"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pameran Buku
Hari Minggu tiba, dan Raka bersiap menuju pusat kota untuk menemani Salsabila dan ibunya mengunjungi pameran buku tahunan yang diadakan di gedung serbaguna Ciandara.
Sebelum berangkat, Bu Sulastri sempat menahannya sebentar di depan pintu, menyodorkan uang jajan tambahan. "Kalau ketemu buku bagus, beli aja, jangan pelit sama diri sendiri," katanya sambil tersenyum, tanpa tahu ada sesuatu yang lebih rumit dari sekadar acara jalan-jalan biasa yang sedang berkecamuk di pikiran anaknya.
"Makasih, Bu," jawab Raka, mengantongi uang itu sambil sedikit gugup memikirkan bagaimana harus bersikap nanti di depan Salsabila.
Sebelum berangkat, ia sempat mengirim pesan kepada Naya dan Adit, mengajak mereka berdua ikut serta agar tidak terasa canggung pergi berdua saja dengan Salsabila.
Raka: Eh, kalian nggak mau ikut ke pameran buku? Rame-rame juga seru kayaknya.
Namun balasan dari Naya datang dengan alasan yang terdengar dipaksakan.
Naya: Aku ada acara keluarga hari ini, nggak bisa ikut. Kalian aja duluan.
Adit, yang sebenarnya juga tidak memiliki acara khusus, akhirnya memutuskan untuk tidak ikut juga, memilih memberi ruang kepada Raka. Adit: Aku juga lagi bantu Ibu beres-beres rumah. Have fun ya kalian berdua!
Raka menatap kedua balasan itu dengan perasaan campur aduk, sedikit kecewa karena rencana awalnya untuk pergi ramai-ramai tidak terwujud.
Pameran buku berlangsung meriah, dipenuhi stan-stan kecil yang menjual berbagai jenis buku dengan harga diskon khusus musim liburan.
Salsabila tampak antusias mengajak Raka berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, menunjukkan koleksi novel petualangan yang menjadi favoritnya.
"Ini seri favoritku dari kecil," katanya, menunjukkan sebuah novel bersampul usang dengan gambar peta harta karun di depannya. "Ceritanya tentang anak-anak yang nemuin harta karun tersembunyi di pulau terpencil."
Raka mendengarkan dengan antusias yang tulus, menemukan kesamaan minat yang membuat obrolan mereka mengalir lancar tanpa jeda canggung. Untuk beberapa jam, ia merasa nyaman menghabiskan waktu bersama Salsabila, menikmati kesederhanaan sebuah hari yang jauh dari drama keluarga atau masalah persahabatan yang rumit.
Di salah satu stan, Salsabila berhenti sejenak di depan rak buku puisi, jarinya menelusuri punggung buku satu per satu. "Eh, Raka, menurutmu Naya suka baca puisi kayak gini juga, nggak? Waktu kita presentasi legenda pohon beringin kemarin, aku baru sadar dia jago banget nulis. Kayaknya cocok banget kalau dikasih buku puisi."
Raka terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. "Iya, dia emang suka nulis dari dulu. Cuma jarang mau nunjukin ke orang lain."
"Kamu deket banget ya sama dia," celetuk Salsabila ringan, meski ada sesuatu dalam nada suaranya yang sulit ditebak. "Dari cara kamu ngomongin dia aja, keliatan beda."
"Ya iyalah, kita kan udah temenan dari awal SMP," jawab Raka spontan, belum sepenuhnya menangkap maksud tersirat di balik ucapan Salsabila.
Salsabila hanya tersenyum tipis, memilih membeli buku puisi itu tanpa berkomentar lebih jauh, lalu mengajak Raka melanjutkan berkeliling ke stan-stan lain, seolah menyimpan pikirannya sendiri untuk waktu yang lebih tepat.
Namun di tengah keasyikan itu, ponsel Raka tiba-tiba berdering. Ia melihat layar, dan mendapati nama Adit tertera di sana—sebuah panggilan yang terasa janggal mengingat Adit sendiri yang tadi pagi mengaku sedang sibuk membantu ibunya di rumah.
Dengan sedikit bingung, Raka mengangkat panggilan itu. "Halo, Dit? Kenapa—"
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, suara di seberang telepon terdengar panik, jauh berbeda dari nada santai Adit yang biasa.
"Raka, cepet ke rumah Naya sekarang! Ibunya baru telepon aku, katanya Naya... Naya pingsan mendadak di rumah!"
Raka merasakan darahnya seketika dingin, tangannya gemetar memegang ponsel. "Pingsan? Kenapa bisa—Dit, aku ke sana sekarang!"
Ia buru-buru menutup telepon, menoleh ke arah Salsabila yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cemas ikut mendengar sepenggal percakapan tadi.
"Ada apa?" tanya Salsabila.
"Naya pingsan. Aku harus ke sana sekarang," jawab Raka cepat, sudah bersiap melangkah pergi.
"Aku ikut!" seru Salsabila, tanpa berpikir dua kali, langsung meminta izin sebentar kepada ibunya yang sedang memilih buku di stan sebelah.
Keduanya bergegas keluar dari gedung serbaguna itu, menaiki angkutan umum pertama yang mereka temui menuju Komplek Griya Asri, hati Raka dipenuhi kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya—kekhawatiran yang membuatnya sadar, betapa berartinya sahabat yang selama ini selalu ada di sisinya itu.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan