Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Penjelasan
Napas Naresa masih memburu ketika akhirnya ia tiba di depan ruang kerja Ardan. Perjalanan dari area parkir menuju lantai tempat suaminya bekerja ternyata cukup menguras tenaga, terlebih ia tadi hampir berlari karena sadar makan siang sudah lewat cukup lama. Jemarinya masih menggenggam erat lunch box berwarna biru yang sejak tadi ia bawa, sementara napasnya perlahan mulai berusaha ia atur.
Matanya tertuju pada pintu ruang kerja Ardan yang terbuka sedikit. Ia baru saja mengangkat tangan, berniat mengetuk pelan agar tidak mengganggu jika suaminya sedang bekerja, ketika sebuah bentakan tiba-tiba memecah keheningan.
“KAMU YANG EGOIS!”
Tubuh Naresa seketika membeku. Tangannya yang semula terangkat perlahan turun kembali, sementara sorot matanya tertahan pada celah pintu di hadapannya. Selama 3 bulan hidup bersama, belum pernah sekali pun ia mendengar Ardan berbicara dengan nada setinggi itu. Lelaki itu selalu tenang, mampu mengendalikan emosinya dalam situasi apa pun. Bahkan ketika menghadapi hal yang membuatnya kesal, Ardan lebih sering memilih diam daripada meninggikan suara. Karena itulah bentakan barusan terdengar begitu asing.
“Ardan...” Suara perempuan terdengar sayup dari dalam ruangan, lirih seolah sedang menahan sesuatu.
Belum sempat Naresa mencerna apa yang sebenarnya terjadi, pintu di hadapannya mendadak terdorong hingga terbuka lebih lebar.
Brak!
Naresa refleks tersentak dan mundur selangkah.
Di ambang pintu, Ardan berdiri dengan wajah yang masih menyisakan emosi. Namun begitu pandangannya bertemu dengan Naresa, raut wajahnya langsung berubah. Sorot matanya dipenuhi keterkejutan, seolah sama sekali tidak menyangka istrinya akan berdiri di hadapannya.
“Resa... sejak kapan kamu di sini?” tanyanya pelan.
Naresa belum sempat menjawab. Wanita yang semalam datang melayat itu keluar menyusul dari dalam ruangan. Begitu menyadari keberadaan Naresa, langkahnya terhenti. Udara di antara mereka mendadak terasa canggung. Tak seorang pun segera membuka suara.
Tatapan Naresa bergantian mengarah kepada Ardan dan wanita itu. Namun alih-alih bertanya, ia hanya berusaha menyunggingkan senyum tipis. Lunch box di tangannya ia angkat pelan.
“Aku... bawa makan siang.” Suaranya begitu lirih hingga ia sendiri tidak yakin apakah Ardan mendengarnya atau tidak.
Ardan menarik napas pelan, lalu menghampiri Naresa. Senyum yang tersungging di wajahnya tampak dipaksakan, seolah ia sedang berusaha menenangkan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi rumit.
“Kita ke taman, ya?” ucapnya lembut sambil mengambil lunch box dari tangan istrinya.
Naresa hanya menganggukkan kepala. Ia tidak mengajukan satu pun pertanyaan, tidak pula menoleh lagi ke arah wanita yang masih berdiri mematung di ambang pintu. Ardan kemudian menggenggam tangannya dengan lembut, lalu membimbingnya berjalan meninggalkan ruang kerja itu.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berada di taman kecil di sisi belakang gedung kantor. Meskipun matahari siang ini bersinar cukup terik di atas sana, rindangnya pepohonan membuat tempat itu tetap terasa teduh. Angin berembus pelan, sementara bangku-bangku taman yang berjajar di sepanjang jalan setapak tampak lengang karena sebagian besar pegawai sudah kembali bekerja.
Keduanya duduk berdampingan tanpa ada satu pun yang lebih dulu membuka suara. Keheningan yang menyelimuti mereka terasa berbeda dari biasanya. Bukan keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang dipenuhi banyak pertanyaan yang sama-sama belum siap diucapkan.
“Kak Ardan udah makan?” tanya Naresa akhirnya, memecah kebisuan.
Ardan mengangguk pelan. “Maaf. Aku nggak tahu kalau kamu bakal datang.” Sorot matanya turun sejenak ke lunch box di sampingnya sebelum kembali menatap istrinya. “Tadi... aku udah makan sama yang lain.”
Naresa hanya menganggukkan kepalanya kecil. “Gapapa, kok. Masih bisa dihangatin nanti sore.”
“Kamu belinya di tempat biasa?”
Naresa terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu tetap menyisakan sedikit rasa kecewa di sudut hatinya. Namun, ia tak bisa menyalahkan Ardan. Wajar jika suaminya berpikir begitu. Selama ini, ia memang belum pernah memasak untuknya.
“Bukan beli,” ucapnya pelan. “Aku masak sendiri.”
Ardan tampak membeku sesaat. Tatapannya kembali jatuh pada lunch box itu, seolah baru menyadari arti di balik bekal yang sejak tadi dibawa Naresa.
“Kamu... masak sendiri?”
Naresa mengangguk pelan.
Penyesalan langsung tergambar jelas di wajah Ardan. “Maaf ya, Sayang. Kalau tadi aku tahu kamu masak, aku pasti nunggu."
Naresa menggeleng pelan sambil tersenyum, berusaha menghapus rasa bersalah yang mulai memenuhi wajah suaminya. “Gapapa kok. Lagian aku juga datangnya telat.”
Setelah itu, percakapan kembali terputus. Angin kembali berembus pelan, membuat dedaunan di atas mereka saling bergesekan menghasilkan suara yang justru membuat suasana terasa semakin sunyi.
Naresa menundukkan pandangannya ke arah kedua tangannya sendiri yang saling bertaut di atas pangkuan. Kepalanya dipenuhi begitu banyak pertanyaan, tetapi ia memilih menahannya. Jika Ardan memang ingin bercerita, ia yakin suaminya akan mengatakannya sendiri.
Ardan tampaknya menangkap tatapan penuh tanya yang sejak tadi berusaha disembunyikan istrinya. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Soal tadi...” ucapnya lirih.
“Pak Ardan.”
Suara seseorang tiba-tiba memotong perkataannya. Ardan dan Naresa sontak menoleh ke arah sumber suara. Sekretaris Ardan berdiri beberapa langkah dari bangku taman yang mereka tempati dengan raut wajah yang tampak cemas. Melihat situasi yang tampak mendesak, keduanya pun ikut berdiri.
“Selamat siang, Bu Naresa,” sapa sekretaris itu sopan sebelum mengalihkan pandangannya kepada Ardan. “Mohon maaf mengganggu waktunya, Pak. Ada beberapa dokumen proyek yang perlu segera mendapat persetujuan Bapak. Tim sudah menunggu di ruang rapat.”
Ardan mengangguk singkat. “Baik. Saya masuk sebentar lagi.”
“Terima kasih, Pak.”
Sekretaris itu membungkukkan badan singkat kepada keduanya sebelum berpamitan dan bergegas kembali memasuki gedung.
Setelah sosoknya menghilang, Ardan kembali menghadap Naresa, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di lengan atas sang istri dengan lembut.
“Sayang,” panggilnya lirih. "Jangan terlalu mikirin macam-macam, ya. Aku tahu sejak semalam banyak hal yang bikin kamu bertanya-tanya. Tapi aku janji, setelah pulang kerja nanti, aku bakal jelasin semuanya.”
Naresa memandang wajah Ardan beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya. Aku tunggu penjelasan kamu.”
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Ardan, meski masih menyisakan lelah yang belum benar-benar hilang. Ia sedikit menundukkan kepala, lalu mengecup lembut pucuk kepala Naresa.
“Sekarang pulang dulu, ya. Istirahat di rumah.”
Naresa hanya berdiri di tempatnya, memandangi punggung sang suami yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu gedung. Jemarinya tanpa sadar menggenggam erat sisi bajunya.
Ardan berjanji akan menjelaskan semuanya setelah pulang kerja nanti.
Namun... sanggupkah Naresa mendengar jawaban yang selama ini tak pernah ingin ia bayangkan?