Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTANA PASIR

ISTANA PASIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: I.S.DINIa

Raisya putri terpaksa melepaskan dan melupakan Bayu pradipta, kekasih yang merupakan cinta pertamanya untuk menikah dengan Brama wijaya teman sekaligus atasannya dikantor.
Sebuah pernikahan tanpa didasari cinta membuat Ica (Raisya putri) tertekan, pergulatan batin pun semakin menjadi ketika Ica harus menghadapi sifat Brama yang masih inginkan kebebasan dan kerap meninggalkan serta tak memperdulikan Ica sebagai istri, belum lagi tekanan demi tekanan dari keluarga Brama yang selalu membuat Ica patah hati berkali-kali,
Hingga titik jenuh itu hadir, membuat Ica benar-benar terjerat rindu akan cinta pertamanya, bersamaan dengan itu pula, Bayu kembali muncul dikehidupannya.
Ica benar-benar terjebak antara Rindu atau kesetiaan, antara hati yang mencinta atau rumah tangga yang tak lebih seperti ISTANA PASIR..
Nampak indah dan megah namun sangat rapuh.

Happy reading 😍😘
Jangan lupa like, komen, vote dan love ya..
Please...jangan jadi silent readers.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I.S.DINIa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Menunaikan kewajiban istri

Hampir 4 jam lebih,

Akhirnya Brama dan Ica tiba di sebuah rumah yang menurut Brama adalah rumah inventaris perusahaan .

"Ayo turun Ca,, kita sudah sampai.. Aku sudah suruh orang untuk membersihkan, agar ketika kita sampai kita bisa langsung istirahat"

Brama membukakan pintu mobil, dan menggandeng tangan Ica untuk turun.

Ica memandang rumah satu lantai yang menurutnya lumayan luas, ber cat hijau muda, warna kesukaannya, tak lupa dilengkapi dengan taman mungil di depannya dengan satu buah ayunan besi dan satu set kursi santai.

"Andai saja yang menjadi suamiku saat ini adalah Bayu, tentu hari ini akan menjadi hari yang paling bahagia untukku"

Batin Ica.

"Yuk masuk sayang,,"

Brama merangkul bahu Ica, menuntun masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah yang sudah sangat rapi, bersih dan wangi ini juga terlihat sudah dipenuhi perabotan lengkap, benar-benar tinggal masuk.

"Ehm... Bram,, apa kamu yang menyiapkan semua ini?"

Ica berjalan dengan mata yang memandang ke segala arah.

"Apa kamu suka?"

Tanya Brama.

"Makasih ya..."

Jawab Ica.

"Ini kamar kita Ca.."

Ujar Brama membuka pintu dan mempersilahkan Ica untuk masuk,

Sebuah kamar luas dengan satu set tempat tidur dan lemari pakaian, dilengkapi juga dengan satu set meja rias, televisi dan sofa minimalis.

"Aku berharap kamu suka,"

Bram menarik Ica untuk masuk lebih dalam lagi,

"Iya, makasih ya.."

Lagi-lagi hanya itu yang bisa Ica ucapkan dengan wajah datar.

"Aku mencintai kamu Ca,"

Brama mendorong lembut tubuh Ica hingga menempel di dinding, membuat Ica tersentak kaget dengan perlakuan tiba-tiba dari Brama.

Brama mulai mencumbui Ica, mulai dari membelai wajahnya, menyesap pipi, telinga hingga leher jenjang milik Ica, namun ketika bibirnya mendekat ke bibir Ica, secepat kilat Ica mendorong tubuh kekar Brama hingga membuat Brama tersentak kaget.

"Maaf,, Aku belum siap!!"

Ica berlari meninggalkan Brama masuk kedalam kamar mandi,, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Ica menangis, menatap sendiri bayang tubuhnya di pantulan cermin.

"Aku benar-benar tak bisa lari lagi, Aku benar-benar terperangkap,, cepat atau lambat Brama pasti akan menuntut haknya, sore ini, nanti malam, besok atau mungkin lusa.. mau tidak mau Aku harus memberikan haknya,, karena itu kewajibanku yang saat ini sudah sah menjadi istrinya"

Ratap Ica sembari meremas sendiri rambutnya.

"Ya Tuhan,, maafkan Aku yang belum bisa memberikan hak suamiku.. tapi bagaimana jika hati ini menolak"

Ica kembali meratap dengan berurai air mata.

Pukul delapan malam,

Brama memutuskan untuk menyusul Ica yang sejak tadi berdiam mengurung diri dikamar dengan segala kegalauan yang ia rasakan.

Sejenak berpikir,

"Malam ini, Aku harus bisa mendapatkan hak ku sebagai suami, mau atau tidak, ikhlas ataupun terpaksa! Ica harus melayaniku!!"

Batin Brama sembari menyeringai.

Begitu tiba di depan pintu kamar dan membuka pintu, Brama melihat Ica tengah duduk di depan meja rias nya sembari menyisir rambutnya yang tergerai.

Hasratnya semakin menjadi-jadi ketika melihat Ica hanya mengenakan piyama tidur berbahan satin polos.

Brama menelan ludah berkali-kali terlihat dari jakunnya turun naik.

Brama berjalan mendekat, dan menyentuh pundak Ica,

"Ica... Aku Mau..."

Belum selesai Brama berbicara, Ica lebih dulu bangkit dan berdiri di hadapan Brama dengan mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir Brama.

Brama terdiam dengan sejuta pertanyaan dalam hati.

"Brama, Aku minta maaf tak seharusnya Aku bersikap seperti ini sama Kamu, bukankah kita sudah menikah,  Aku milikmu sekarang, tak sepantasnya Aku melarangmu melakukan apa yang kamu mau, sebab itu adalah hakmu. Malam ini...Aku serahkan semua milikku untukmu,, Aku ikhlas."

Seketika air mata Ica menetes, memaksa ikhlas dengan hati yang sebenarnya hancur adalah berat untuk Ica, namun pesan Papa Arif terus terngiang di telinganya.

Kini ia hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi kedepannya.

Brama tersenyum, matanya seketika berubah bagai mata srigala lapar yang siap menerkam mangsa didepannya.

Tanpa membuang waktu, Brama mendekat pada Ica, aroma segar dari rambut Ica menguar hingga membuat hasrat Brama naik berkali-kali lipat, segera ia membopong tubuh Ica keatas tempat tidur, menciumi tubuhnya dengan rakus,

Ica memejamkan matanya berusaha kuat ketika satu persatu pakaian pada tubuhnya dilucuti Brama.

Sedang Brama tak membiarkan satu Senti saja dari tubuh Ica yang terlewat untuk ia jelajahi dengan liar.

Malam ini, akhirnya apa yang menjadi impian dan obsesinya tercapai, menikahi Ica dan memiliki Ica seutuhnya.

Sungguh malam yang tak akan disia-siakan oleh Brama untuk menikmati apa yang menjadi haknya.

Ica mencengkram sisi tempat tidur, memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya ketika sebuah sentakan dari Brama membuatnya meringis menahan sakit dan perih.

Detik ini, ia harus mengikhlaskan miliknya, kehormatan yang paling ia jaga dirampas oleh laki-laki yang tidak pernah ia cintai namun saat ini bergelar suami untuknya.

kini, ia bukan lagi seorang perawan,,,

Ica tak mungkin menolak, apalagi menghindar.

yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan menerima takdir atas hidupnya.

Tak sampai beberapa menit,

Aarrgghhh!!!!

Terdengar erangan dari mulut Brama bersamaan dengan nafasnya yang tersengal.

Ia menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Ica, senyumnya tersungging penuh kepuasan, sesaat ia menoleh perempuan disampingnya yang sudah memberikan ia kenikmatan yang selama ini selalu ia impikan, kemudian memejamkan matanya dan terlelap tanpa memperdulikan Ica yang masih menangis disampingnya.

Andai saja, di sampingku saat ini adalah Bayu, tentu saja bukan tangisan seperti ini yang terjadi.

mungkin Aku akan menangis di pelukannya, bahagia dan bangga bisa mempersembahkan sesuatu yang spesial dan berharga milikku untuknya.

Bukan sakit seperti ini yang aku rasakan tapi sakit yang membawa rasa bahagia,,

tapi... itu hanyalah andai-andai, kenyataannya Bayu sudah milik orang lain dan Aku milik Brama.

Menyadari Brama yang telah pulas, Ica beranjak dari tempat tidur, sambil mengusap pipinya yang basah ia memunguti pakaiannya yang berserak dan masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih menahan nyeri di bagian paling intim miliknya.

Dibawah pancuran shower ia terduduk menangis sejadinya, mengeluarkan semua sesak di dadanya, demiencoba berdamai dengan nasib yang sedang ia jalani.

"Bayu... Aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri untuk Brama,, tapi kenapa sesak sekali rasanya dada ini,, sakit dan juga pedih.. Apa kamu pun demikian Bay? Apakah kamu juga mengingat Aku saat menunaikan kewajibanmu sebagai seorang suami?!"

Ujarnya lirih.

Setelah puas menangis, dan didadanya terasa sedikit lapang, Ica menghanduki dirinya, mengenakan pakaian dan beranjak ke atas tempat tidur lalu menghadap dinding memejamkan mata yang sudah terlanjur sembab.

Bersambung***

1
bintang
ohhh m g....
bintang
nyesek jg ceritanya,, ringan sederhana jadi mudah di fahami..
bintang
suka, kayaknya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!