Kisah pernikahan yang dilandaskan atas perjodohan, antara Azkia dan Evans.
Azkia, wanita cantik yang sukses di usia muda sebagai penulis yang dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Evans, arsitek handal yang masih tenggelam dalam masalalunya. yang harus menerima perjodohan karna permintaan terakhir dari sang ayah.
pernikahan yang dilandaskan perjodohan membuat Azkia dan Evans menjalani hubungan yang tak semestinya. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai menerima keadaan dan timbul perasaan. Sehingga sepakat menjalani hubungan mereka yang seharusnya.
Ujian pernikahan mereka diuji dengan kedatangan masa lalu Evans yang memiliki niat tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 19
'Tok..Tok..Tok.."
Sudah tak terhitung berapa kali Evans mendengar ketukan pintu ruangannya, dan Evans sudah bosan untuk mempersilahkan masuk,tapi tak juga kunjung masuk. Akhirnya memilih mengabaikan dan melanjutkan pekerjaannya.
'Brakkkk'
Evans terperanjat saat tiba-tiba pintu terbuka dengan sekali hentakan keras. Dan munculah satu sosok, yang tak diharapkan kedatangannya pada jam-jam seperti ini. Apalagi dengan sebelah tangannya yang membawa beberapa kantong plastik, dan sebelah tangannya lagi membawa empat kotak pizza. Dan sudah di pastikan apa maksud dan tujuannya datang kesini.
"Atas dasar perusakan sarana dan prasana gaji lo bisa dipotong."
"Ckck. Gak mikirin soal gaji. Tinggal mengadahkan tangan dihadapan bokap, ATM penuh."
Satria mengangkuhkan dirinya, jelas lah dirinya tidak memikirkan gaji toh perusahaan ini miliknya. Lebih tepat lagi milik Ayah nya.
"Sombong."
Wvans mencibir, dirinya lupa barusan dia memperingati siapa. Satria putra Frandika, putra sulung dari Randi Frandika sekaligus pemilik Frandika Group, salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Tepat tempat dirinya saat ini mencari nafkah.
Bukan Satria namanya jika tidak berbeda, saat saudara-saudaranya yang lain berlomba dan bersaing untuk mendapat posisi teratas di perusahaan. Berbeda dengan Satria yang memilih menjabat sebagai Kepala Seksi Desain, yang jelas Evans memiliki posisi lebih atas dibanding nya.
Satria tidak pernah mengkhawatirkan soal posisinya, toh perusahaan Frandikq Group akan jatuh ketangannya juga nanti, saat sang Ayah sudah pensiun.
Ada alasan mengapa dirinya tidak menduduki jabatan tinggi di perusahaan. Itu karena kesalahannya sendiri dulu, saat Evans sahabatnya belajar dengan giat dan gigih di masa kuliah, berbeda dengan dirinya yang lebih memilih menikmati masa mudanya dengan main-main, mengesampingkan urusan sekolah dan belajar.
Bahkan memilih satu jurusan yang sama dengan Evans, itu bukanlah keinginan tersendiri, itu hanyalah untuk memenuhi kemauan orang tuanya. Dan Evans lah yang ditunjuk sebagai panutannya oleh sang Ayah. Selama ini Evans selalu menjadi bahan perbandingan, apalagi dalam sisi kecerdasan. Tak ayal, Ayah nya itu tidak main-main dalam mengangkat jabatan Evans, toh itu sebanding dengan kemampuannya yang telah terbukti.
Apakah Satria, merasa iri ? Tentu tidak. Dirinya pun sadar diri.
Ilmu yang dimilikinya tidak sepadan dengan Evans. Sudah sepantasnya Evans menduduki jabatan Project Manager di perusahaan ini, karena skill dan kemampuan Evans tak usah diragukan lagi.
Maka dari itu dirinya memilih untuk menata karir dari tahap bawah, sekaligus untuk mengasah kemampuan dan melatih dirinya untuk menjadi Direktur Utama, pengganti sang Ayah nanti.
"Salah lo, gue ketuk pintu gak dibuka. Mau langsung masuk bilang gak sopan. Gue gak kesini entar lo neleponin, alesan gak ada temen ghibah, padahal kangen sama gue. Mau lo tuh apasih?"
Satria kembali bersuara setelah menyimpan semua barang bawaannya di meja kerja Evans, yang tentu membuat sang empunya mendelik tajam.
"Gak ada ya gue gitu Sat. Disini lo yang lebih salah, karena selalu datang bukan di waktu yang tepat."
Evans menentang keras pernyataan Satria.
"Emang kapan gue bener dimata lo Van?"
Satria mendrama suasana yang hanya mendapat delikan tajam dari Evans.
"Lagian gak baik gimana coba gue? Bawain lo makanan, saat lo sibuk kerja sampai lupa udah waktunya istirahat."
"Tapi gak harus bawa makanan sebanyak itu juga kali. Kita kan cuman berdua, yang ada mubadzir."
Alvin menggelengkan kepala, melihat banyaknya makanan yang Satria bawa.
"Kata siapa kita cuman berdua?"
"Jangan bilang?"
Evans menatap Satria curiga, jangan bilang Satria membawa sekutunya kesini.
'Brakkkkk'
Evans dan Satria sama-sama terperanjat mendengar pintu yang lagi-lagi di buka secara keras. Dan ya tebakan Evans benar, Satria membawa sekutunya. Siapa lagi kalau bukan wanita cantik berperawakan tinggi, dengan rambut hitam sebahu yang memiliki sifat sebelas dua belas dengan Satria. Cahya Lestari, wanita anggun nan cerdas keturunan Jawa asli. Sikapnya akan berbanding terbalik jika sudah berada di antara Evans dan Satria. Namun jabatannya sebagai sekretaris, mampu menutupi semuanya.
"Gue gak telat kan?" Cengiran khas terpatri di wajahnya yang Manis.
"Tujuh menit lewat lima belas detik." Sarkas Satria.
"Katanya mau jadi suami gue, gue telat dikit aja nyampe diitung."
"Sebelum lo terima lamaran gue, apa yang lo lakuin salah dimata gue." Satria kembali bersuara dengan sengit.
"Sebelum lo belum jadi Direktur Utama, jangan harap gue maujadi istri lo." Balas Cahya tak kalah sengit.
"Matre."
"Namanya juga cewek."
"Gak sekalian aja nikah sama Bapak gue."
"Asal gak punya anak tiri kayak lo."
Evans menghela napas panjang, dari awal dirinya sudah menebak apa yang akan terjadi jika kedua orang itu dipertemukan. Cek-cok dan adu mulut sudah pasti, saling mengejek satu sama lain adalah hal yang wajib. Aneh juga, mengapa mereka bisa berteman sejak dulu jika hanya untuk bertengkar, dan dirinya selalu bertugas menjadi wasit. Dan itu sudah terjadi sejak mereka sama-sama menjadi karyawan magang di Frandika Group. Tidak menyangka perkenalannya dengan Cahya akan berlanjut sampai sekarang
Alasan terciptanya api permusuhan antara Satria dan Cahya, terjadi hanya karena waktu itu, Satria tidak sengaja menabrak Vespa milik Cahya yang katanya turun temurun itu. Dan sepertinya sulit bagi Nindi untuk memaafkan Satria, karena buktinya sampai saat ini hanya angan belaka jika mereka berdamai.
"Kalau masih mau lanjut, pintu keluar masih terbuka."
"Baikan kita Cah."
"Pasti dong Sat."
Keduanya sama-sama menautkan kelingking mereka sebagai tanda damai. Bahaya juga kalau mereka di usir, karena makanan yang Satria bawa akan sia-sia.
"Makan cepet, setelah itu kalian keluar. Gue banyak kerjaan."
Tanpa menunggu lama, ketiganya pun menikmati menu makanan siang ini. Ini bukan yang pertama. Sudah sering mereka makan bertiga mungkin hampir setiap hari. Hanya saja momen yang benar-benar hanya mereka bertiga seperti ini jarang terjadi, dikarenakan kesibukan masing-masing.
Evans menikmati makanannya dalam diam, tapi tidak dengan matanya yang terus mengawasi dua orang yang ada di hadapannya. Berhenti bertengkar lewat mulut bukan berarti mereka akan diam begitu saja. Lihat saja sekarang, walaupun mulut mereka penuh dengan makanan tapi tidak dengan kontak mata mereka yang terus berbicara.
Evans merasa jengah melihat sikap mereka, berharap acara makan siang ini cepat berakhir. Tapi sayang perutnya menolak keras, karena masih membutuhkan asupan yang banyak.
Mencari pengalihan, tak sengaja mata Evans tertuju pada tiga buku yang ada di pangkuan Cahya. Bukan bukunya, tapi nama penulisnya yang menjadi penarik perhatian Evans. Entah kenapa sekelibat bayangan Azkia tiba-tiba memenuhi otaknya.
"Kenapa tiba-tiba mikirin Azkia?" Batin Evans bertanya.
"Buku apa tuh Cah?" Akhirnya, rasa penasaran mampu mengalahkan gengsinya.
Merasa terpanggil, Cahya mengakhiri pergulatan matanya dengan Satria, dan langsung menghadap Evans.
"Ini tuh buku terbaru dari penulis idola gue. Gue aja baru dapet hari ini dari si Tara, kebetulan dia sering ikut seminarnya. Nyari sendiri, susahnya minta ampun"
"Oh."
Evans hanya beroh-ria, padahal rasa penasarannya belum hilang begitu saja.
"Lo mau baca gak? Ini novel terbarunya loh, pasti seru. Tapi nanti kalau gue udah beres."
"Kurang minat sama novel." Balas Evans acuh.
"Yakin? Gue aja yang anti sama baca buku jadi hobi setelah baca buku dia. Apalagi 10 yang suka baca buku setebel balok. Siapa sih yang gak jatuh cinta pandangan pertama sama karya KIKIA?"
Cahya terus bersikeras membujuk Evans.
"KIKIA? Itu buku-buku karya dia?" Satria yang awalnya tidak berminat ikut dalam pembicaraan akhirnya tertarik saat mendengar siapa yang baru saja Cahya sebut. Tentu saja Satria tau siapa KIKIA itu.
"Iya. Lo tau sendiri gue penggemar beratnya."
Satria tidak salah lagi, benar KIKIA yang Cahya maksud, sama dengan yang ia maksud juga. Tiba-tiba senyum Seringai ia berikan pada Evans dan hanya mendapat delikan tajam.
"Lo kan penggemar beratnya lo pasti tau dong tentang dia?" Terbesit ide cemerlang di otak Satria.
"Ya taulah."
"Berarti lo tau dong dia orangnya gimana?"
"Enggak."
"Lah tadi lo bilang?"
"Gue tau tentangnya bukan berarti gue tau orangnya Satsat."
Satria menggeretakan giginya, ingin rasanya menelan hidup-hidup wanita bernama Cahya ini.
"Sebutin apa yang lo tau tentang dia!"
"Gak usah halu deh Bim, masih siang juga. Jangan bilang lo juga ngehalu jadi suaminya."
"Terserah gue dong."
"Serah lo deh ngimpi apa aja. Lagian dia udah married kali."
"Lo tau?"
Satria semakin gencar mewawancarai Cahya. Dan sesekali tersenyum puas melihat Evans. Toh emang ini tujuannya.
"Gue gak bakal tau kalau dia gak posting buku nikah pake caption Alhamdulillah sah."
"Lo tau siapa suaminya?"
"Orangnya aja gue gak tau apalagi suaminya Satsat. Ini nih akibat sekolah cuma nyampe gerbang."
Evans yang sejak tadi seolah tak peduli, diam-diam menjadi penyimak sejati. Tidak ada satu kata pun yang terlewat
"Yang jelas dia tuh penulis hebat, karya-karyanya udah terkenal se Indonesia. Siapa sih yang gak tau dia? Sayangnya aja dia kurang mempublikasikan diri. Jadi selain karya sama prestasinya gue gak tau menau tentang kehidupan pribadinya."
Dengan senang hati Cahya menjelaskannya.
"Sama sekali belum ketemu dia?"
"Ya belum lah, tapi mau banget. Apalagi gue denger dia sekarang di Jakarta. Seminarnya selalu pas hari kerja."
"Lo mau ngasih gue apa kalau bisa nemuin lo sama dia?"
"Dih emang bisa? Gak percaya gue. Orang kayak lo bisa kenal sama orang seterkenal KIKIA."
"Loe ngeremehin gue? Asal lo tau, selain gue bisa nemuin lo sama dia, gue juga bisa menuhin apa yang loe mau kalau ketemu dia. Bahkan sampai bikin lo tinggal serumah sama dia"
ia dengar pembicaraan antara Satria dan Cahya. Biasanya ia akan bergerak cepat menjadi wasit saat kedua orang dihadapannya mulai buka suara. Tapi tidak untuk saat ini, pembicaraan mengenai penulis idola Cahya rasanya lebih menarik. Setiap nama KIKIA tersebut, pasti terbesit bayangan Azkia di benak dan pikirannya.
"Mimpi gue akan nyata kalau dia udah pisah dari suaminya."
'PrakkkK'
Satria dan Cahya sama-sama mengalihkan perhatiannya pada Evans, yang baru saja menjatuhkan gelas yang tidak berdosa.
"Jam makan siang udah beres. Mendingan kalian keluar, gue banyak kerjaan."
"Gara-gara lo Sat, ngajakin gue ngobrol. Makanan gue belum abis, udah disuruh keluar kan."
Cahya misuh-misuh tidak terima pada Satria.
"Pulang kerja gue traktir lo. Yang jelas, makasih atas informasinya."
"Awas kalau ingkar. Gue permisi." Cahya meninggalkan ruangan dengan membawa sisa makananan bagiannya. Sedangkan Satria, dirinya masih asik mengunyah.
"Jangan sampai ada sekecil apapun remahan yang tertinggal." Peringatan Evans yang telah duduk di kursi kerjanya lagi.
"Gue panggil OB nanti."
"Secepatnya." Perintah Evans tak terelakan.
"Lo yang beruntung dapetin dia." Evans terkesiap mendengar ucapan Satria sebelum meninggalkan ruangan. Lagi-lagi Satria mengatakan itu untuk kesekian kali, dan sampai saat ini dirinya belum tau apa maksud dari kata-kata itu.
Mencoba tidak mempedulikan, Evans kembali berkutat pada pekerjaannya. Tapi obrolan antara Satria dan Cahya tadi cukup mengganggu konsentrasinya. Dan kenapa juga sejak tadi bayangan Azkia seakan-akan berlarian di kepalanya.
Ada apa ini?
Apakah yang di maksud mereka itu Azkia?
Siapa Azkia sebenarnya? Seterkenal apakah Azkia diluar sana? Arrrrggggghhhh
Evans mengusap wajahnya kasar, konsentrasi bekerjanya seketika pecah berkeping lalu hilang diganti dengan bayangan Azkia. Apalagi begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba berdatangan tentang Azkia istrinya. Memang sejak mengenal Azkia, ia tidak tau banyak tentang istrinya. Apalagi tentang karir atau karya atau apapun itu berkaitan dengan Azkia, Evans tidak tau. Melainkan hal-hal yang selalu Azkia lakukan atau tunjukan dirumah. Dan tidak ada niat juga dirinya mencari tau, tapi sekarang
entah kenapa jiwa keingintahuannnya berkoar.
Arrgghhhh
Lagi-lagi Evans menggeram kesal, ingin rasanya sekarang juga dirinya pulang kerumah. Lalu mengurung Azkia seharian dikamar, dan menyuruhnya untuk menjawab semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Tidak.
Otak sehatnya kembali bekerja, apakah dirinya akan berani melakukan itu pada Azkia? Tentu saja tidak.
Jangan gegabah Evans memangnya siapa dirimu yang berani mengurung Azkia?'
(Suara hati baik bersuara)
"Tentu saja Suaminya. Bebas melakukan apapun.' (Suara hati jahat membalas)
'Lakukan itu, saat kau benar-benar berlaku menjadi seorang suami.'
'Tentu saja Suaminya. Bebas melakukan apapun.'
Evans meninggalkan ruangan kerjanya dengan cepat, cukup menjadi wasit antara Satria dan Cahya tidak untuk suara hati baik dan suara hati jahatnya.
😭😭😭😭😭