Clara tiba-tiba dihadapkan pada situasi yang mengerikan ketika dua pria bersenjata mengancamnya. Seorang pria misterius datang dan menyelamatkannya, namun ternyata pria itu terluka parah. Clara dengan cepat membawa pria itu ke mobilnya dan berusaha membantunya. Mereka berdua saling berkomunikasi, meskipun pria itu tidak bisa mengungkapkan namanya dengan jelas. Clara berusaha keras untuk membawa pria itu ke rumah sakit dengan harapan dia akan selamat. Di rumah sakit, Clara menunggu dengan cemas sementara pria itu menjalani perawatan. Meskipun terpisah oleh pintu ruang gawat darurat, Clara tetap berusaha memberikan dukungan dan berharap yang terbaik untuk kesembuhan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Ketika keluar bersama Disha, gadis itu menolak untuk diantarkan Louis karena sudah ada yang menjemputnya. Louis hanya mengangguk mengerti. Setelah berpamitan dengan pemimpin staf yang bertugas membereskan pesta itu, Louis akhirnya berjalan ke tempat parkir dan masuk ke mobilnya. Di lampu merah, Louis mengerutkan kening ketika melihat mobil sport abu-abu yang berhenti tepat di samping Peugeotnya. Rasanya Louis mengenal mobil itu. Jangan-jangan
mobil itu….
Begitu lampu hijau menyala, mobil itu melesat dengancepatnya, mengejutkan Louis. Louis sendiri masih berdiam di tempatnya. Ia beruntung karena malam ini jalanan tidak seramai pagi hari, karena jika ini adalah hari Senin pagi yang sibuk, Louis pasti sudah mendapat makian dari banyak orang karena
belum juga berjalan meski lampu sudah menyala hijau.
Ini gara-gara mobil itu, Louis beralasan seraya menambah kecepatan. Ia penasaran, jika memang tadi itu Louis, kenapa Louis tidak menyapa Louis? Apakah Louis tidak ingat mobil Louis? Dan jika memang tadi itu Louis, dari mana dia malam-malam begini? Pekerjaan apa yang membuatnya harus berada di luar rumah hingga selarut ini?
Louis berusaha untuk tidak memikirkan pekerjaan mengerikan yang terlintas dalam benaknya. Ia teringat pada Aeron dan
bergidik. Tidak mungkin kan, Louis adalah seorang pembunuh? Tentu saja tidak mungkin…. Atau mungkin memang begitu?
Mengingat apa saja yang dia sembunyikan di lokernya dan semua koneksinya. Tapi entah kenapa, Louis hanya bisa memikirkan bahwa Louis adalah seorang agen rahasia yang bertugas memberantas kejahatan layaknya pahlawan.
Karena jika memang Louis adalah seorang pembunuh,
Louis tidak mungkin masih hidup hingga detik ini.
***
Gadis itu tidak mungkin membunuhku kan, jika tahu aku datang ke acaranya tadi?
Louis berusaha menghibur dirinya sendiri seraya berbaring di sofa. Louis tiba di rumah 32 menit lebih cepat daripada Louis. Apakah gadis itu mampir ke suatu tempat? Oh, tidak,
bukan itu alasan keterlambatan Louis. Louis yang menyetir seolah dikejar hantu.
Jika sampai Louis tahu tadi Louis berada di pestanya, bisa-bisa dia diusir oleh gadis itu. Mengingat Louis selalu menepati kata-katanya. Ketika gadis itu masuk ke dalam rumah, Louis memejamkan matanya dan menjaga napasnya tetapperlahan dan teratur.
" Louis?" Suara Louis menyapa telinganya.
Gadis itu berdiri di sampingnya. Louis bisa merasakan ketika Louis menunduk, dan itu membuatnya kesulitan menjaga napasnya tetap perlahan dan teratur.
" Ah, dia sudah tidur. Mungkin memang
tadi kebetulan mobil mereka mirip," gadis itu berkata pelan seraya kembali berdiri.
Lalu Louis mendengar suara langkah kaki Louis menuju kamarnya. Begitu Louis menutup pintu kamarnya, Louis bernapas lega. Syukurlah gadis itu tidak tahu. Louis benar-benar beruntung malam ini.
Tapi 30 menit kemudian Louis mengerang ketika mendengar ponselnya berdering. Tampaknya Louis sudah tidur karena dia tidak keluar untuk mengecek Louis. Dengan enggan
Louis bangun dan mengangkat telepon dari Aeron itu.
" Ada info baru tentang Presdir GM itu, aku sudah mengirim datanya ke emailmu. Segera pelajari dan cari bukti untuk kasus barunya itu. Aku dan yang lain sepakat untuk memberimu kesempatan tentang GM, tapi kami tidak bisa menyerahkan semuanya. Kau fokuslah pada kasus baru GM ini dan pada
keselamatan Louis. Aku ingin laporan awalnya besok pagi," kata Aeron.
" Aku tidak tahu harus memukulmu atau memelukmu, Aeron," desis Louis.
" Jangan begitu. Aku sudah berusaha keras untuk meyakinkan anak-anak tentang ini. Dan aku baru mendapat kabar tentang kasus ini tadi, jadi jangan mengeluh. Ini bahkan masih
belum jam 3 " balas Aeron.
" Ya, ini memang masih kurang 3 menit lagi sebelum jam 3, dan itu sangat membantu, Bos," ucap Louis sarkatis.
Aeron tertawa.
" Kau belajar dengan baik dari gadis itu,
eh?" tanyanya.
Louis menggeram sebelum menutup teleponnya dan meraih laptopnya di meja ruang tamu. Louis benar-benar mem-
berikan ruang tamu itu sebagai kamar Louis. Louis hanya beruntung karena sepertinya Louis bukan tetangga yang cukup ramah, atau teman yang senang mengundang teman-temannya ke rumah. Dia hanya beruntung karena Louis tidak pernah memanfaatkan ruang tamunya dengan semestinya.
Louis membuka laptopnya, lalu membuka email dari Aeron dan mulai mempelajarinya. Apalagi ini? Penggelapan dana amal dan donasi untuk panti asuhan? Berapa banyak lagi uang yang diinginkan rubah itu? Louis menggeram kesal ketika membaca data yang berisi dugaan besarnya biaya yang digelapkan rubah itu.
***
" Jadi hari ini adalah hari yang penting bagimu?" tanya Louis.
ketika mereka berdua sedang sarapan.
Louis mengangguk. Pagi ini Louis tidak hanya makan roti seperti biasanya. Dia memakan telur dan bacon, masakan Louis, lagi.
" Apa kau mau bertanya apakah kau bisa hadir di sana?" Louis bertanya dengan nada menuduh.
Louis tertawa.
" Jangan begitu. Aku hanya ingin melihat
bagaimana kau bekerja," Louis membela diri.
" Jadi, nanti kau akan bertemu dengan Presdir GM itu?" Ekspresi Louis berubah.
Gadis itu juga urung memasukkan suapan berikutnya dan menurunkan sendoknya. Benar dugaan Louis. Louis memang berniat untuk membalas dendam.
" Entahlah. Tapi jika dia berada di pesta, tentu saja aku mungkin akan bertemu dengannya. Tapi itu pun jika dia mau menemuiku. Beberapa klienku hanya bertemu dengan bosku ketika acara berlangsung, bukan aku," jawab Louis seraya melanjutkan makannya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Louis mengangguk-angguk.
" Kalau begitu, semoga acaramu sukses," katanya.