Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sinar matahari pagi menembus celah tirai dan mengenai wajah Anya.

Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan dan mencoba duduk bersandar di kepala ranjang.

Ugh.

Anya memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing karena efek bangun tidur yang terlalu mendadak.

Namun ada sesuatu yang sangat aneh dengan penglihatannya pagi ini.

Dia bisa melihat butiran debu yang melayang di udara dengan sangat jelas.

Bahkan serat-serat benang pada selimut sutranya terlihat sangat detail seperti dia sedang menggunakan kaca pembesar.

"Apa mataku mendadak berubah menjadi mikroskop?" batin Anya kebingungan.

[Keterampilan Pasif Aktif: Mata Elang.]

[Efek: Penglihatan detail meningkat drastis, mampu mendeteksi anomali kecil di sekitar Anda.]

Anya menghela napas panjang melihat layar biru transparan yang melayang di depannya itu.

"Pantas saja semuanya terlihat terlalu tajam hari ini," gumam Anya pelan.

Dia turun dari ranjang dan segera membersihkan diri di kamar mandi.

Setelah memakai pakaian kasual berupa kemeja putih dan celana jeans, Anya melangkah keluar kamar.

Cklek.

Suasana rumah lantai dua terasa jauh lebih tenang dari biasanya.

Tidak ada lagi tatapan curiga atau meremehkan dari para pelayan yang berlalu lalang.

Setiap pelayan yang berpapasan dengan Anya kini langsung berhenti dan menunduk hormat sangat dalam.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang pelayan senior dengan suara bergetar karena segan.

Anya hanya mengangguk canggung dan membalas sapaan itu seadanya.

Dia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan utama di lantai satu.

Tap. Tap. Tap.

Kenji sudah duduk di ujung meja makan sambil membaca sebuah tablet elektronik.

Pria itu mengenakan kemeja hitam berlengan pendek yang memamerkan otot lengannya yang kokoh.

"Selamat pagi," sapa Anya sambil menarik kursi di sebelah kanan Kenji.

Kenji langsung meletakkan tabletnya dan menoleh menatap Anya.

Mata hitam pria itu menelusuri wajah Anya dari atas ke bawah seolah sedang mengecek kondisinya.

"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Kenji dengan suara baritonnya yang khas.

"Sangat nyenyak, rasanya seperti mati suri selama sepuluh jam," jawab Anya jujur.

Kenji tersenyum tipis mendengar jawaban blak-blakan tersebut.

Dina, pelayan muda yang tempo hari diselamatkan Anya, datang membawa sarapan dengan wajah berseri-seri.

"Ini sarapan Anda, Nyonya Anya," ucap Dina sopan sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat.

"Terima kasih, Dina, panggil saja aku Nona seperti biasa," balas Anya tersenyum.

Dina mengangguk cepat lalu segera undur diri dari ruang makan.

"Ibumu bagaimana keadaannya hari ini?" tanya Anya sambil mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.

Kenji menyesap kopi hitamnya perlahan sebelum menjawab.

"Bima sudah memindahkannya ke rumah sakit khusus milik klan kita tadi subuh."

"Dokter bilang kondisinya sudah mulai stabil karena racunnya sudah dibersihkan dari tubuhnya."

Anya menghentikan kunyahannya dan menatap Kenji dengan lega.

"Syukurlah, kau pasti merasa jauh lebih tenang sekarang," ucap Anya.

Kenji mengangguk pelan, raut wajahnya memang terlihat jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya.

"Lalu bagaimana dengan Paman Haris dan Leon?" tanya Anya penasaran.

Mata Kenji seketika berubah menjadi sedingin es saat nama dua pengkhianat itu disebut.

"Mereka sudah diurus di ruang bawah tanah pagi ini."

"Mereka berdua akan menghabiskan sisa hidup mereka di pengasingan pulau terpencil tanpa fasilitas apa pun."

Anya merinding mendengarnya, tapi dia tahu itu adalah hukuman yang sangat pantas untuk pembunuh licik seperti mereka.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa memasuki ruang makan.

Tap. Tap. Tap.

Bima datang dengan wajah kakunya yang biasa, tapi napasnya terdengar sedikit memburu.

"Tuan Muda, maaf mengganggu sarapan Anda," ucap Bima sambil menunduk hormat.

"Katakan ada apa, Bima?" perintah Kenji tanpa membuang waktu.

Bima melirik sekilas ke arah Anya sebelum melanjutkan laporannya.

"Ketua klan Naga Hitam baru saja mengirimkan kotak berdarah ke markas utama kita di pusat kota."

Kenji meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit keras.

Trang.

"Apa isi kotak itu?" tanya Kenji dingin.

"Potongan jari dari dua orang informan kita yang menyusup ke wilayah mereka bulan lalu."

Bima menyerahkan sebuah dokumen ke atas meja makan.

"Mereka secara resmi mendeklarasikan perang terbuka karena kita telah membantai pasukan elit mereka semalam."

Anya menelan ludah mendengar kabar buruk yang datang bertubi-tubi ini.

Baru saja semalam mereka bisa bernapas lega, sekarang perang yang lebih besar sudah menanti di depan mata.

"Naga Hitam sepertinya benar-benar ingin menguji kesabaranku," desis Kenji dengan rahang mengeras.

Pria itu berdiri dari kursinya dan mengambil tablet elektroniknya kembali.

"Siapkan tim pemukul sekarang juga, Bima."

"Kita akan menyerang gudang senjata rahasia mereka di pelabuhan utara malam ini juga."

Bima mengangguk tegas menerima perintah mematikan tersebut.

"Baik, Tuan Muda, saya akan mengumpulkan pasukan dalam waktu satu jam."

Bima langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan.

Kenji menoleh menatap Anya yang masih duduk terdiam di kursinya.

"Kau tetaplah di rumah hari ini, Anya."

"Dua puluh penjaga bayangan akan mengamankan area rumah ini sampai aku pulang nanti malam."

Kenji berjalan mendekati Anya lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.

"Ini bukan perang yang bisa kau hadapi hanya dengan bermodal nekat seperti semalam."

Anya menatap wajah Kenji, lalu matanya tanpa sengaja melirik ke arah tablet yang masih menyala di tangan pria itu.

Berkat keterampilan Mata Elang, Anya bisa membaca peta cetak biru gudang pelabuhan di layar tablet itu dengan sangat jelas meski jaraknya cukup jauh.

Matanya menangkap sebuah detail kecil pada gambar peta tersebut yang terasa janggal.

"Tunggu sebentar, Kenji," panggil Anya menghentikan langkah pria itu.

"Ada apa?" tanya Kenji menoleh kembali.

"Bolehkah aku melihat peta gudang pelabuhan yang ada di tabletmu itu?"

Kenji mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan permintaan tiba-tiba itu.

Namun pria itu tetap menyodorkan tabletnya ke hadapan Anya.

Anya memperbesar gambar peta tersebut pada bagian sisi timur gudang.

"Kau berencana masuk lewat pintu utama dan pintu samping barat kan?" tebak Anya.

"Ya, informan kami bilang sisi timur adalah tebing laut mati yang tidak mungkin dijaga," jawab Kenji.

Anya menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Lihat titik kecil berwarna abu-abu di sudut tebing timur ini."

Anya menunjuk sebuah noda kecil di peta yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang biasa.

Kenji harus mencondongkan tubuhnya ke depan untuk bisa melihat titik yang ditunjuk Anya.

"Itu bukan cacat gambar dari mesin cetaknya," ucap Anya dengan nada serius.

"Itu adalah simbol standar untuk saluran ventilasi pembuangan bawah tanah."

Anya menatap lurus ke dalam mata Kenji yang kini membesar karena terkejut.

"Jika Naga Hitam tahu kalian akan menyerang, mereka pasti akan memasang penembak jitu di ventilasi tersembunyi itu."

"Dan pasukanmu akan terbantai habis dari titik buta yang sama sekali tidak kalian sadari."

Ruang makan itu seketika menjadi sangat hening.

Kenji menatap peta di tabletnya, lalu menatap Anya secara bergantian dengan pandangan tidak percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!