Indonesia
NovelToon NovelToon
Dendam Sang Mantan

Dendam Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Batam

Kisah tentang dendam seorang lelaki kepada kekasih hati nya yang telah tega meninggalkan nya, karena paksaan dari orang tua untuk menikah dengan lelaki yang sama sekali belum ia kenal sebelumnya. Bagaimana kisah selanjut nya...? Yuk, simak cerita selengkap nya di "Dendam Sang Mantan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Batam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berduka

🥀 Di Perantauan 🥀

Waktu begitu cepat berlalu, hingga tanpa terasa Reyhan sudah mencapai keberhasilan. Dengan kerja keras dan kegigihan nya, ia pun sudah berhasil memiliki banyak tabungan dan membeli beberapa petak sawah di kampung halaman nya.

"Terima kasih banyak ya, Jhon. Kalau bukan karena bantuan mu, aku bukan lah apa-apa sekarang," ucap Reyhan seraya memeluk tubuh kekar sahabat nya.

"Iya, sama-sama, Rey." Jhon membalas pelukan Reyhan sembari menepuk-nepuk pelan pundak nya.

"Hati-hati di jalan ya, kawan. Salam buat ibu mu," lanjut Jhon.

"Oke, siap. Nanti aku sampaikan salam mu pada ibuku," balas Reyhan tersenyum lebar.

Selesai berpamitan, Reyhan menyampirkan tas ransel ke bahu lalu memesan taksi online dari ponsel nya. Tak butuh waktu lama, taksi yang di pesan pun tiba di depan mereka.

"Aku pamit dulu ya, Jhon. Assalamualaikum," ucap Reyhan dengan wajah sendu menjabat tangan sahabat seperjuangan nya.

"Iya, Rey. Wa'laikum salam," balas Jhon tersenyum simpul melepas kepergian Reyhan.

Jhon melambaikan tangan saat taksi yang di tumpangi Reyhan mulai meninggalkan pekarangan rumah nya. Lelaki itu menyeka sudut mata nya yang mulai digenangi air mata.

"Semoga kau bahagia dengan wanita idaman mu itu, Rey. Aamiin," gumam Jhon sambil terus menatap kepergian sahabat masa kecil nya.

Setelah bayangan Reyhan hilang dari pandangan, Jhon pun kembali melangkah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu kembali.

Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Reyhan terus saja memandang foto seorang wanita yang ada di dalam ponsel nya dengan wajah berbinar.

"Nisa, tunggu aku, sayang! Aku akan merebut mu kembali dari tangan nya," batin Reyhan sembari mengusap foto kekasih hati yang amat dicintai nya itu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 1 setengah jam, Reyhan pun sudah tiba di tempat tujuan yaitu bandara. Sesudah membayar ongkos taksi, Reyhan bergegas masuk ke dalam bandara untuk melakukan check-in dan keperluan penerbangan lain nya.

"Ibu, aku pulang!" batin Reyhan girang sembari menatap gumpalan awan putih dari jendela pesawat.

Setelah melakukan penerbangan selama 3 jam lama nya, pesawat yang di tumpangi Reyhan pun mendarat dengan sempurna. Dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibir nya, Reyhan pun melangkah keluar dari pesawat bersama para penumpang lain nya.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap syukur Reyhan.

Setelah mengambil koper dan barang-barang lain nya, Reyhan kembali menaiki salah satu taksi yang sudah berjajar rapi di depan bandara.

"Ke alamat ini ya, Pak!" ucap Reyhan sembari menunjukkan alamat kampung halaman nya kepada sang sopir.

"Baik, Nak."

Sang sopir mengangguk lalu membantu Reyhan untuk memasukkan barang-barang bawaan nya ke dalam bagasi mobil.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah ibu nya, Reyhan tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Ia sedang membayangkan betapa bahagia nya dirinya, di saat ia bertemu dengan Nisa dan melamar nya di depan orang tua nya.

"Kita akan memulai hidup baru, sayang. Aku sudah berhasil mengumpulkan uang yang banyak, seperti yang pernah di pinta oleh orang tua mu waktu itu," batin Reyhan sambil terus menatap jalanan dari jendela kaca mobil.

"Sudah sampai, Nak."

Reyhan langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara sang sopir.

"Eh, iya maaf, Pak."

Reyhan bergegas turun dari mobil, lalu memberikan beberapa lembar uang ke tangan sang sopir.

"Terima kasih banyak ya, Nak."

Sang sopir tersenyum menerima uang dari Reyhan, kemudian ia membuka bagasi mobil lalu menyerahkan koper dan barang-barang milik Reyhan.

"Sama-sama, Pak."

Sang sopir kembali masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan kendaraan nya kembali menuju pangkalan.

Reyhan mulai menyeret koper dan barang-barang milik nya sampai ke depan teras, lalu mengetuk pintu beberapa kali.

Tok tok tok...

"Assalamualaikum, Bu."

Sepi, tidak ada jawaban apa pun dari dalam rumah sederhana itu. Reyhan menautkan kedua alis, kemudian mencoba mengetuk pintu kayu itu kembali.

Tok tok tok...

"Bu, buka pintu nya. Ini Reyhan, Bu." Reyhan memekik sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.

Lagi... Tidak ada sahutan apa pun dari dalam rumah. Dan itu semakin membuat Reyhan gelisah serta khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan ibu nya.

"Kok sepi? Ibu pergi kemana ya?" gumam Reyhan sembari celingukan kesana-kemari untuk mengamati keadaan sekitar rumah nya.

Saat hendak mengetuk pintu kembali, tiba-tiba Reyhan terlonjak kaget ketika bahu kiri nya di sentuh seseorang.

"Astaghfirullah, kaget aku."

Reyhan reflek menoleh ke belakang sambil memegang dada yang berdegup kencang.

"Bukan nya kamu nak Reyhan ya?" tanya seorang wanita tua renta kepada Reyhan.

"Iya, Nek. Saya Reyhan. Ada apa ya, Nek?" tanya Reyhan balik.

Bukan nya menjawab, wanita tua itu malah memperhatikan penampilan Reyhan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan alis yang saling bertautan.

"Si nenek tua ini kenapa sih? Kok lihatin nya aneh banget?" batin Reyhan bingung.

"Ehem..." Reyhan berdehem untuk mencairkan suasana.

"Ada apa, Nek? Kenapa nenek lihatin saya seperti itu? Apa ada yang aneh dengan saya?" tanya Reyhan dengan nada sopan.

Bukan nya menjawab, si nenek tua itu malah balik bertanya kepada Reyhan.

"Apakah kamu belum tau tentang kabar ibu mu, Nak Reyhan?" tanya sang nenek.

"Belum, emang nya kenapa dengan ibu saya, Nek? Bukan kah ibu saya baik-baik saja?" selidik Reyhan penasaran.

Sang nenek menghela nafas panjang, lalu memandangi pintu kayu yang telah usang di depan nya dengan tatapan nanar.

"Kamu yang sabar ya, ibu kamu sudah tenang disana," ucap nya lirih.

"Ma-maksud nenek?" tanya Reyhan dengan bibir bergetar.

"Ibu kamu sudah tiada seminggu yang lalu," jelas sang nenek sembari menepuk bahu Reyhan untuk memberikan semangat kepada nya.

Duaaarrr...

Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Reyhan langsung lemas seketika. Mata nya terbelalak lebar dengan mulut menganga.

"Tidak, itu tidak mungkin. Ibu ku baik-baik saja di dalam sini. Nenek pasti bohong kan?" ucap Reyhan seakan-akan tidak percaya dengan perkataan sang nenek.

"Tidak, Nak. Nenek tidak bohong. Kalau kau tidak percaya, kau boleh tanyakan kepada warga sini," jelas sang nenek berusaha meyakinkan Reyhan dengan kenyataan pahit itu.

Tubuh Reyhan terhuyung ke depan. Kaki dan lutut nya langsung lemas seketika. Ia tidak menyangka jika ibunda tercinta nya akan pergi secepat itu.

"TIDAAAKKK...! ITU TIDAK MUNGKIN. IBUUUU... REYHAN PULANG, BU. BUKA PINTU NYA, BU, hiks hiks hiks...!" pekik Reyhan sembari menggedor-gedor pintu rumah nya.

"Kamu yang sabar ya, Nak. Nenek permisi dulu," pamit sang nenek lalu pergi meninggalkan Reyhan begitu saja.

Reyhan menatap sendu kepergian sang nenek. Ia mulai bangkit dari lantai lalu menendang pintu dengan sekuat tenaga.

Gubraaakkk...

Pintu kayu itu pun langsung terbuka lebar hanya dengan satu kali tendangan. Tangis Reyhan kembali pecah, saat melihat pemandangan yang sangat memilukan di dalam rumah tersebut.

Reyhan terduduk lemas di atas kursi goyang, tempat dimana biasa sang ibu bersantai di kala menghilangkan penat.

"Bu, kembali lah, Bu. Ini Reyhan sudah datang. Reyhan bawa uang yang banyak untuk ibu, kembali lah, Bu. Reyhan mohon, hiks hiks hiks..."

Isak tangis Reyhan kembali terdengar. Ia sangat terpukul atas kepergian sang ibunda tercinta. Reyhan mengambil bingkai foto dari atas nakas, kemudian menatap foto ibu nya dengan linangan air mata.

"Bu... Kenapa ibu pergi disaat Reyhan sudah berhasil mewujudkan mimpi kita, Bu? Kenapa...?" gumam Reyhan lirih.

Reyhan mendekap erat bingkai foto itu, lalu memejamkan mata. Ia kembali mengenang masa-masa indah bersama sang ibunda tercinta.

"Maaf kan Reyhan, Bu. Reyhan belum sempat membahagiakan ibu. Reyhan belum sempat membuat ibu tersenyum dan merasakan hasil kerja keras Reyhan selama ini, Bu."

Reyhan terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa sangat menyesal karena tidak sempat untuk membalas jasa-jasa ibu nya.

Karena kelelahan menangis, akhirnya Reyhan pun tertidur di atas kursi goyang itu sambil terus mendekap foto sang ibu di dada nya.

🥀 Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🥀

1
cancer
next
cancer
semangat
cancer
semangat kakak
Indah Batam: siap, terima kasih dukungan nya bestie 🙏😉
total 1 replies
cancer
lanjut
Indah Batam: siap kakak 🙏😉
total 1 replies
Icha Cute
Batam, dimana Kak?, aku orang tanjung Uban
Indah Batam: iya kak e, tetap semangat 💪💪
total 3 replies
cancer
bagus tetap semangat thor 💪💪😉😉
cancer
satu 🌹mendarat 😊
cancer
Semangat 💪💪
Leo
lanjut Thor 💪💪
Indah Batam: semangat 💪
total 1 replies
Leo
kasihan Niko 😔
Leo
dasar Bastian edan 🙄
Leo
next
Indah Batam: siap terima kasih sudah mampir 🙏😊
total 1 replies
Leo
lanjut
Indah Batam: siap 🙏😊
total 1 replies
Leo
mulai balas dendam si Reyhan
Indah Batam: iya bener 🤔
total 1 replies
Leo
lanjut
Leo
next up Thor
Leo
next up
Leo
lanjut
Indah Batam: siap, terima kasih sudah berkunjung 🙏🤗
total 1 replies
Leo
kacian amat lu Bastian 🤣😜
Indah Batam: wkwkwkwk 😆🤣
total 1 replies
Leo
lanjut
Indah Batam: siap 🙏😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!