Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — Bayangan di Seberang Sawah

Dilla masih menatap jendela yang gelap itu.

Perasaan itu tidak hilang. Dingin di tengkuk, seperti ada yang memperhatikannya dari jauh. Bukan tatapan mengancam seperti yang biasa ia rasakan dari orang-orang suruhan Sekar. Tatapan ini... berbeda. Sedih. Rindu.

"Mas," bisik Dilla pelan.

Fadil yang sedang mengompres bahunya sendiri langsung menoleh. "Ya, Sayang?"

"Kamu merasa ada yang lihat kita dari luar nggak?"

Fadil langsung siaga. Rasa sakit di bahunya ia abaikan. Ia berdiri dan mengintip dari celah tirai bambu yang tipis. Sawah di depan rumah aman itu gelap gulita, hanya diterangi bulan separuh. Tidak ada apa-apa. Hanya padi yang bergoyang tertiup angin.

"Nggak ada siapa-siapa, Sayang. Mungkin kamu kecapean. Dari tadi belum tidur," jawab Fadil pelan sambil kembali duduk di samping istrinya dan menarik selimut tipis untuk menutupi kaki Dilla.

Tapi Dilla tahu, itu bukan halusinasi.

Di seberang sawah, di dalam mobil sedan hitam yang lampunya mati, Mahendra masih duduk di sana. Tangannya masih menggenggam foto Dilla dan Larasati.

Ia melihat siluet Dilla yang berdiri di jendela. Jantung tuanya berdegup kencang.

Dua puluh delapan tahun ia mencari. Dua puluh delapan tahun ia percaya anaknya sudah mati bersama Larasati dalam kecelakaan yang direkayasa ayahanda Wiratama. Dan malam ini, jaraknya hanya seratus meter. Hanya sawah yang memisahkan.

Ia ingin turun. Ingin berlari. Ingin berteriak, "Dilla, Ayah di sini!"

Tapi ia ingat kalimat terakhir di buku Larasati yang baru saja ia dengar dari orang kepercayaannya, Suryanto, yang berkhianat padanya.

Jangan biarkan Dilla bertemu Mahendra sebelum ia tahu kebenaran terakhir.

Kebenaran terakhir itu adalah: Mahendra bukan hanya ayah kandungnya. Mahendra adalah alasan ibunya mati.

 

Di dalam rumah, Azam masih berdiri di teras dengan kartu nama MAHENDRA HOLDING di tangannya. Tulisan di belakangnya — Jangan percaya Pranoto — terus mengganggu pikirannya.

Pranoto keluar dari dalam, membawa dua gelas teh. Ia melihat kartu itu di tangan Azam.

"Mahendra Holding," gumam Pranoto, matanya menyipit. "Jadi dia benar-benar membangunnya lagi."

Azam langsung menyembunyikan kartu itu ke saku jasnya. "Paman kenal perusahaan ini?"

Pranoto terkekeh pahit dan duduk di kursi bambu. "Kenal? Azam, aku yang bantu Mahendra mendirikan perusahaan itu tahun 1985. Dari nol. Dari sebuah ruko kecil di Glodok. Ayahmu, Ayahanda Wiratama, cuma investor kecil waktu itu. 10 persen saja."

"Terus kenapa sekarang jadi milik keluarga Wiratama 100 persen?" tanya Azam.

"Karena ayahmu menjebak Mahendra," jawab Pranoto lirih. "Mahendra difitnah menggelapkan pajak, difitnah selingkuh, difitnah macam-macam. Larasati yang saat itu jadi pacarnya Mahendra, tidak percaya. Larasati hamil. Ayahmu takut kalau anak itu lahir, Mahendra akan punya ahli waris dan akan kembali menuntut perusahaannya. Jadi ayahmu buat skenario: Mahendra kecelakaan dan mati. Larasati dikasih tahu Mahendra mati. Larasati yang sedang hamil tua syok, lalu dijodohkan dengan Jatmiko yang memang sudah lama mencintai Larasati diam-diam."

Azam membeku. "Jadi... Paman Jatmiko menikahi Larasati bukan karena cinta buta? Tapi karena disuruh ayahnya sendiri untuk mengurung Larasati?"

"Bukan mengurung," koreksi Pranoto. "Melindungi. Jatmiko tulus mencintai Larasati. Tapi pernikahan itu memang diatur. Agar anak Mahendra tetap berada di dalam kendali keluarga Wiratama."

Di dalam kamar, Dilla yang tidak sengaja mendengar percakapan itu dari balik pintu yang terbuka sedikit, menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh lagi.

Jadi ibunya tidak pernah tidak mencintai Jatmiko. Ibunya menikah dengan Jatmiko karena dikira Mahendra sudah mati. Dan Jatmiko menikahi ibunya karena ingin melindungi ibunya yang sedang hamil anak orang lain.

Semua orang berkorban. Semua orang berbohong demi melindungi seseorang.

Fadil yang melihat istrinya gemetar, langsung memeluknya dari belakang. "Denger ya?"

Dilla mengangguk dalam pelukan Fadil, isaknya tertahan. "Ibu... Ibu pasti kesepian sekali, Mas... Harus pura-pura bahagia..."

Fadil mengusap air mata Dilla. "Ibumu kuat, Sayang. Sama seperti kamu. Makanya dia titip kamu ke Ayah Jatmiko, karena dia tahu Jatmiko orang baik yang akan jaga kamu, meski kamu bukan darah dagingnya."

Di teras, Azam akhirnya tidak tahan lagi. Ia masuk ke kamar dengan wajah tegang.

"Dilla," panggilnya pelan.

Dilla menghapus air matanya dan menoleh. "Ya, Zam?"

Azam menatap buku hitam di pangkuan Dilla, lalu menatap Fadil, lalu menatap Jatmiko yang baru keluar dari kamar mandi.

"Tadi yang telepon aku... bukan orang iseng," Azam akhirnya jujur, suaranya berat. "Itu Mahendra. Ayah kandungmu, Dilla."

Ruangan itu langsung senyap.

Dilla membeku. "Apa?"

"Dia bilang..." Azam menelan ludah, menatap Pranoto dengan ragu, "Dia bilang jangan biarkan kamu baca halaman terakhir buku ibumu dulu. Dan di kartu nama ini ada tulisan: jangan percaya Pranoto."

Semua mata langsung tertuju pada Pranoto.

Pranoto tidak kaget. Ia hanya tersenyum pahit dan mengangguk pelan.

"Ya. Sudah kuduga dia akan tulis begitu. Mahendra masih menganggap aku pengkhianat. Karena 28 tahun lalu, aku yang disuruh ayahmu, Jatmiko, untuk mengantarkan Larasati ke rumah sakit palsu tempat kamu dilahirkan. Aku yang ikut membohongi Larasati."

Jatmiko menatap Pranoto dengan tidak percaya. "Pranoto... jadi kamu..."

"Aku melakukannya karena aku disuruh ayahmu, Jatmiko. Sama seperti Bu Ratih disuruh Bagaskara. Kita semua hanya bidak, Jatmiko. Bidak dari Ayahanda Wiratama."

Dilla memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Terlalu banyak nama. Terlalu banyak pengkhianatan. Terlalu banyak cinta yang salah cara mengungkapkannya.

"Jadi... kalau Mahendra masih hidup... kenapa dia tidak masuk dan temui aku sekarang?" tanya Dilla dengan suara serak. "Kenapa dia cuma telepon? Kenapa dia cuma lihat dari jauh?"

Tidak ada yang bisa menjawab.

Fadil menggenggam tangan Dilla erat. "Mungkin dia takut, Sayang. Sama takutnya seperti kamu malam ini."

Dilla menatap jendela lagi. Perasaan diperhatikan itu masih ada.

Kali ini, ia tidak takut. Ia berdiri perlahan, berjalan ke jendela, dan membuka tirai bambu itu sedikit lebih lebar.

Di seberang sawah yang gelap, ia melihat titik merah kecil — bara rokok yang menyala sebentar lalu padam.

Seseorang memang ada di sana.

Dilla tidak berteriak. Ia hanya menatap titik itu lama. Air matanya jatuh, tapi bibirnya tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam itu.

"Kalau kamu memang Ayah..." bisiknya pelan, sangat pelan hingga hanya Fadil di sampingnya yang mendengar, "Kenapa tidak pulang saja? Aku sudah capek disuruh menunggu."

Di seberang sawah, Mahendra melihat siluet Dilla yang berdiri di jendela. Ia melihat Dilla melambaikan tangan kecil, ragu-ragu, ke arah gelap.

Mahendra mematikan rokoknya dengan tangan gemetar. Air mata tuanya jatuh deras di dalam mobil yang gelap itu.

Ia menyalakan mesin mobilnya. Bukan untuk pergi, tapi untuk menyalakan lampu depannya sesaat.

Dim... terang... dim...

Lampu mobil itu menyala dua kali ke arah rumah aman itu, seperti kode. Seperti jawaban.

Dilla melihatnya. Jantungnya berdegup kencang hingga sakit.

Fadil yang melihat itu langsung berdiri dan memeluk Dilla dari belakang. "Itu siapa, Sayang?"

Dilla tidak menjawab. Ia hanya memegang kaca jendela dengan erat.

Di teras, Azam dan Jatmiko juga melihat kedipan lampu itu. Azam langsung siaga dan memegang senter.

"Siapa di sana?!" teriak Azam.

Mobil hitam di seberang sawah itu tidak menjawab. Lampunya mati lagi. Mesinnya meraung pelan, lalu perlahan mundur dan pergi meninggalkan jejak ban di tanah sawah yang basah.

Dilla masih berdiri di jendela, menatap mobil itu yang semakin menjauh hingga hilang ditelan gelapnya malam dan rumpun bambu.

"Mas..." bisik Dilla pada Fadil yang memeluknya.

"Ya?"

"Kurasa... ayah kandungku barusan pulang... tapi dia takut masuk."

Fadil memeluknya lebih erat. "Besok kita cari dia sama-sama. Janji. Sekarang kamu istirahat dulu. Arif juga pasti akan kita temukan. Percaya sama Mas."

Dilla mengangguk di dalam pelukan Fadil. Untuk pertama kalinya setelah 28 tahun hidup dalam kebohongan, ia merasa dua sosok ayah sedang menjaganya malam itu: satu di dalam rumah, Jatmiko yang tertidur di kursi karena kelelahan menjaga, dan satu lagi di seberang sawah, yang baru saja pergi karena belum siap bertemu.

Dan di atas meja, buku hitam Larasati masih tertutup rapat. Halaman terakhirnya masih belum dibaca.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!