Sepuluh orang terpilih tiba-tiba saja mendapatkan Diamond Card. Sebuah kartu undangan yang secara resmi mengundang mereka untuk menjadi penghuni di Paradise Land. Sebuah tanah surga yang selama ini digadang-gadang sebagai tempat terindah di seluruh dunia. Tempat yang memiliki akses benar-benar terbatas, dan hanya bisa ditempati oleh segelintir orang saja.
Sepuluh orang ini akan hidup di tempat yang layaknya seperti surga. Tidak perlu bekerja, dan tidak perlu susah-susah mencari uang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena semuanya sudah tersedia tanpa batas, dan mereka hanya perlu menikmati hidupnya saja.
Namun bagaimana jadinya jika ternyata hidup di surga tak seindah yang mereka bayangkan?
"Game to Heaven : Invitation Gen-01 : Terrible Paradise."
Story & Illustration by: Bintang Hamal
🚫Warning🚫
Hanya cerita fiktif belaka! Semua kejadian, tokoh, dan tempat hanya karangan semata.
Follow author on Instagram @hamalbinbin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Hamal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gen 20 - Halusinasi
"Kau menyukainya? Bukankah ini enak, huh?" Pria itu terus menggerakkan tubuhnya dengan kasar. Lavina meringis kesakitan sambil berulang kali berusaha untuk mengembalikan napasnya yang tertahan akibat cekikan pria itu.
"Akan aku pakai kau sepuasku sebelum aku membunuh dan mengirim mu ke neraka!"
"Akh—" Lavina sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berulang kali meronta, tapi hasilnya tak bisa membuat pria itu menjauh dari tubuh polosnya. Bahkan ia tidak bisa menghentikan gerakan pria itu yang terus mengisi miliknya.
"Arghh!"
Lavina menjerit kencang. Ia bangun dan membuka mata, begitu sadar. Ternyata semua yang di alaminya barusan hanyalah sebuah mimpi.
...*...
"Lavina!" panggil Angelina. Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan menggunakan kartu akses miliknya.
Tiba di dalam, ia mendapati wanita yang menjadi temannya itu tengah duduk di ruang tamu dengan penampilan berantakan.
Rambut yang acak-acakan dan pakaian yang terlihat tidak seperti biasanya.
Lavina terlihat seperti orang yang mengalami stress berat.
"Lavina? Kau kenapa?" Angelina yang melihat kondisinya begitu segera menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.
"Kau baik-baik saja? Katakan padaku, apa yang terjadi?" Angelina terlihat begitu cemas dengan keadaan Lavina. Apalagi beberapa hari terakhir, terutama setelah makan malam itu, Lavina menjadi terlihat murung dan lebih jarang bertemu dengan dirinya dan yang lain.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa agak kurang sehat," elaknya.
"Sungguh? Apakah kau demam? Kau sakit apa? Perlu kita pergi menemui Lucius agar kau bisa diperiksa?"
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Kau yakin? Aku rasa tidak. Sikapmu semakin lama semakin aneh, dan kau jadi semakin jarang berinteraksi denganku serta teman-teman yang lain. Jika kau punya masalah, aku harap kau bisa ceritakan masalahmu itu padaku. Aku janji, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu dan aku akan menyimpan rahasiamu dengan baik."
"Aku sungguh baik-baik saja. Tapi, bolehkah aku bertanya."
"Ya. Apa yang ingin kau tanyakan."
"Apakah kau tahu alasan kenapa kita ada di sini?"
"Maksudmu dia Paradise Land? Tentu saja kita di undang karena kita adalah orang-orang terpilih, begitu yang aku dengar dari pembicaraan profesor Kurt di televisi. Memangnya kenapa kau menanyakan hal ini?"
"Aku hanya tidak mengerti, kenapa di antara banyaknya orang, malah kita yang di pilih? Apalagi, sebelumnya tidak ada persyaratan khusus yang dia jelaskan 'kan?"
"Memang benar… kalau di pikir-pikir, aku juga tidak mengerti kenapa kita terpilih untuk tinggal di sini."
"Aku pikir kita akan di bunuh."
"Apa?"
Angelina mengerutkan kening, ia tidak mengerti kenapa Lavina bisa tiba-tiba bicara seperti itu.
"Aku melihat sebuah lukisan tentang diri kita dan kegiatan apa saja yang kita lakukan selama ini. Semuanya terlukis di sebuah ruangan rahasia."
"Ruangan rahasia?"
Lavina lalu menjelaskan mengenai setiap lukisan yang dia lihat di ruang rahasia yang dia temukan.
"Pada ujung jalan, aku melihat seorang anak berdiri dengan bersimbah darah. Anak itu berdiri di antara beberapa mayat yang tergeletak di lantai," katanya. Mengakhiri ceritanya mengenai semua lukisan yang ia temukan.
Angelina terdiam tanpa kata. Otaknya masih berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja berloncatan dari mulut temannya itu.
Angelina mengulurkan tangannya, menempelkan punggung tangannya pada kening Lavina.
"Kau sepertinya berhalusinasi. Suhu tubuhmu sangat tinggi. Kau sangat panas."
"Aku bicara yang sesungguhnya!"
"Kau harus di periksa. Aku akan memanggil Lucius untuk memeriksa mu di sini."
"Tidak! Beritahu aku bagaimana menurutmu? Aku tahu kau adalah wanita yang paling pintar dan bisa aku percaya di sini. Aku ingin kau berikan pendapatmu mengenai lukisan-lukisan yang aku lihat itu. Tolong!" Lavina menggenggam tangan Angelina. Menatapnya penuh harap.
Angelina terdiam. Ia menghela napas sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak bisa menyimpulkan terlalu jauh. Tapi jika yang kau katakan mengenai lukisan itu benar, mungkin saja semua lukisan itu menggambarkan masa depan yang akan terjadi pada kita. Sudahlah, aku akan memanggil Lucius untuk memeriksamu!"
Angelina beranjak bangun. Ia asal memberikan pendapat mengenai lukisan yang di maksud Lavina. Karena ia yakin betul sahabatnya itu sedang berhalusinasi mengenai lukisan yang dia maksud.
Angelina keluar dan meninggalkan Lavina seorang diri di dalam sana.
Lavina termenung.
M-menggambarkan masa depan? Itu berarti, kita semua akan mati. Dan akan ada banyak orang yang datang serta pertempuran akan terjadi.
Hanya akan tersisa satu orang saja…
Lavina semakin ketakutan.
...*...
"Lucius!" Angelina menghampiri pria yang sibuk menyiram tanaman di halaman rumahnya itu.
Ia menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Angelina berjalan menghampirinya.
"Hai! Ada apa kau datang kemari, tumben sekali."
"Aku kemari karena cemas akan keadaan Lavina."
"Lavina? Ada apa dengannya?"
"Dia sepertinya sakit."
"Benarkah? Sakit apa dia?"
"Itu dia yang aku tidak tahu. Tapi yang pasti, Lavina sepertinya berhalusinasi. Dia membicarakan hal-hal aneh yang sungguh tidak masuk akal. Aku cemas akan keadaannya, maka dari itu aku datang kemari untuk memintamu memeriksa keadaannya. Kau bisa 'kan?"
"Tentu saja. Aku akan memeriksanya."
"Bagus, kalau begitu ayo pergi!"
Angelina kembali ke rumah Lavina dengan Lucius. Tiba di sana, Lucius segera memeriksa keadaan Lavina yang terserang demam tanpa sebab.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi. Lebih baik kau beristirahat, dan jangan banyak beraktivitas agar kau cepat sembuh," kata Lucius.
"Aku baik-baik saja," lirih Lavina.
"Aih! Kau itu sakit. Apakah kau tidak dengan apa kata Lucius?" Angelina mulai jengkel karena Lavina terus saja berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
"Demamnya terlalu tinggi, kalau dibiarkan tidur sendiri takutnya terjadi sesuatu padanya."
"Kau tenang saja, aku akan menemani Lavina malam ini di sini," ucap Angelina.
"Ide bagus. Kalau begitu aku juga akan mengabari Veronica agar dia bisa bergantian berjaga denganmu."
"Okay."
"Kalau begitu aku pulang dulu."
Lucius melangkah meninggalkan rumah Lavina, membiarkan Lavina berdua dengan Angelina.
...*...
Malam tiba. Kondisi tubuh Lavina semakin parah. Pikirannya terus dihantui oleh ucapan Angelina, dan dia mulai bersikap paranoid.
Berulang kali bahkan Lavina berhalusinasi dan bermimpi buruk.
Angelina dan Veronica di buat semakin cemas akan keadaan teman mereka itu.
"Aku jadi semakin cemas. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia jadi sering mengigau dan terus berhalusinasi?"
"Aku juga tidak mengerti. Kira-kira apa yang harus kita lakukan agar Lavina bisa membaik seperti sebelumnya?"
"Di sini tidak ada tenaga medis lain selain Lucius, di tambah lagi dia itu 'kan tidak terlalu mengerti akan apa yang terjadi dengan Lavina."
"Ini sungguh aneh…" gumamnya.
...***...
"미"의 정점을 찍고 눈에 보여 illusion