Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:75.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resmi Bercerai

Fajar remat kertas selesai ia membacanya, membuangnya ke sembarang arah. Rahangnya mengetat, tangannya mengepal di samping tubuh.

"Sial!"

Ia jatuhkan tubuhnya pada sofa. Menjambak rambutnya frustasi.

Tak berselang lama, Bu Fanya datang ke rumah. Ia hampiri sang putra cemas.

"Sayang kamu serius Azarin kabur?!" duduk di samping sang putra.

Fajar tegakkan kembali punggungnya. Senyum tipis terbit di bibirnya.

"Dia hanya sedang merajuk, mah."

Bu Fanya tatap lantai cemas.

"Tapi nak, uang kamu—"

"Aku tidak membutuhkannya lagi."

Fajar sandarkan punggungnya pada sofa, menatap tajam ke depan.

"Lagian aku sudah membekukan isi ATM-nya."

Nyonya Fanya membulat. Ia tatap sang putra cemas.

"Apa tidak apa-apa, Nak? Bagaimanapun juga itu jatah Azarin."

Fajar lirik malas sang ibu. Menghela nafas panjang.

"Sudahlah mah, mau mama membelanya aku sudah tidak perduli lagi. Toh sedari awal aku berniat menceraikannya. Hanya saja aku tak menyangka akan kecolongan begini."

Bu Fanya merunduk menatap lantai, memilin jemarinya gusar.

Bagaimanapun ia tetap merasa tidak enak Azarin mendengar obrolan tadi malam.

Azarin selama ini baik, dia selalu menjadi menantu yang baik untuknya, hanya saja rasa cintanya pada sang putra tidak bisa membuatnya menegur kesalahan Fajar. Dan mendukung apapun mau putranya.

"Kamu yakin akan bercerai dengan Azarin, Fajar?" lirih Bu Fanya, menatap nanar sang putra.

Hening.

Fajar langsung bungkam.

Awalnya dia memang ingin bercerai. Namun saat terjadi, entah mengapa ada rasa tidak siap di dalam hatinya. Karena itu artinya, ia tidak punya akses lagi pada Azarin dan Mia.

Selamanya.

"Azarin hanya ngambek, mah. Lihat saja nanti saat di persidangan, dia pasti akan memohon kembali lagi."

Bu Fanya merunduk dalam, "Mama harap begitu."

Fajar tatap tajam ke lantai, tangannya mengepal di pangkuan.

Ada rasa berat dalam hatinya.

Meski pernikahan ini hanya karena balas budi, banyak hal dalam satu tahun ini dia jalin dengan Azarin.

Sikap lembut Azarin yang selalu menurut, tidak pernah menuntut, dan mendukung segala keinginannya tanpa bantah.

Cukup berat untuk Fajar melupakannya begitu saja.

"Lihat saja, Azarin. Akan sampai mana kau menahan diri."

***

Tepat di hari yang di tentukan, Azarin sudah berangkat ke pengadilan, ia duduk di kursi miliknya tegang, memilin jemarinya gusar.

Melihat suaminya, Fajar.

Di tempat yang tidak pernah terbayangkan dalam fikirannya akan bercerai dengan pria yang paling dia cintai.

"Untuk sodara Fajar Pratama, silahkan duduk."

Azarin menoleh cepat.

Tatapan mereka berdua bertemu.

Tatapan dingin, tanpa ekspresi, atau gurat kesal dari sorot matanya. Yang langsung menggetarkan hati Azarin yang terdalam.

Fajar duduk dengan tenang di kursinya tanpa melihat ke arahnya sama sekali.

Azarin tersenyum getir, semakin kuat mencubit jemarinya hingga berdarah.

Ia merunduk dalam.

"Apa yang kau harapkan, Azarin? Apa kau berharap Fajar akan melirikmu setidaknya sebentar?" lirih Azarin gemetar.

Ia seka air matanya cepat. Menarik nafas panjang untuk menghentikan air mata mengalir lebih deras.

Ia tatap meja hakim di depan serius. Menegakkan kembali bahu yang semula mengendur.

"Ingat, Azarin. Untuk apa kau sampai di tempat ini."

Sementara Fajar, pria itu diam-diam curi pandang ke arah Azarin.

Iris matanya menyipit. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan.

"Apa kau akan tetap diam seperti itu, Azarin?! Bukankah kau mencintaiku?! Kenapa kau tak menghentikan hakim?!" batin Fajar gemetar.

Gengsinya terlalu tinggi untuk mendahului. Bahwa ia masih ingin mempertahankan pernikahan ini.

Namun tunggu punya tunggu, Azarin tetap pada pendiriannya, tanpa menoleh sama sekali ke arahnya.

Fajar menyeringai, menatap lantai kosong.

"Hah...jadi sampai segini saja dirimu, Azarin? Mana ucapanmu yang bilang cinta mati padaku?"

Fajar pijit pangkal hidungnya kuat, menatap tajam Azarin dengan sudut mata.

Bahu Azarin gemetar, apalagi saat sang hakim bersiap mengetuk palu. Ada rasa tidak rela dalam hatinya.

Sekuat tenaga ia melawan diri untuk tidak melihat sang suami. Karena Azarin tau.

Ia bisa saja goyah jika melakukannya.

"Kuatkan hatimu, Azarin! Ini demi anakmu! Bukankah kau tidak ingin berpisah dengan Mia?!" batin Azarin mengepal kuat, keringat mengucur di pelipis.

Setiap mengingat Mia. Dan rencana suami untuk memisahkan mereka. Seolah menjadi suntikan tekad untuk Azarin.

Bahwa keputusannya sudah tepat.

Lebih baik merelakan perasaan daripada kehilangan seseorang yang paling ingin ia jaga.

Azarin memejam saat palu diketuk. Air mata langsung luruh membanjiri pipi, namun Azarin segera menyekanya.

Sementara Fajar, pria itu dilanda gelisah sekarang. Tangannya mengepal di atas pangkuan, melirik Azarin geram.

"Jadi kau tetap kukuh hingga akhir yah, Azarin." batinnya, rahangnya mengetat kuat.

"Baiklah jika itu maumu, kita resmi bercerai."

Bahu Azarin gemetar. Ia masih mampu mendengar ucapan Fajar meski jarak kursi mereka cukup jauh.

Fajar bangkit dari duduknya, menandatangi surat resmi perceraian mereka tanpa rasa ragu sedikitpun.

Azarin tak mampu menahan tangisnya. Bahunya gemetar hebat sekarang. Bahkan untuk sekedar maju mengambil formulir miliknya saja ia tak sanggup.

"Kuatkan dirimu, Azarin..." lirih Azarin menyemangati diri.

Ia tarik nafas panjang, menyeka air mata cepat.

Ia tatap formulir di hadapannya. Dengan ragu ia ambil bolpoin, lalu menandatanginya.

Ia tatap kertas resmi di depannya itu intens. Tersenyum getir.

"Selamat tinggal, cinta pertamaku."

Baru saja kakinya melewati pintu pengadilan agama. Tangan kekar mencengkram lengannya, membaliknya cepat.

"Ternyata kau cukup gigih, Azarin." sorot tajam itu mengejutkan Azarin.

Wanita itu segera merunduk, menyeka air mata yang mungkin bersisa di pipi.

"Ak-aku tidak mengerti dengan maksud mas."

Fajar tertawa sumbang, berkacak pinggang seraya meraup wajah frustasi.

Ia tarik tangan Azarin sedikit ke tempat sepi, menyudutkan dirinya pada dinding.

"Cukup dengan sandiwara mu, Azarin"

Wanita itu lantas mendongak, menatap Fajar bingung.

"Maksud mas?"

Fajar menyeringai penuh intimidasi.

"Berhentilah bersandiwara untuk bercerai denganku."

Azarin tatap manik legam yang penuh dengan misteri di depannya.

"Aku sama sekali tidak pernah bersandiwara, Mas. Bukankah bagus? Kita bercerai, dan kau—" ia tunjuk dada Fajar dengan jari, tersenyum getir, "Bisa menikah dengan Fania."

"CUKUP AZARIN!"

Bahu Azarin terjingkit, gemetar sebadan-badan.

Fajar genggam kedua bahu Azarin kuat. Mencondongkan wajahnya sejajar dengan Azarin.

Dapat Fajar lihat gurat ketakutan dibalik sorot mata yang memancarkan keputus asaan itu.

"Aku tau kau cinta mati padaku, Azarin."

Bagaikan di tusuk belati. Dada Azarin semakin ngilu mendengar betapa bodohnya dirinya di mata suami yang setahun ini bahkan tak pernah menganggapnya ada.

Azarin tersenyum getir, ia beranikan diri menatap Fajar. Tak perduli air mata terus mengalir tanpa henti.

"Lalu kenapa?"

Kening Fajar mengerut, "Kenapa? Kau masih bertanya?"

"Cintaku sudah habis, Mas." Azarin merunduk, menatap lantai penuh putus asa, "Bersama dengan sikap dingin yang selama ini kau tunjukan padaku."

Fajar terdiam, menatap kosong air mata Azarin yang terus menetes.

Entah mengapa dadanya ikut ngilu. Seperti merasakan rasa sakit yang selama ini Azarin pendam.

"Setahun ini, pernah tidak kau melihatku?" Azarin tatap wajah Fajar pias.

"Pernah tidak?" Ia seka air matanya kuat, terisak hebat.

Sementara Fajar? Dia hanya bisa berdiri dengan tatapan kosong.

"Kau memang selalu begitu, Mas."

1
Ds Phone
jadi ketawa meraka berdua
Ds Phone
kenapa nak rasa ber salah pulak
Ds Phone
tak mahu terluka lagi
Ds Phone
lagi buat orang panas
Ds Phone
ada aja pakat dengan anak nya
Ds Phone
suka buat lawak bodoh
Ds Phone
buat macam tak kenal aja
Ds Phone
itu kawan yang bagus nasihat yang bagus aja
Ds Phone
susah juga macam ni di telan mati di luah mati anak
Ds Phone
ada kenangan lama antara meraka
Ds Phone
habis dia keluar kan semua yang di simpan dalam hati
Ds Phone
ya lah bapak dia
Ds Phone
merajuk lah tu
Ds Phone
dulu kau buang puteri mu kenapa sekarang nak balik
Ds Phone
anak nya pandai ambik orang tua
Ds Phone
apa kah dia di terima
Ds Phone
kawan nya sama lulus bendul
Ds Phone
bukan cemburu tapi sakit hati
Ds Phone
apa den tak sedar pasangan kena buli
Ds Phone
bodoh kau maseh nak pada nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!