Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARGET BARU
Di sisi lain blok penjara, seorang pria berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi, karena para tahanan kebanyakan sedang berada di tempat makan. Langkahnya tenang, Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak pernah berhenti terlalu lama di satu tempat.
Sesekali matanya bergerak ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikannya. Setelah melewati sebuah lorong sempit yang jarang dilewati para tahanan, pria itu berhenti di depan sebuah ruangan kosong.
Ia masuk.
Pintu ditutup perlahan, Pria itu berdiri beberapa detik dalam keheningan sebelum akhirnya merogoh saku celananya. Sebuah ponsel lipat lama berwarna hitam ia keluarkan dari sana. Ia membuka ponsel tersebut, kemudian menekan beberapa tombol sebelum menempelkan benda itu ke telinganya.
Beberapa detik berlalu, Sambungan tersambung.
"Bagaimana?" suara berat seorang pria terdengar dari seberang.
Pria itu menatap pintu ruangan.
"Dia masi sama"
Ada jeda singkat.
"Lalu?"
Pria itu menarik napas pelan.
"Dia tidak banyak bergerak sekarang, Dan orang-orang di sekitarnya... ternyata bukan sekadar tahanan biasa."
"Bawahannya?"
"Sepertinya begitu"
Jawaban itu membuat suara di seberang sana terdiam sesaat.
"Berapa?"
"Aku belum bisa memastikan."
Pria itu berjalan mendekati jendela kecil di ruangan tersebut.
"Tapi satu hal yang jelas, dia tidak sendirian... Apalagi sekarang ada seorang gadis bersamanya"
Pria di seberang hanya diam, menyimak.
"Ada sesuatu yang aneh." Lanjut pria itu lagi.
"Apa?"
"Kael seperti memiliki hubungan dengan gadis itu... Namun Sepertinya dia sudah mengenal Gadis itu jauh sebelum mereka bertemu di Adx"
"Siapa?"
Pria itu menundukkan pandangannya.
"Alesya."
Hening.
"Alesya Blake" Lanjut nya lagi
Untuk beberapa detik, tidak ada suara sama sekali. Kemudian terdengar helaan napas pendek dari seberang.
"Terus awasi."
Pria itu tidak langsung menjawab, Matanya kembali mengarah ke pintu.
"Baik."
Sambungan terputus.
Ia menutup ponsel lipat itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Wajahnya kembali datar seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Beberapa saat kemudian, pria itu membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.
Namun...
Tiba-tiba Aldra sudah berdiri di hadapan pintu. Mereka bukan teman, Bukan pula musuh. Mereka hanya sesama penghuni penjara yang sesekali berpapasan, Namun, kali ini Aldra berhenti.
Tatapannya mengamati pria itu dari atas sampai bawah. Sudah cukup lama ia berada di penjara ini, tetapi pria di hadapannya ini termasuk salah satu wajah yang jarang sekali terlihat.
Mata Aldra kemudian turun pada nomor yang tertera di pakaian tahanan pria tersebut.
0428.
Pria itu menyadari tatapan tersebut, Wajahnya tetap datar. Namun, tanpa terlihat mencolok, tangan kanannya bergerak ke balik lengan seragam. Jari-jarinya menggenggam sesuatu, Sebuah pisau lipat kecil, Ia sudah bersiap.
Jika Aldra benar-benar mendengar percakapannya tadi, maka tidak ada alasan untuk membiarkannya pergi. Pria itu sudah bersiap, Namun...
"Hei."
Pria itu hanya menatapnya, Ia masih menggenggam pisau yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Aldra menyandarkan bahunya ke dinding.
"Kau punya rokok" Lanjut aldra
Pria itu hanya menatapnya dingin sebelum menjawab.
"Aku tidak merokok"
"Benar kah? Tapi kau kelihatannya seperti perokok."
Aldra terkekeh kecil.
"jarang sekali orang di sini yang tidak merokok."
Pria itu mengabaikannya, Ia melangkah melewati Aldra. Karena dirasa cowok itu hanya napi pembuat masalah biasa.
Namun baru beberapa langkah...
"Tunggu."
Pria itu kembali berhenti, Aldra menoleh kebelakang, ketempat pria tadi keluar. Ia terus melirik, dan menelusuri setiap sudut mencari seseorang yang mungkin ada di dalamnya.
"Sepertinya aku mendengarkan kau berbicara tadi."
Pria itu perlahan menoleh.
"Apa ada seseorang di dalam sana?"
Aldra mengangkat dagunya ke arah ruangan yang baru saja ditinggalkan pria itu.
Hening.
Tatapan pria 0428 menjadi jauh lebih dingin.
"Kurasa ak—"
"Khukkk...!"
Gerakan itu terjadi begitu cepat.
Pria 0428 berbalik dan dalam satu gerakan menusukkan pisau lipat yang sejak tadi tersembunyi di balik lengannya ke leher Aldra.
Aldra membelalak, Tubuhnya menegang. Darah langsung membasahi pakaiannya dan mengenai wajah pria itu. Aldra mencoba menarik napas, tetapi yang keluar hanya suara tersedak.
"Khuk... khuk..." Aldra tersedak darahnya sendiri
Tangannya berusaha meraih sesuatu untuk menahan tubuhnya, Namun kekuatannya perlahan menghilang. Pria 0428 menarik kembali pisaunya. Aldra kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya jatuh perlahan hingga akhirnya terduduk bersandar pada dinding. Matanya masih terbuka, Menatap pria di hadapannya. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi.
Tidak ada kepanikan, Tidak ada penyesalan, Hanya tatapan dingin yang sulit dibaca.
"Di dunia ini, orang yang suka ikut campur..."
Ia berhenti sejenak.
"...Hukumannya adalah mati"
Pria itu kemudian menyimpan kembali pisau lipatnya di balik lengan seragam. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan meninggalkan koridor. Langkahnya perlahan menghilang di balik belokan.
Sementara Aldra tetap terduduk di sana, Darah terus merembes dari tubuhnya dan mengalir ke lantai. Beberapa menit berlalu, Tidak ada seorang pun datang.
Hingga akhirnya...
Tubuh Aldra benar-benar tidak bergerak lagi. Koridor kembali sunyi. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, satu hal telah berubah.
Aldra di bunuh bukan karena bersalah...
Namun karena tau terlalu banyak.
***
Ruangan itu berada jauh dari hiruk-pikuk jalanan.
Dari luar, bangunannya tampak seperti gudang tua yang sudah lama tidak digunakan. Namun di balik pintu besi yang dijaga ketat, terdapat sebuah ruangan luas yang menjadi pusat kendali salah satu kelompok mafia paling berpengaruh.
Suasananya begitu sunyi.
Hanya terdengar samar suara jarum jam yang bergerak di dinding.
Lampu-lampu berwarna kekuningan menggantung rendah dari langit-langit, membuat sebagian besar sudut ruangan tenggelam dalam bayangan.
Dindingnya dipenuhi rak kayu gelap yang berisi berkas-berkas, beberapa peta, dan dokumen yang tersusun rapi. Di sisi lain terdapat lemari kaca yang menyimpan beberapa benda berharga milik sang ketua.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar dari kayu hitam.
Di belakangnya terdapat sebuah kursi kulit tua berwarna gelap.
Kursi yang hanya boleh diduduki oleh satu orang.
Sang ketua.
Seorang pria paruh baya duduk dengan tenang di atas kursi kebanggaannya. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun, tetapi tatapan matanya masih tajam dan penuh tekanan.
Rambutnya telah dipenuhi beberapa helai uban, tetapi wajahnya masih terlihat tegas. Tatapannya tajam, dingin, dan sulit ditebak.
Di antara dua jarinya terselip sebuah cerutu yang masih menyala.
Ia mengisapnya perlahan.
Kemudian mengembuskan asap ke udara tanpa sedikit pun menunjukkan kegelisahan.
Di atas meja terdapat sebuah asbak besar dari logam, beberapa dokumen, dan sebuah korek api berwarna hitam yang terletak tepat di samping tangannya.
Tak lama kemudian, seorang pria datang menghampirinya.
Langkahnya terdengar pelan di atas lantai ruangan yang sunyi. Begitu sampai di hadapan sang ketua, ia langsung berdiri tegak dengan penuh hormat. Tatapannya tertunduk, seolah pria yang duduk di hadapannya adalah seseorang yang tidak boleh dipandang sembarangan.
Pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya kepada bawahannya.
“kau sudah mendapatkannya”
Bawahannya menundukkan kepala sedikit sebelum menjawab.
“Sudah, Tuan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Dia masih belum melakukan pergerakan apa pun. Tapi sepertinya masih ada beberapa bawahannya yang tetap setia kepadanya.”
Pria paruh baya itu perlahan meletakkan cerutunya di atas asbak.
Tatapannya berubah tajam.
“Jadi, ternyata masih ada anjing yang setia padanya.”
Nada suaranya terdengar penuh kesombongan dan meremehkan.
“Untuk jumlah pastinya, belum terkonfirmasi, Tuan,” lanjut bawahannya.
“Namun, saya rasa mereka tidak banyak..."
"...Karena sebagian besar anggotanya, semua sudah berbelot kepada anda tuan"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetuk-ngetukkan jarinya perlahan di atas permukaan meja.
Tok.
Tok.
Tok.
Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Hanya ada kelicikan dan keyakinan bahwa semuanya berada dalam kendalinya.
“Banyak atau sedikit, bocah itu tidak akan pernah bisa kembali ke posisinya.”
Ia bersandar pada kursinya.
“Dia sudah tidak punya apa-apa sekarang.”
Bawahannya terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.
“Tapi, Tuan… ada seorang gadis bersamanya.”
Alis pria itu sedikit terangkat.
“Dia berasal dari keluarga Blake.”
Jari yang sebelumnya mengetuk meja berhenti.
“Keluarga Blake?”
“Benar, Tuan.”
Bawahannya mengangkat wajahnya sedikit.
“Semua orang tahu seberapa besar pengaruh keluarga Blake dalam dunia bisnis. Bahkan… hubungan mereka dengan dunia bawah sudah menjadi rahasia umum"
Ekspresi pria paruh baya itu perlahan berubah, Senyumnya menghilang. Tatapannya menjadi jauh lebih dingin.
“Gadis itu juga berada di penjara?”
“Benar, Tuan.”
“Dia melakukan pembunuhan.” lanjut nya
Ruangan kembali hening.
Pria paruh baya itu mengambil kembali cerutunya, lalu mengisapnya perlahan. Asap putih keluar dari bibirnya dan perlahan memenuhi ruang di antara mereka.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.
“Kalau gadis itu sampai menjadi ancaman bagi kita…”
Ia berhenti.
Tatapannya menatap lurus ke arah bawahannya.
“Lenyapkan saja.”
Sang ketua kembali mengangkat cerutunya, seolah keputusan yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang besar. Baginya, hidup seseorang hanyalah bagian kecil dari permainan yang sedang ia kendalikan.
***