Claudy adalah anak dari pengusaha ternama di negaranya. Terbiasa hidup bergelimang harta tidak membuat Claudy jadi semena-mena. Bahkan Claudy sangat menurut pada Mama dan Papanya walau sesekali bandel juga.
Khalid adalah laki-laki sederhana dan lebih tua dua tahun dari Claudy. Khalid adalah orang paling to the point ketika berurusan dengan orang-orang sekitarnya. Khalid juga pria yanh dingin dan tidak tertarik dengan yang namanya cinta.
Claudy jatuh hari pada kepada cara Khalid berperilaku. Meski Khalid adalah pria yang cuek tapi dalam diamnya dia ada perhatian dan punya tenggang rasa yang tinggi. Bagaimana jika keduanya di paksa menikah muda karena situasi yanh tidak menguntungkan?
Yok simak kisaha Claudy dan Khalid
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tindek_shi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Lapas dan USA
Melihat raut sedih di wajah Kak Dewi membuat Claudy menghela nafas. Sungguh Claudy gemas dan ingin teriak atau bahkan menonjok pria yang begitu dicintai oleh Kakak Iparnya itu hingga menyebabkan kebodohan yang tidak tanggung-tanggung.
Ternyata bukan hanya Claudy yang geram tangan Khalid juga sudah mengepal dan menggelatukkan giginya saat melihat pemandangan itu. Suasana makan berjalan dengan tegang, tidak ada kata yang terucap dari mulut orang-orang yang berada di meja makan itu.
Setelah semua selesai makan, tanpa banyak menunggu Bunda dan Kak Dewi membersihkan meja makan. Claudy yang menyedarinya langsung ikut membantu sang Bunda dan Kakak Iparnya itu.
Sedangkan diruang tengah tempat mereka semua duduk, Khalid yang merasa jengah langsung berdiri tqpi perkataan sang Ayah menghentikan langkahnya.
"Kamu kemari bukan tanpa alasankan Khalid?" tanya Ayah pada Putra bungsunya itu.
"Apakah, aku harus punya alasan dulu datang kemari Ayah?" tanya Khalid kembali.
"Ya, karena Pak Rian Adiatama memegang penuh hak atas dirimu! Kecuali kamu mau meninggalkan Claudy dan pastinya akan sulit bagimu. Setelah melihat bagaimana Claudy bersikap dan melayanimu sebagai suaminya," kata Ayah.
Ya tanpa bicara Ayah tahu jika di hati Khalid sudah ada cinta untuk Claudy. Mencintai Claudy bukan perkara sulit, menantunya itu punya wajah yang cantik dan hati yang baik. Apa susahnya mencintai gadis secantik Claudy? Tentu saja tidak susah, bahkan tanpa siapapun tahu sedari tadi si buaya Sebastian mencuri-curi pandang pada Claudy.
Khalid menghela nafas kasar, apa yang dikatakan Ayah benar. Sekarang ini waktunya memang dia dedikasikan sepenuhnya pada keluarga sang istri, tapi itu semua atas kemauannya sendiri untuk menutupi rasa bersalahnya pada Claudy. Dari Papa Rian sama sekalu tidak ada pemaksaan pada Khalid untuk memberikan waktunya sepenuhnya pada keluarga Adiatama.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Tapi sepertinya Tuan Sebastian yang terhormat ingin mengatakan sesuatu lebih dulu, jadi biarkan suami kesayangan Kakakku ini mengatakan sesuatu dahulu," kata Khalid dengan sangat gelam tapi Claudy yang tiba disamping sang suami langsung menggenggam tangan Khalid dengan erat.
"Mas, tahan emosi kamu. Aku tahu ini keterlaluan, tapi pilihan Kakakmu yang ingin bertahan walau menyakitkan," kata Claudy pada telingan Khalid.
"Apa yang ingun kamu katakan sehingga harus datang repot-repot ke rumahku?" tanya Ayah pada Sebastian dan istrinya yang sedari tadi teramat memuakan untuk dilihat baik Sebastian ataupun istri barunya itu.
"Saya ingin menjemput istri Saya, Ayah. Rasanya tidak nyaman ketika Dewi harus terus tinggal berjauhan dengan kami sedangkan Dewi tengah hamil besar," kata Sebastian dengan sangat percaya diri.
"Semuanya tergantung pada Dewi. Jika dia mau, saya tidak bisa melarang! Sama seperti pernikahan kalian yang tanpa restu dan izin dariku, maka kalian berdua juga boleh pergi tanpa meminta izin dariku ataupun laranganku," kata Ayah
Ayah beranjak, akan tetapi langkahnya terhenti karena Dewi memegangi tangannya.
"Ayah, Dewi mau kembali tinggal bersama Mas Sebastian tapi Dewi tidak ingin tinggal serumah dengan Diana," kata Dewi lirih seraya mencengkram lengan Ayahnya.
Ayah menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya pada anak sulungnya itu. Lelah batin dan fisik itulah yang Adit rasakan saat ini, bagaimana tidak baru pulang kerja sudah menemukan menanyu kurang ajar bersama gundiknya ikut masuk kerumahnya.
Lalu sekarang Dewi seperti anak 5 tahun yang meminta perlindungannya karena mainannya direbut oleh teman sepermainannya.
"Aku lelah dengan kondisi rumah tangga kalian! Sangat lelah! Sedari awal aku tidak merestui hubungan kalian berdua, tapi kamu nekat menikah dengan pria bajingan ini! Setelah masalah kian memburukpun aku juga menyarankan untuk bercerai, karena tidak akan baik jika memaksakan diri! Cinta itu bukan penyakit, dan tingkat tertinggi dalam cinta adalah mengikhlaskan. Tapi qpa pilihanmu? Masih ingin bertahan dengan laki-laki brengsek ini juga?.."
"Ayah.."
"Diam! Saya masih bicara!" bentak Ayah Adit pada Sebastian yang sedari tadi menatapnya dan metasa serba salah.
"Apa yang kamu lihat dari Dia? Kalau masalah kehidupan anakmu nanti, Ayah dan Bunda masih sanggup menghidupi kamu dan Anak kamu melalui toko baju kami tmyang tidak seberapa tapi bisa menumpang hidup kita. Jadi jangan minta Ayah membelamu Nak! Karena Ayah ingin kamu bercerai bukan membujuk pria ngak berguna seperti Dia!" tatap Ayah pada Sebastian.
"Pak, seharusnya Bapak nyadar! Selama ini yang mengejar suami saya itu anak Bapak! Suami saya laki-laki yang pintar dan cerdas! Jelas dia memilih saya ketimbang anak Bapak yang ngak punya apa-apa untuk dibanggakan!" sahut Diana yang sedari tadi geram.
"Eh kamu wanita Murahan! Seharusnya kamu sadar! Jika istrinya yang sedang hamil besar begini saja bisa dia tinggalkan bagaimana dengan kamu? Kamu yakin pernikahan yang kamu dapat diatas tangisan wanita lain ini akan bertahan lama? Ingat Nak, karma itu ada! Kamu cantik dan masih muda! Saya heran kenapa kamu mau dengan sampah masyarakat seperti dia!" kata Ayah pada Sebastian dan meninggalkan ruangan itu dengan amarah yang masih menggebu.
Futri menghela nafas dan memeluk Dewi yang tergugu dipelukanya.
Sebastian dan Diana masih di kursinya meskipun sedari tadi Diana mendesaknya untuk terus meninggalkan rumah itu. Tapi Sebastian bergeming karena ingin berbicara dengan Dewi. Ya dia sadar disini dialah yang paling salah, tapi mau apa dikata. Dewi berasal dari keluarga menengah dan juga hanya lulusan SMA tanpa pekerjaan tentu saja Sebastian merasa koalahan dengan tuntutan sang Ibunda yang selama ini selalu menuntutnya ini dan itu.
Hingga sang Bunda menjodohkannya dengan Diana. Diana adalaha wanita cantik dan juga kaya. Walau sikapnya manja dan kenyataannya menang tampang dan harta orang tua tapi itu sudah lebih dari cukup unyuk membantu Sebastian memenuhi tuntutan Ibunya. Ya keluarga Diana mempercayakan Sebastian untuk mengelola perusahaan milik keluarga Diana, karena Diana adalah anak tunggal.
"Dewi, aku tahu ini akan kembali menyakiti hatimu. Tapi aku harus mengatakannya, aku tidak bisa membiarkanmu tinggal berbeda rumah dengan Diana. Jika kamu masih ingin bersamaku maka kita harus serumah, tapi jika kamu tidak bisa maka bercerai adalah pilihan terbaik. Lagi pula aku ragu jika anak yang kamu kandung adalah anakku! Bisa saja kamu main serong dengan Dimas sahabatmu yang selama ini sering membantu..."
"Akhg,"
"Ahghhh,"
"Khalid! Udah Nak, udah! Bunda ngak mau kamu berurusan dengan polisi gara-gara menghajar dia! Ingat sekarang kamu ngak sendiri, kamu sudah jadi suami orang!" kata Bunda menahan Khalid yang membabi buta.
"Dia bajingan! Brengsek! Kalau lo ngak percaya dan cinta sama kakak gue kenapa lo nikahi dia bangsat! Kambing emang lo! Sekolah tinggi tapi mulut lo kayak ngak sekolah!" teriak Khalid tanpa melepaskan bogemannya.
Hingga Claudy menahan tangan suaminya dan menarik suaminya erat kedalam dekapannya.
"Mas, tenang ya! Ngak gini caranya balas perbuatan dia! Sabar Mas, aku ngak mau harus kepisah antara lapas dan USA gara-gara kamu masuk penjara," kata Claudy menangis dan memeluk erat suaminya hingga Khalid sadar.
Sedangkan Sebastian kabur bersama istri mudanya keluar dari rumah Bunda Futri dan Ayah Adit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...