Dahulu Ayana Laura Kiehl hidup dalam gelimang harta, kini terjerumus ke titik terendah sebagai LC dan terpaksa menjual diri akibat tekanan ibu mertuanya sementara sang suami tak kunjung pulang dari luar negeri. Di tengah kehancuran harga dirinya, Ayana dipertemukan dengan Arlan, seorang CEO muda berkuasa yang menjadi pria pertama yang menjamah tubuhnya di bar tersebut. Akankah pertemuan panas ini menjadi awal penyelamatan Ayana, ataukah Arlan justru akan menyeretnya ke dalam konflik yang lebih kelam saat rahasia dan pengkhianatan mulai terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Gelap sang Pelindung
Suasana di dalam kamar kerja itu mendadak sunyi senyap. Laura hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Cengkeraman lembut Arlan di dagunya perlahan terlepas, berganti dengan gerakan jemari pria itu yang mengusap sisa air mata di pipi Laura. Tidak ada kemarahan meledak-ledak; Arlan justru kelihatan begitu tenang, seolah semua rahasia rapi yang terbongkar ini hanyalah bagian kecil dari rencana besarnya yang berjalan mulus.
"Kamu... kamu bener-bener menakutkan, Mas," bisik Laura lirih, badannya agak lemas hingga ia harus bertumpu pada pinggiran meja kerja.
Arlan tidak membantah. Ia malah berlutut di lantai marmer, memunguti satu per satu lembaran kertas dan foto yang berserakan dengan gerakan yang sangat tenang. Setelah semuanya rapi, ia menaruh kembali map cokelat itu ke dalam laci lalu menguncinya rapat-rapat.
"Aku cuma ngelakuin apa yang harusnya dilakuin dari awal, Laura. Sekarang, masuk kamar. Udah malem, kamu harus istirahat," kata Arlan sambil berdiri dan membimbing lengan Laura keluar dari ruangan itu.
Malam pun semakin larut, tapi mata Laura sama sekali tidak bisa terpejam. Di dalam kamar utama yang luas, suasana terasa begitu mencekam bagi Laura. Ia berbaring memunggungi Arlan, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pekatnya malam langit Jakarta. Pikirannya berputar-putar. Kenyataan bahwa Arlan mengontrol segala hal di hidupnya, bahkan menghancurkan mantan suaminya secara sistematis, membuat Laura mendadak merasa asing dengan pria yang tidur di sampingnya.
Gelisah, Laura terus membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan, membuat kasur king size itu berderit pelan.
"Kalau nggak bisa tidur, nggak usah maksain. Mau aku ambilin minum?"
Suara berat Arlan memecah keheningan. Ternyata pria itu juga belum tidur. Arlan mengubah posisinya menjadi telentang, menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang diganjal di bawah kepala.
Laura terdiam sejenak, lalu perlahan membalikkan badannya menghadap Arlan. Di bawah temaram lampu tidur, wajah tegas suaminya itu kelihatan sedikit lelah. Rasa penasaran dan ketakutan yang sejak tadi menyumbat dadanya akhirnya membuat Laura memberanikan diri untuk bersuara. Ada satu beban masa lalu yang tiba-tiba terasa begitu berat dan mendesak untuk ditanyakan.
"Mas..." panggil Laura pelan, suaranya agak serak.
"Hmm? Kenapa?" Arlan menoleh, menatap Laura dalam kegelapan.
Laura menggigit bibir bawahnya, meremas ujung selimut dengan gugup. "Kamu... kamu beneran tahu semuanya tentang aku, kan? Sampai detail yang paling buruk sekalipun?"
Arlan menaikkan sebelah alisnya. "Aku punya tim legal dan informan terbaik, Laura. Sebelum aku bawa kamu ke rumah ini, aku udah tahu berapa jumlah helai rambutmu kalau aku mau hitung. Emang kenapa?"
Laura menghela napas berat, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Mas, kamu... kamu nggak malu punya istri kayak aku? Maksudku... aku ini punya masa lalu yang kotor. Kamu itu pengusaha terpandang, relasi kamu orang-orang terhormat. Apa kamu nggak gengsi atau malu kalau orang-orang tahu kalau istri seorang Arlandra Devangga ini dulunya... dulunya cuma seorang LC di kelab malam?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membawa kembali rasa minder dan trauma masa lalu yang selama ini Laura kubur dalam-dalam. Ia bersiap untuk melihat perubahan ekspresi di wajah Arlan, mungkin tatapan menghakimi, atau helaan napas kecewa.
Namun, Arlan justru mengubah posisinya menjadi miring, menghadap langsung ke arah Laura. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lekat, tanpa ada kilatan jijik atau ragu sedikit pun di matanya. Pria itu mengulurkan tangannya, menarik selimut Laura agar lebih naik menutupi bahunya yang dingin.
"Ngapain malu?" jawab Arlan santai, nadanya begitu enteng seolah mereka hanya sedang membahas menu sarapan besok pagi.
Laura tersentak. "Tapi, Mas, pekerjaan kayak gitu..."
"Laura, dengerin aku," potong Arlan, suaranya mendalam dan penuh penekanan. "Aku tahu persis ceritanya. Kamu jadi LC di tempat kayak gitu bukan karena kamu mau hura-hura atau doyan dunia malam. Kamu ke sana gara-gara paksaan ibunya Bram, kan? Perempuan tua itu yang motong semua akses keuanganmu, numpuk utang atas namamu, terus nuntut kamu nyari uang instan buat nutupin gaya hidup anaknya yang gak berguna itu."
Air mata Laura menetes mendengarnya. Ia tidak menyangka Arlan akan menjabarkan rasa sakitnya dengan begitu gamblang.
"Aku tahu malam itu kamu bahkan gak sempat ngapa-ngapain selain duduk ketakutan di pojokan ruangan sambil megangin tas," lanjut Arlan, jemarinya bergerak lembut menghapus air mata di sudut mata Laura. "Jadi buat apa aku malu? Yang harusnya malu itu keluarga mantan suamimu. Mereka yang bajingan, bukan kamu. Di mataku, kamu cuma perempuan yang dipaksa keadaan buat bertahan hidup."
Laura terpaku. Kata-kata Arlan malam itu rasanya seperti menyembuhkan sebuah luka besar yang selama ini membusuk di dalam hatinya. Pria posesif di depannya ini mungkin kejam dan manipulatif terhadap musuh-musuhnya, tapi di saat yang sama, dia adalah satu-satunya orang yang memandang Laura tanpa secuil pun penilaian buruk.
"Lagian," Arlan menambahkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang agak angkuh. "Siapa yang berani ngetawain atau ngehina istriku? Sekali mereka buka mulut buat ngejelekin kamu, besoknya dipastikan perusahaan mereka bakal bernasib sama kayak bisnisnya Bram. Aku punya banyak cara buat bikin orang diem, Sayang."
Laura merinding sekaligus merasa hangat di saat yang bersamaan. Ia tahu Arlan tidak sedang bercanda soal ancamannya.
"Udah, gak usah mikirin yang aneh-aneh lagi. Sekarang merem, kasihan anak kita kalau ibunya begadang terus gara-gara mikirin omongan orang," ucap Arlan sambil menarik Laura ke dalam pelukannya. Kali ini, Laura tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arlan, mendengarkan detak jantung pria itu yang konstan dan menenangkan.
Sambil memejamkan mata, Laura menyadari satu hal baru. Arlan mungkin adalah sosok monster yang kejam bagi dunia luar, tapi monster itu telah memilih untuk menjadi dinding pelindung yang paling kokoh di hidupnya. Namun, di balik rasa aman itu, sebuah tanya baru kembali muncul: sampai kapan Arlan bisa menyembunyikan keterlibatannya dalam kehancuran Bram, sebelum mantan suaminya itu menyadari siapa dalang di balik semua penderitaannya?