Indonesia
NovelToon NovelToon
Dear Jaeden

Dear Jaeden

Status: tamat
Genre:Persahabatan / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen School/College / Teen Angst / Tamat
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nanas-imnida

Dulunya, Naya itu sangat menghindari seseorang berinisial Jaeden. Kenapa? Cowok itu telah membuat Naya berada dalam masalah, padahal keduanya tidak pernah bertegur sapa sebelumnya.

Namun, semenjak kecelakaan pasca acara kemah tahunan menimpa Naya, ketika matanya mendapati cowok itu, Naya merasa berbeda. Seolah-olah matanya ingin selalu mengikuti arah gerak cowok itu secara diam-diam, tetapi ketika Naya ditemukan, dengan buru-buru memalingkan wajahnya.

Dear Jaeden

Kutuliskan tentang kita agar kamu nggak merasakannya sendirian.

Sincerely, Naya Karkata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanas-imnida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batu Sandungan

Semua soal pertanyaan dari sastra Indonesia dan sejarah telah selesai kujawab. Dengan lama pengerjaan sekitar tujuh puluh menit.

Dalam durasi sebanyak itu, sudah yang ke-tiga kalinya Bu Mayang masuk kamar kecil yang ada di dalam kamar inap ini. Kali ini yang ke-tiga. Aku dan Ginting saling melirik, padahal yang kutahu anak laki-laki itu tidak akan pernah mau memperhatikan lawannya, yaitu aku, secara terang-terangan begitu.

Eh, mana kutahu!

“Lo masuk rumah sakit lagi? Kondisi lo belom sepenuhnya pulih?” Tiba-tiba mengajakku berbicara setelah puluhan kali kupergoki dia menatapku dengan penuh tanya dan tatapan yang membuatku merasakan desiran aneh.

Aku pura-pura batuk. Batuk lebay. “Emangnya kenapa?”

“Kelihatannya lo baik-baik aja. Sakit apa lo?”

Lirikan mataku menajam begitu kalimat sarkas itu keluar dari mulutnya. Sangat menyebalkan!

Ginting terkekeh. “Gua yakin sih, tiga bulan belom cukup untuk memulihkan keadaan lo,” ujarnya dengan nada bicara yang lebih bersahabat. “Gua minta maaf.”

Sebelah alisku tertarik naik. “Kenapa kamu tiba-tiba meminta maaf?” tanyaku terheran-heran. “Kamu mau nyontek?”

“Enak aja! Gini-gini gua nggak akan curang kali.”

“Terus kenapa minta maaf?”

Ginting menghembuskan napasnya dengan berat. “Gua dengar ... lo kehilangan separuh ingatan lo. Apa ... separah itu?”

Menurut jenis pertanyaannya, didukung oleh cara dia menyampaikan tiap kata, dengan nada yang terjeda membuatku terhenyak. Ada apa dengan Ginting?

“Apa mungkin … kamu suka sama Naya?”

Kulihat kedua matanya terbelalak. “Mana boleh kayak gitu!”

“Kenapa nggak boleh?”

“Karena … karena lo itu … argh!” Dia terlihat frustrasi. Mengacak rambutnya dengan tangan kanan. Karena tangan kirinya terpasang selang infus. “Lo jangan salah paham!”

“Gua nggak akan pernah bisa suka sama lo,” katanya melanjutkan kalimat yang mungkin sulit dia ungkapkan sebelumnya.

“Naya emang kehilangan sebagian ingatan. Nggak seluruhnya, hanya ingatan tentang kecelakaan itu. Naya nggak bisa ingat apa pun tentang kejadian itu. Yang Naya nggak ingat mulai dari hari Jumat sebelum kecelakaan itu terjadi.”

Suara saluran pembuangan kloset terdengar setelah beberapa menit. Setelah itu, pintu kamar kecil terbuka, Bu Mayang kembali mengawasi kami.

“Sudah selesai?”

Aku tidak menjawab, segera kuserahkan lembar jawabanku. Begitu juga dengan Ginting. Dia segera menaruh kertas jawabannya di atas meja.

Ginting. Laki-laki itu membuatku penasaran dengan apa yang hendak dia sampaikan kepadaku. Aku yakin ada sesuatu yang bisa aku dapatkan darinya. Aku merasa dia memiliki keterkaitan dengan rahasia yang Radi sembunyikan dariku, juga tentang sahabatnya, Jaeden si kulkas.

Namun, keinginanku untuk memiliki waktu berbincang dengan Ginting seperti oasis. Karena Radi yang menjadi gurun pasir untuk kami. Aku sendiri tidak bisa berkutik jika harus melawan sosok yang kusayangi itu. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin kemarahan Radi membuatku semakin terkurung.

“Hari ini ujian berakhir. Semoga kalian lekas pulih dan kita bisa bertemu di sekolah secepatnya, ya.” Pak Bagaskara namanya. Dia guru muda bidang penjaskes yang mengawas kami hari ini.

“Minggu depan mulai libur, Pak?”

Pak Bagaskara menggeleng. “Nggak. Sebenarnya nggak libur. Semua guru akan mendata nilai selama satu minggu ke depan. Harapannya sih bisa lebih cepat, supaya kami fokus pada pelatihan nantinya.”

“Tapi?” Radi terus menanyai guru muda itu.

“Nggak ada kata ‘tapi’. Hanya begitulah rencananya. Harapannya sih Rabu depan itu pembagian buku nilai kalian. Sekalian acara kelulusan kelas dua belas, tapi sayangnya ada kegiatan wajib, sehingga acara kelulusan ditunda sampai pelatihan selesai.”

Mendengarnya saja membuatku bergidik. Membayangkan betapa padatnya kegiatan dan menumpuknya tugas guru sekolah kami setelah ujian selesai.

“Tenang aja, nilai kalian udah dimasukan setelah pengecekan lembar jawaban tiap harinya. Jadi, ada kemungkinan masa libur kalian tidak sampai sepekan, bisa saja dalam hitungan hari.”

Membicarakan libur sekolah, aku teringat Radi dan janji yang pernah kami sepakati. Beberapa hari belakangan aku memikirkan hal tersebut, tetapi tidak ada petunjuk bagiku untuk mengingat janji itu.

Setelah perbincangan bersama guru muda paling santai, di antara guru muda lainnya di sekolah, Pak Bagaskara mengimbau kami untuk keluar dari ruangan dan menghirup udara pagi sesekali. Berjemur dapat membuat tubuh sedikit nyaman, katanya.

Dengan mendapatkan imbauan itu dari guru yang memiliki kebiasaan sehat itu, aku mendapatkan angin segar. Radi juga tidak bisa berkelit dari permintaanku kali ini.

Kami ke luar dari ruangan inap dan menikmati matahari pukul sepuluh pagi. Pergi ke taman yang dekat dengan pintu sebelah utara, bukan pintu utama, bukan pula pintu menuju unit gawat darurat.

“Gua mau ke kantin dulu, beli makanan. Lo tetep di sini walaupun gua pergi selama satu jam!” Ancamannya membuatku senang, tidak terintimidasi sedikit pun.

Radi memapahku untuk duduk pada beton yang berada di pinggiran lorong, biasa dijadikan tempat duduk. Setelah itu, dia benar-benar pergi. Aku tidak merasa keberatan sama sekali.

Pemandangan pagi ini, di rumah sakit, dengan tanaman yang menyegarkan pernapasan juga mata benar-benar memanjakan jiwaku yang sudah terkurung berhari-hari di dalam kamar naratama, yang dipesankan orang tuaku.

“Apa mungkin lo curiga sama Radi?”

Aku menoleh ketika mendengar suara yang dulunya tidak pernah bersahabat di telingaku, kepadaku, tetapi kali ini, akhir-akhir ini, suaranya lebih dari bersahabat. Padahal kami memiliki riwayat dendam masing-masing.

Ginting datang dengan kursi rodanya, bersama seseorang yang memberikan senyuman ramahnya kepadaku.

“Hai, Kak Kata.”

“Kak?” Aku tergelitik.

Dia tersenyum. Senyumannya sangat menggemaskan. “Iya, Kata, kan, kakak kelas Leya. Sama kayak Ginting.”

Aku tersenyum miring. “Terserah.”

Sepertinya mereka sengaja mendatangiku setelah Radi pergi meninggalkanku. Ada kelegaan, tetapi begitu mendapati Ginting dengan orang lain, membuatku kehilangan minat untuk membicarakannya.

Ginting kembali mengungkit ucapannya kapan hari. “Gua prihatin dengan apa yang udah menimpa lo. Apa lo beneran nggak ingin atau berniat ungkap apa yang terjadi kepada lo, Nay?”

Aku sangat ingin, jawabku di dalam hati. Hanya bisa di dalam hati.

“Kalo lo berniat untuk mengembalikan ingatan lo, maka lo harus curigai Radi. Dia tahu segala hal yang udah hilang dari lo.”

Mencurigai Radi?

Aku merasa didesak untuk jujur di hadapan perempuan yang bersama dengan Ginting. Padahal, aku berniat untuk jujur kepada Ginting saja. Entah karena alasan apa, tetapi ada sesuatu yang membuatku melembut kepada Ginting. Seolah-olah, Ginting dapat kuandalkan selayaknya aku mengandalkan Radi selama ini.

“Mana bisa Naya mencurigai Radi. Dia nggak layak dicurigai.”

Sepenuhnya aku telah berbohong. Aku mencurigai Radi lantaran sikapnya yang menahan sesuatu agar aku tidak dapat mengendus masa laluku. Radi berusaha menahanku pada tempat yang telah Radi siapkan. Alih-alih mempersilakanku untuk mencari tempatku sendiri.

“Lo merasakan hal yang sama dengan dia, Nay,” katanya terdengar seperti bualan. “Apa lo nggak ingin tau kenapa Jaeden susulin lo ke taman belakang di hari pertama lo balik ke sekolah?

“Apa lo nggak penasaran kenapa Jaeden babak belur, tapi dia nggak mau terima perawatan yang udah keluarga Radi kasih? Apa lo nggak penasaran kenapa Jaeden selalu ada dalam bayangan lo?”

Desiran aneh itu selalu muncul, bahkan hanya namanya saja membuatku merasakan hal yang tidak dapat kujelaskan dengan baik. Rasanya hangat dan nyaman. Aku merasa senang, tetapi hatiku juga seperti dicengkeram.

“Pikirkan baik-baik, Nay. Orang yang selalu ada untuk lo itu memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa mengkhianati lo.”

“Ginting, sepertinya kamu salah mengartikan sikap baik Naya.” Aku memang mencurigai dan meragukan Radi, tetapi aku tepis jauh-jauh prasangka tentang pengkhianatan yang dapat Radi lakukan. “Naya memang kehilangan separuh ingatan, tapi bukan berarti Naya nggak tahu apa-apa. Naya hanya ….”

Aku memalingkan kepalaku ke arah taman. Entah apa yang harus kulakukan agar menata kembali potongan masa lalu yang telah hilang dariku.

Aku sendiri berusaha untuk mencari tahu, tetapi jika harus mencurigai orang yang kusayangi, aku tidak sanggup. Lebih baik tidak mencari tahunya sendiri dan menunggu dia untuk mengatakan segalanya, kan?

Di seberang sana, ada dua orang tengah berjalan di tengah tanaman, khususnya bunga tulip dan lavender berjejer dengan indahnya. Kulihat mereka berjalan begitu pelan, tetapi tidak membuat salah satunya aman, dia tersandung sesuatu di bawah sana.

Kejadian itu membuatku tiba-tiba teringat tentang sesuatu, tetapi aku masih belum bisa mengartikannya. Tidak ada satu pun bayangan yang muncul tentang ingatan tersandung itu di dalam kepalaku, kecuali kejadian yang membuatku mendapatkan luka kilir pada kakiku.

“Lo bisa percaya kepada Radi, tapi kalo lo butuh bantuan untuk memulihkan ingatan lo tentang perjalanan misi kita, lo boleh temui kami.”

Aku hendak menjawab, tetapi sebuah suara menyentak telinga kami, seketika membuat Ginting dan Leya tidak dapat berkutik.

“Jangan gegabah!” katanya, “Kalian jangan asal menggali ingatan Naya, karena bisa membawa kesakitan lagi untuk dia. Kondisinya saat ini aja berisiko. Kalian mau mencelakai dia lagi?”

Ginting terlihat penuh sesal. Sementara perempuan itu, dia menatap orang yang menyentak di tengah-tengah perbincangan kami bertiga dengan tatapan berkobar.

Kedua tangan Leya mengepal. “Andai Kak Kata nggak kehilangan ingatannya, pasti kita nggak akan terpecah begini, kan?”

“Leya.” Ginting memberikan peringatan.

“Andai Kak Kata nggak ngalamin hal itu, dia bisa bantu kamu lawan Kak Radi, kan?”

1
Diana Amalia
alur ceritanya bagus, pembawaan suasananya juga oke. semangat up ya thorr😁👍
Diana Amalia
semangat up ya thor😃

mampir juga yuk ke novelku😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!