Cerita lama versi absurd. jangan dibaca🥹🥹🥹🤌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
korban bullyng
***SKIP TAMAN***
"Aaaah ... Riska sakit!" Jerit Wardha
"Hahah ... Sukur taman hari ini gak ada pengunjung!" Ujar Rina
"Hahaha ... Bisa lebih gampang deh kita ngabisin ni anak!" Ketus Risna
Riska pun tersenyum licik, kemudian Riska menarik Jilbab Wardha dengan paksa.
"Astaghfirullah Riska! Berani nya lo membuka jilbab gue!" ketus Wardha dengan mata nyalangnya
"Hahaa kenapa? Lo marah!" ketus Risna
"Dasar cewe culun! Di sekolah aja gayanya kaya guru ngaji!" ketus Riska
"Riska! Ini kewajiban wanita muslimah! Kembalikan jilbab gue Ris!" Ketus Wardha yang mulai emosi
"Lo udah kegatelan sama Raka, bahkan dengan Ridho juga, lo masih berani sok ceramah disini!" ketus riska
Wardha yang kesal karena jilbabnya dibuka paksa, langsung naik darah. Wardha pun menginjak kedua kaki teman Riska dengan kuat. Seketika tenaganya kini meningkat.
Buukk..
"Aaaww m.." seketika kedua teman Riska melepaskan tangan Wardha. Wardha pun langsung mendorong kuat Riska.
"Dasar setan!" ketus Wardha
Wardha pun kembali menampar Riska
Plakk ...
"Ini balasan manusia iblis kayak lo!" ketus Wardha kesal.
Wardha menampar pipi Riska seperti Riska menampar dirinya. Seketika itu teman Riska langsung menarik paksa Wardha kembali
"Lepasiinn gue!" Jerit Wardha
Riska pun kembali bangkit dan mendekati Wardha dengan mata nyalang penuh amarah. Sesekali dia mengusap bibirnya yang berdarah.
"Dasar pelacur!" teriak Riska.
Riska pun langsung menendang perut Wardha
Buukk..
"Aaaa. Astaghfirullahaladzim," ujar Wardha seraya membelalakkan matanya
"Mampus lo! Ini balasan karena berani ngelawan gue!"
Riska pun langsung menarik baju kemeja Wardha dengan kasar
Kreakk ..
Kancing baju Wardha pun terlepas dan koyak di buatnya.
"Whahahaha ..." Riska dan teman nya pun tertawa lebar melihat ke tidak berdayanya Wardha
Sedangkan Wardha hanya bisa menangis histeris tanpa bisa melawan lagi
"Ya Allah segini buruknya aku! Aku berusaha menutup aurat ku, tapi sekarang aurat ku ternodai, tolong jangan biarkan ada lelaki yang melihat keadaanku," gumam Wardha seraya menangis tersedu-sedu
Riska pun menjambak rambut Wardha menariknya keatas, sehingga wajah Wardha mendongak dengan kasar keatas
"Lo denger ya! Sekali lagi lo berani ngelawan gue! Kelar hidup lo!" Ketus Riska
Riska pun kembali menampar Wardha, seolah tidak ada rasa puas di hatinya. Saat tangannya hendak menampar Wardha kembali, tiba-tiba tangannya tertahan oleh seseorang.
"Stop!"
"R-raka!" Ujar Riska gugup
Wardha yang menutup matanya, mencoba membuka pelan matanya. Berusaha mencari tahu keadaan yang ada di depannya
"Mr Ice," gumam Wardha
"Beraninya kalian siksa Wardha !" ketus Raka
"Dimana akal kalian! Gak puas dengan jenior kalian yang lain hah! Belum cukup kalian menyiksa jenior-jenior kalian!" Teriak Raka
"D-dia yang mulai Raka, dia yang menamparku lebih dulu!" Ujar Riska berbohong
Plakkk ....
"Aaww ..." Teriak Riska
"Kau kira aku bodoh! Apa ini yang pertama untuk mu hah!" Ketus Raka
"Sebelum aku berbuat kasar sama kalian, kalian pergi dari sini!" ketus Raka seraya menatap kasar kearah Riska
"T-tapi Ra-"
"Pergi," teriak Raka
Riska pun pergi bersama teman-temannya dengan Riska yang di gotong oleh temannya.
Raka pun langsung menolong Wardha yang terkulai lemas di rerumputan taman itu.
"Kamu gak papa?" Tanya Raka
Wardha hanya terdiam, bukan tidak mau menjawab. Hanya saja dirinya sudah tidak berdaya lagi. Bahkan untuk bicara pun sulit
Raka yang kebingungan dengan keadaan Wardha yang terluka dan tanpa hijab, baju yang sobek itu, dengan sontan Raka membuka kemeja sekolahnya. Lalu memakaikannya ke tubuh Wardha.
"Maaf ya," ujar Raka lembut
Raka pun melihat jilbab Wardha yang tercampak jauh, langsung berlari mengambilnyan dan melilitkannya asal ke kepala Wardha.
"Untuk sementara, aku tidak pandai memakaikannya," ujar Raka
"Ayo kita ke mobil."
Wardha hanya terdiam menangis tersedu-sedu. Raka pun mencoba membantu Wardha berdiri, namun Wardha tidak mampu.
"Maaf kakak harus gendong kamu, sebelum orang semangkin banyak melihat aurat mu terbuka seperti ini," ujar Raka.
Raka pun tidak memperdulikan jika Wardha menolak, Raka langsung berlari ke mobil dengan menggendong Wardha.
Sedang kan di ujung taman, terlihat Salca dan Reyhan yang baru datang, melihat Raka menggendong Wardha sambil berlari.
"Itu kak Raka kan?" Tanya Salca panik
"Iya itu mobilnya Raka!" ketus Reyhan
"Kenapa kak Raka gak pakai baju? Terus siapa yang di gendong nya? Apa jangan-jangan itu Wardha?" Tanya Salca yang semangkin panik
"Ayo kita susul," ujar Reyhan
Mereka pun dengan cepat menyusul Raka, ingin bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
***SKIP MOBIL***
"Kamu gak papa kan?" Tanya Raka panik
Namun Wardha hanya terdiam dan menangis, dan Raka pun semangkin panik melihat keadaan Wardha yang penuh memar, bibir yang berdarah bahkan dengan baju yang sudah robek.
Raka pun memnghentikan laju mobil nya. Raka membenarkan baju kemeja miliknya yang dipakai Wardha
"Kamu doble kan baju kakak ya, sini kakak bantu," ujar Raka
Dengan tangan gemetar, Wardha pun perlahan menggunakan baju Raka. Kemudian Raka memakaikan jilbab Wardha asal. Yang penting tertutup pikirnya.
"Kaka gak pinter, tapi setidaknya, rambut mu tidak kelihatan lagi," ujar Raka dengan lembut
Raka pun kembali melajukan mobil nya menuju ke rumah wardha. Waktu di perjalanan, Raka menelpon rumah Wardha. Raka meminta pelayan menyiapkan obat untuk Wardha.
Sesekali Raka melirik kearah Wardha yang selalu memegang perutnya, dengan wajah mengerut karna menahan sakit
"Perut mu kenapa Dha?" Tanya Raka
"D-di -t-tendang Riska." Jawab Wardha dengan terbata-bata
"Apa? Astaghfirullah! Keterlaluan!" ketus Raka
"Kamu tahan ya, kita pulang dulu mengganti pakaian mu, setelah itu kita kerumah sakit," sahut Raka
Raka pun menjalankan mobil nya dengan kecepatan penuh, namun hati-hati.
***SKIP RUMAH***
Raka turun dari mobil, dan mengarah pada Wardha. Dengan terpaksa Raka kembali menggendong Wardha ke dalam rumahnya, nmun Wardha tidak menolak, karena dirinya menahan sakit dan tidak sanggup untuk bicara.
"Maaf ya," ujar Raka
Raka pun langsung membawa Wardha kekamar nya. Dan meletakkan Wardha dengan hati-hati layaknya barang yang mudah pecah.
"Astaghfirullah, kenapa bisa begini non?" Seru Mbok Yati panik
"Gak papa mbok, jangan panik," ujar Raka
Raka pun mengompres wajah Wardha yang memar akibat tamparan Riska
"Tahan ya, mungkin akan sakit," ujar Raka lembut
"Sssttt ..."
"Maaf ya Dha," ujar Raka
Raka pun kembali mengompres wajah Wardha dengan perlahan
"Aaaw sakit," ringis Wardha seraya memegang perutnya
"Apa dia menendang mu dengan kuat?" Tanya Raka
Wardha hanya mengangguk
"Kita kerumah sakit ya! Kamu ganti baju dulu," ujar Raka seraya bangkit hendak meninggalkan Wardha
"Gak kak," sahut Wardha
"Harus!" Ketus Raka
"Aku gak mau," ujar Wardha memohon
Raka pun kembali duduk di sebelah Wardha
"Kakak khawatir, perut mu kenapa-kenapa Dha," ujar Raka lembut
"Gak papa kok," ujar Wardha
"Hah ... Yasudah, kakak obati wajah mu lagi ya,"
Wardha pun menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui permintaan Raka. Dengan perlahan Raka kembali mengobati wajah Wardha yang memar dan sudut bibir yang berdarah.
Perlahan Raka mengobati luka itu, dengan sangat hati-hati sekali
"Aaaww," rengek Wardha
"M-maaf," ujar Raka
Raka terus mengobati dengan pelan, Wardha pun menatap lekat wajah khawatir Raka itu
"Apa emang, kamu khawatir sama aku ya," gumam Wardha seraya menatap lekat wajah Raka.
Raka yang sadar dengan sikap Wardha pun ikut menatap wajah Wardha. Mereka pun saling pandang dengan wajah yang berdekatan, pandangan mereka terkunci, lama mereka saling tatap dengan jantung yang berdebar kencang, seakan tak ingin mengalihkan tatapan nya, dan tiba-tiba.
"Ya Allah wardha!" Teriak histeris Salca
Kenapa lagi ya mereka?
Parah banget tuh Riska, hobinya bully terus.