Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Rafa

Rumah Untuk Rafa

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Slice of Life / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: permata_silvia

Alya tidak pernah menyangka satu malam di rumah sakit akan mengubah seluruh hidupnya.

Di tengah duka atas kematian ibunya, ia justru terikat pada seorang bayi laki-laki yang lahir tanpa ibu dan tanpa masa depan yang jelas. Tanpa status, tanpa kepastian, bayi itu perlahan menjadi bagian dari hidupnya—hingga Alya memberinya nama: Rafa.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Ketika Dimas, ayah biologis Rafa, muncul dan menuntut haknya, Alya harus menghadapi kenyataan pahit: ia bukan siapa-siapa bagi bayi yang telah ia cintai sepenuh hati.

Di tengah kehilangan, hadir Reza—dokter yang diam-diam menjadi tempat Alya bersandar saat hatinya runtuh.

Kini Alya dihadapkan pada pilihan paling menyakitkan dalam hidupnya:

memiliki, atau merelakan.

Karena tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki… dan tidak semua rumah berbentuk tempat tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon permata_silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Jarak yang Tidak Tertulis**

Pagi itu datang dengan langit yang mendung, dan entah kenapa Alya merasa suasana di luar rumah sakit sangat mirip dengan keadaan di dalam dirinya sendiri. Tidak ada hujan, tetapi awan-awan gelap menggantung rendah seolah sedang menahan sesuatu yang suatu saat pasti akan jatuh. Sama seperti dirinya yang sejak keputusan pengasuhan bersama diberlakukan mulai merasa ada tekanan yang terus bertambah setiap hari.

Sudah beberapa hari berlalu sejak jadwal kunjungan dan interaksi dengan Rafa mulai diatur secara resmi.

Dan semakin hari, Alya semakin membenci kata jadwal.

Karena perasaan tidak pernah berjalan sesuai jadwal.

Kerinduan tidak mengenal jam.

Kekhawatiran tidak mengenal batas waktu.

Dan menjadi seseorang yang peduli pada Rafa tidak pernah terasa seperti pekerjaan yang bisa dimulai dan dihentikan sesuai aturan.

Namun sekarang semua itu harus mengikuti sistem.

Alya duduk di kursi yang sudah hampir menjadi rumah keduanya.

Tangannya memegang secangkir teh hangat yang bahkan belum disentuh sejak lima belas menit lalu.

Matanya tetap tertuju pada ruang bayi.

Pada Rafa.

Pada satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan melewati hari-hari yang terasa semakin sulit.

Di dalam ruang bayi, Rafa sudah tidak lagi terlihat sekecil saat pertama kali Alya melihatnya.

Tubuhnya mulai sedikit berisi.

Wajahnya mulai menunjukkan ekspresi yang lebih jelas.

Dan setiap perubahan kecil itu selalu berhasil membuat Alya tersenyum meskipun hanya sebentar.

Karena di tengah semua ketidakpastian, pertumbuhan Rafa adalah satu-satunya hal yang bergerak ke arah yang benar.

“Alya.”

Suara Reza membuatnya menoleh.

Dokter itu berjalan mendekat sambil membawa beberapa berkas.

Namun kali ini wajahnya terlihat lebih serius dibanding biasanya.

“Ada apa?” tanya Alya pelan.

Reza duduk di sampingnya.

Lalu menghela napas sebelum menjawab.

“Akan ada evaluasi lanjutan minggu depan.”

Alya langsung mengernyit.

“Lagi?”

Reza mengangguk.

“Evaluasi apa kali ini?”

“Penyesuaian hubungan antara bayi dan kedua calon pengasuh.”

Alya langsung mengerti.

Dan ia tidak menyukai artinya.

“Mereka ingin Rafa lebih dekat dengan Dimas.”

Reza tidak langsung menjawab.

Karena itulah kenyataannya.

Alya tertawa kecil.

Tapi terdengar lebih seperti rasa kecewa daripada hiburan.

“Jadi sekarang mereka akan mencoba mengajari dia siapa yang harus dia kenal?”

“Alya...”

“Bukankah itu yang terjadi?” potong Alya pelan.

Reza diam.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia sendiri mulai kesulitan membela sistem yang sedang berjalan.

Beberapa jam kemudian, Dimas datang.

Seperti biasanya.

Tepat waktu.

Tidak terlambat.

Tidak terlalu cepat.

Pria itu terlihat lebih rapi hari ini.

Tetapi juga lebih lelah.

Seolah beberapa hari terakhir tidak hanya mengubah hidup Alya, tetapi juga hidupnya.

Dimas berdiri di depan ruang bayi.

Menatap Rafa yang sedang terjaga.

Rafa tidak menangis.

Namun juga tidak menunjukkan antusiasme khusus.

Ia hanya memandangi langit-langit inkubator sambil sesekali menggerakkan tangan mungilnya.

Dimas masuk ke dalam ruangan.

Hari itu adalah jadwal interaksinya.

Alya memperhatikan dari luar kaca.

Ia ingin berpaling.

Ingin mengalihkan perhatian.

Tapi tidak bisa.

Karena setiap detik yang melibatkan Rafa terasa terlalu penting untuk dilewatkan.

Di dalam ruangan, Dimas mencoba berbicara kepada Rafa.

Meskipun bayi itu tentu belum mengerti.

“Halo, jagoan kecil.”

Suaranya terdengar canggung.

Tidak buruk.

Hanya belum terbiasa.

“Aku datang lagi hari ini.”

Rafa berkedip.

Lalu menggerakkan tangan kecilnya.

Tidak ada tangisan.

Tapi juga belum ada kedekatan.

Dimas tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu bagaimana menjadi ayah,” katanya pelan.

“Sejujurnya aku bahkan tidak pernah membayangkan akan ada di posisi ini.”

Di luar kaca, Alya tanpa sadar menahan napas.

Karena untuk pertama kalinya, ia melihat Dimas bukan sebagai ancaman.

Melainkan sebagai seseorang yang juga sedang berusaha memahami situasi yang tidak pernah ia rencanakan.

Namun pemahaman itu tidak menghilangkan rasa takut.

Karena memahami seseorang tidak sama dengan siap kehilangan sesuatu kepada orang itu.

Setelah sesi selesai, Dimas keluar dari ruang bayi.

Dan kali ini ia langsung duduk tidak jauh dari Alya.

Untuk beberapa saat mereka tidak bicara.

Hanya diam.

Sampai akhirnya Dimas membuka suara lebih dulu.

“Aku tidak pernah ingin jadi musuhmu.”

Alya menatap lurus ke depan.

“Aku juga tidak pernah mencari musuh.”

Dimas mengangguk pelan.

“Tapi kita tetap ada di posisi ini.”

Alya tersenyum kecil.

Pahit.

“Karena kadang dua orang bisa menginginkan hal yang sama dengan alasan yang berbeda.”

Dimas menoleh kepadanya.

“Dan menurutmu aku menginginkan apa?”

Alya terdiam beberapa detik.

“Kesempatan.”

Dimas terlihat sedikit terkejut.

“Kesempatan?”

Alya mengangguk.

“Kesempatan untuk menjadi ayah.”

Lalu ia menatap ruang bayi.

“Sedangkan aku...”

Suaranya melemah.

“Aku hanya ingin tetap menjadi seseorang yang tidak meninggalkannya.”

Hening kembali turun di antara mereka.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada teriakan.

Dan justru karena itu semuanya terasa lebih menyakitkan.

Karena konflik terbesar sering kali bukan datang dari orang jahat.

Tetapi dari dua orang baik yang menginginkan hal yang sama.

Sore hari, evaluasi kecil kembali dilakukan.

Petugas mencatat bagaimana Rafa merespons Alya.

Bagaimana Rafa merespons Dimas.

Bagaimana keduanya berinteraksi.

Dan hasilnya masih sama.

Rafa terlihat lebih tenang saat Alya berada di dekatnya.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Saat Dimas mengajaknya berbicara lebih lama, Rafa tidak lagi langsung menangis.

Ia masih belum nyaman sepenuhnya.

Tapi mulai terbiasa.

Perubahan kecil.

Namun cukup untuk membuat Alya merasakan sesuatu yang menusuk di dalam dadanya.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa hubungan juga bisa tumbuh.

Dan jika hubungan Dimas dengan Rafa terus tumbuh...

Maka suatu hari nanti mungkin tidak akan ada lagi alasan emosional yang cukup kuat untuk mempertahankan posisinya.

Malam tiba.

Lampu-lampu lorong kembali menyala.

Suasana rumah sakit kembali tenang.

Namun hati Alya tidak.

Ia duduk di depan kaca ruang bayi seperti biasa.

Menatap Rafa yang sudah tertidur.

Reza datang beberapa menit kemudian.

“Kamu kelihatan banyak pikiran.”

Alya tertawa kecil.

“Baru sadar?”

Reza ikut tersenyum tipis.

Lalu duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.

Sampai akhirnya Alya berkata pelan.

“Dia mulai mengenal Dimas.”

Reza tidak langsung menjawab.

Karena itu memang kenyataannya.

“Alya...”

“Aku tahu itu bagus,” potong Alya.

“Aku tahu itu seharusnya membuatku senang.”

Ia menunduk.

“Tapi kenapa rasanya aku justru takut?”

Reza memandangnya lama.

Karena ia tahu jawaban pertanyaan itu.

“Kamu takut kehilangan tempatmu.”

Alya tidak menjawab.

Karena itu benar.

Sangat benar.

Ia tidak takut Dimas menjadi ayah yang baik.

Ia tidak takut Rafa dicintai.

Yang ia takutkan adalah hari ketika Rafa tidak lagi membutuhkan dirinya seperti sekarang.

Dan ketakutan itu perlahan mulai menjadi nyata.

Di dalam ruang bayi, Rafa bergerak kecil dalam tidurnya.

Alya tersenyum tipis.

Lalu berdiri dan mendekat ke kaca.

“Aku masih di sini,” bisiknya pelan.

Seperti janji yang terus ia ulang setiap hari.

Seperti doa yang tidak pernah berhenti ia panjatkan.

Dan malam itu, tanpa disadari siapa pun, jarak yang tidak tertulis mulai terbentuk.

Bukan antara Alya dan Rafa.

Tetapi antara harapan Alya... dan kemungkinan masa depan yang sedang disiapkan oleh dunia untuk mereka.

1
Yati Susilawati
👍👍
💟노르 아스마💟
makin seruuu...ada apakah sebenarnya?
💟노르 아스마💟
cerita yg bagus ...sangat menarik dan seru
semangat thor...semoga secepatnya rame ya thor
aamiin yra
Silvia: terimakasih kak, mohon dukungannya ya😊
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Alya ✍️
Silvia: salam kenal kk wawan semoga kk suka ya cerita nya😊
total 1 replies
Siti Rohmah
semangat
Rahma Wati
lama amat g up ....kemana aja thor
Elfrina Tinambunan
jgn kelamaan upnya thor
Safni Mardesi
semangat thoor. .
Safni Mardesi
kenapa blm up juga thoor... saat ini masih ngambang belum dapat alur ceritanya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!