Bagaimana jadinya jika kalian dipertemukan kembali dengan masalalu yang belum usai?
sering dihadapkan dengan situasi yang begitu ambigu nan membingungkan.
Airin Azalea Rustandi adalah perempuan sangat tangguh wanita dengn segala lukanya. berpacaran dengan kakak dari sahabatnya Kenzo malik arsenio. namun tak direstui oleh sang ibu dari kedua belah pihak. yang membuat mereka berdua akhirnya berpisah. Namun Azalea yang masih kukuh dengan hatinya. ia tak lagi mengenal laki-laki lain setelah putus dengan Kenzo.
tiba-tiba Azalea dihadapkan kembali bertemu dengan Kenzo setelah kian lama berpisah. Akan kah kisah mereka akan bersatu atau berpisah?
yuk kita ikuti kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riffzianur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Zea beranjak pergi meninggalkan Kenzo dan Nayla yang hanya bisa menatap kepergian gadis keras kepala itu. Takkan ada yang bisa mencegah Zea kali ini meski Kenzo sekalipun. Karena bagi Zea, tak ada lagi Zea yang akan menuruti semua keinginan laki-laki itu. Zea yang lama telah pergi.
Zea yang lemah lembut ceria dan banyak bicara. Zea yang selalu tersenyum pada siapapun. Kini hanya menyisakan Zea yang pendiam, tak banyak kata. Dan pemilih dalam hal apapun.
Zea duduk dibalkon rumahnya memandang kearah tempat yang baru saja ia tinggalkan. Beruntungnya tinggal dikaki pegunungan adalah seperti ini. Apa lagi kamar Zea yang ada dilantai atas dan mempunyai balkon berbentuk L menghadap kearah gunung menambah kesan indah untuk lama memandang kearah sana.
Air mata Zea sudah tak bisa dibendung lagi. Pandangannya buram seiring terisinya air dimatanya yang sebnetar lagi mengaliri wajahnya. Sekeras apapun usaha Zea untuk melupakan Kenzo. Buktinya ia tak pernah sekuat yang selama ini menjadi topengnya.
11 agustus 2017
hari ini aku sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan acara. 3 hari lagi akan diadakan penyambutan santri baru sekaligus pelepasan santri akhir KMI di pondok pesntren Almadina.
Zea kebagian menjadi panitia keamanan pelaksana acaranya.
Zea sudah seminggu ini kurang istirahat karena selalu dipanggil untuk menjaga ini dan itu. Untuk mengecek keamanan ini dan itu, dll.
"Ze, muka kamu pucet banget" tegur Nayla saat melihat Zea bekerja dengan giat tanpa peduli dengan tubuhnya.
"Gue gapapa Nay, lo kesana aja jaga stand." ucap Nayla sambil tersenyum lemah.
Memang benar, badannya rasanya sakit semua pegal dan nyeri sendi karena harus kesana kemari mengurusi acara yang sebentar lagi berlangsung. Namun Zea terus memaksakan dirinya karena tak ingin lepas tanggung jawab yang sudah dia terima. Meski bagian keaman tak hanya Zea. Namun yang lain sepertinya sibuk dengan hal lainnta lagi. Mengingat panitia angkatannya kali ini memang tak banyak.
Nayla menggelengkan kepalanya, tak mau menuruti ucapan Nayla . Lalu ia menarik tangan Zea untuk duduk. Dan memberi sebotol air mineral agar Zea minum.
"Minum dulu, gue mau ambilin lo makan. Karena gue yakin lo pasti belum makan. Ntar kalo bagian pulang terus kakak gue liat lo kurus bisa-bisa ngamuk dia sama gue," omel Nayla membuat Zea terkekeh.
"Abang lo gak bakal marah kalo dia gak tahu gue sakit. Dan kalo lo gak ngasih tahu dia kalo gue lagi gak enak badan begini,"
"aishh ... Udah pokonya elu disini dulu Ze. Tungguin gue mau ambil makan ke dapur. Gue mau minta ke emak, baik kan gue jadi adik ipar lo"
Zea kembali terkekeh saat Nayla menyebut sendiri adik ipar . Ia hanya bisa pasrah dan mengangguk saat melihat kilat marah Nayla.
"Baiklah, terimakasih calon adik ipar,"
"Dih, gue adik ipar lo ya. Jangan calon."
"ya kan gue belum nikah sama ab--"
"Zeaaaaa" pekik Nayla saat melihat Zea sudah terkapar pingsan dihadapannya. Nayla coba membopong Zea untuk dibawa ke UKS.
sesampainya di UKS Zea langsung diperiksa oleh Dokter pondok yang sedang berjaga.
"How's Zea doc?" tanya Nayla menggunakan bahasa inggris. Karena kebetulan minggu ini adalah bagian bahasa inggris.
("Bagaimana keadaan Zea dok?")
"He'rs fine, just tired. but I suggest it's better for Zea to be go home firstly. because if her stays here... I'm afraid he won't rest."
(dia tidak apa-apa. Hanya kelelahan. Tapi akan lebih baik jika Zea pulang terlebih dahulu. Karena jika dia tetap disini. Saya takut ia takkan istirahat,)
Nayla menganggukkan kepalanya mengingat sikap tanggung jawab Zea pada pondok ini. Pasti Zea takkan betah untuk beristirahat sementara siatuasi sedang sibuk-sibuknya.
"Ok, thank you very much doctor "
(Terimakasih banyak dok"
"youre wellcome, saya akan memberikan surat keterangan supaya Zea bisa dapat izin pulang,"
Nayla mengangguk dan berterimakasih kepada dokter.
Lalu ia memanggil temannya untuk menyiapkan kendaraan untuk mengantar Dirinya dan Zea pulang. Dan Nayla bergegas menuju rumah pimpinan pondok untuk meminta izin pulang Zea saat ia sudah menerima surat keterangan dari dokter.
Nayla kembali keruangan dimana Zea berada saat urusannya sudah selesai.
Zea masih terbaring di brangkar UKS wajahnya masih pucat pasi.
Nayla menghela nafasnya lalu membelai kepala Zea yang ditutupi oleh kerudung.
"Lo terlalu sok kuat Ze. Gimana gue ngadepin kakak gue nanti pas pulang. Apa lagi tahu ayangnya begini karena kecapean. Huft"
"Lo tahu Ze? Bahkan gue yang adeknya aja gak pernah dia khawatir banget. Tapi sikap dia suka beda kalo denger apapun yang terjadi sama lo. Gue sering cemburu sama Lo. Tapi gue juga bersyukur yang jadi kakak ipar gue itu Lo. Bukn cewek-cewek yang selama ini abang gue bawa kerumah,"
Sesampainya dirumah, Nayla langsung membawa Zea kekamarnya dibantu oleh umi dan bapaknya ke kamar Zea.
"Dia pasti banyak ngerjain sesuatu. Pasti ngelewatin makan dan istirahat ya Nay?"
"Iya mi. Bandel dia mi dibilanginnya. Heran deh !"
"Huft ... Makasih banyak ya Neng. Udah gih kamu pulang dulu tengokin emak sama Keluargamu"
"Iya mi, Nayla pulang dulu ya mi. Kalo Zea udah bangun kabarin Nayla ya mi. Assalamualaikum pak mi"
Umi Zea mengangguk menyanggupi permintaan Nayla.
"Waalaikum salam" jawab mereka berbarengan.
Nayla berjalan keatas menuju rumahnya. Sambil sesekali menyapa tetangga-tetangga nya disepanjang jalan.
Sesampainya dirumah Nayla. Ia mengerutkan keningnya melihat motor asing terparkir didepan rumahnya. Nayla menggendikkan bahunya.
Lalu Nayla langsung membuka pintu
"Assalamualaik .... " Senyumnya luntur kala melihat kakaknya sedang bermesraan dengan seorang perempuan yang sedang memangku kepala Kenzo.
"KENZO MALIK" teriak Nayla membuat keduanya terjengkit kaget.
"N-nay" ucap Kenzo gugup.
"ANJING LO YA KENZO. GUE SUSAH PAYAH BAWA ZEA BALIK KARENA SAKIT LO ENAK-ENAKAN SAMA *****. GAK PUNYA OTAK LO, HAH?"
"NAY JAGA BAHASA KAMU. GAK SOPAN" ucap Kenzo tersulut emosi namun mengundang tawa sinis dari sang adik.
"GUE GAK BAKAL SOPAN SAMA ORANG YANG GAK PUNTA OTAK KAYA LO YA. CEWEK LO SAKIT ANJING. SAKIT. AZALEA SAKIIIT. BERFUNGSI GAK TUH TELINGA LO HAH," teriak Nayla menggelegar.
Lalu Nayla menghampiri wanita yang dibawa kakaknya dan menarik tangannya untuk keluar dari rumah.
"LO PULANG SEKARANG ATAU GUE HAJAR SAMPE MAMPUS !!"
"NAYLA" teriak Kenzo.
"Diem anjing,"
Wanita itu yang ketakutan melihat sikap Nayla memilih pergi dari sana. Namun Kenzo segera mengejar wanita itu dan ingin mengantarnya pulang. Nafas Nayla memburu menandakan emosinya belum mereda saat melihat keluakuan kakaknya.
"KENZO ANJI---" ucapan Nayla terhenti saat ia melihat seorang gadis dengan wajah pucat sedang menatap nanar kearah mereka yang berada didalam rumah itu.
"Zea." lirih Nayla membuat Kenzo menegang dan melihat kearah Zea yang berada diteras rumahnya.
Bisa Nayla lihat air mata wanita itu lolos dari tempatnya.
"Aku kasih kamu kesempatan buat jelasin"
Air mata Zea lolos saat ia kembali mengingat kejadian yang membuat hubungannya dan Kenzo usai.
"Aku capek"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...