Kehidupannya yang semula tenang tiba-tiba langsung berubah karena sebuah kejadian. Dia yang awalnya mengira jika hidupnya sangat biasa saja, ternyata salah. Ada banyak rahasia yang disembunyikan darinya.
Ada banyak kejanggalan yang datang silih berganti kedalam hidupnya. Mulai dari sosok misterius hingga seseorang yang ingin merenggut nyawanya. Alur takdir menuntunnya untuk mengungkap semua. Mengungkap siapa dirinya sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudera_pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 TANAMAN TOGA
...***...
"Ah, iya, saya hampir lupa. Saya harus mengambil beberapa tanaman obat." Mister Baskara berdiri. Dia segera beranjak menuju ke kebun toga.
"Apakah saya boleh membantu?" Salvador berdiri dan mengikuti langkah Mister Baskara.
"Tentu saja," jawab Mister Baskara.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke kebun. Tanaman toga tumbuh dengan subur di kebun itu. Tentu saja karena Mister Baskara yang menjaganya dengan sangat baik. Mister Baskara berjongkok di salah satu sisi kebun, begitu juga Salvador.
"Kau cabut dan kumpulkan tanaman itu. " Mister Baskara menunjuk ke arah sebuah tanaman yang berada di hadapan Salvador.
Salvador mengangguk. Dia menarik tanaman itu dan mengumpulkannya ke wadah rotan yang dibawa Mister Baskara.
"Kenapa Mister mempunyai ide untuk membuat kebun toga ini? Bukankah tanaman ini bisa didapatkan di kota?" Rasa penasaran Salvador mulai muncul.
"Sebenarnya saya membuat kebun ini karena ada beberapa alasan. Salah satunya adalah karena jarak ke kota yang lumayan jauh. Dari Academy menuju kota membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam. Medan yang dilalui juga tidak semudah perkiraan. Hal itu jelas tidak mungkin bisa mendapatkan bahan yang dibutuhkan dalam waktu singkat.''
"Belum lagi proses pembuatannya yang membutuhkan waktu. Dari pergi ke kota sampai membuat obatnya tentu sangat menguras waktu. Jika pasiennya mempunyai sakit parah dan harus segera diobati, maka hal itu bisa mengancam nyawanya. Maka dari itu, saya berinisiatif untuk membuat kebun ini. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan bisa langsung mengambilnya dari sini. Lebih menghemat waktu."
"Selain itu, juga bisa menghemat biaya. Jika pergi ke kota, tentu akan banyak biaya yang dikeluarkan. Biaya bensin dan lain sebagainya. Dengan adanya kebun ini, biaya yang dikeluarkan tentu bisa diminimalisir, sehingga pengeluaran bisa ditekan."
Salvador mengangguk-angguk. Entah dia mengerti atau tidak. "Apakah Mister yang merawatnya sendiri?"
"Ya. Kebun ini saya jadikan sebagai penghilang rasa jenuh saya. Refresing lebih tepatnya. Saat saya lelah dengan pekerjaan saya, biasanya saya akan ke sini. Entah menyiraminya, memberi pupuk atau pun hanya melihatnya saja."
Salvador mendengarkan ucapan Mister Baskara sambil mencabuti satu per satu tanaman yang ditunjukkan oleh Mister Baskara tadi.
"Sepertinya ini sudah cukup." Mister Baskara mengangkat keranjang yang berisi banyak tanaman toga.
"Biar saya yang membawa keranjang satunya," ucap Salvador.
Mister Baskara mengangguk. "Tolong kau cucikan juga tanaman itu, ya."
"Baik, Mister
Mister Baskara berjalan menjauh dari kebun itu dan langsung menuju ke unit kesehatan. Sementara Salvador pergi menuju keran air untuk mencuci tanaman itu. Dia membuka keran air dan dengan telaten membersihkan satu per satu tanaman itu. Dari balik pohon, seseorang terlihat sedang mengawasinya.
Entah sejak kapan sosok itu sudah berasa di sana. Dia memperhatikan setiap gerak gerik Salvador dengan saksama. Sosok itu berbalik. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Vernon?"
Sang empu nama terlonjak kaget saat Salvador tiba-tiba berada di dekatnya. Raut wajahnya menunjukkan ketegangan.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"A-aku... Eee... Aku... Sedang bermain petak umpet dengan Kavindra. Ah, iya, aku sedang bersembunyi darinya," ucap Vernon disertai tawa canggung di akhirnya.
Salvador menatap Vernon dengan tatapan menyelidik. "Kenapa kau tiba-tiba bermain petak umpet?"
"Aku hanya menerima ajakan Kavindra. Dia tadi tiba-tiba mengajakku bermain petak umpet. Aku tidak tahu alasannya. Kau tahu, kan, bagaimana karakternya jika ajakannya ditolak."
Salvador menggelengkan kepala. "Kalian sudah seperti anak kecil saja."
Vernon menanggapinya dengan tertawa kecil. "Eh, kau mau kemana?"
"Unit kesehatan. Aku harus mengantarkan ini." Salvador mengangkat keranjang yang berisi tanaman toga.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Vernon mengangguk. Salvador melanjutkan langkahnya menuju unit kesehatan, meninggalkan Vernon. Setelah Salvador terlihat menjauh darinya, Vernon kemudian menyalakan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Dia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Semuanya aman