“Genggam tanganku, karena hanya itu yang berhasil membuatku tenang. Karena hanya kamu, yang ada di hatiku.”
***
Ternyata, setelah berhasil melarikan diri dari kemarahan sang papa tak membuat Cello menyerah begitu saja. Hingga pada akhirnya dia terbawa arus menuju sebuah perjodohan dengan seorang gadis yang juga berada satu sekolah dengannya. Serena, gadis dari latar belakang Hedon dan kaya raya itu memiliki sifat yang hampir sama dengannya. Usut punya usut, gadis itu di jodohkan atas kasus yang lebih parah. Yakni lari dari rumah bersama kekasihnya.
Akankah mereka bisa berubah dan menerima status mereka sampai saat pernikahan tiba? Atau justru tetap menguatkan ego masing-masing?
Step by Step
by VizcaVida
©Juli 2023
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoonViKim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SBS-19
...Selamat membaca...
...Semoga terhibur ya kakbeb ❣️...
...Jangan lupa like, komentar, subscribe, vote dan hadiahnya jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...[•]...
Terakhir kali Cello pernah merasa khawatir itu, pas melihat mamanya dirawat dirumah sakit oleh dokter. Hingga akhirnya, dirinya harus menerima sebuah rasa kehilangan selamanya saat berusia masih muda.
Rasa kehilangan itu seolah menjelma menjadi sebuah trauma tersendiri untuk Cello yang notabenenya adalah anak kesayangan mamanya, saat itu.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya sejak hari itu—hari dimana ketakutan akan sebuah rasa kehilangan, Cello kembali merasakan gelisah dan khawatir akan seseorang. Bahkan, karena rasa gelisah itu tak mau pergi, Cello jadi malas makan dan selalu bergerak kesana-kemari tanpa tujuan.
Entahlah. Perasaan yang menderanya sekarang ini, hanya sekelebat khawatir karena merasa tidak berguna, atau yang lain? Tidak tau. Cello hanya membenarkan asumsi pertama yang tercetus di kepalanya, daripada nanti dia sendiri yang terjebak dalam situasi tidak terduga pada Serena. Pasti tidak enak harus terjebak sendirian. Jadi, sudah benar jika dia meneruskan egonya saja, kan?
Ibarat air dan minyak, ibarat api dan air, Cello ingin hubungannya dengan Serena menjadi seperti itu. Ia tidak ingin rasa yang tidak pernah ada untuk perempuan itu, tetap tidak hadir.
Tiba-tiba tatapan mata Cello tertuju pada cincin yang melingkari jari manisnya. Seharusnya cincin polos berwarna putih, yang bersemayam di jarinya sejak hampir lima minggu lalu itu menjadi bukti jika sebenarnya Cello tidak masalah mengkhawatirkan Serena. Tapi kembali lagi pada paragraf sebelumnya, Cello tidak ingin hubungannya dengan Serena berubah spesial.
Ingatan tentang malam dimana dia memakaikan cincin itu pada jari Serena kembali terputar di kepalanya. Saat itu mereka berbisik satu sama lain,
“Ini cuma formalitas. Selebihnya, gua nggak ada rasa apa-apa sama Lo. Jangan GeEr.” kata Cello saat itu.
“Gua nggak bakal GeEr. Awas aja kalau sampai Lo sendiri yang kemakan omongan sendiri.” jawab Serena juga berbisik, tanpa menggerakkan bibir, tanpa menatap Cello, agar orang-orang yang berdiri dengan jarak sedikit jauh dari mereka, tidak mendengar percakapan rahasia mereka.
Tiga Minggu yang lalu, Cello mendapat kabar—baik dari sekolah maupun Serena sendiri—jika sekolah akan menghadiri turnamen basket di luar kota, lebih tepatnya di kota dingin di Jawa timur. Lantas sebagai penyemangat, tim cheers Serena juga ikut kesana.
Gua luar kota. Uang jajannya mending Lo kumpulin karena bakal gua tagih pas udah balik
Cello menyemburkan tawa saat membaca pesan yang dikirim Serena semalam. Tidak tau kenapa. Lucu saja karena anak remaja seperti dirinya, yang masih menadahkan tangan untuk meminta uang jajan kepada orang tua, harus menanggung kehidupan orang lain.
“Papa memang keras kepala.” gumamnya lirih. “Menikahkan aku, sama saja menambah beban keuangannya. Tuh buktinya.” cebiknya sembari menatap ponsel dan pesan yang ia terima dari Serena. “Aku belum ada penghasilan sudah disuruh nikah. Mau jadi apa aku sama Serena nanti?”
Setelah itu, Cello kembali meletakkan ponselnya dan melompat naik ke atas ranjang. Tangannya juga sudah sembuh dan pulih seperti sedia kala berkat ketelatenan Arman yang merawat si keras kepala ini.
Dilema.
Cello juga merasa, ada sedikit perubahan dalam dirinya selama sebulan ini. Ia jadi ... lebih irit uang karena ada yang menagih uang jajan darinya. Alhasil, karena tidak bisa meminta lebih dan berterus terang dengan papanya soal perjanjian yang ia buat bersama Serena, ia harus rela membagi uang jajan yang ia terima setiap hari dari sang papa.
Selain itu, Cello juga lebih berhati-hati menggunakan uangnya sekarang. Ia tidak boleh membuat kesalahan yang bisa saja berakibat fatal. Kecuali dia memang cari mati dengan cara brutal karena papanya menghentikan seluruh fasilitas yang ia terima, dan tidak bisa memberi uang kompensasi, ah tidak, uang bagian Serena yang merupakan kewajibannya.
Apa seperti ini menjadi seorang suami?
Dipikir-pikir lagi, terasa aneh bagi Cello saat membayangkan menjadi suami di usia muda. Baginya, hal itu sangatlah tidak masuk akal. Tapi ia pun selangkah lebih dapat menghargai apa itu uang dan apa itu berkorban.
Cello kembali mencari keberadaan ponselnya. Kemudian ia mengecek saldo yang ada di rekening tabungannya melalui aplikasi M-banking tempatnya menyimpan uang sisa pemberian sang papa yang selalu ia pergunakan untuk menyantuni anak yatim di salah satu panti tempatnya yang selalu ia datangi bersama sang mama, dulu.
Lantas, dia mengirim uang kepada Serena detik itu juga karena tidak mau berhutang. Setelah transaksi berhasil, Cello pun mengetik pesan untuk Serena.
Gua nggak mau nanggung utang apapun ke elo. Hak Lo udah gua kirim hari ini
Ketiknya. Ia sungguh tidak ingin memiliki beban apapun, apalagi sampai kelupaan. Dia tidak akan melakukannya.
Setelahnya, Cello kembali membiarkan ponselnya bergetar dan lebih memilih menatap langit-langit kamar saat membayangkan, masa mudanya di pangkas paksa oleh papanya sendiri dengan sebuah pernikahan.
“Haaaah ... “de-sahnya lelah. “Gua nikah umur 18 tahun, hidup berdua sama perempuan. Itupun kalau nggak dituntut buat cepet punya anak, kalau di tuntut cepet punya anak, paling umur 20 tahun.”
Membayangkan itu, Cello melongo. Masa dia harus jadi ayah diusia dua puluh tahun? Lalu, dengan apa dia harus menghidupi anak dan istrinya jika tidak bekerja?
Ah, benar. Dia harus memikirkan itu sekarang. Dia harus ... mencari kerja.
“Masalahnya, kerja apa? Ijazah aja nggak ada.” gumamnya lagi. Lagi-lagi mencari keberadaan ponselnya, kali ini Cello ingin mencari cara agar bisa bekerja tanpa ijazah. Beberapa artikel muncul. Cello berfikir keras dengan artikel yang memiliki inti sama di layar ponselnya.
Kerja paruh waktu. Bisa di cafe atau restoran yang memang butuh pegawai harian lepas dan tidak terlalu menekan kehadiran.
Dia mengetik lagi. Mencari lowongan kerja yang mau menerimanya sebagai pegawai paruh waktu.
CafeBross
Dicari barista paruh waktu.
Alamat: Jalan utama kota No.213
Minat, chat admin 081234556890
Cello menatap lekat informasi itu. Lalu memberanikan diri untuk menekan lama nomor tersebut, dan menyimpannya di kontak untuk ia hubungi.
Selamat sore. Apa lowongan masih ada?
Tentu saja, dia punya sedikit pengalaman dengan dunia per-barista-an. Edo pernah membagi pengalaman menjadi seorang barista pada Cello.
Tidak apa-apa gaji tidak sesuai. Yang penting ada pemasukan di rekeningnya, selain uang jajan minim nominal yang diberi papanya. Siapa tau nanti, dia bisa membuka sendiri usaha dengan pengalaman dan uang yang dia punya, bukan?
Tak berselang lama, pesan balasan masuk.
Masih. Silahkan datang ketempat kami besok siang puluh 2PM Persyaratan hanya membawa biodata diri, dan mengikuti tes dari kami. Alamat sudah kami cantumkan di postingan.
Cello menghela nafas. Akhirnya, dia terpaksa menjadi mandiri.
Baik. Saya akan hadir disana tepat waktu.
...***...
Serena mengusap sisa peluhnya di kening. Membuat formasi menara memang butuh tenaga dan kekuatan. Apalagi saat ini, dia merasa kurang sehat. Badannya mendadak demam sesampainya di hotel tadi malam. Dia sudah meminum obat pemberian pelatihnya, namun obat tersebut tidak berpengaruh banyak. Hanya mampu meredakan panas di badannya dalam waktu beberapa jam saja. Setelah itu, demamnya kembali dan ditambah dengan sakit kepala.
“Lo udah mendingan belum?” tanya Ocha. Sahabat sekaligus teman satu timnya di cheerleader.
Serena menggeleng. Ingin sekali dia menangis karena teringat kedua orang tuanya yang pasti selalu memantaunya jika sedang sakit. Tapi sekarang, dia harus merasakan sendirian dengan kondisi badan yang tidak fit. Dan itu berhasil membuatnya sedih.
“Gua bilangin ke coach ya—”
“Engga Cha. Tinggal satu set lagi, gua bisa bertahan kok.” tolak Serena mendengar Ocha yang hendak memberitahu coach mereka.
“Tapi bahaya, Na.”
“Gua bisa, Cha. Udah, Lo nggak usah khawatir. Gua masih sanggup kok.”
Tidak bisa berbuat apa-apa dengan keras kepala Serena, Ocha menyerah. “Oke deh. Nih, minum dulu.”
Seperti yang dikatakan Serena jika dia masih sanggup untuk melanjutkan satu dance dengan formasi yang tidak begitu rumit, akhirnya hari ini berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, Serena tumbang saat sampai di kamar hotel tempatnya menginap bersama tim. Ia juga sudah meminum obatnya yang tadi ia beli di apotek sebelum balik hotel.
Dan sekarang dia merasakan, bagaimana sedihnya hidup diluar dengan keadaan seperti ini. Mendadak dia berubah menjadi wanita melankolis dan rindu dengan papa dan mamanya.
Serena meraih ponselnya, lantas berniat menghubungi sang mama untuk melepas rindu. Namun, nomor yang ia tekan justru nomor berbeda, yang tidak ia sadari sama sekali jika yang sedang ia ajak bicara saat ini, adalah orang yang berbeda.
Panggilan tersebut di jawab setelah beep sebanyak enam kali. Serena diam-diam menangis. Ia tidak peduli jika nanti mamanya akan memberikan Omelan. Yang terpenting dia mendengar suara mamanya untuk melepas rindu. “Mam ,Rena sakit, Rena pingin pulang.” []
...To be continued...
###
Kira-kira, nomor siapa yang Serena hubungi?
Kalau ada typo, tandain ya kakbeb
Terima kasih
"yup!kalian tidak salah lihat,kalian juga tidak salah baca.itu adalah gambar an-jing.
Dan pasti kalian penasaran siapa yang ada di seberang sana menunggu respon,bukan?"
"Tapi coba tebak siapa?"
dan masih banyak banget yang lainnya.
kalo menurut aku pribadi,di bacanya jadi ga enak,lagi meng hayati,membayangkan dan pemasaran. auto buyar dengan paragraf² yang begitu. ini komentar bukan untuk menjatuhkan,juga bukan untuk mencela.
semangat selalui buat autornya. 😊😊 maaf jika dalam menyampaikan kurang berkenan 🙏🙏🙏
"yup!kalian tidak salah lihat,kalian juga tidak salah baca.itu adalah gambar an-jing.
Dan pasti kalian penasaran siapa yang ada di seberang sana menunggu respon,bukan?"
"Tapi coba tebak siapa?"
dan masih banyak banget yang lainnya.
kalo menurut aku pribadi,di bacanya jadi ga enak,lagi meng hayati,membayangkan dan pemasaran. auto buyar dengan paragraf² yang begitu. ini komentar bukan untuk menjatuhkan,juga bukan untuk mencela.
semangat selalui buat autornya. 😊😊 maaf jika dalam menyampaikan kurang berkenan 🙏🙏🙏
sehat sll yaa 🤗🤗
✌️ kabuuuuuur 🏃🏃
makasih
makasih
👍👍👍
semangat mba buat karya barunya yg udah rilis
yg banyak ya Thor