Terkadang kita tidak bisa menebak takdir yang telah di tentukan oleh sang pencipta kepada hidup kita. Berharap semua akan terjadi sesuai dengan keinginan, namun takdir telah berkata lain.
Begitu lah yang di alami oleh ku. Awal nya berjalan indah dan penuh dengan warna. Dimana saat itu aku sedang menata masa depan ku bersama teman-teman seperjuangan. Namun, ketika aku bertemu dengan dia, yah dia laki-laki yang telah mencuri hati ku bahkan telah berani merampas masa depan ku membuat hidup ini berubah drastis.
Rasa bersalah dan penyesalan kini terus terasa di hati ku. Hingga saat ini peristiwa itu tidak bisa ku lupakan begitu saja. Semakin aku ingin melupakan, Semakin sakit rasa nya hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mpit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Aku menemani Yus untuk mengadakan pertemuan dengan sesama member nya di base cam yang berada di jalan Nusantara di kampung sebelah.
"Ramah, ikut lah bergabung bersama kami. Ini kami mau pergi ke kota Batam untuk mengadakan pertemuan dengan leader-leader besar yang pernah keliling dunia" Jelas Heryanti mencoba untuk membujukku.
Heryanti juga teman satu sekolah ku sewaktu SMA. Banyak yang ikut menjadi anggota member ini adalah teman-teman satu sekolah ku di SMA.
"Nanti dulu lah, aku belum ada modal mau ikut seperti kalian" Ujar ku.
"Kamu bisa kok meminjam dulu uang sama aku biar kamu bisa ikut bergabung bersama kami" Pujuk nya lagi.
Yah untuk menjadi anggota di member membutuh kan modal sebesar enam ratus ribu. Di mana member tersebut bisa mendapatkan produk kesehatan satu paket yang berisi tujuh botol.
Di mana, kita bisa menjual nya dengan harga seratus ribu perbotol nya. Maka dari hasil penjualan itu kita mendapatkan keuntungan seratus ribu. Dan setiap kali kita berhasil membawa satu orang bergabung menjadi member, maka kita akan mendapatkan bonus sebesar seratus ribu.
Sistem kerja nya seperti paramida. Semakin banyak member di bawah nya, maka semakin untung lah orang yang berada di atas sebagai leader.
"Gak ah, aku gak mau berhutang untuk hal ini. Aku gak tahu nanti nya mau bayar pakai apa. Iya jika aku berhasil mendapatkan anggota Jika tida, bagaimana?" Ujar ku.
"Kamu bisa menjual produk ini yang sudah pasti untung seratus ribu. Dengan begitu, kamu bisa membayar hutang mu" Jelas Heryanti lagi.
"Gak ah, nanti-nanti saja. Aku belum yakin mau bergabung. Aku ke sini hanya untuk menemani Yus saja" Ujar ku.
"Semoga kamu cepat bergabung ya" Ujar Heryanti pada akhir nya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan nya itu.
Ting...
Ponsel ku berdering.
"Dek, kemana saja? Dari tadi bang tungguin gak ada kabar nya" Pesan bang Dodi kepada ku.
Aku merogoh samu celana ku mengambil ponsel ku.
"Maaf bang tadi agak sedikit sibuk jadi lupa mau menghubungi abang lagi" Balas ku.
"Oh bagitu, jadi sekarang apa masih sibuk?"
"Sudah gak terlalu kok bang. Abang lagi ngapain?" Tanya ku.
"Lagi di depan rumah. Ngumpul sama teman-teman sambil membayangkan wajah manis adek Ramah" Gombal nya.
"Gombal, udah deh jangan menggombal Mah seperti itu. Nanti Mah bisa terbang melayang lagi" Ujar ku.
"Nanti, jika adek terbang melayang, abang yang akan menangkap nya. Setelah itu, abang akan masukan adek di dalam hati bang dan abang kunci dengan gembok. Terus anak kunci nya, akan abang buang ke tujuh samudra biar adek gak bisa pergi lagi dari abang" Pesan nya panjang lembar.
"Ya ampun bang Dodi, pintar sekali kamu menggombal ku ya" Ujar ku tersenyum saat membaca pesan dari bang Dodi itu.
"Adek, boleh abang telfon adek? Abang pengen dengar suara lembut mu dek. Kangen abang" Pesan nya lagi.
"Ya ampun, dia mau meneleponku sebaiknya aku segera keluar" Ujar ku. Yah karena di dalam rumah base cam itu sangat berisik di sebab kan perkumpulan para member yang sedang mengadakan game. Jadi aku pasti tidak akan bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh bang Dodi nanti.
Aku segera berlari keluar rumah menuju teras depan rumah base cam untuk menerima panggilan dari bang Dodi.
"Hallo" Jawab ku mengangkat ponsel ku yang berdering.
"Hallo manis" Ujar nya.
Kami ngobrol ala kadar nya saja. Bertanya kabar, dan bercerita satu sama lain tentang kegiatan hari ini. Dari sini lah kedekatan ku kembali bersama bang Dodi.
"Dek, abang serius sama adek. Abang mohon, kembali lah adek kepada abang" Ujar nya terdengar memohon.
"Abang akan berubah untuk adek. Abang akan meninggalkan semua keburukan abang demi adek. Karena abang benar-benar tulus sayang sama adek" Ucap nya meyakinkan ku.
Aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang di katakan bang Dodi itu. Sejujurnya hati ini melayang terbang tinggi mendengar rangkaian kata indah yang keluar dari mulut bang Dodi meski hanya melalui ponsel.
"Dek, kok diam? Ayo dong kasih abang jawaban nya. Apa adek mau kembali bersama abang?" Tanya nya lagi.
"Sejujur nya hati ini belum sepenuh nya yakin sama abang. Tapi, kita coba saja dulu ya bang" Ucap ku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa memberikan jawaban seperti itu.
"Jadi abang di terima?" Tanya nya lagi.
"Coba bang" Ulang ku.
"Terima kasih ya dek. Abang janji, abang akan selalu membuat adek bahagia dan tidak akan mengecewakan adek" Ujar nya lagi.
"Terima kasih bang, tapi bukti kan saja dulu. Jangan hanya sekedar omong doang"
"Ya sudah abang mau ke kapal sebentar ya. Abang mau membuat pembukuan keuangan.. Karena kantin sudah mau di tutup" Ujar nya.
"Ha? Ini baru jam sembilan kantin nya sudah tutup?"
"Iya memang biasa nya membuat pembukaan jam segini dek"
"Terus teman abang yang masuk sore tadi gak bisa membuat pembukuan nya?"
"Gak bisa dek, maka nya malam-malam pun abang tetap ke kapal untuk membuat pembukuan nya" Ujar nya.
"Oh gitu, ya sudah hati-hati ya bang"
"Terima kasih sayang" Ujar bang Dodi menutup ponsel nya.
"Ternyata di sini kamu ya" Ujar Yus menegur ku.
"Ya ampun Yus bikin kaget saja"
"Sedang teleponan sama siapa sih? Kelihatannya bahagia banget"
"Oh ini, dari orang spesial" Ujar ku tersenyum.
"Spesial, spesial siapa sih? Pakai acara rahasia segala lagi" Ujar Yus.
"Hahaha.... Jangan marah seperti itu dong sayang. Ini dari bang Dodi" Ucap ku.
"Ha? Kamu masih berhubungan dengan nya? Kamu tahu sendiri kan dia itu seperti apa? Terus kenapa kamu masih mau sih dekat-dekat dengan dia?" Ujar Yus tampak kecewa.
"Ya Yus, dia janji akan berubah Yus. Aku sudah melihat keseriusan nya kepada ku. Dengan aku sikap dingin terus-terusan kepada nya, namun dia sama sekali tidak pernah menyerah. Apa salah nya jika aku memberikan kesempatan kedua pada nya. Siapa tahu dia benar-benar sudah berubah" Jelas ku kepada Yus.
Yus menghembus nafas beratnya mendengar ucapanku barusan.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu ya Ramah. Jika kamu yakin dengan pilihan kamu ini, aku akan memberikan support kepadamu. Karena aku sebagai sahabatmu ingin yang terbaik dan ingin melihatmu bahagia. Semoga saja bang Dodi bisa membahagiakan mu dan dia benar-benar sudah berubah" Ujar Yus dengan penuh harapan.
"Aamiin terima kasih ya Yus. Kamu benar-benar sahabat ku yang terbaik di atas yang terbaik" Ujar ku memeluk Yus dengan erat.
"Oh ya,. Apa sudah selesai acara mu di dalam? Sudah pukul sembilan malam ini. Nanti ibu ku malah khawatir jika aku belum pulang" Ujar ku kepada Yus.
"Oh sudah kok. Ya sudah ayo kita pulang" Ujar Yus.
"Tapi sebentar aku mau pamitan dulu sama mereka yang ada di dalam" Tambah nya lagi
"Oke"
Yus masuk ke dalam rumah setelah sekian menit ia pun keluar.
"Ayo Mah kita pulang" Ujar nya.
"Oke, tapi kita ke pasar dulu yuk sebentar. Sudah lama aku gak makan bakso bakar" Ujar ku.
"Ha iya juga. Kamu beli bakso bakar, biar aku yang membeli minuman. Kita duduk saja nanti di teras rumah mu. Sambil saling curhat" Ujar Yus memberi ide.
"Bagus juga ide mu. Ayo" Aku pun menancap gas motor Yus.
***
"Assalamualaikum" Ujar ku membuka pintu.
"Ha, ibu pikir kamu masih belum mau pulang dan lupa waktu. Mau ibu suruh Icap menelepon mu" Ujar ibu ku memberikan pencerahan kepada ku.
Icap adalah abang kandung ku yang nomor tiga. Dia sudah memiliki keluarga. Anak nya sudah tiga waktu itu. Tapi sekarang sudah menambah anggota baru jadi jumlah nya empat.
Yah jika aku pulang terlambat dan melewati batas waktu yang diberikan oleh ibuku, maka ibuku akan meminta abangku untuk menanyakan ku dan bertanya di mana aku saat ini.
"Iya buk, aku sudah pulang. Tadi aku pergi ke pasar dulu membeli bakso bakar. Sudah lama gak makan bakso bakar. Ibu mau?" Ujar ku menawar kan.
"Ha bagi lah satu tusuk" Pinta ibu ku.
"Dalam marah nya itu, mau juga ya bakso bakar nya" Ujar ku menggoda.
"Ha nama juga makanan. Kalau menolak tanda mau di antar ke darat"
Maksud dari ibu ku itu adalah jika sudah tidak mau makan lagi, itu arti nya mau mati dan di antar ke darat di sebab kan kuburan penampungan terletak nya di arah barat dari rumah ku.
"Haha... Ini aku kasih tiga tusuk untuk ibu ku tersayang dan tercinta" Ujar ku.
"Aduh banyak nya, minta hati malah di kasih jantung ya" Canda ibu ku.
"Sudah makan saja. Kami mau duduk di teras dulu ya buk" Ujar ku.
"Ha, belum juga puas-puas bertemu dan curhat nya?"
"Tadi gak sempat curhat buk. Kan tadi membahas masalah kerja Yus yang menjadi member ini" Ujar ku lagi.
"Oh gitu"
"Oh ya, ayah kemana buk?"
"Gak tahu, dari tadi dia keluar dan belum pulang juga. Ayah mu jika keluar mana mau memberi tahu ibu" Ujar ibu ku.
"Jadi ibu sendirian?"
"Gak berdua sama televisi yang menemani ibu" Ujar ibu ku sedikit bercanda.
"Hahaha... Ibu ini bisa saja. Oh ya, ini minuman mau juga gak?" Tanya ku menawarkan teh botol yang ada di tangan ku.
"Gak ah, nanti perut ibu gembung. Seperti gak tahu aja jika ibu nya ini tidak boleh sembarang minum" Jelas nya lagi.
"Oke deh, kami keluar dulu ya"
Aku dan Yus duduk di teras rumah ku.
Kami saling ngobrol membahas tentang masalah kursus kami. Dan sesekali bertanya tentang asmara.
"Jadi kamu beneran balikan sama bang Dodi?" Tanya Yus.
"Gak tahu juga ya Yus kami ini bagaimana. Tadi sih aku memberi jawaban coba saja dulu"
"Coba bagaimana sih maksud nya?"
"Aku juga gak tahu sih, mencoba untuk menjalin hubungan dengan nya maksud ku" Jelas ku lagi.
Ting...
Ponsel ku kembali berdering. Aku melihat ponsel ku dan membaca dari siapa pesan itu.
"Ha, kak Ema Yus" Ujar ku.
"Adek, sekarang kakak dan Dodi sudah putus. Dia lebih memilih adek dari pada kakak. Kakak hanya menasehati kamu dek, jangan kamu terlalu terbuai dengan rayuan nya. Karena kamu akan bernasib sama seperti kakak. Kakak tahu kamu mengerti apa maksud kakak. Karena kakak sudah pernah mencerita kan apa pernah kami lakukan bersama. Selagi lagi jaga diri mu ya dek" Pesan nasehat dari kak Ema.