Indonesia
NovelToon NovelToon
THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Rumahhantu / Thriller / Hantu / Horor
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kaia Lituhayu

"Kita akan memburu hantu malam ini." Primrose menekan nada ketika ia berbicara di depan kamera.

Angka penonton yang berjumlah lebih dari 500 ribu terus meroket. Komentar dan gift semakin menggila begitu Rose memperlihatkan bangunan sekolah yang menewaskan seluruh penghuninya tanpa terkecuali.

Atapnya yang roboh separuh, sudah ditumbuhi lumut. Dindingnya dipenuhi ilalang menjamur. Dilihat dari sisi manapun bangunan ini terlihat mematikan.

Tapi berada disini bukanlah pilihan. Ini adalah satu-satu cara agar aku dan ibu bisa bertahan hidup.

"Aku akan memberikan banyak gift singa jika kalian berani masuk dan membaca Vesta Hestia." Rose membaca sebuah komentar.

Kami terkesiap dan saling pandang. Singa. Bernilai lebih dari seribu dolar. Tentu saja komentar itu membakar semua rasa takut yang ada.

Aku bisa saja mengatakan sesuatu yang akan membuat mereka urung. Tapi seribu dolar membutakanku. Karena terlalu tamak, aku sampai lupa.

Bahwa mungkin saja, sejarah lama akan membunuh kami semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaia Lituhayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 17: D-1 (Part 1)

Perjalanan dari Pittsburgh ke Killington memakan waktu sekitar sembilan jam.

Dan selama itu pula, aku tidak bisa bisa berhenti berpikiran macam-macam. Sepanjang jalanan yang dipenuhi rural dan sedikitnya pemukiman membuat perasaanku semakin tidak enak. Terlebih setelah bayangan semalam memperingatiku untuk jangan pergi ke Woodstock seolah dia tahu apa yang coba kami lakukan disana.

Namun pada akhirnya kami tetap berangkat. Tentu saja Primrose pikir aku membual soal semalam. “Tidak ada yang namanya hantu di dunia ini. Penggal saja kepalaku kalau dia bisa menunjukkan dirinya padaku sekarang juga.” ujarnya.

Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi. Kalau itu prinsipnya, memangnya aku bisa apa? Primrose hanya butuh bukti, dengan begitu ia akan percaya.

Aku mencoba menjernihkan pikiran.

Kami sudah sampai sekitar dua puluh menit yang lalu di Helbert I. Johnson, Killington. Selagi para guru menyuruh kami untuk menunggu selama mereka berbicara dengan pihak pengelola, aku memutuskan beristirahat dan menatap hamparan buffalo grass yang membentang sepanjang beberapa hektar. Pohon pinus dan akasia tumbuh memanjang seperti pagar mengelilingi area glamping. Udaranya berbau basah bercampur aroma woody sangat pekat memanjakan penciuman. 

Meski pemandangan hijau yang indah sedikit banyaknya membuatku rileks, pikiran-pikiran buruk rupanya tetap melekat seperti kutu. Menyerap energiku habis tanpa bisa ku kendalikan.

Kenapa? Kenapa salah satu penumpang itu melarangku untuk pergi kesana? Siapa dia dan hubungan apa yang terkoneksi antara Woodstock dengan kecelakaan di Pittsburgh itu? Kenapa harus aku?

Aku mengurut pelipisku yang semakin pening saat banyak sekali pertanyaan yang terpikir secara bersamaan.

Semua kejadian aneh yang menimpaku akhir-akhir ini mau tidak mau membuatku berpikir bahwa ini semua ada alasannya. Entah apa yang coba mereka katakan padaku atau apa yang sebenarnya menungguku disana. Aku sama sekali tidak mengetahui apapun.

Aku tidak berpikir jernih. Bahkan ketika Isaac tiba-tiba duduk di sampingku lalu menempelkan sebuah kaleng susu dingin di pipiku. Aku berjengit kaget dan menoleh ke arahnya.

“Kau oke?” ujar pemuda itu mengambil tempat duduk di sampingku.

Aku mengangguk tanpa suara dan menerima kaleng susu pemberiannya.

Selama nyaris satu menit kami berdua hanya diam menikmati angin sepoi Killington yang sesekali menerbangkan rambut dengan cara yang menyenangkan. Dari samping, kutatap wajah Isaac yang menatap lurus pemandangan di depannya.

Kurcaci Primrose ini memiliki struktur wajah yang tegas dengan batang hidung yang tinggi. Mataku turun menangkap rahang tajamnya yang membuat Isaac seperti karakter yang keluar dari buku komik. Belum lagi rambut hitam legamnya menari berayun mengikuti arah angin. Matanya yang coklat dan bibir yang penuh dengan porsi yang tepat …

Pemuda ini …

Terasa familiar di ingatanku.

Isaac menoleh, hampir memergokiku tengah memperhatikannya. “Aku percaya padamu,” ujarnya tiba-tiba.

Aku balas menatapnya, “hm?”

“Soal kau melihat para penumpang bus. Saat aku mengejutkanmu di vending machine, kau melihatnya disana kan? Itulah kenapa kau terlihat ketakukan saat itu.”

Aku mengalihkan tatapanku dari sepasang hazel miliknya. “Kau ingat rupanya,” kataku sambil membuka penutup kaleng susu. Mencoba menyibukan diri dengan apapun.

Aku bisa merasakan pemuda itu masih menatapku dari samping. Isaac Petterson. Entah kenapa aku rasa akhir-akhir ini dia selalu berusaha mendekatiku. Tidak. Not romantically. Entahlah, kupikir mungkin ini karena Primrose yang menyuruhnya untuk mengawasiku tapi aku merasakan ada sesuatu yang murni ingin dia sampaikan padaku namun ia berusaha tidak mengatakannya.

“Malam ini kita akan berangkat tapi wajahmu pucat begitu. Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Isaac lagi.

“Kulitku memang sudah pucat dari sananya. Aku baik-baik saja,” jawabku sekenanya sambil memberinya senyum tipis. Isaac balas menyunggingkan sudut bibirnya, hazelnya yang cantik itu masih memperhatikan wajahku dengan seksama.

“Kurasa tidak. Dulu kau punya pipi yang meron–” pemuda itu menghentikan kalimatnya seolah tersadar akan sesuatu.

“Dulu?” tanyaku tak mengerti.

Kurcaci Primrose itu dengan cepat mengalihkan tatapannya. Kupingnya merah dan kini ia tertawa canggung.

“Y-ya, dulu! Saat … saat aku melihatmu pertama kalinya pindah ke sekolah kami,” jelasnya dengan nada canggung. Lalu tiba-tiba pemuda jangkung itu bangkit dari duduknya.

“Ah pegal sekali! Aku … aku pergi dulu, ya. Noah mungkin sedang mencariku sekarang. Kau tahu, dia sedikit bergantung padaku haha haha. Ha-habiskan susunya. Bye, Crawford.” 

Dengan kedua tungkai kakinya yang panjang, pemuda itu pun berjalan tergesa.

Meninggalkanku sendirian yang menatap punggungnya dari belakang dengan wajah bingung.

...***...

1
Yani Cahyani
bagus, Saya tidak tahu ini penulis sudah lama atau masih baru tapi dari cara dia menulis karyanya sangat luar biasa
Yani Cahyani
bab 1 baru selesai baca kata-katanya, alurnya sangat menarik sekali dan saya langsung berkomentar Saya suka dengan novel ini
Lylia07
Aku udah baca cerita ini. Pemilihan diksinya bagus. Setiap baca babnya harus bener fokus si kalo aku. Cerita yang diangkat juga menarik banget. Aa keren pokoknya kamu kak😭👍. Semangat nulis dan upnya ya kak 🥰❤️
Jeje
suka banget sama alurnya, gaya bahasa juga keren 😭😭🥳🥳
Hendra.MDS01
“Apa yang terjadi... "

“Apa ini mimpi tapi mengapa terlihat nyata... "
Skypea
ikutan nahan nafas
Darellia
keren banget, semangat berkarya
Kaia Lituhayu: Terima kasih banyak sudah membaca kak 🩶🩶
total 1 replies
chila
Gw kira cerita horor biasa, tp ternyata agak laen. baca ajadah seru! trs enak dibaca bahasanya. Dibikin film aja bisa gk si
chila
WEEH gw suk bagian ini!
chila
si primrose aries nih pasti
chila
keren nih
chila
katanya si B.I terkenal
chila
longwand anj /Facepalm/
chila
ini ganti pov???
chila
naah loh
chila
jumpscare buset
chila
ini yg di bus bukan si /Scowl/
chila
woilah bau bau setan mumcul
chila
malibu ...
chila
bagus nih perumpamaannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!