Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Serahkan kunci mobil itu kepada Sherly!" Tandas Ratih yang baru keluar dari rumah itu, seolah niat Sherly untuk merebut kendaraan sudah mereka rencanakan.
"Tidak mungkin Bu, mobil ini milik saya pribadi," jawab Bulan masih tetap sopan.
"Saya tidak percaya! Wanita macam kamu yang berkedok Dokter dan seolah-olah berjasa untuk mengobati putri saya itu tidak benar, tapi sebenarnya hanya berniat merebut Bintang dari Mentari yang sedang tidak berdaya dan juga hartanya bukan? Ngaku saja!" Tuduh Ratih dengan kejam.
"Tidak Bu... Demi Allah..." potong Bulan, seketika hatinya merasa sakit sekali mendengar tuduhan itu. Padahal Ratih belum tahu jika ia istri Bintang, jika sudah tahu nanti apa yang akan terjadi.
"Halah, bohong saja kamu! Kak Bintang itu bekerja keras siang dan malam untuk anak istrinya, tapi dengan seenaknya kamu memanfaatkan tugasmu sebagai Dokter hanya ingin enak-enakan menikmati fasilitas di rumah ini!" Sherly menambahkan bensin di tengah kobaran api di hati Ratih.
Sebuah helaan napas pun keluar dari bibir Bulan. Merasa percuma saja walau menjelaskan. Tanpa kata, ia merogoh tas, lalu mengeluarkan dompet kulit, ambil surat-surat, selanjutnya mengambil sebuah kartu dan dia tunjukkan semuanya di depan Sherly. Di sana tertera jelas nama Bulan beserta kwitansi pembayaran satu unit mobil yang ia beli satu tahun yang lalu.
"Mobil ini saya beli dari uang tabungan saya sendiri selama menjadi Dokter, Sherly. Bahkan sebelum saya mengenal Bintang," ucap Bulan datar dan penuh penekanan.
"Saya tetap tidak percaya!" sergah Ratih, dengan surat itu ia justru menduga bahwa Rembulan sudah mengenal Bintang sejak lama.
"Saya tidak mengharap Ibu untuk percaya," Bulan beralih ke wajah Ratih, emosi yang ia simpan akhirnya keluar juga.
Sementara Sherly mematung, matanya terpaku pada dokumen di tangan Bulan. Belum sempat menyusun kata-kata untuk membalas, Bulan menerobos air hujan, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin. Ia tidak mau membuang waktu hanya untuk meladeni tuduhan mereka yang tidak mendasar.
Dalam perjalanan Bulan berkali-kali menarik napas panjang, lelah sekali rasanya setelah memutuskan untuk menikah dengan Bintang.
Menghadapi dua wanita sinting itu menurutnya belum seberapa, ia harus siap menghadapi keluarga Bintang yang lain. Berpikir tentang keluarga Bintang, Bulan baru menyadari bahwa selama ini belum pernah bertanya kepada Bintang tentang siapa dan di mana keberadaannya. Bagaimana jika orang tua Bintang pun kelak akan bersikap sama seperti Ratih dan Sherly? Menganggapnya wanita yang hanya mengincar harta Bintang.
"Astagfirullah..." ucap Bulan berkali-kali, tatapannya lurus ke jalanan, tangannya mencengkeram setir.
Sungguh tidak mudah bagi Bulan menjalani peran seperti ini, ingin rasanya pergi dan keluar dari permasalahan secepatnya, tapi ia sudah dididik almarhum papi agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah, setidaknya menunggu Mentari sembuh baru ambil langkah selanjutnya.
"Kamu harus kuat Bulan..." gumamnya menyemangati diri sendiri.
Bulan melambatkan kendaraan saat beberapa meter di depannya, sebuah taksi abu-abu baru saja menghantam pembatas jalan hingga bagian depannya remuk berantakan.
Bulan menepi secara instan, menarik rem tangan, tidak berpikir lagi menyambar tas medis darurat dari kursi penumpang. Tanpa memedulikan rintik hujan yang belum juga menghilang, langkah kakinya berpacu menuju lokasi kejadian.
Di balik pintu taksi yang sudah terkoyak, seorang ibu paruh baya terkulai lemas dengan rintihan pelan.
"Permisi..." Bulan membelah kerumunan orang yang baru saja mengeluarkan wanita itu dari taksi.
Melihat jubah dokter yang melekat di tubuh Rembulan, semua orang minggir memberi jalan.
Bulan secepatnya memberikan pertolongan kepada supir taksi, tapi sayangnya sudah meninggal di tempat. Bulan kemudian beralih kepada wanita paruh baya itu.
"Tahan ya, Bu..." ucap Bulan dengan cekatan melakukan penanganan awal. Pemeriksaan Respon dan kesadaran, Bulan menepuk bahu korban lembut sembari memeriksa denyut nadi leher.
"Ibu, dengar suara saya?" Tanya Bulan sambil membersihkan darah yang mengalir di pelipis.
Wanita paruh baya itu membuka mata, menatap Bulan intens sebelum akhirnya pingsan kembali.
Darah segar terus mengalir mengotori wajah sang ibu. Bulan dengan sigap menempelkan kassa steril, memberikan penekanan langsung untuk menghentikan pendarahan, lalu membebatnya rapi dengan perban elastis. Begitu selesai, Bulan berdiri menghubungi mobil ambulans untuk membawa jenazah supir taksi ke rumah sakit.
"Pak, Mas, bantu saya angkat Ibu ini ke mobil saya. Harus masuk UGD sekarang juga!" Tegas Bulan kepada warga sekitar yang berkerumun.
"Baik Dok."
Empat orang warga bergerak cepat menopang tubuh korban sesuai instruksi dari Bulan. Setelah tubuh sang ibu terbaring aman di kursi belakang, Bulan melompat ke kursi kemudi, menekan klakson secara beruntun, dan melesat membelah jalanan menuju Rumah Sakit Citra Medika tempatnya bertugas.
Tiba di rumah sakit, pasien segera di tangani oleh dokter Bulan sendiri. Sungguh suatu keajaiban, jika supir taksi tadi meninggal, ibu paruh baya itu hanya mengalami luka-luka luar.
Setelah ibu yang belum Bulan ketahui namanya itu tidur, Bulan menjalankan tugasnya memeriksa pasien lain.
Waktu berganti pagi. Sinar matahari menerobos celah tirai ruang perawatan. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan tepat pukul delapan pagi ketika seorang wanita paruh baya meringis seorang diri menahan sakit.
Tubuhnya terasa remuk, dan ingatan akan insiden kecelakaan tragis di jalan raya itu perlahan muncul kembali di kepalanya.
Namun, di tengah kepanikan saat musibah itu terjadi, ia mengingat jelas bayangan seorang dokter wanita yang begitu sigap memberikan pertolongan pertama hingga nyawanya terselamatkan.
"Selamat pagi, Nyonya..." ucap dokter Alisha pagi itu berjalan ke arahnya bersama seorang perawat.
"Selamat pagi Dokter..." lirih wanita yang bernama Mega.
"Bagaimana? Masih sakit sekali?" Tanya dokter Alisha mulai membuka perban hendak dia ganti.
"Badan saya rasanya sakit semua Dok?" ucapnya. Wanita seusia dirinya sehari-hari pun seringkali merasa pegal-pegal, ditambah kecelakaan tentu rasanya tidak karuan.
"Sabar ya, Nyonya... setelah minum obat anti nyeri sakitnya akan berkurang," dokter Alisha menenangkan.
"Oh iya Dok, dokter wanita yang menolong saya saat kecelakaan di jalan tadi malam kerja di rumah sakit ini tidak? Saya ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih," tanyanya dengan wajah cemas tapi penuh harap.
Dokter Alisha hanya tersenyum sambil memeriksa keadaan ibu Mega, ia belum tahu siapa dokter yang dimaksud. Sementara sang perawat menulis papan catatan medis di tangannya.
"Alhamdulillah... Kondisi Ibu sudah stabil," ujar dokter tersebut walau luka-lukanya masih butuh perawatan hingga beberapa hari lagi.
"Suster... di mana Dokter yang menolong saya?" Si ibu mengulang pertanyaan yang belum dijawab.
"Nama Dokternya siapa Bu?" Tanya suster.
"Saya tidak tahu namanya!" sahut ibu Mega menunjukan ciri-ciri dokter yang masih terbayang di ingatan.
Dokter dan suster yang baru tiba itu saling pandang, yang mempunyai ciri-ciri seperti itu dokter Rembulan.
"Mungkin yang menolong Ibu Mega Dokter Rembulan Sus," dokter Alisha seketika ingat saat menerima berkas dari dokter Rembulan sebelum dia pulang.
"Jadi benar, Dokter baik hati itu bekerja di rumah sakit ini? Bolehkah saya bertemu?" Tanya Mega antusias.
"Oh, Dokter Rembulan baru saja menyelesaikan shift malamnya, Bu. Beliau sudah pulang untuk istirahat jam delapan pagi ini."
Mendengar penjelasan dokter dan suster, ibu Mega diam, sedikit kecewa karena belum sempat menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung. Namun, bu Mega berharap nanti malam bisa bertemu dokter itu kembali.
"Suster, kalau begitu... bolehkah saya minta tolong? Handphone saya sepertinya hilang saat kecelakaan. Bolehkah Suster bantu hubungi nomor handphone putra saya?" Tanya Ibu Mega ingin memberi kabar bahwa saat ini dirinya di rumah sakit.
"Tentu saja Boleh Bu... Berapa nomernya?" Perawat mengeluarkan handphone dari saku kemudian mengetik nomor yang ibu Mega sebut sambil mengingat-ingat tampaknya sedikit lupa.
.
Aroma kopi hitam baru saja disuguhkan oleh sekretaris, saat seorang pria baru saja duduk di kursi kebesaran, di hadapannya tumpukan berkas sudah menunggu ingin dia sentuh.
Belum sempat tangannya meneliti satu berkas pun, handphone miliknya bergetar, dengan wajah panik ia melirik benda tipis itu menatap profil si penelpon, berharap bukan kabar buruk tentang istrinya dari rumah.
"Nomor ini tidak aku kenal," gumam pria itu ragu-ragu untuk menjawab. Namun, pada akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya. "Hallo..."
"Hallo Mas! Saya dari rumah sakit Citra Medika memberi kabar bahwa ibu Mega mengalami kecelakaan di jalan tol sejak malam tadi.
Jedaaarrrrr...
Bagai petir telah menyambar dada pria itu setelah mendengar kabar tersebut. Tanpa berkata-kata kepada sekretaris yang duduk di seberang mejanya, ia berlari keluar ruangan.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌