Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 02

...Awali pagi dengan penuh semangat!...

...- Yumnallasha -...

Terlambat di hari pertama kerja itu akan menjadi pengalaman terburuk dalam hidupnya. Karena itu kaki jenjangnya mulai melangkah dengan tergesa keluar dari rumah, sembari membenarkan sepatu putih yang telah melekat di kedua kakinya saat ini.

Jika pun jarak rumahnya dari tempat kerja tidak begitu jauh. Tapi kepribadian buruk juga tidak bisa dia hilangkan, untuk bangun pagi. Dan lebih parahnya lagi, tidak ada satupun anggota keluarga yang membangunkannya. Padahal mereka tahu, apa kegiatannya pagi ini.

Yumnallasha, gadis muda yang baru saja mendapat tawaran dari tetangga sebelah rumahnya. Di saat Yumna ingin sekali menjadi pengangguran setelah lulus dari sekolah jenjang tingginya.

Tapi sayangnya mimpinya satu itu terhalang akan desakan dari wanita yang menjadi penguasa di rumahnya. Hingga mau tidak mau, Yumna mengiyakan kemauan orang itu tanpa niat besar di benaknya.

"Jika pun waktu tidur pagi ku terpotong..." gumam Yumna dengan kepala mengangguk kecil. "...aku harus tetap menuntaskan pekerjaan ku hari ini."

Diam berdiri diantara kumpulan orang untuk menunggu lampu lalu lintas itu berubah warna. Melihat beberapa kendaraan yang melintasi dengan rapi, seolah telah diatur oleh alunan ritme kota. Membuat lengkungan kecil itu terpancar di bawah sinar matahari, kini pandangan lurus kedepan, dimana bangunan menjulang tinggi yang akan menjadi tempatnya menerima uang setiap bulannya.

Melangkah dalam melutu tertutup rapat, hingga kedua kaki itu berhenti tepat di depan perusahaan yang belum dikenal banyak orang. Karena bangunan itu baru saja diresmikan 3tahun sebelumnya, hingga belum banyak karyawan di dalam gedung itu.

"Jika dia membutuhkan banyak karyawan, kenapa dia tidak membuka lowongan pekerjaan? Apa dia mencari kesengsaraan hidup?" Dumel Yumna yang tidak tahu harus seperti apa. Karena Yumna sendiri pun tidak memiliki nomor tetangganya itu.

Berjalan masuk yang langsung perlihatkan sosok familiar yang sering Yumna lihat di layar televisi. Mereka bertatapan sebentar, sebelum orang itu memilih melangkah kearah lantai dua menggunakan anak tangga yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Karena hanya ada anak tangga di lantai satu.

"Wajahnya lumayan. Tapi aku tidak tertarik, karena dia terlalu muda untukku." Monolog Yumna, yang masih memperhatikan punggung itu. Hingga perlahan hilang di pupil mata Yumna.

"Yumna!" Suara berat yang terdengar familiar di telinga Yumna. Kini menoleh tepat dimana sosok pria yang tersenyum, berjalan sedikit cepat kearah Yumna. Bersama seorang wanita yang benar-benar asing di penglihatan Yumna.

"Kau baru sampai?" Tanya pria itu, berdiri di hadapan Yumna tanpa melunturkan senyumannya.

Sedangkan Yumna membalas lengkungan itu lebih dulu, sebelum membuka mulut. "Apa aku telat?"

"Tidak juga! Karena memang aku yang meminta mu datang pukul sepuluh pagi, bukan?" Ucapnya. "Oh ya,"

Pria itu mengalihkan sebentar pandangannya pada wanita disisi kanannya. "Aku harus mengenalkan mu lebih dulu padanya, dia Sella. Dia yang akan memantau pekerjaan mu. Dan kau juga harus mendengarkan apa yang dia katakan selama bekerja disini. Jika dia membuat mu tidak nyaman, kau bisa mengatakannya padaku. Karena aku yang membawa mu kesini."

Kepala Yumna mengangguk paham, sesekali melihat kearah Sella yang terus tersenyum kecil kepada Yumna. "Jika kau ingin memarahiku karena kerjaan ku tidak benar, kau tidak perlu sungkan. Karena pekerjaan tetaplah pekerjaan."

Sejenak Yumna menelan ludahnya. "Jangan karena aku kenal dengan pak Tirtha, itu membuat mu memperlakukan ku beda dengan karyawan lainnya. Perlakukan aku seperti mereka. Kau juga bisa menegurku jika sikap ku melewati batas."

Tirtha yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum, mengangguk kecil. Karena tidak salah pilih membawa tetangganya itu bekerja di perusahaan. "Aku tidak bisa lama-lama dengan mu disini, karena aku ada urusan lain."

"Pergilah, dia tidak akan langsung memarahiku." Balas Yumna yang hanya mendapat senyuman hangat dari Tirtha sebagai respon. Kini Tirtha melangkah pergi ke lantai dua untuk menemui seseorang.

Sella yang mendengar penuturan dari Yumna hanya terkekeh, sebelum membuka suara. "Aku tidak akan memarahi mu, jika kau tidak melakukan kesalahan saat bekerja. Karena aku datang kesini juga sama seperti mu. Mendapat tawaran dari Tirtha."

"Benarkah, dia juga menawarkan pekerjaan padamu?" Sedikit antusias, Yumna mengatakannya.

"Mungkin tidak hanya diriku saja, teman-teman yang lain pun juga seperti itu. Karena Tirtha pernah bilang padaku, dia akan menarik orang-orang yang dia kenal terlebih dahulu." Jelas Sella apa adanya.

"Oh ya, aku tidak bisa membawa mu langsung ke ruangan. Karena aku harus menunggu dua orang lagi. Apa kau tidak keberatan?" Imbuh Sella yang memang harus mengutamakan bertanya lebih dahulu. Karena rasa tidak enak masih terbesit di benaknya.

"Tidak apa-apa. Tidak masalah juga." Keriangan yang ada di wajah Yumna semakin membuat Sella sadar, jika keputusannya 2 tahun yang lalu memang benar.

Belum genap juga ada satu jam di perusahaan itu, Yumna sudah merasa bosan, jenuh. Tapi Yumna juga harus tetap menghargai setiap kata yang keluar dari mulut Sella. Atasannya itu menjelaskan beberapa fungsi ruangan yang mereka lewati dari ruang kerjanya. Hingga langkah mereka kini berhenti di lorong yang tidak begitu sepi. Karena ada beberapa karyawan lalu lalang di sekitar mereka.

Sebentar Yumna melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Jika aku ada di rumah, mungkin saat ini aku sedang melihat kucing tetangga." Monolog Yumna dalam hati.

Kedua bola matanya melihat untuk menghilangkan rasa kantuk yang perlahan mendekat. Dan tanpa sengaja manuk mahoni nya itu bertemu dengan milik seseorang yang tidak begitu terlihat asing di pandangan Yumna.

"Sepertinya aku pernah bertemu dengannya, tapi aku juga tidak begitu yakin untuk hal itu." Kembali membatin, dengan kening mengerut samar. Tanpa mengalihkan kedua matanya dari sosok itu yang kini membuang muka, berjalan pergi bersama map snelhecter warna biru ditangannya itu.

"" Yumna, apa ada yang ingin kau tanyakan?" Suara Sella mampu mengalihkan pandangan Yumna. Membalas Sella dengan senyumannya.

"Oh__" sebentar melihat ke arah dua rekan kerjanya, yang hanya diam menatapnya penuh arti. Dan Yumna memilih membalas tatapan Sella, dengan senyum canggungnya. "Untuk saat ini tidak ada."

"Benarkah??" Kepala Sella mengangguk kecil. "Jika tidak ada yang ingin kalian tanyakan padaku. Kita harus kembali ke ruang kerja untuk bekerja."

"Kalian juga harus semangat!! Karena ini hari pertama kalian bekerja." Akhir Sella. Yang melangkah lebih dulu, diikuti ketiga karyawan baru itu.

"Apa yang kau lihat tadi?" Tanya salah satu di antara teman baru Yumna.

"Pria tampan yang mungkin sidak memiliki kekasih." Jawab Yumna tak kalah pelannya. Diiringi senyum canda.

Dengan tawa kecil Yumna bersama rekan kerjanya terus melangkah di belakang Sella. Sesekali Yumna melihat kedalam beberapa ruangan yang penuh dengan tumpukan berkas di atas meja. Dan hanya ada beberapa sebagain orang di sana.

Yumna dapat melihatnya dengan sangat jelas. Karena, pintu dan dinding pemisah setiap ruangan itu terbuat dari kaca.

Mungkin Yumna akan menarik perkataannya kembali, jika akan berhenti dihari pertamanya bekerja. Karena sejak awal Yumna memang tidak ada niatan bergabung di perusahaan milik tetangganya. Tapi hari ini Yumna mendapat sedikit pelajaran. Hingga mempertahankan apa yang dia miliki saat ini, akan menjadi prioritasnya.

Apalagi, Yumna mendapat rekan kerja yang bisa menyeimbanginya dalam bicara saat bercanda. Pekerjaan Yumna juga tidak begitu berat. Dan hal seperti itu harus Yumna syukuri.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!