Indonesia
NovelToon NovelToon
Garnayse

Garnayse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi
Popularitas:25.6k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Ayu

Kehidupan di Kota New York harus terbagi menjadi empat distrik atau biasa mereka sebut Empat Daerah. Dengan di tengah Empat Daerah itu terdapat sebuah kota kecil sebagai penopang bernama Sentral City.

Kehidulan tidak membaik meskipun New York diperkecil dan dibagi menjadi Empat Daerah. Virus tetap menyebar, namun mereka--para Ilmuwan yang tinggal di Sentral City diam-diam membuat 'sesuatu' yang rahasia dan tentunya berhubungan dengan segala kekacauan ini. Mereka rela melakukan apa saja untuk menghambat penyebaran virus dan memikirkan cara memusnahkan virus tersebut meski rasanya terdengar sangat mustahil.

tetapi, di balik semua kejadian itu pastilah terdapat sebuah konspirasi. Dan tentunya keberhasilan itu tidak hanya diraih dengan kerja keras, namun juga dengan pertumpahan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 19 : Busted

...CHAPTER 19...

"Mengapa kau melakukan itu, Kawan?" Tanya Tristan dengan tatapan terbelalak tak percaya. Ia terkejut melihat Brandon seperti itu lagi. "Bukankah kau sudah ber--"

"Tanyakan itu kepada Elena. Bukan kepadaku." Jawab Brandon dingin dengan tatapan datar melirik Tristan.

Kini, di dalam kantin tersebut hanya ada Brandon, Tristan, dan Yuri. Sebenarnya hanya tersisa Brandon yang masih menikmati makanannya, tapi Tristan dan Yuri menunggu dirinya sambil mempertanyakan hal ceroboh yang Brandon lakukan tadi. Jika saja Jupiter melihat dia melakukan itu, maka Brandon akan terkena hukuman lagi. Tak hanya Brandon, tetapi juga Elena. Mereka berdua nyaris membuat keributan meskipun salah terbesar ada pada Elena.

"Kalau tadi ada Jupiter mungkin kau sudah dihukum." Timpal Yuri.

Brandon diam saja dan mengunyah makanannya dengan nikmat seolah tak menganggap keberadaan dua orang teman di hadapannya.

Tristan berdecak. "Dan lagi, mengapa kau makan di kantin?"

Brandon menaikan sebelah alisnya, menelan makanan yang ada dalam mulutnya, lalu menatap Tristan dan berkata, "memangnya tidak boleh?"

Yuri menahan tawa. "Pertanyaan bodoh, King Kong." Gumam nya menyindir Tristan dan hanya mendapat lirikan sinis dari pria latin itu.

Tristan berdeham untuk menghilangkan kebodohan yang tampak jelas di wajahnya, lalu menatap Brandon dengan sangat serius. Brandon pun menatap balik meskipun sambil terus mengunyah. "Maksudku, tidak biasanya saja kau makan di kantin. Seperti ada yang aneh," Tristan memegangi dagu nya dan memasang wajah ala-ala berpikir.

Brandon menghela napas dan mengedikan kedua bahunya sekilas, kemudian lanjut menatap makanan.

"Berbicara dengan Brandon itu hampir sama seperti berbicara dengan batu, teman-teman." Seru seseorang yang terdengar menggema diiringi bunyi tertutupnya pintu besi kantin.

Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang beberapa hari ini keberadaannya sempat diragukan. Bahkan, di antara mereka bertiga hampir tidak menyadari kepergiannya. Laki-laki itu adalah Danniel. Dengan pesona rambut pirangnya yang dipotong model cepak, kulit yang paling putih dari ketiga orang temannya, dan mata bundar nya yang sangat tidak senada dengan tubuhnya yang sangat berotot. Mata bundar itu bisa menjatuhkan pesona kepada siapapun dan membuat semua wanita jatuh cinta dengannya. Danniel berada di nomor dua di antara mereka berempat yang paling mencolok setelah posisi pertama diduduki oleh Brandon. Jika Brandon tergolong misterius, maka Danniel lebih suka tampil beda dan menunjukan kelebihannya meski tidak kurang lebih dari Tristan.

"Ya, ya, kau ke mana saja, huh? Pergi juga tidak bilang kepada kami dan menghilang begitu saja." Tristan mencibir.

Yuri memperbaiki letak kacamatanya. Kedua matanya menyipit memandangi Danniel dari bawah ke atas. "Pakaianmu seperti baru pulang dari perburuan."

Danniel mengambil tempat duduk di samping Brandon dan menghela napas panjang. "Ya, begitulah. Aku hanya menjalankan perintah dari Jupiter yang mengirimku ke bagian terjauh di Selatan."

"Untuk apa kau ke sana?" Tanya Tristan.

"Jupiter memintaku untuk bernegosiasi dengan aliansi yang ada di sana. Hanya ada satu aliansi dan Jupiter memintaku agar bisa membujuk mereka untuk bergabung dengan Daerah Empat ini."

Yuri mengernyit. "Aliansi? Itu berarti mereka tidak tergabung dalam Daerah apapun."

Danniel mengangguk. "Yap, benar sekali, Kurus. Aliansi mereka berdiri sendiri dan pada dasarnya mereka itu adalah kelompok yang tertinggal dan menyembunyikan diri. Jupiter lebih suka menyebutnya 'terbuang'. Mereka membangun tempat tinggal dan mencari segala macam yang dapat menopang hidup mereka dengan mengandalkan kerja sama."

"Selatan itu sangat jauh. Pantas saja kau terlihat urak-urakan seperti ini." Tristan mengambil gelas air milik Brandon dan menengaknya, lalu berkata, "berapa lama kau berada di sana?"

"Lima hari, Tristan. Lima hari kuhabiskan tinggal di kehidupan yang keras di sana. Tapi, untung saja mereka punya hiburan malam seperti diskotik mungkin atau bar yang pada intinya menyediakan minuman beralkohol, sehingga aku tidak terlalu stress berada di sana. Kau tahu, air di sana dihemat dengan sangat-sangat ekstra, karena mereka mencari air tanah dan menyaringnya dengan sempurna sehingga bisa dikonsumsi. Aku sampai harus menahan Buang Air Besar setiap malamnya."

Tristan dan Yuri saling bertatapan dan menahan tawa melihat raut wajah kecewa Danniel.

Brandon menatap Danniel. "Apa keputusan mereka?"

"Tentang yang aku negosiasikan? Mereka masih perlu menimbang-nimbang keputusan. Itu sebabnya mereka memulangkanku dan meminta untuk menyampaikan pesan bahwa mereka masih belum siap memutuskan apapun. Sepertinya pemimpin aliansi mereka sangat mengenal baik Jupiter. Itu sebabnya Jupiter mengajak mereka bergabung." Jelas Danniel seraya melepas sarung tangan kulitnya. "Dan lagi, mereka terlihat sangat mandiri dalam kehidupan yang jauh lebih damai daripada kita."

"Mereka terdengar lebih maju daripada Daerah Empat padahal mereka hanyalah sebuah aliansi." Ujar Yuri terheran-heran.

Tristan menjentikan jarinya. Membenarkan ucapan Yuri. "Benar sekali. Bayangkan saja di sana mereka memperoduksi minuman beralkohol," Tristan beralih menatap Yuri. "Bagaimana rasanya?"

"Rasa apa?"

"Minuman beralkohol buatan mereka sendiri."

Danniel mengedikan kedua bahunya dan memasang raut wajah jijik. "Tidak layak disebut minuman beralkohol. Aku bahkan hanya menengaknya satu kali dan sisanya tidak kuhabiskan. Rasa nya aneh dan entah terbuat dari apa. Lagipula aku tidak mau terlalu mabuk dan lengah saat bertugas. Aku hanya menikmati hiburan mereka."

Brandon usai menghabiskan makan malamnya dan menjauhkan nampan dari hadapannya. Ia mennyisir rambutnya sendiri menggunakan.jari-jemarinya, lalu berkata, "hiburan seperti apa?" Sambil melirik Danniel.

Danniel tersenyum miring. Senyuman miring yang begitu misterius. "Wanita dan pertarungan tinju. Luar biasa, 'kan?" Danniel memandangi teman-temannya satu-persatu sembari menaik-turunkan kedua alisnya.

Yuri mendecih dan melambaikan tangannya seolah tidak tertarik. Pada dasanyar dia memang tidak pernah tertarik dengan perkelahian dan juga wanita 'bebas' seperti itu. "Aku cinta damai." Ucapnya dengan bangga.

Bibir Tristan membulat, kedua matanya pun terlihat sangat berbinar-binar. Ia bertepuk tangan. "Wah, itu hebat!"

Brandon mendengus, tersenyum miring, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa yang hebat?"

Tristan langsung menampar wajahnya sendiri dan segera membungkam bibirnya dengan tangan kanannya. Mata berbinar dan bibir membulat yang menunjukan ekspresi kagum itu sudah hilang ketika Athena baru saja datang dan berjalan ke arah mereka, lalu mengambil tempat duduk di samping Tristan. Raut wajah wanita itu terlihat sangat kusut dan luar biasa memiliki mood yang buruk sampai membuat empat orang laki-laki di dekatnya mendadak diam. Athena menghembuskan napas panjang, lalu membungkuk dan sedikit menunduk sampai wajahnya menempel pada meja. Dia terlihat sangat tidak bersemangat sekaligus kesal.

Tristan menyentuh punggung Athena dan mengusapnya perlahan. "Ada apa, babe? Apa... ada masalah?" Tristan langsung menggigit bibir nya sendiri, setengah meringis takut-takut kalau saja Athena menjadi sensitif dengn pertanyaan darinya. Tristan sampai melirik Brandon seperti meminta pertolongan kepada sahabatnya itu.

"Ya. Mengerikan sekali." Ucap Athena dengan suara yang teredam.

Danniel mengerjapkan kedua matanya, merasa tidak paham dengan apa yang telah terjadi. "Apakah telah terjadi sesuatu selama aku pergi?" Danniel menatap Yuri, Tistan secara bergantian dan terakhir pandangannya jatuh pada Brandon. "Brandon, kau mungkin mau menjelaskan sesuatu? Wajah kalian terlihat jelas seperti baru saja mengalami suatu masalah."

Brandon menghela napas dan memilih untuk selalu diam. Ia tidak mau balas menatap Danniel dan tidak pula menjawab permintaan Danniel untuk menjelaskan yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.

Yuri mengusap tengkuknya. "Ngg--ya, masalah kecil." Ucapnya nyaris tidak terdengar.

Athena mengangkat wajahnya dan kembali duduk tegap. Pandangannya terlihat datar dan dingin. "Sebenarnya ada masalah apa Elena dengan Garnayse?" Tanya Athena pelan. Pandangannya kini terarah pada Brandon. Athena mengedikan dagunya ke arah Brandon, "hei, kau tahu apa masalah yang ada di antara mereka?" Kata Athena.

Brandon menggelengkan kepalanya.

"Yang Elena perbuat tadi itu sangat keterlaluan." Timpal Athena. "Setelah kejadian itu Garnayse diam seribu bahasa dan hanya mengucapkan, 'terima kasih Athena. Maaf, karena aku semuanya jadi berantakan' sisanya dia hanya diam dan meratapi sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu. Dan itu semua karena Elena. Perlakuan Elena yang tadi," Athena beralih menatap Tristan. "Malang sekali gadis itu, Tristan."

Tristan menganggukan kepalanya dan mengusap pipi Athena seolah paham yang wanita itu rasakan saat ini.

"Aku kasihan padanya." Athena berucap dengan nada bergetar dan membuat Tristan memeluknya erat untuk beberapa saat.

"Kau sudah melalukan yang terbaik untuk Garnayse. Jangan menangis. Dia akan baik-baik saja." Ucap Tristan menenangkan.

"Jadi, ini ada kaitannya dengan Elena?" Ucap Danniel. Nampaknya dia sama sekali tidak terkejut mengingat sikap dan sifat Elena yang memang terkadang bagaikan ular berbisa. "Hm, pantas saja. Tadi aku bertemu dengannya di halaman depan dekat api unggun. Dia terlihat sangat kesal sambil mengasah belati miliknya. Dari situ saja aku sudah tahu pasti ada masalah yang terjadi. Dan juga," Danniel perlahan-lahan mengalihkan tatapannya ke arah Brandon yang terlihat santai seolah tak memahami apapun. "Apa ini juga berkaitan denganmu, Kawan?"

"Aku rasa iya." Sambar Yuri yang juga mengarahkan tatapannya pada Brandon.

Tristan menghembuskan napas dan menatap gemas ke arah Brandon. "Aku sudah pernah bilang kalau sepertinya Elena cemburu dengan Garnayse, Brandon! Kau memang susah sekali mendengarkan ucapanku."

Athena mengangguk. Dan kini semua pasang mata tertuju pada Brandon yang masih terlihat tidak ingin tahu. Dia bersikap sangat tidak peduli.

Danniel mencebikan bibirnya. "Ah, ayolah Brandon. Kita semua tahu Elena suka sekali mencari perhatian darimu, tetapi kau tidak pernah peduli."

"Dan sekarang dia sangat cemburu, karena kau selalu saja membantu juga membela Garnayse." Ucap Yuri pelan.

"Elena itu sangat pemarah. Dia bisa saja melakukan apapun kepada Garnayse hanya untuk memuaskan amarahnya, Brandon. Setelah peristiwa tadi aku harap kau lebih waspada lagi." Ucap Athena dengan nada peringatan yang penuh penekanan.

"Lantas, aku harus apa?" Brandon memandangi kawan-kawannya satu persatu dengan tatapan datar dan dingin. Dia lelah sekali dengan semua ini. "Apa aku harus diam saat seorang gadis yang tak tahu apa-apa diperlakukan seperti itu?" Dia menatap Yuri dan Tristan di hadapannya secara bergantian, "apa aku harus hilang dari hadapannya? Apa menurut kalian itu sangat memungkinkan mengingat kita berada di satu daerah yang sama." Nada bicara Brandon merendah dan terdengar sangat berat. Dia muak.

Segala upaya telah Brandon lakukan untuk menjauh dari Garnayse. Tapi, takdir seolah mendekatkan dirinya kepada Garnayse. Selalu seperti itu. Setiap kali Brandon mengelak ataupun menjaga jarak dari Garnayse pasti ada saja hal yang mempertemukan mereka kembali. Dan itu membuat Brandon lelah berlari menjauh. Brandon sangat muak dengan semua itu. Emosi yang hampir terlepas ketika melihat Garnayse diperlakukan seperti itupun terjadi tanpa Brandon sadari layaknya sebuah refleks.

Melihat teman-temannya itu mendadak terdiam, Brandon kembali berkata, "katakan pendapat kalian apakah aku harus menjauh darinya? Aku sudah berusaha. Aku pun tidak ingin selalu ada di dekatnya, kalian pikir aku tertarik dengan semua itu? Sama sekali tidak." Brandon berucap dalam satu tarikan napas.

"Apa yang akan kau lakukan, jika suatu saat nanti Elena melakukan hal lebih dari itu tanpa sepengetahuanmu, Brandon?" Ucap Athena pelan nyaris berbisik.

"Tidak ada." Brandon menjawab dengan sangat lancar tanpa beban apapun. "Tidak ada yang akan kulakukan, Athena. Sekarang yang terjadi biarlah terjadi, dan yang telah terjadi biarlah berlalu. Aku tidak peduli lagi." Brandon menatap teman-temannya sekali lagi secara bergantian seolah menegaskan bahwa dirinya benar-benar tidak peduli lagi, kemudian bangkit membawa nampan dan pergi begitu saja.

Setelah mendengar pintu besi kantin tertutup, Athena menghela napas, Tristan menepuk kening, Danniel mengacak-acak rambutnya sendiri sambil terpejam dan meringis seperti orang frustasi, dan Yuri melepas kacamata untuk memijat pangkal hidung sembari terpejam. Mereka berempat sekarang semakìn merasa bahwa Brandon memang punya perasaan tersembunyi untuk Garnayse.

1
sunshinegyspy
Makasih Thor udah buat cerita sebagus ini‾
Mrs. Black: terima kasih kembali, ditunggu ya kelanjutannya!🙏🥰
total 1 replies
Selamat Saint
Fix ceritanya bikin aku kecanduan buat terus baca huah
Mrs. Black: terima kasihh🙏🤗
total 1 replies
with_mercii
Kok ya aku digantung sih…? Lanjut ga thor?! Lanjut ya? Haha
Mrs. Black: amannn sebentar dilanjut kok🤣
total 1 replies
HotBabe
Duhhh kemana aja aku nih! Seseru ini ceritanya~
Mrs. Black: semangat baca nya😊
total 1 replies
Daisy Louise
Karakternya jangan dibikin yang sedih sedih gitu dong thor.. aku jadi ikut sedih
Mrs. Black: tunggu yaaa abis sedih pasti bahagia kok😉
total 1 replies
Rahmat Emas
lanjut up trus thorr
Mrs. Black: yooi ditunggu yaa
total 1 replies
love hunter
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
Mrs. Black: yeyyy terima kasih banyak😁👍
total 1 replies
LiveChic
Ya author yg chakeeep, bisa kali aku jadi pemeran di dalem ceritanya huehue
Mrs. Black: mau peranin siapa nih😂🤭
total 1 replies
ruby sunn
aku rela begadang demi nungguin karyamu, thor!
Mrs. Black: hahah😜 terima kasih✌
total 1 replies
Prabu Marbun
Keren kak 🤩🤩 Semangat terus...
Mrs. Black: siap terima kasih😊
total 1 replies
SquigglyMunchkin
Nulis sesuai dengan gaya kakak aja biar ga pusing~
Labuh Ardianto
thor, jangan khianati kita ya:( pokoke ditunggu lanjutannya
Mrs. Black: hehe iyaa aman✌
total 1 replies
booksand peonies
Aku pasti dukung kamu Thor meskipun kamu gantungin ceritanya wkwkwkw Lanjutannya ya Thor!
Mrs. Black: hehe siap, ditunggu yaaa✌🤗
total 1 replies
Nureti
Karena pintu kelasku terbuka, kita bisa melihat Dicka dan mba Ayu lagi duduk berduaan di depan kelasnya mba Ayu.
Senja
aku datang Kaka, semangat ya
Mrs. Black: siap terima kasih😊✌
total 1 replies
Auriell Zeta
Bagus kak❤❤

Maaf baru bisa mampir
jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!