penerangan, cahaya bulan terhalangi oleh pohon-pohon raksasa, yang terlihat hanya cahaya-cahaya dari mata para monster yang memperhatikan.

Ditambah lagi, terdengar suara lolongan-lolongan monster yang menakutkan, membuat suasana hutan terasa lebih mencekam.

Jika di Indonesia, mungkin akan ada banyak kuntilanak! ... mungkin?

Jika orang biasa, tidak mungkin bagi mereka untuk tinggal atau beristirahat ditempat semacam ini. Mereka juga tidak akan bisa melihat dengan jelas dalam malam yang gelap gulita di hutan seperti ini tanpa menggunakan sebuah alat penerangan.

Namun, aku memiliki indera penglihatan yang sangat tajam, bahkan dalam kegelapan pun aku masih bisa melihat dengan jelas.

Karena bau darah dari daging Black Bird Thunder yang telah kupotong-potong akan membuat semua monster tertarik dan berdatangan padaku, aku melakukan sebuah pencegahan.

Aku melepaskan aura keberadaanku yang selalu kutahan selama ini.

Dalam keseharianku setelah mengakhiri perang dunia di Bumi, aku selalu menekan atau menyembunyikan aura keberadaanku.

Aku melakukannya karena auraku terlalu kuat untuk orang-orang biasa, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Namun, di tempat ini hanya ada monster dan tidak ada sedikitpun keberadaan manusia selain diriku sendiri. Aku jadi bisa dengan leluasa melepaskannya.

Karena auraku, semua monster yang tadinya berniat untuk mendekat, langsung lari terbirit-birit kertika merasakannya..

Dengan itu, aku dapat beristirahat dengan tenang dan aman tanpa harus mengkhawatirkan gangguan apapun.

Setelah itu, aku memotong ranting-ranting pohon untuk dijadikan kayu bakar. Lalu mengeluarkan botol yang berisi cairan monster yang kubawa dari istana. Cairan monster itu memiliki sifat yang mirip dengan minyak tanah, yaitu mudah terbakar.

Namun, karena telah diolah dengan berbagai cara oleh para ilmuwan kerajaan, cairan ini tidak berbau dan tidak memiliki kekurangan-kekurangan yamg dimiliki minyak tanah. Cairan itu membantu memudahkanku dalam membakar ranting-ranting tersebut.

Karena masih belum tahu cara mengendalikan elemen, aku menggunakan alat sebagai perantara api. Aku menciptakan api dari korek yang kudapatkan dari Carl.

Korek itu ikut terbawa dengannya saat dipanggil kedunia ini, Carl memberikan itu padaku karena dia tidak membutuhkannya.

Aku membakar ranting-ranting tersebut dan mulai mempersiapkan bahan makanan, yaitu daging Black Bird Thunder.

“Burung ini memang seperti ayam!”

Setelah selesai membakar daging Black Bird Thunder, aku menikmati malam untuk beberapa saat sambil menikmati "Daging Ayam Bakar Spesial Tanpa Bumbu". Lalu setelah kenyang, aku pun tertidur dengan pulas dibawah pohon besar dengan akar sebagai bantalnya.

1
Usin Csk
ini cerita ya ga dilanjutin thor
hermawan zakir
seperti membaca buku filosofi
anisa fadilah
mirip adegan dengan teknik serang bola rasenggan versinya sendiri
Kenka-san
Prolognya keren Thor🐻🔥🔥🔥
Usin Csk
sudah 2thn
Adam Setiawan
terlalu banyak sudah sudut pandang jadi rada membosankan
RSL
Semoga suatu saat akan diadaptasi menjadi Anime. 👍
zerozerozero
kok g lanjut lagi sih cerita nya thor... d lama g update nih... di tunggu updatenya thor... seru abis...
Bang Aprijaya
tolong baik para penulis,,mohon bartanggung jawablah atas karyanya sendiri,,masa nda ada kejelasannya,,ataupun kelanjutannya
ɪᴍ᭄ꦿRIZAL_VAN_BRAMASTA
rambut adik kecilmu gak gosong kan
zerozerozero
g update lg thor...
ɪᴍ᭄ꦿRIZAL_VAN_BRAMASTA
hi brow apak gak berencana lagi mau update ini novel
zerozerozero
odet versi lenka..mantap thor..👍👍👍
Usin Csk
ini ga di lanjutin lagi cerita min
Dek Redi
Yyyyy
Dek Redi
Y
∅Sang Penjelajah∅
thor ni novel ngk bakal lu lanjutin atau gimana?
ryuga
semangat thor
Anty Takarendehang
o
Anty Takarendehang
oo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!