Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : CALON MENANTU PILIHAN BUNDA
...BAB 20...
...CALON MENANTU PILIHAN BUNDA...
Wulan kembali menyiapkan makan siang. Tak lama kemudian, Rian masuk ke dapur dengan wajah sedikit lelah.
“Maaf, Wulan.” ujarnya.
Wulan menoleh. “Untuk apa, Pak?”
“Karena kamu jadi mendengar pembicaraan tadi.” ujarnya lagi, yang kembali merasa tidak enak hati.
Wulan tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Pak.”
Rian memperhatikannya. “Kamu nggak perlu memikirkan perkataan Bunda.”
“Saya mengerti.”
“Dan kamu juga nggak perlu takut melakukan pekerjaanmu.”
Wulan mengangguk. “Baik, Pak.”
Rian mengambil piring. “Sekarang, ayokita makan. Sebelum masakan ini berubah jadi batu.” guyonnya lagi.
Wulan tertawa kecil. “Memangnya bisa begitu, Pak?”
“Kalau terlalu lama dibiarkan, siapa tahu.” ocehnya, Wulan pun menggeleng geli.
Rian kembali tersenyum. Ia merasa lega melihat Wulan masih bisa tertawa.
Namun, ia tidak tahu bahwa dari balik pintu ruang keluarga, Ranti kembali memperhatikan mereka. Kali ini, wajahnya benar-benar serius.
Siang itu, mereka makan bersama. Rana duduk di dekat Rian, sementara Delon dan Astrid berada di sisi Wulan.
Ranti kali ini tidak banyak bicara. Sesekali ia hanya memperhatikan bagaimana Rian membantu Rana makan, lalu menoleh kepada Wulan ketika perempuan itu mengingatkan Astrid agar tidak bermain dengan sendoknya.
Semuanya tampak begitu alami. Terlalu alami bagi Ranti. Dalam pikirannya, ia mulai menyusun rencana.
Jika Rian memang tidak mau kembali kepada Nita, maka ia harus segera mencarikan calon istri untuk putranya.
Perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik, berpendidikan tinggi, juga belum pernah menikah. Dan tentu saja, bukan seorang janda dengan dua anak.
Ranti merasa putranya berhak mendapatkan pasangan yang menurutnya sepadan. Ia tidak ingin Rian semakin terbiasa dengan kehadiran Wulan.
Apalagi sampai suatu hari Rian benar-benar menginginkan perempuan itu menjadi bagian dari keluarganya.
Tidak. Ranti tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
*****
Menjelang sore, Ranti mulai mengemasi barang-barangnya. Hari itu ia memang sudah berencana pulang.
Rian membantu membawakan koper ibunya sampai ke ruang depan..“Bunda yakin nggak mau tinggal beberapa hari lagi?”
Ranti menggeleng. “Tidak. Bunda harus pulang.”
Rian mengangguk. “Baiklah.”
Sebelum masuk mobil, Ranti menatap putranya. “Rian.”
“Iya, Bunda?”
“Bunda akan kembali lagi.”
Rian tersenyum tipis. “Ya, terserah Bunda.”
“Dan saat Bunda kembali nanti, Bunda ingin kamu sudah mulai memikirkan calon istri.”
Senyum Rian langsung memudar. “Bunda, kita sudah membicarakan ini.”
“Bunda tidak akan memaksamu menikah besok. Tapi kamu harus mulai membuka hati.”
Rian menghela napas. “Nanti kita bicarakan lagi.”
Ranti mengangguk. "Baik."
Namun, sebelum masuk ke mobil, ia menambahkan satu kalimat yang membuat Rian terdiam.
“Bunda akan mencarikan perempuan yang cocok untukmu. Perempuan yang belum pernah menikah, dan bukan janda dengan dua anak.”
Rian menatap ibunya dengan wajah tidak senang. “Bunda, jangan menilai seseorang hanya dari statusnya.”
“Bunda tahu apa yang Bunda lakukan.” selanya, lalu Ranti masuk ke mobil.
Tak lama kemudian, kendaraan itu meninggalkan halaman rumah.
Rian masih berdiri di teras sampai mobil ibunya menghilang. Ia mengembuskan napas panjang. “Ya ampun, Bunda...”
Dari jendela ruang keluarga, Wulan melihat Rian kembali masuk. Ia segera menundukkan pandangan ketika pria itu melewatinya.
Namun, Rian justru berhenti. “Wulan.”
Wulan menoleh. “Iya, Pak?”
“Bunda sudah pulang.”
“Semoga perjalanan Bu Ranti lancar.”
Rian mengangguk. Kemudian ia berkata dengan nada lebih santai. “Sekarang rumah bisa sedikit tenang.”
Wulan tersenyum tipis. “Semoga begitu, Pak.”
Rian memperhatikan wajahnya. “Kamu juga jangan terlalu memikirkan perkataan Bunda tadi.”
Wulan terdiam. “Saya tidak apa-apa, Pak.”
Rian tahu perempuan itu belum sepenuhnya jujur. Namun, ia tidak ingin mendesaknya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku mau istirahat sebentar.”
“Silakan, Pak.”
Rian berjalan menuju tangga. Di tengah langkahnya, ia sempat teringat ucapan ibunya.
Perempuan yang belum pernah menikah. Bukan janda dengan dua anak.
Rian mengernyit. Ia tidak suka cara ibunya membicarakan Wulan.
Tetapi ia juga belum tahu bagaimana menjelaskan kepada ibunya bahwa Wulan tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Terlebih lagi, ia sendiri belum memahami kenapa belakangan ini ia semakin sering memperhatikan perempuan tersebut.
Rian menggeleng kecil. “Sudahlah. Jangan dipikirkan.” Ia melanjutkan langkahnya.
Sementara di luar rumah, mobil Ranti sudah melaju meninggalkan kawasan perumahan.
Di dalam mobil, perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak, lalu memilih sebuah nama.
Panggilan tersambung setelah beberapa dering.
“Halo?” Ranti langsung berbicara. “Halo, Tante. Ini Ranti.”
Ia tersenyum tipis. “Aku mau tanya. Apa kamu masih punya kenalan perempuan yang belum menikah? Aku sedang mencari calon istri untuk putraku.” ucapnya tertawa kecil.
Ranti memandang jalan di depannya. “Kalau bisa, perempuan dari keluarga baik-baik. Berpendidikan, sopan, dan belum pernah menikah.” Ia lalu berhenti sejenak.
“Ya. Aku ingin segera memperkenalkan mereka.” Senyumnya semakin lebar. “Siapa tahu, kali ini Rian bisa mendapatkan pasangan yang benar-benar sesuai dengan harapanku.”
Panggilan pun berakhir. Ranti menyandarkan punggungnya.
Dalam pikirannya, ia sudah membayangkan pertemuan Rian dengan perempuan pilihannya. Ia tidak tahu bahwa rencananya justru bisa menjadi awal dari masalah baru.
Karena di rumah itu, tanpa disadari Ranti, Rian mulai terbiasa dengan kehadiran seorang perempuan yang sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar calon menantunya.
Dan perempuan itu bernama Wulan...
Wulan masih berdiri di dekat jendela ruang keluarga. Perempuan itu ternyata sempat mendengar percakapan Rian dan Ranti sebelum Ranti pergi.
Perempuan yang belum pernah menikah. Bukan janda dengan dua anak. Kalimat itu terus terngiang di telinganya.
Wulan menunduk, memandangi kedua tangannya. Ia tahu dirinya tidak pantas berharap lebih. Rian adalah majikannya, sementara ia hanya seorang perempuan yang sedang berusaha membesarkan dua anak setelah melewati pernikahan yang menyakitkan.
Meskipun Rian selalu bersikap baik, Wulan tidak ingin salah mengartikan perhatian itu.
“Mama!” Suara Delon membuatnya tersadar.
“Iya, Sayang?”
“Papa Rian tadi ke mana?”
Wulan tersenyum tipis. “Pak Rian sedang istirahat.”
“Besok aku boleh main sama Papa lagi kan?”
Wulan terdiam sebentar sebelum mengangguk. “Kalau Pak Rian tidak sibuk, boleh.” Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meskipun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Wulan tidak ingin anak-anaknya terlalu berharap pada sosok Rian. Ia takut suatu hari nanti mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kedekatan itu mungkin tidak akan berlangsung selamanya.
Sementara itu, di perjalanan pulang, Ranti masih memikirkan rencananya.
Ia teringat seorang perempuan bernama Clarissa Mahendra, putri dari sahabat lamanya.
Clarissa berusia dua puluh enam tahun. Ia belum pernah menikah, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga berada. Ranti mengenalnya sebagai perempuan yang anggun, sopan, serta memiliki latar belakang keluarga yang menurutnya sesuai dengan keluarga Rian.
“Clarissa sepertinya cocok,” gumamnya.
Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya.
“Besok aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan.”
Setelah panggilan berakhir, Ranti tersenyum puas. Ia berniat mempertemukan Clarissa dengan Rian secepat mungkin.
Malam itu, Rian turun ke ruang makan untuk mengambil air minum. Ia melihat Wulan sedang merapikan meja.
“Kamu belum istirahat?”
“Sebentar lagi, Pak.”
Rian mengangguk. “Jangan terlalu malam. Kamu sudah bekerja cukup banyak hari ini.”
“Baik, Pak.” Wulan kembali menunduk.
Rian memperhatikannya sejenak. Ia merasa perempuan itu masih menyimpan sesuatu dalam pikirannya, tetapi ia tidak ingin memaksanya bercerita.
“Selamat malam, Wulan.”
“Selamat malam, Pak.”
Rian berjalan meninggalkan ruang makan. Wulan menatap punggungnya sampai menghilang di balik tangga.
Ia kemudian menarik napas panjang. Jangan terlalu jauh berharap, Wulan. Bagaimanapun, ia harus mengingat posisinya.
Sementara itu, di kamarnya, Rian kembali menerima pesan dari ibunya.
Bunda: Minggu depan, Bunda mau memperkenalkanmu dengan seseorang. Jangan menolak sebelum bertemu.
Rian mengernyit membaca pesan itu. “Bunda ini benar-benar...” gumamnya.
Ia meletakkan ponsel di atas meja tanpa membalas.
Rian belum tahu siapa perempuan yang dimaksud ibunya.
Namun, satu hal sudah pasti. Ia sama sekali tidak tertarik dijodohkan saat ini.
Dan tanpa disadarinya, rencana Ranti untuk mempertemukannya dengan Clarissa akan segera membawa perubahan baru di rumah itu.
Bersambung...