Ini tentang pengguna Nerkhuzogh antar Negeri Atas Angin. Dunia makin dipenuhi ras Liz-ert yang ingin menguasai Dunia.
Para Liz-ert itu hendak menjadikan manusia sebagai ternak mereka.
Untunglah di berbagai negeri masih ada para pemuda yang di pilih Dewa, Dewi yang membekali Nerkhuzogh.
Bersama mereka dipertemukan dan saling membantu mengatasi masalah yang dibuat para Liz-ert.
100% Fiction
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tenth_Soldier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabo Terjebak ; Halo Kawan!
Mabo Yunupingu melangkah hati-hati menyusuri gua yang baru saja dia temukan, Nerkhuzogh Merah Tua yang baru saja dia temukan menjadi penerang dalam gua yang gelap itu. Semburat cahaya merah yang memenuhi dinding gua memberi kesan menyeramkan. Setiap kali dia melangkah maju, bayangan-bayangan hitam stalakmit bagaikan sosok yang beringsut menjauhinya.
Mabo Yunupingu tiba-tiba merasa ada yang mengikutinya, dia seperti mendengar langkah dan desis-an yang menggema.
"Hmm, sepertinya memang ada yang mengikuti ku," pikir Mabo Yunupingu.
"Satwa apa yang bisa membantuku dalam gua yang gelap ini?" dalam benak Mabo Yunupingu sibuk mencari pertahanan terbaik untuk bisa melindunginya.
"Kelelawar! Aku rasa mereka cukup baik menghambat sesuatu yang membuntutiku." Akhirnya Mabo berhenti sejenak menatap langit-langit gua yang berselimutkan cahaya merah.
Lalu Mabo Yunupingu, menyentuh Nerkhuzogh putih gadingnya, dan mencoba berkomunikasi dengannya.
"Emm.. kawan perkenalkan namamu, kurasa aku butuh bantuanmu saat ini," Mabo menggenggam Nerkhuzoghnya erat-erat.
"Oh, maafkan aku, terlambat memperkenalkan diriku namaku Barátságos, Nerkhuzogh putih Gading yang menguasai segala bahasa binatang di dunia ini ataupun di luar dunia ini, kau juga akan kuberi kharisma untuk memerintah mereka, kau tahu? Aku dulu pernah dimiliki seorang raja yang bijak bernama Raja Salomo, dan oh ternyata jodoh tidak akan lari kemana..."
"Apa maksudmu," Mabo Yunupingu sesungguhnya merasa bosan mendengar penuturan panjang lebar Nerkhuzoghnya itu, tapi apa boleh buat dia kan baru pertama kali akan menggunakannya.
"Itu, yang kau pegang itu, Nerkhuzogh Merah Tua dia adalah sahabatku dulu, kami sama-sama digunakan Raja Salomo."
"Yo! Kawan jangan diam saja, apa kabarmu?" Barátságós memanggil Nerkhuzogh Merah Tua.
"Hoi, Iopakodás! Jangan diam saja! bicaralah!" Barátságós memanggil Nerkhuzogh Merah Tua yang menerangi gua dengan cahaya merahnya.
"Kita dibuntuti!" Iopakodás berbisik.
"Aneh, kita bertemu lagi setelah sekian lama Barátságós. Apa kabarmu?"
Dua Nerkhuzogh itu akhirnya bercakap-cakap sepanjang perjalanan yang semakin jauh ke dalam perut bumi, gua itu terlihat menurun.
Mabo Yunupingu yang lelah mendengar dua Nerkhuzogh itu tertegun ketika melihat di depannya, setapak menjadi anak-anak tangga yang menurun curam.
"Lihat! ada anak tangga yang menurun jauh, bagaimana mungkin? Apakah para Liz-ert itu yang membangunnya?"
Belum selesai bicara tiba-tiba terdengar geraman di belakang Mabo Yunupingu.
Grrrrrr... grrrrr... grrrr...
Mabo Yunupingu tak menunggu lama dia langsung melesat lari menuruni anak-anak tangga yang terbuat dari batu, jelas seseorang membuat anak-anak tangga itu.
Mabo Yunupingu kemudian berteriak pada ribuan kelelawar untuk menghambat pengejarnya.
"Hai, kelelawar lindungi aku dari dia yang hendak mencelakaiku!" teriak Mabo Yunupingu menggema dengan kerasnya sembari berlari semakin ke dalam ujung bumi.
Ribuan kelelawar mencicit terbang dari dinding atas gua berbondong-bondong menyerbu pengejar Mabo Yunupingu.
"Oh, kurasa para nocturnal itu tak kan sanggup menahan Liz-ert yang mengejar kita," keluh Barátságós.
"Setidaknya, kita punya jeda lebih jauh daripada harus menghadapinya langsung." celetuk Iopakodás.
"Kalian! Diamlah, kita, kita dalam masalah baru..." Mabo Yunupingu berhenti di sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah ruangan yang dibangun oleh para Liz-ert. Dan lima Liz-ert yang ada di depannya. Mereka bersiap-siap menangkap Mabo Yunupingu. sementara Liz-ert yang dikerubuti kelelawar juga telah terlihat di belakangnya.
"Aku rasa kita harus bertarung, hey! Iopakodás, bantu kami panggilah iblis-iblis budak Raja Salomo untuk membantu kita," Barátságós memohon kawannya itu.
"Tidak mau!" Iopakodás menolak membantu...
Liz-ert dari dua arah semakin mendekati Mabo Yunupingu.
Mabo Yunupingu menghunus tombaknya dan tangan yang lain mencengkeram Bumerangnya. Bersiap melakukan perlawanan terbaiknya.
"Aku rasa kau adalah batu bintang yang tak berguna," tukas Mabo Yunupingu pada Iopakodás.
...*****...
Chen Chien Xi, Luo Hien Xi, dan Jing Xiao Xi. dengan gerakan ringan melompat-lompat menyusuri gua yang begitu luas ukurannya, Chen Chien Xi bahkan menggunakan stalaktit demi stalaktit untuk jadi pegangan bergerak maju. Berayun-ayun bak seekor kera
"Gua ini semakin luas ukurannya," ucap Luo Hien Xi pada kedua saudaranya.
"Apakah kalian sadar sudah berapa jauh kita menyusuri gua ini?" Chen Chien Xi yang membawa benang untuk mengukur seberapa panjang gua itu meringis kelelahan.
"Menurut tingkat kelelahanku, mungkin kita sudah beberapa hari menyusuri gua ini," sahut Jing Xiao Xi terengah-engah.
"Lima hari tepatnya!" Chen Chien Xi memperjelas.
"Lihat! Di depan struktur bentuk gua yang tidak alami lagi, seperti buatan seseorang, atau Liz-ert... yah kemungkinan buruknya." Luo Hien Xi memutar bola matanya pelan.
Ketiga bersaudara itu berhenti di gua yang sudah terlihat tidak seperti gua, melainkan seperti ruangan dengan pintu-pintu gua yang sudah tertatah rapi. Terlihat ada 3 pintu menuju 3 arah yang berbeda.
"Nah, apa kita harus berpencar menyusuri tiga pintu itu?" tanya Jing Xiao Xi sambil menatap Luo Hien Xi dan melirik Chien Xi sembari tersenyum simpul.
"Aku pikir lebih baik kita tetap bersama-sama menyusuri salah satu pintu ini," Luo Hien Xi memberi saran.
"Ya, aku yakin di mana pun pintu yang kita masuki di situ pasti banyak kawanan Liz-ert." Chen Chien Xi yang merasa takut setuju dengan pendapat kakak sulungnya itu.
"Baiklah, tapi kurasa kita butuh istirahat lebih dulu," ucap Jing Xiao Xi.
"Chen, keluarkan pil pemulih stamina, dan ambillah air dari tetesan stalaktit itu," titah Luo Hien Xi sambil menunjuk stalaktit besar dengan tetesan air tanah yang jernih.
"Baiklah, ini pil pemulih tenaganya, dan aku akan mengambil air dulu, awasi aku, ya?" Chen Chien Xi berjalan menuju stalaktit yang dimaksud menampung air ke dalam kantung kulitnya dan kembali kepada dua saudaranya yang mulai bermeditasi, mempercepat reaksi pil pemulih tenaga untuk mengembalikan energi yang terkuras habis.
Chen Chien Xi pun melakukan hal yang sama ketiganya bermeditasi menghadap ketiga pintu.
Setelah beberapa lamanya, tiba-tiba terdengar suara-suara berdenting yang bergema bersahutan. Chen Chien Xi membuka matanya berkonsentrasi untuk mendengarkan suara-suara yang terdengar oleh telinganya.
"Kak? Apa kalian juga mendengar yang kudengar?" Chen Chien Xi dengan lirih memanggil kedua saudaranya.
"Jing Xiao Xi, kau mendengarnya? sepertinya dari pintu yang ada di depanmu," Luo Hien Xi, berbisik pada adik perempuannya itu, seraya turut memusatkan pendengarannya.
Lalu samar-samar terdengar teriakan dan raungan yang silih berganti dibarengi dentingan logam.
"Tak salah lagi, kurasa kita akan menjumpai naga-naga liar itu," ucap Jing Xiao Xi sambil beranjak berdiri yang lainnya mengikuti.
"Jadi, kita pilih pintu tengah?" Chen Chien Xi bersemangat sekaligus bergidik.
"Baiknya kita bergerak cepat, sekarang!" tukas Luo Hien Xi yang mulai melesat memasuki pintu tengah disusul kedua adik-adiknya.
Mereka dengan gesit dan lincah menyusuri sebuah koridor yang cukup panjang mencari keributan yang semakin terdengar jelas.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan dengan anak-anak tangga yang menurun.
Chen Chien Xi melongok ke bawah.
"Wah! Lihat di bawah sana! Ada seorang anak kecil yang dikeroyok, emmm satu, dua, tiga, empat, lima, enam Liz-ert!"
"Malang sekali anak itu, ayo kita bantu dia!" Jing Xiao Xi melompat turun dengan ringannya kedua saudaranya juga menyusul.
"Hei! Liz-ert jelek! Tak tahu malu! Beraninya keroyokan! Ciaaatttt!!!" Luo Hien Xi langsung mengayunkan pedangnya menahan serangan dua Liz-ert yang mengeroyok seorang anak kecil yang ternyata adalah Mabo Yunupingu!
"Hai Kawan, berani sekali kau bermain sendirian menghadapi kadal-kadal ini," Chen Chien Xi menyapa Mabo yang usianya lebih muda darinya.
"Aku sudah kehabisan tenaga, Terima kasih telah membantuku," jawab Mabo Yunupingu merasa aman, tubuhnya sudah kelelahan bekas-bekas cakaran Liz-ert terlihat di sekujur badannya, anak itu terlihat sempoyongan dan mundur ke belakang tiga penolongnya yang terlihat begitu tangkas menghadapi para Liz-ert.
"Beristirahatlah, Kawan biar kami yang membereskan mereka semua," Chen Chien Xi menarik tangan Mabo Yunupingu ke belakang.
Tuank! tuank!!! tuank!!!
"Huupp, yaakkk!!!"
"Arrrgghh... arrrgghh!!!"
Wuzzz!!! wuzzz!!!
"Ciaaaattt ....ciaaatttt!!!"
"Groarrr... groarrr..."
Swring!!! Swring!!!
"Arrrgghh...!!" Groarrrr!!!
Jrooottt!!! jrooottt!!! jrooottt!!!
Ketiga bersaudara itu dengan sangat mudah membereskan para Liz-ert.
Darah yang berwarna hijau berceceran di setiap sisi dinding ruangan itu.
Satu persatu Liz-ert berjatuhan. Dan ketika situasi telah aman.
Chen Chien Xi menoleh ke arah Mabo Yunupingu yang telah tak sadarkan diri.
Bersambung...