Kelahiran seorang anak laki-laki bernama Reyhan dan secara turun temurun mewarisi sifat dari keluarganya, serta memiliki adik perempuan dengan perbedaan usia 5 tahun yang bernama Rasya.
Kehidupan Reyhan tiba-tiba berubah disaat masuk sekolah dasar, yang mengharuskan dirinya menahan rasa sakit sampai beberapa tahun dan akhirnya dia diculik oleh seseorang ketika sedang sendirian, dan dipaksa menjadi seorang tentara bayaran.
Pelatihan seperti neraka terus dijalani olehnya, sambil menahan rasa sakit yang terus melekat di dalam dirinya. Yang tadinya seorang pemulung, sekarang dirinya menjadi orang ditakuti di dalam dunia tentara bayaran, lalu pulang kembali ke tempat tinggalnya setelah semua urusannya selesai.
Akankah hati dan pikirannya kembali seperti semula ketika bertemu dengan adiknya?
Ataukah dia akan tetap balas dendam terhadap semua orang yang membuat dirinya seperti ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ligar Cahyadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20 Pertemuan Diantara Kedua Keluarga
...*Selamat Membaca*...
Awal pertemuan diantara mereka berdua cukup mengejutkan bagi semua orang yang mendengar cerita tersebut dari kakeknya Vio, terlebih lagi disaat menyelamatkan nyawanya dari ancaman penjahat tersebut. Tanpa disadari, Rey meneteskan ari matanya setelah mendengar sosok seperti apa kakeknya itu semasa hidupnya.
"R-Rey?" panggil kakeknya Vio karena khawatir kalau dirinya tidak bisa menerima kenyataan tersebut, dan dirinya merasa seperti membunuh sahabatnya sendiri.
"Aku tidak apa-apa." tanggap Rey sambil menyusut ari matanya itu menggunakan tangannya, lalu menjelaskan kalau dirinya itu bahagia memiliki kakek dengan sosok seperti seorang pahlawan.
Kemudian, kakeknya Vio mengucapkan banyak terimakasih padanya karena sudah menyelamatkan cucunya pada waktu itu, dan meminta maaf atas semua perbuatannya dikala perlombaan. Dengan spontan Rey meminta untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut, terlebih lagi itu adalah kejadian yang sudah terjadi dan dirinya pun sama sekali tidak berpikir negatif.
Mendengar penjelasan seperti itu, kakeknya Vio tersenyum begitu pula semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. Dalam hal ini, sikap ataupun sifatnya sangat persis dengan mendiang kakeknya, oleh karena itu kakeknya Vio meminta untuk dipertemukan dengan keluarganya. Ketika Rey hendak menganggukkan kepalanya, secara tiba-tiba Vio berbicara untuk membiarkannya bermain terlebih dulu, karena sebelumnya sudah berjanji.
Dikarenakan cucunya bersikeras, akhirnya mereka membiarkan Rey bermain terlebih dulu dengannya, dan ketika vio sudah merasa puas baru berkunjung ke kota sebelah untuk bertemu dengan keluarganya.
Tak lama setelah pembicaraan itu, Rey diajak berkeliling oleh Vio baik di dalam ataupun di luar rumah. Selain itu juga, ketiga kakaknya ikut bersama mereka, dan mengajaknya bermain game yang berada di kediaman tersebut.
Begitu banyak permainan yang berada di kediaman keluarga Vio, dan ini hampir mirip dengan tempat yang sebelumnya dikunjungi. Rey bertanya mengenai alasannya memilih untuk bermain game diluar, dan Yoga pun menjawab kalau di luar itu lebih baik dibandingkan di kediaman sendiri, terlebih lagi lebih banyak orang bermain itu lebih menyenangkan.
Mendengar hal itu, Rey tidak bisa berkata apa-apa, karena mengetahui sedikitnya mengenai orang yang memiliki kekayaan. Lalu mereka bermain bersama sampai waktu makan siang tiba.
Di ruang makan, semua orang yang berada dalam kediaman tersebut makan bersama, tentunya dengan koki yang sangat ahli. Dalam pengajian makanannya, Rey merasa terkesan namun di mata keluarga itu hal seperti ini sudah terbiasa.
Sebelum makan, Rey menanyakan tentang orang lain yang berada di kediaman itu, baik pelayan ataupun orang yang bekerja di tempat tersebut. Lalu kakeknya Vio menjawab, kalau makan siang di kediaman keluarga terbagi dalam beberapa sesi, dan intinya mereka bakalan makan pada waktu yang sudah ditentukan.
Rey sangat senang mendengar jawabannya itu, lalu dia langsung menyantap makanan yang disediakan oleh para koki di kediaman keluarga Vio. Melihat nafsu makannya seperti itu, semua yang berada di sana sangat senang, dan mereka memuji koki yang memasak makanan tersebut.
Beberapa saat kemudian...
Setelah Vio puas bermain bersama dengan Rey, kini giliran keinginan kakeknya yang harus dipenuhi untuk mengunjungi keluarganya. Mereka bersiap-siap sebentar, lalu pergi menggunakan 2 mobil tanpa membawa beberapa pengawalnya.
Hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai ke kediaman Rey, dan dari kejauhan terlihat ayah, ibu, serta adiknya sedang bermain di depan rumah, dan kemungkinan besar menunggu anaknya pulang.
"Ayah, ibu, Rasya, aku pulang." sapa Rey sambil turun dari dalam mobil, lalu memeluk keluarganya.
"Syukurlah Rey sudah pulang. Bagaimana tadi disana? Apakah kamu tidak berbuat hal yang bikin orang lain repot?" tanya Ayahnya yang berpikir demikian.
"Tentu saja tidak, anakmu itu terlihat sangat bahagia bermain di kediamanku." jawab kakeknya Vio yang tak sengaja mendengar perkataan seperti itu. Lalu mereka semua turun juga dari dalam mobil. Melihat hal itu, keluarga Rey langsung menyambutnya dengan hangat sambil bersalaman selayaknya seperti ayah dan anak.
Kemudian ayahnya Rey mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam dan sebelumnya meminta maaf kalau ruangan nya tidak begitu layak, serta banyak kekurangannya. Namun keluarga Vio tidak memperdulikan hal tersebut, terlebih lagi mereka adalah anak serta cucu dari penyelamatnya itu.
"Sebelumnya, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian." ucap kakeknya Vio secara tiba-tiba menuju ke topik serius.
Mendengar hal itu, ayahnya Rey meminta anaknya untuk bermain di luar, akan tetapi kakeknya Vio menjelaskan kalau Rey sudah terlebih dulu mengetahuinya, dan meminta untuk tetap disini sambil mendengarkan hal lain yang belum diketahui olehnya.
"Tidak usah tegang nak, aku datang kesini hanya untuk mengucapkan terimakasih." ucap Kakeknya Vio dengan mengetahui rasa gelisahnya, dan benar-benar mirip dengan sahabatnya itu.
Kemudian, kakeknya Vio mulai berbicara serius mengenai hubungan dengan kedua orang tua dari ayahnya Rey. Singkat cerita, mendengar penjelasan seperti itu, mereka sangat terkejut serta baru pertama kalinya mendengar perkataan seperti itu. Ayahnya Rey menanggapi perkataannya itu, mengenai hubungan mereka dan tak sekali pun mendengar hal tersebut.
Dalam hal ini, kakeknya Vio menyimpulkan kalau sahabatnya itu tidak ingin membuat dirinya bertanggungjawab atas kejadian itu, terlebih lagi tidak ingin repot mengurus kehidupan keluarga Rey. Seketika kakeknya Vio menangis, dan hal ini membuat mereka terkejut.
"A-apa, pembicaraan saya membuat tuan tersinggung, bila seperti itu..." ucap ayahnya Rey, namun perkataannya di sela olehnya.
"Tidak nak... Ini adalah tangisan bahagia, karena sahabatku itu tidak ingin membuatku bertanggung jawab atas kejadian ini. Dari dulu hingga sekarang, aku terus mencari kalian, dan akhirnya bisa mengucapkan terimakasih." sela kakeknya Vio dengan menjelaskan perasaannya itu.
Kemudian ayahnya Rey menanggapinya, kalau dari dulu tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah, dan setelah kematian neneknya, barulah menetap di kota ini. Tanpa berbasa-basi lagi, kakeknya Vio langsung membicarakan mengenai tanggungjawabnya yang bakalan mengurusi kehidupan mereka, dan membuatnya lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.
Kakeknya juga bakalan membelikan sebuah rumah yang berada di kota ini, serta kedua anaknya itu akan disekolahkan sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu juga, masih banyak lagi yang ingin diberikan olehnya, tentunya keluarganya sendiri tidak masalah sedikitpun mengenai hal tersebut.
Dalam hal ini, kedua orang tua Rey terdiam dan berpikir mengenai hal tersebut. Dari apa yang diberikan olehnya memang itu dapat menjamin masa depan yang cerah bagi kedua anaknya, tapi disisi lain ada beberapa hal juga yang membuatnya tidak nyaman.
Kakeknya Vio bersikeras untuk menerima apa yang akan diberikan olehnya, terlebih lagi aset yang dimilikinya itu hanya sebagian dari harta yang dimiliki olehnya. Beberapa pertimbangan dipikirkan oleh kedua orang tuanya, namun Rey sedikit khawatir mengenai hal tersebut.
"Apakah ayah akan menjual kebaikan kakek yang selalu dijaga olehnya?" tanya Rey sambil menatap pada ayahnya, serta berpikir kalau dirinya tidak mau melakukan hal seperti itu, meski masa depannya serta adiknya sudah terjamin.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...20.00 WIB...
...Terimakasih...
Malah otak ku yg jadi blank😭🤣🤧
Nasi goreng jadul itu memang sederhana tp ngangenin, kyak aku. hehe...
Semangat...
Sehat terus buat Authornya
Gimana mau jaga ank² klo penjaganya nnti sempoyongan gara² lapar😂😅
Punya pacar posesif gimana ya🤣✌
Lanjuuttt....
Sebetulnya ga ada orng yg takut miskin. Yg membuat orng takut itu jika mereka di hina gara² miskin.
Memiliki teman² yg baik itu juga rezeki.