Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Berdarah
Serahkan hak asuh anakmu sepenuhnya padaku secara tertulis sekarang juga... atau biarkan Adrian mati tenggelam dalam racunnya di depan matamu sendiri.
Kata-kata Eleanor bergema dingin di tengah gemuruh hujan yang kian lebat mengguyur heli pad. Di pangkuan Anindya, Adrian mengerang hebat, pembuluh darah di lehernya kian menegang dan menghitam, memancarkan rasa sakit yang tak tertahankan.
Aagghh! Anindya... jangan...bisik Adrian dengan suara serak yang memburu.
Tangannya menggenggam jemari Anindya begitu erat, berusaha menahan kesadarannya yang kian tergerus racun.
Jangan pernah... turuti kemauannya...
Adrian! jerit Anindya, air matanya menetes membasahi wajah suaminya yang kian pucat.
Ia menengadah, menatap Eleanor dengan pandangan penuh kemarahan sekaligus keputusasaan.
Kau ini ibunya! Bagaimana mungkin kau tega melihat anak kandungmu sendiri sekarat seperti ini?!
Justru karena aku ibunya, Anindya, sahut Eleanor tenang, jemarinya yang berbalut sarung tangan sutra memutar-mutar tabung suntik berisi cairan keemasan itu.
Aku tahu apa yang terbaik untuknya dan untuk keturunan keluarga Vane.
Waktumu tinggal delapan menit sebelum racun itu merusak jaringan otaknya secara permanen.
Eleanor! Kau benar-benar sudah hilang akal! teriak Baskara seraya mencoba melangkah maju.
Namun dua prajurit berarmor perak langsung mengunci kedua tangannya ke belakang.
Dia anakmu! Dan Anindya adalah putriku! Hentikan kegilaan ini!
Tutup mulutmu, Baskara! bentak Eleanor dingin tanpa menoleh.
Kau melarikan diri dan bersembunyi seperti penakut selama puluhan tahun, sementara aku membangun jaringan ini dari nol!
Kau tidak punya hak untuk mengguruiku!
Anindya, jangan dengarkan dia! seru Sarah yang juga dalam kuncian prajurit perak.
Jika kau menandatangani surat itu, dia akan membuangmu setelah bayi itu lahir!
Aku tahu!jerit Anindya dengan suara melengking memecah angin malam.
Ia menatap Eleanor dengan tatapan tajam yang menusuk.
Kau tidak akan pernah membiarkanku hidup setelah anak ini lahir, bukan?!
Eleanor tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang sangat mematikan.
Kau wanita yang cerdas, Anindya. Tapi pilihanmu sangat sederhana malam ini.
Menandatangani surat ini dan melihat Adrian hidup, atau mempertahankan hak asuhmu dan menonton suamimu mati dalam hitungan menit.
Aaghh! Adrian meraung lagi, tubuhnya kejang kecil saat warna kehitaman di lehernya mulai merambat naik menuju rahangnya.
Anindya... pergi... tinggalkan aku...
Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Adrian! tangis Anindya pecah.
Ia memegang dada Adrian yang berdegup kencang dan tak beraturan.
Hatinya hancur berkeping-keping melihat pria yang dicintainya berada di ambang kematian demi melindunginya.
Enam menit lagi, Nyonya Vane, ucap Eleanor seraya mengibaskan tangannya.
Seorang prajurit perak maju membawa sebuah map kulit hitam dan sebuah pena berujung emas, membukanya tepat di hadapan Anindya.
Anindya... jangan... pendarahan di perut Adrian kembali merembes, membuat gaun Anindya kian bersimbah darah.
Jangan... biarkan anak kita... jadi budak... iblis ini...
Anindya menatap wajah Adrian yang tersiksa, lalu menatap dokumen di hadapannya.
Lembaran kertas itu berisi klausul penyerahan hak asuh mutlak atas anak yang dikandungnya kepada Eleanor Vane sejak detik pertama kelahiran.
Apakah... apakah penawar itu benar-benar akan menyembuhkan Adrian sepenuhnya? tanya Anindya dengan suara gemetar, jemarinya perlahan terulur meraih pena emas itu.
Anindya! Jangan!" teriak Baskara histeris.
Kau menjual masa depan anakmu sendiri!
Aku tidak punya pilihan, Ayah! jerit Anindya berpaling menatap ayahnya dengan mata memerah.
Aku tidak bisa melihat Adrian mati di depan mata kepalaku sendiri! Aku tidak bisa!
Pilihan yang sangat bijak, Anakku, puji Eleanor dengan nada suara selembut bisikan iblis.
Tandatangani di atas meterai itu, dan cairan keemasan ini akan langsung masuk ke pembuluh darah suamimu.
Adrian mencoba meraih tangan Anindya yang memegang pena, namun tenaganya sudah benar-benar habis.
Tangannya jatuh melulai di atas beton basah. Anind... ya...
Anindya menempelkan ujung pena emas itu di atas kertas.
Air matanya jatuh menetes tepat di atas nama lengkapnya yang tertera di dokumen.
Denyut jantungnya berpacu hebat, jemarinya bergetar saat ia mulai menggoreskan tanda tangannya.
Sret... Sret...
Bagus...gumam Eleanor dengan mata berbinar penuh kemenangan.
Sedikit lagi...
Tepat saat Anindya menyelesaikan goresan terakhir dari tanda tangannya, sebuah ledakan gelombang frekuensi tinggi kembali menghantam heli pad, namun kali ini berasal dari arah bawah atap!
BOOM!
Pintu atap hancur berkeping-keping, melempar dua prajurit berarmor perak hingga terpelanting jatuh.
Dari balik kepulan asap hitam dan kobaran api, sesosok pria tinggi tegap dengan mantel hitam panjang dan topeng besi pelindung wajah melangkah keluar dengan cepat.
DOR! DOR! DOR!
Tiga tembakan beruntun berkecepatan tinggi dilepaskan pria bertopeng besi itu.
Tembakan pertama menghancurkan pena di tangan Anindya, tembakan kedua menghantam map dokumen hingga terbakar, dan tembakan ketiga menembus tepat pada tabung suntik zat keemasan di tangan Eleanor!
PRANG!
Tabung kaca itu hancur berkeping-keping, dan cairan keemasan penawar racun itu tumpah terbuang, menyatu dengan air hujan di atas lantai beton.
TIDAK! jerit Eleanor histeris saat melihat penawar racun satu-satunya itu hancur berhamburan.
Siapa kau?! Berani sekali kau menghancurkan rencanaku!
Anindya terperanjat hebat, menatap cairan keemasan yang mengalir sia-sia di antara sela-sela jarinya.
Penawarnya... penawarnya hancur! Adrian!
Adrian terkulai lemas di pangkuan Anindya, matanya perlahan mulai terpejam rapat saat warna hitam di lehernya telah mencapai pelipisnya.
Adrian! Buka matamu! Adrian! jerit Anindya histeris, mengguncang-guncang tubuh suaminya yang tak lagi bergerak.
Pria bertopeng besi itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, berdiri tepat di antara Eleanor dan Anindya.
Ia mengarahkan pistol peluncur granat taktisnya langsung ke arah helikopter siluman Eleanor.
Lama tidak berjumpa, Eleanor, ucap pria bertopeng besi itu dengan suara bergelombang yang diubah oleh modulator vokal.
Eleanor membelalakkan matanya saat mengenali logo naga melingkar yang terukir di atas dada armor pria itu.
Kau... Pemimpin Sindikat Hitam?! Bukankah kau sudah mati di tangan Alexander dua puluh tahun lalu?!
Pria bertopeng besi itu terkekeh dingin, suara tawanya bergema sangat menakutkan di tengah badai hujan.
Kalian semua terlalu sibuk merebutkan darah murni ini, hingga kalian lupa siapa pemilik asli dari proyek genetik ini.
Pria itu kemudian berbalik perlahan, menatap Anindya yang sedang menangis histeris di samping tubuh Adrian yang sudah tidak bernapas.
Nyonya Anindya, ujar pria bertopeng besi itu seraya membuka topeng besinya perlahan.
Penawar di tangan Eleanor tadi hanyalah kebohongan.
Penawar racun yang sesungguhnya... ada di dalam darahku.
Saat topeng besi itu terlepas sepenuhnya, Anindya dan Baskara membelalakkan mata mereka dengan rasa terkejut yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.
Wajah di balik topeng besi itu... adalah wajah yang sangat identik dengan Adrian Vane, namun dengan usia yang jauh lebih matang dan mata kiri yang berwarna merah menyala!
Kau... desis Baskara dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Kau adalah... saudara kembar Adrian yang hilang?!