Kisah ini menceritakan tentang seorang wanita muda yang harus berjuang mengejar pendidikan dan mimpinya untuk mengubah kehidupan lamanya, lika-liku kehidupan yang keras membuatnya harus kuat dan tidak menyerah. dalam perjuangannya Sara bertemu dengan Sebastian, tuan muda yang baik hati tapi memiliki trauma yang menyiksa kehidupannya. akankah kisah cinta mereka akan berhasil dan impian mereka tercapai?
Mari kita ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon malisanovena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 17
Semanjak kejadian itu Sebastian jarang terlihat di kampus dan jarang menghubungi Sara.
"Hai, kenapa melamun aja dari tadi, nih cobain minuman yang aku buat." ucap Ben
"Thank you.., wahh enak nih." ucap Sara tersenyum
Ben tersenyum melihat Sara kembali ceria lagi.
"Oh iya, nanti malam kalo kamu gak capek mau temenin aku coba tempat makan baru di seberang kafe?" tanya Ben
"Hmm, boleh deh.." ucap Sara
"Ok, kalo gitu mari kita fokus bekerja ya." ucap Ben terlihat senang
Kafe hari ini cukup ramai sehingga membuat mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Saat Sara sedang sibuk membersihkan meja, tiba-tiba seseorang mendorongnya, sehingga membuat semua gelas dan piring yang ada di tangan Sara terjatuh.
"Ups, sorry.." ucap Angel sambil tertawa
Sara terlihat menahan diri karena banyak pengunjung di kafe. Ben melihat kejadian itu segera menolong Sara.
"Tanganmu terluka, lebih baik kamu ke ruang staff dulu ya, biar ini aku yang bereskan." ucap Ben
Sara pergi meninggalkan Ben membersihkan gelas-gelas yang pecah. Sara mencoba tetap tenang dan kesal.
Tok..tok..
"Sara, aku bawakan minuman." ucap Ben
"Makasih Ben." ucap Sara
"Sini, aku obati lukamu." ucap Ben lalu membersihkan luka di tangan Sara
"Ben, untuk gelas-gelas yang pecah gimana?" tanya Sara cemas
"Udah kamu tenang aja. Nanti aku bantu jelasin ke pak Jim." ucap Ben lalu pamit untuk kembali bekerja.
Sara memutuskan untuk segera membantu teman-temannya di luar karena pengunjung cukup ramai. Dan disana Angel dan teman-temannya sedang asik mengobrol dan melihat ke arah Sara lalu tersenyum sinis. Sara tidak menghiraukan sikap Angel dan kembali membantu Ben dan Edwin.
Tok..tok..
Seseorang mengetuk meja kasir dan ternyata adalah Angel.
"Saya pesan menu yang paling enak disini, ada apa aja menunya?" tanya Angel terlihat dengan wajah angkuhnya
"Untuk minumannya ada manggo star, dan untuk menu makanannya roti kukus srikaya dan.." penjelasan Sara terhentikan karena Angel pergi begitu saja lalu berbalik ke arah Sara dan mulai bertingkah.
"Kayanya kamu amatir ya. Saya minta menu favorit bukan menu baru. Dan lagi saya gak mau dilayani kamu." ucap Angel
Ben melihat Sara dengan wajah yang menahan emosi langsung menggantikan posisi kasir.
"Halo, bisa dibantu?" tanya Ben
"Pesan Ice Coffee saja." ucap Angel lalu memberikan card dan pergi kembali ke mejanya.
"Sara kamu gak apa-apa?" tanya Edwin cemas
"Ng, iya gak apa-apa kok." jelas Sara sambil membantu Edwin merapikan gelas-gelas
Setelah drama yang dibuat Angel dan teman-temannya Sara terlihat sangat lelah.
"Hai, ini minumlah teh herbal." ucap Ben
"Makasih Ben." ucap Sara lalu menerima minuman buatan Ben.
"Sara, kamu gak apa-apa dengan sikap Angel tadi?" tanya Ben
"Hmm, aku ingin membalasnya, tapi karena posisiku sedang bekerja, aku harus menjaga sikap." ucap Sara
"Hmm, lain kali kalo Angel berkunjung lagi, biar aku yang di kasir." ucap Ben
"Gak apa-apa, Ben. Aku udah biasa dengan sikapnya." ucap Sara
"Oh iya, Ben. Maaf.. Kayanya aku gak bisa temenin untuk coba tempat makan beru. Aku ingin cepat istirahat." ucap Sara
"Ooh.. Gak apa-apa. bisa lain waktu kan." ucap Ben
"Lebih baik kamu pulang duluan saja, untuk sisanya biar aku dan Edwin yang membersihkan." ucap Ben
"Sekali lagi makasih Ben." ucap Sara lalu segera bersiap-siap untuk pulang.
Sara berpamitan dengan Ben dan yang lain lalu jalan pulang ke rumah untuk istirahat. Tapi sebelum sampai di rumah, Sara memutuskan untuk membeli makanan diluar karena terlalu lelah dengan kejadian di kafe. Setelah itu Sara melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.
Sesampai di rumah Sara segera membersihkan diri dan luka di tangannya. Saat Sara ingin memulai makan malam, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah. Sara memutuskan untuk melihat siapa yang datang, dan ternyata Sebastian.
"Hai.." sapa Sebastian
"Hai, ada apa Sebastian?" tanya Sara terlihat kaget
"Aku, Hmm.. Sebelumnya aku minta maaf datang tanpa memberitahu dan mengganggu malam-malam, aku ingin mengembalikan baju ini." ucap Sebastian
"Gak apa-apa kok. Hmm, udah makan malam?" tanya Sara
"Belum, mungkin nanti setelah dari sini." jelas Sebastian
"Ya sudah, ikut makan malam disini aja. Aku beli makanan agak banyak soalnya." ucap Sara
Sebastian menerima undangan Sara dan duduk bersama untuk makan malam, Sebastian dari tadi memperhatikan tangan Sara yang diperban lalu menanyakannya.
"Tangan kamu kenapa?"tanya Sebastian
"Oh ini? Gak apa-apa kok. Cuma luka kecil saat bekerja." ucap Sara
"Luka kecil tapi kok diperban, bener gak apa-apa? gak ke dokter aja?" tanya Sebastian terlihat cemas.
Sara tersenyum..
"Gak apa-apa kok. Besok juga sembuh. Ya udah, yuk kita makan, keburu dingin makanannya." ucap Sara
Sebastian hanya diam dan menatap tangan Sara yang diperban.
Mereka menyelesaikan makan malamnya dan Sebastian segera pamit untuk pulang agar tidak mengganggu Sara untuk beristirahat.
"Hmm, ada apa dengannya?? Kadang perhatian, kadang menghilang sesukanya dan sikapnya membuatku bingung!!" keluh Sara dalam hati melihat Sebastian pergi menjauh
Sara memutuskan untuk tidur dari pada memikirkan Sebastian, ditambah lagi Sara harus mengisi kekuatan untuk besok karena harus kerja.
Keesokan harinya di kafe MINE.
"Hai, udah lama sampai?" tanya Ben
"Hai, gak kok. Baru 20 menit." ucap Sara
"Oh iya, Edwin hari ini izin libur karena ada yang harus diurus, jadi hanya kita berdua. Semoga hari ini aman ya." ucap Ben
"Oh gitu, ok gak apa-apa. Pasti aman kok." ucap Sara tersenyum
Kafe MINE sudah di buka dan sudah beberapa pengujung berdatangan dan memesan minuman. Sara sibuk di kasir dan Ben membuat minuman dan menghidangkan makanan. pesanan cukup banyak tetapi mereka bisa menangani dengan cepat.
Tiba-tiba pintu kafe terbuka dan mendengar beberapa orang mengobrol dan tertawa saat masuk ke area kafe dan ternyata itu adalah gengnya Angel. Ben memberi kode ke Sara untuk bertukar posisi tetapi Sara menolak.
"Ehh, dia lagi yang tugas." ucap Angel
"Sore, mau pesan apa?" tanya Sara sopan
Angel tersenyum sini lalu berjalan ke arah Ben dan berbicara dengan suara lantang.
"Sorry, bisa gak yang melayani di tempat pemesanan kamu aja. Saya gak mau sama orang itu." ucap Angel dengan suara lantang sehingga membuat pengunjung lainnya memperhatikan ke arah Angel.
Ben segera menggantikan posisi Sara dan meminta Sara berada tempat penyediaan makanan. Ben melayani Angel dan teman-temannya. Mereka mengobrol dan suara mereka cukup lantang sehingga mengganggu pengunjung yang lain. Seorang pengunjung menyampaikan keluhannya agar Sara menegur Angel dan teman-temannya.
"Maaf mengganggu, boleh minta tolong agar suara kalian tidak terlalu keras karena ada beberapa pengunjung merasa terganggu." ucap Sara
Angel menatap dengan wajah kesal dan bangkit berdiri lalu mendorong Sara cukup keras sehingga tangan yang diperban terbentur ujung meja dan mengenai lukanya.
"Apa lo bilang??? Terganggu?? Yang terganggu lo atau pengunjung yang lain??" tanya Angel dengan suara marah
Tiba-tiba Sebastian datang dan melihat kejadian itu lalu menghampiri Sara dan membantunya berdiri.
"Jadi penyebab tanganmu terluka karena orang ini?!" tanya Sebastian sambil membantu Sara berdiri dan menatap Angel dengan wajah yang sangat marah
Angel terlihat kaget dan merasa kikuk karena tiba-tiba Sebastian datang.
"Hai Tian, kamu ngapain kesini??" tanya Angel
Sebastian tidak merespon pertanyaan Angel dan fokus hanya kepada Sara. Angel tampak kesal karena Sebastian terlalu berlebihan memperhatikan Sara.
"Tian, Sorry.. Aku tau dia kerja di tempatmu. Tapi apakah pantas kalo pemilik tempat ini memperhatikannya seperti ini? Apakah gak berlebihan???" tanya Angel
Sara mendengar ucapan Angel terlihat bingung dan mengetahui bahwa Sebastian pemilik kafe ini.
"Nona Angel, bisa ikut saya sebentar." ucap pak Jim lalu membawa Angel pergi dari kafe.
"Kamu gak apa-apa? Tanganmu berdarah lagi." ucap Sebastian
Sara menatap Sebastian dengan wajah yang penuh pertanyaan dan kesal karena Sebastian berbohong kepadanya.
Sara menarik tangannya lalu pergi meninggalkan Sebastian.