Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Malam kian melarut, membungkus penthouse dalam keheningan yang dingin. Eliana terlelap di tempat tidurnya yang empuk, namun kesadarannya tersedot ke dalam sebuah alur mimpi yang tak asing lagi.
Dalam mimpinya, ia berada di sebuah kediaman megah berlantai marmer dengan pilar-pilar batu yang menjulang tinggi. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang ia yakini adalah tubuh Eliana kecil sedang berlari riang di taman bunga yang luas. Suara gelak tawa terdengar bersahut-sahutan. Ada sosok pria dan wanita berbusana sangat mewah yang merentangkan tangan untuk memeluknya. Wajah mereka tampak samar dan kabur, namun kehangatan dari pelukan itu terasa begitu nyata dan menghujam relung dadanya.
Eliana terbangun secara mendadak dengan napas terengah-engah.
Sentuhan hangat dari mimpi itu masih menjalar di sekujur tubuhnya, diikuti oleh setitik air mata yang tanpa sadar menetes melewati pipinya. Rasa rindu yang teramat dalam dan menyakitkan mendadak menyusup ke ulu hati.
Eliana mengusap air matanya, memegangi dadanya dengan dahi berkerut bingung.
"Apa yang terjadi...?" bisik Eliana dalam batinnya yang mendadak linglung. "Kenapa rasanya sesak dan kangen banget begini? Apa ini... ingatan asli dari pemilik tubuh Eliana? Tapi tunggu dulu... kenapa rumahnya kelihatan mewah banget? Kenapa orang tuanya pakai baju bangsawan? Bukannya Eliana ini cuma anak rakyat biasa yang yatim piatu terus jadi pelayan istana? Ada yang gak beres..."
Eliana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis gejolak emosi aneh yang bukan miliknya tersebut.
"Aishhh! Nggak! Gue nggak boleh baper atau larut sama emosi di dunia novel ini!" tegas Eliana pada dirinya sendiri, menepuk kedua pipinya pelan. "Ingat tujuan utama lo, Eliana! Bantu Lucien sampai takdir tragisnya berbalik, bongkar kebusukan Oberon sama Rosalie, terus setelah semuanya selesai... gue bakal pergi cari kehidupan tenang gue sendiri!"
Tak bisa tidur kembali, Eliana beranjak dari ranjangnya dan melangkah keluar kamar. Di ruang tengah yang hanya diterangi lampu pendar temaram, ia duduk di meja kerja. Dengan berbekal memori ingatan novel Tahta & Darah Valdoria yang pernah dibacanya, Eliana mengambil selembar kertas dan pena.
Jemarinya bergerak lincah menuliskan bagan konspirasi, menggarisbawahi nama-nama pejabat yang terlibat, serta memetakan tempat-tempat potensial yang menyimpan dokumen bukti kejahatan Perdana Menteri Oberon dan Rosalie untuk diselidiki esok hari. Ia bekerja begitu fokus dan tekun tanpa memedulikan waktu yang terus bergulir.
Hingga akhirnya, rasa lelah yang amat sangat mengalahkan ketahanannya. Sekitar pukul tiga pagi, pena di jemari Eliana terlepas pelan. Kepalanya terkulai jatuh ke atas lengan yang bersilang di atas meja, dan ia pun tertidur lelap di sana.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar utama terbuka tanpa suara.
Lucien melangkah keluar, berniat mengambil segelas air dingin. Namun langkah kaki Pangeran Mahkota itu terhenti saat menangkap sosok Eliana yang tertidur pulas di meja dengan tumpukan kertas berserakan di sekelilingnya.
Lucien mendekat perlahan tanpa menimbulkan suara. Manik mata birunya menatap lembaran kertas berisi bagan jaringan musuh yang ditulis dengan sangat detail oleh Eliana. Tatapannya lalu bergulir turun, terkunci sepenuhnya pada wajah polos Eliana yang terpejam lelap.
Lucien membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah gadis itu dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat sisa jejak air mata yang mengering di sudut mata Eliana, serta napas teraturnya yang menghembus halus.
Di dalam kepalanya, Lucien masih terngiang-ngiang tekad bulat dari suara batin Eliana yang ia dengar beberapa saat lalu tentang niat gadis itu yang ingin pergi setelah semua masalah ini usai.
Lucien menatap wajah Eliana dalam-dalam, mengikis jarak di antara mereka. Iris mata birunya berkilat penuh ketegasan terselubung dan kepemilikan yang mendalam.
"Pergi...?" batin Lucien berbisik dingin pada dirinya sendiri, sembari perlahan mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan helai rambut yang menutupi dahi Eliana. "Setelah kau membawaku sejauh ini dan mengetahui seluruh rahasiaku... kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, Eliana?"
Keesokan paginya, aroma gurih sup hangat dan roti panggang kembali memenuhi area dapur penthouse. Eliana menata piring-piring di atas meja makan marmer dengan gerakan cekatan, sementara Lucien sudah duduk rapi mengenakan pakaian santainya.
Saat menyerahkan sepasang sendok pada Pangeran Mahkota, Eliana menatap Lucien dengan raut wajah yang dibuat sangat serius dan penuh penekanan.
"Pangeran, hari ini Pangeran di rumah saja, ya," panggil Eliana tegas, menunjuk dada Lucien dengan ujung sendoknya. "Atau kalaupun memang ada urusan sangat mendesak yang bikin Pangeran harus keluar rumah, jangan pernah lupa menyamar total! Pokoknya di mana pun dan kapan pun! Jangan sampai ada satu pun helai rambut perak atau mata biru Pangeran yang kelihatan oleh mata-mata Oberon di jalanan. Paham?"
Lucien menerima sendok itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Eliana. Pangeran Mahkota itu hanya diam menatapnya datar, menyimak kekhawatiran yang riuh di dalam batin sang pelayan.
"Gue harus pergi sendirian hari ini," batin Eliana bergolak sibuk, meluncur mulus ke dalam pikiran Lucien. "Berdasarkan ingatan babak awal novel, ada satu saksi kunci yang memegang rahasia pembunuhan mendiang Ratu yaitu mantan pelayan pribadi Beliau yang mendadak mengundurkan diri bertahun-tahun lalu. Alamatnya ada di kawasan permukiman kumuh pinggiran kota. Di catatan resmi istana, dia dibilang mudik karena sakit, tapi gue tahu betul dia sebenarnya diancam dan diusir paksa oleh Oberon setelah gak sengaja ngeliat racun disusupkan ke minuman Ratu! Gue harus nemuin dia sendirian biar gak memicu kecurigaan."
Selesai menghabiskan sarapannya dengan tergesa-gesa, Eliana melangkah keluar dari penthouse sendirian. Ia mengenakan gaun kusam rakyat biasa dan menutupi kepalanya menggunakan kain syal sederhana demi berbaur dengan masyarakat umum.
Perjalanan menuju permukiman kumuh di pinggiran kota Valdoria memakan waktu cukup lama. Lingkungan itu tampak berantakan, dingin, dan dipenuhi lorong-lorong sempit berdebu yang diapit bangunan kayu tua. Dengan berbekal ingatan detail dari alur novel, Eliana menyusuri gang demi gang hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah kayu kecil yang reot di ujung lorong sepi.
Eliana menghela napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, lalu mengetuk pintu kayu yang lapuk tersebut.
TOK! TOK! TOK!
Tak lama kemudian, pintu berdecit pelan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh dan wajah yang dipenuhi guratan keletihan membalas ketukan itu. Matanya yang sembap menatap Eliana dengan raut curiga dan waspada.
"Siapa kau...? Mau apa ke sini?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara serak.
"Nyonya Martha... mantan pelayan pribadi Ratu di Istana Utama, kan?" bisik Eliana pelan namun penuh kepastian. "Saya datang buat menanyakan kejadian malam itu—malam saat Ibunda Ratu berpulang."
Mendengar nama dan identitas lamanya disebut, wajah wanita paruh baya itu seketika pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat oleh ketakutan mendalam, dan tangannya refleks hendak membanting pintu rapat-rapat.
Namun, sebelum pintu kayu itu tertutup, sebuah tangan kekar mengenakan sarung tangan kulit hitam menahan tepi pintu dengan dorongan yang amat kuat namun tenang.
SRET.
Pintu terdorong kembali ke dalam. Eliana yang kaget setengah mati mendadak menoleh cepat ke belakang tubuhnya.
Di sana, berdiri seorang pria tinggi tegap yang mengenakan mantel hitam panjang bertudung. Pria itu perlahan menyingsingkan tudung kepalanya ke belakang, menampilkan paras tampan bergaris tegas dengan rambut perak dan iris mata biru yang menyala dingin di remang lorong.
Eliana membelalak sempurna, matanya hampir melompat keluar.
"P-Pangeran?!" pekik Eliana tertahan dengan suara tercekik, menatap Lucien dari atas ke bawah dengan kepanikan luar biasa. "Gila ya?! Kenapa Pangeran bisa ada di sini?! Bukannya tadi pagi saya udah bilang Pangeran diam di rumah aja?!"