Dibohongi ayahnya sendiri dan dijual kepada sang majikan. Untuk menikahi anak perempuannya yang ditinggal kabur sang mempelai, membuat hati Zein sangat hancur. Ia tidak pernah menyangka jika ayahnya akan tega menjual Zein dan menukarnya dengan uang.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah pernikahan ini akan terus berlanjut ataukah hanya sementara saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Alika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mawar tidak pernah menyangka jika Zein akan berbicara sangat dingin padanya seperti tadi, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatinya, sakit sekali. Tapi bagaimana Zein bisa tahu dengan apa yang dilakukannya, sudah pasti dari Aliana tentunya. Perempuan manja itu rupanya senang sekali mengadu, apa ia tidak bisa menyelesaikan masalah dengan sendiri. Tanpa harus mengadu pada Zein.
Hingga sampai sore dan pulang kerja, Zein sama sekali tidak menegur Mawar. Padahal biasanya pria yang amat ia cintai ini selalu bicara dengannya, bahkan selalu menawarinya pulang bersama. Baru sebentar saja Mawar didiamkan olehnya, sudah membuat Mawar tidak nyaman dan hatinya pun tidak tenang. Andaikan Zein tahu, jika Mawar rela jika Zein ingin menjadikannya yang kedua.
Zein pun pergi begitu saja menuju mobilnya, padahal Mawar masih berharap jika Zein mengajaknya, akan tetapi daripada Mawar menunggu Zein, lebih baik ia mengutarakan keinginannya untuk pulang bersama dan semoga dengan ia bicara, Zein akan kembali bicara padanya. Jika Mawar sama-sama keras kepala, maka masalah ini sudah pasti tidak akan ada ujungnya.
"Zein," panggil Mawar, gadis itu berlari kecil menghampiri Zein, Zein yang hendak masuk ke dalam mobil pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Zein, masih dengan nada dingin.
"Zein, bisakah aku ikut pulang bersama denganmu?"
"Maaf Mawar, tapi hari ini aku tidak pulang ke apartemen.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku akan pulang ke rumahku tidak akan ikut ke apartemenmu," jawab Mawar.
"Maksudku adalah, jalan yang kita lalui berlawanan. Jadi maaf aku tidak bisa mengantarkanmu pulang. Aliana sedang menungguku, dia bilang dia akan memasak di rumah,"
'Aliana lagi,'
"Oh baiklah, maafkan aku aku tidak tahu," Tanpa menjawab Mawar Zein pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Mendengar nama Aliana di sebut, hati Mawar bertambah sakit saja. Kenapa sejak kedatangan Mawar Zein jadi sangat berubah. Dan itu sangat menyakiti hati Mawar. Kenapa Zein sekarang terlihat lebih dingin, apalagi sejak tadi ia membahas tentang panggilan dari Aliana, Mawar semakin benci saja.
*
*
*
Di rumah barunya, Mawar kini tengah mempersiapkan bahan-bahan masakan yang akan ia masak. Hari ini Aliana akan memasak spesial untuk Zein. Meskipun sebenarnya ia bingung akan memasak apa karena sebenarnya ia belum pernah memasak. Hanya memasang Mie kuah yang berada dalam cup saja keahliannya. Akan tetapi demi membahagiakan Zein ia akan berusaha untuk memasak makanan yang enak dan spesial. Meskipun sebenarnya ia pun merasa ragu dengan kemampuannya sendiri.
"Kini Aliana mulai mencuci ayam yang akan ia masak, niatnya ia ingin memasak opor ayam. Karena Zein pernah mengatakan jika ia sangat suka makan opor ayam. Jika ia memakan makanan itu, ia jadi teringat akan almarhum ibunya, karena sewaktu mereka kecil ibunya selalu memasak masakan itu untuknya. Setidaknya sebelum ayahnya, terkena serangan pelakor Mirna. Eh ... kenapa Aliana jadi mengingat mertuanya itu. Sedang apa mereka sekarang dan bagaimana dengan kehidupannya saat ini.
Selesai mencuci ayam, Aliana mulai menyiapkan bumbu-bumbunya. Tak lupa ia melihat Chanel memasak di ponselnya. Melihat dari caranya sepertinya sangat mudah. Semoga saja memasaknya semudah menonton acaranya. "Ya ampun, tanganku yang cantik jadi berwarna kuning." keluhnya, ia menyesal tidak membeli bumbu yang sudah jadi. Karena menurut Anita, masakan akan lebih enak jika menggunakan bumbu asli. Akan tetapi perjuangannya ternyata tidak mudah.
"Huwaaaaa... dasar pisau nakal. Kenapa kau malah melukaiku," Aliana segera membersihkan luka yang terkena sayatan pisau dan dengan segera mengambil plester untuk membungkus lukanya.
"Ya ampun, aku baru tahu jika memasak itu tidak mudah. Selama ini aku hanya makan saja," gumamnya, dan kemudian ia pun melanjutkan memasaknya. Niatnya Aliana juga ingin memasak tempe goreng, karena itu adalah salah satu makanan kesukaannya. Ia juga ingin membuat sambal, tapi ia tidak tahu caranya. Astaga, perempuan cantik yang ini kini sedang melakukan hal yang di luar batas kemampuannya. Ia sangat bingung bagaimana caranya memasak. Akan tetapi ia masih terus memaksakan hanya demi membuat suaminya bahagia.
Aliana masih berkutat di dapur dan menyelesaikan masakannya, ia tidak tahu jika Zein sudah sampai dan memperhatikannya sedari tadi. Ia melihat Aliana mengomel, memekik dan juga terus bergumam. Sangat terlihat jika ia memang tidak bisa memasak, itu terbukti dari potongan-potongan sayuran yang sedang ia potong. Ia juga terlihat beberapa kali mereplay video yang ia putar hanya karena ia belum paham. Ia bahkan mencicipi terus gula dan micin karena takut tertukar.
"Ya ampun, makanan apa ini bahkan kucing saja tidak mau memakannya," ucap Aliana setelah ia mencicipi sambal yang ia buat. Karena takut keadaan dapur semakin kacau akhirnya jangan pun memutuskan untuk menghampiri Aliana.
"Apa sudah selesai, aku sudah lapar?" bohong Zein, karena sebenarnya Ia pun tahu jika Aliana memang belum selesai memasak, bahkan keadaan dapur pun terlihat sangat berantakan. "Oh ya ampun Zein, kau membuatku terkejut" ucap Aliana.
"Emmm, Kakak sudah lapar sebaiknya kau mau beli saja makanan Zein. Karena untuk menunggu masakanku matang itu pasti masih sangat lama," ucap Aliana, padahal sebenarnya dia malu jika Zein sampai merasakan bagaimana rasa masakan buatannya.
"istriku sedang bersusah payah memasak untukku Lalu kenapa aku harus membeli makanan di luar,"
"T-tapi..."
"Boleh aku mencobanya?"
"Jangan!" Ariana dibuat sangat panik sangat sajen ingin mencicipi masakan buatannya.
"Kenapa?" tanya Zein sambil tersenyum, akhirnya Aliana pun berpikir jika ia sebaiknya ia jujur kepada Zein kalau sebenarnya ia memang tidak bisa memasak, daripada dia merasakan masakannya yang mungkin terasa sangat aneh.
"Zein, aku mau jujur. Kalau aku ... aku ... aku tidak bisa memasak. Aku takut kau muntah jika kau memakan masakanku," ucap Aliana sambil menunduk. Zein mengacak-acak rambut Aliana yang dicepol dan terlihat sangat lucu.
"Biarkan aku mencobanya dulu, jika masih bisa diperbaiki kita akan memakannya," kekeh Zein.
"Tapi kau harus berjanji, jika rasanya aneh jangan muntah,"
"Aku tidak berjanji,"
"Zein! Ya ampun aku sangat malu padamu ... jangan tinggalkan aku karena aku tidak bisa memasak ya,"
"Baiklah, asal kau memberiku ciuman di sini," tunjuk Zein pada pipi dan bibirnya.
"Jangankan mencium pipi dan bibirmu, mencium tubuhmu yang keren saja aku tidak akan menolak," jawab Aliana tergelak.
"Dasar mesum,"