Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesadaran yang Berbeda

Sebelum mata ini benar-benar tertutup rapat, aku melihat Alya yang mengusap pipinya, disusul dengan isak tangis yang tertahan.

Aku tetap menggenggam erat tangannya, menyimpannya di atas dada. Ketenangan mulai mengalir perlahan, bersama dengan hembusan napas yang mulai teratur.

Aku benar-benar sedang merasa di dalam titik terendah dalam hidup. Menyakiti hati tiga wanita sekaligus, satu wanita yang baru dalam hidupku, yang hatinya tidak sengaja aku sakiti. Tetapi ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik.

Bahkan sekarang, telapak tangan wanita itu mengusap lembut dari kening sampai puncak kepalaku. Isak tangisannya masih terdengar, walau terkesan tertahan.

Apa cinta Alya sebesar itu untukku?

Dari telapak tangannya yang kugenggam mampu mengalirkan kehangatan, yang mulai mengalir. Sampai akhirnya aku benar-benar terlelap dalam tidur, dengan kondisi mental yang sangat buruk.

Dua jam tertidur, aku terbangun dengan keadaan kamar yang sepi. Aroma lavender mengalun lembut di seluruh penjuru kamar. Aroma ini mampu menciptakan ketenangan. Suasana di dalam kamar sangat hangat, gelap yang hanya disinari temaram lampu tidur. Itulah sebabnya aku mampu tidur siang dalam waktu yang cukup lama.

Di mana Alya?

Aku mengubah posisi tidur, menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Menyandarkan punggung pada kepala ranjang.

Aku menggelengkan kepala pelan.

Sejak kapan aku terbangun lalu menanyakan di mana keberadaan Alya?

Aku memutuskan untuk mencari udara segar ke luar, sebelum nanti kembali menunaikan tugas ke rumah sakit.

Aku melangkah menuju taman belakang, tujuannya ingin menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Menukar energi negatif yang sudah memenuhi tubuh ini.

"Ibu senang sekali, Alya..."

Fokusku beralih pada suara ibu, di rumah joglo ibu dan Alya sedang duduk berdua, menikmati cangkir teh hangat. Ibu dengan rajutannya, sementara Alya hanya duduk sambil berpangku dagu. Melihat hasil dari rajutan ibu.

Semenjak Alya tinggal di sini, ibu terlihat sering tersenyum dan merasa ada teman untuk ngobrol.

"Bagus sekali, Bu. Kapan-kapan Alya juga mau belajar."

"Tentu boleh dong, ini juga ibu bikin sweater buat kamu."

"Benar, Bu, ini sangat bagus sekali."

Terlihat binar tulus dari kedua wajah wanita itu. Mungkin inilah alasan ibu sangat menyukai Alya. Keduanya terlihat sangat cocok, juga memiliki hobi yang sama.

🌸🌸🌸

Aku memutar tuas kemudi, menuju tempat lokasi yang sudah Aira sebutkan. Menerjang gelap malam, itu tidak apa. Demi bertemu Aira, wanitaku. Walau badan sudah sangat lelah.

Ada apa dengan Aira, tumben sekali dia minta bertemu di pukul sepuluh malam.

Aku memarkirkan mobil, sebuah kafe tujuan dengan Aira yang sudah melambaikan tangan di sana. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress berwarna kuning serta riasan wajah yang sangat terlihat fresh.

Aku mengelus pelan puncak kepala Aira, membuat Aira mendongakkan wajahnya sambil menampilkan senyum manis ke arahku.

Aku duduk berhadapan dengannya, dengan Aira yang sudah memesankan kopi kesukaanku.

"Revan, maaf sekali aku meminta bertemu di sisa tenagamu, yang seharusnya kamu pulang dan istirahat." Aira berkata lembut, dengan sorot mata yang tidak biasa.

"Kenapa berbicara seperti itu, Aira? Apa pun akan aku lakukan untukmu. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

"Aku mau kita break dulu, Revan."

Kalimat itu terdengar sangat pelan. Tapi, mampu membuat rongga dada ini berdesir panas dan terasa sesak.

"Kenapa, Aira? Apa karena pernikahanku dengan Alya?"

Aku melihat anggukan samar pada Aira, sampai wanita cantik itu memalingkan wajahnya dariku. Ya Tuhan, Aira sangat sakit hati dengan pernikahan aku dengan Alya.

"Aira, tolong, bahkan Alya tidak melarang hubungan kami. Tolong jangan memutuskan suatu kesalahan dalam sepihak."

"Kamu pikir menahan cemburu itu gampang, Revan? Aku yang selalu tidak tenang setiap malamnya, memikirkan pria yang aku cintai telah menjadi suami wanita lain. Aku takut, Revan, aku cemburu."

Air mata Aira mulai mengalir membasahi pipinya. Melihatnya seperti itu membuat hatiku semakin perih.

"Hal apa saja yang sudah kamu lakukan dengan wanita itu, Revan, jawab! Kamu pria normal, pasti ada sedikit hasrat yang timbul saat bersamanya, kan?"

Aku menatap Aira tegas, beradu pandang dengan sorot mata Aira yang penuh dengan kilatan emosi.

"Lantas mengapa, saat aku ajak kamu untuk merayu ibu, meraih restu ibu, kamu tidak mau Aira? Kamu malah menjelaskan alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Bahkan kamu tidak mau untuk bertemu ibu, orangtuaku."

Kata yang keluar dari mulutku penuh dengan penekanan, sarat akan meredam sebuah emosi yang kapan saja bisa meledak.

"Aira, saat itu, aku sudah mengajakmu untuk melanjutkan hubungan kita menuju jenjang yang lebih serius. Tapi kamu menolaknya dengan tegas, dengan alasan kamu masih sibuk dengan pekerjaan yang sangat banyak."

Aira masih menatapku dengan tatapan tegas.

"Padahal aku tidak butuh posisi yang setara untuk pasanganku. Yang aku butuhkan hanya kamu, yang mampu mendampingi hidupku. Menjadi istriku, menjadi teman hidupku. Bukan pangkat dan kesetaraan yang aku harapkan." ujarku dengan kalimat yang sangat jelas.

Aira terdiam. Kini wanita itu memalingkan wajahnya dari tatapanku.

"Pokoknya keputusanku sudah bulat, Revan. Aku tidak ingin kembali sampai dengan wanita itu pergi dari rumah kamu."

"Oke, baik. Aku pamit pulang, Aira."

🌸🌸🌸

Aku terus memacu laju mobil, membelah jalanan yang mulai terasa hening. Tengah malam, injakan pedal gas yang sangat dalam mampu memacu adrenalin.

Satu gelas whisky dalam sekali teguk mampu membuat kepala ini berdenyut nyeri, sampai terasa ingin melayang.

Maafkan aku, Ibu, Ayah, tapi malam ini keadaan hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aira, kekasihku, ternyata wanita itu sangat keras kepala sekali. Tapi aku tetap mencintainya.

"Alya..." tiga ketukan pada pintu kamar.

Pikiranku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, rasanya linglung dan melayang. Aku ingin bahagia malam ini, aku ingin melepaskan segala beban yang membuatku sesak.

Klek...

Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan seorang wanita cantik alami dengan balutan dress berwarna merah muda. Dia istriku, mengapa aku selalu mengabaikannya.

Sayang sekali, jika aku mengabaikannya malam ini. Wanita itu sangat cantik dengan senyum yang manis serta lesung pipi yang sangat dalam.

"Kak Revan..."

Alya mencium punggung tanganku, sentuhan lembutnya mampu mengusik daerah saraf sensitifku.

Aku menutup pintu dengan kencang, mencekal pergelangan tangan Alya, meraih tengkuknya. Lihatlah, bibirnya tampak menggoda. Kecil mungil, sangat indah tanpa polesan.

Ah, tubuhku semakin terasa panas...

Aku semakin mendekatkan bibir ini pada bibir milik Alya.

"Kak... kamu minum?"

Bersambung

Jangan lupa like, komen, dan vote ya...

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!