Orang sering bilang jodoh kita sudah diatur. Entah siapa yang dapat menebak siapa yang akan menjadi pendamping dalam hidup kelak. Entah dia hadir dengan awal cinta atau hanya berawal dari nyaman hingga dirinya tetap bersama dan takkan meninggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. Yan U., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja
Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun berlalu tanpa kehadiran Alvian.
Hal itu membuatku semakin merindukan pria yang tak lagi mengirimkan kabar.
Pesan terakhir yang kuterima darinya adalah pada hari keberangkatannya.
Apa pekerjaannya benar-benar sesibuk itu hingga ia mampu melupakanku. lupa padaku yang justru berusaha menahan diri agar tak mengganggunya?
Rasa kehilangan ini pun tumbuh diam-diam,
perasaan yang tak bisa kuartikan sebagai perpisahan,
namun juga tak sepenuhnya bisa kusebut sebagai penantian.
Dert dert dertt
Bunyi ponselku membuatku menghentikan semua kegiatanku. Sebuah panggilan yang seketika membuat mataku berbinar bahagia.
“Halo, sayang. Bagaimana kabarmu? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?” tanya Alvian dari seberang sana. Suaranya membuatku berusaha menormalkan degup jantung yang mendadak berlari tak karuan, bahagia karena akhirnya bisa kembali mendengarnya.
“Ah, akhirnya kamu menghubungiku juga. Aku kira kamu sudah melupakan aku, yang masih berstatus kekasihmu ini,” kataku dengan penekanan berlebihan, membuatnya terkekeh pelan. Aku bisa membayangkan wajahnya yang mungkin sedang tersenyum usil.
“Apa jangan-jangan kamu sedang bermain-main dengan wanita lain?” lanjutku, setengah bercanda, setengah menginterogasi. Semua prasangka yang menggangguku selama beberapa hari ini tumpah begitu saja.
“Aku baru selesai meeting, sayang. Mana berani aku main-main di sini,” jawab Alvian. “Kesibukanku saja sudah cukup menyiksaku. Kamu bahkan mungkin nggak bisa membayangkannya. Oh iya, kamu sudah makan?”
Senyumku kembali terukir. Ada kehangatan yang menjalar di dadaku, mendengar ia masih menanyakan keadaanku di akhir kalimatnya.
“Belum. Masih ada beberapa dokumen yang harus segera aku periksa. Kalau nggak selesai, sepertinya aku harus lembur malam ini,” ucapku sambil menyandarkan tubuh pada kursi kerja, menatap sebal pada tumpukan berkas di meja.
“Sayang, kerja memang tanggung jawab kamu. Tapi jangan sampai kamu sakit karena itu, sementara aku nggak bisa ada di sana buat menjagamu,” katanya tegas.
Jantungku kembali berdebar. Semua prasangka yang sempat mengusik perlahan terkikis, hanya oleh perhatian kecilnya.
“Tapi aku malas makan sendirian… nggak enak,” rengekku sambil memejamkan mata, menunggu dengan tidak sabar apa yang akan ia sarankan.
“Ya sudah, nanti aku suruh Kak Reno menemani kamu, ya. Oke, sayang?”
Entah kenapa, usulan itu justru membuatku sedikit kecewa. Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan dalam berangan.
“Iya… iya, sayang. Aku tahu,” jawabku pasrah, tepat sebelum panggilan itu berakhir.
Dan entah mengapa, setelahnya yang tertinggal justru rasa jengkel yang sulit kujelaskan.
Dert… dert… dert…
Bunyi ponsel kembali terdengar setelah lima belas menit aku meletakkannya.
“Kenapa lagi, sayang?” tanyaku sambil mengangkat panggilan tanpa menatap layar. Aku mengira dia akan kembali mengucapkan 'aku mencintaimu' yang lupa dia katakan, membuat sudut bibirku terangkat penuh harap.
“Ini aku, Reno, dek,” ucap suara di seberang sana. Seketika aku menatap layar ponsel, lalu menepuk pelan jidatku, lagi-lagi terlalu tinggi berangan.
“Maaf, Kak. Kirain tadi Alvian. Kenapa, tumben nelepon?” tanyaku sambil mengubah posisi duduk, berusaha bersikap serius mendengar apa yang akan disampaikan pria berhidung mancung itu.
“Aku sudah di depan lobi,” katanya singkat, membuatku sedikit bingung.
“Mau ngapain, Kak?” tanyaku, mencoba menebak-nebak—mungkin dia hendak bertemu atasan kami.
“Loh, emang Alvian nggak bilang ke kamu?” ucap Reno. Aku terdiam sesaat, lalu membulatkan bibir seperti huruf 'O' setelah memahami maksudnya, dia berada di depan kantorku.
“Oh iya, Kak. Maaf, aku lupa. Aku segera keluar,” kataku mengakhiri panggilan. Aku segera menyambar tas jinjing di atas meja dan setengah berlari keluar. Tak ingin membuat calon kakak iparku, yang telah meluangkan waktu di sela kesibukannya, menunggu lebih lama.
“Hai, Kak. Maaf ya, bikin Kakak harus repot-repot datang ke sini buat jemput aku,” ucapku begitu masuk ke mobilnya sambil memasang sabuk pengaman.
“Bukan masalah besar. Kamu mau makan di mana?” tanya Kak Reno sembari menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyatu dengan lalu lintas ibu kota.
“Di dekat-dekat sini aja, Kak. Lagi banyak kerjaan juga, jadi nggak bisa lama-lama di luar,” ucapku. Padahal sebenarnya aku ingin menolak, tapi sungkan pada kebaikannya.
“Kalau lagi banyak kerjaan, kenapa nggak makan di kantin kantor aja?” tanyanya sambil menatapku heran. Pandangan kami sempat bertemu sekilas.
Deg.
Ada perasaan aneh menyeruak di dadaku. Bola matanya begitu mirip dengan milik kekasihku.
“Nggak apa-apa, Kak. Cuma butuh udara segar,” ucapku cepat, mengalihkan pandangan dan berusaha menguasai diri agar tak tampak gugup.
Meski sudah sering bersama Reno, terkadang aku masih merasa canggung. Sikapnya yang dingin dan bicaranya yang seperlunya membuatku penasaran. Ingatanku berputar pada satu memori, saat aku terjatuh karena tersandung batu, lututku terluka dan berdarah. Dengan penuh kelembutan, Reno mengobatinya tanpa sepatah kata pun—lalu pergi, tetap dalam diamnya.
“Mau makan apa?” tanya Reno ketika kami sudah duduk berhadapan.
“Samain sama punya Kakak aja,” jawabku sambil tersenyum kecil, merasa bersalah telah mengganggu waktunya.
“Yaudah, gue pesenin dulu,” katanya lalu berdiri menuju tempat pemesanan.
“Pemandangannya bagus ya?” ucapku menatap danau buatan di depan kami. Reno yang baru duduk kembali ikut memandang ke arah yang sama.
“Kakak sering ke sini?” tanyaku, kembali menatapnya, mencoba menelisik wajahnya yang memiliki sedikit kemiripan dengan Alvian.
“Nggak juga. Cuma ke sini kalau lagi butuh ketenangan,” jawabnya datar, matanya tetap tertuju pada danau yang dikelilingi pepohonan besar.
"Kenapa dia masih butuh ketenangan, sedangkan sikapnya saja sudah setenang itu?" batinku, menatap danau yang memang menghadirkan rasa damai.
“Permisi, Mas, ini makanannya,” ucap seorang pria paruh baya sambil meletakkan dua mangkuk mi ayam dan dua botol teh.
“Makasih, Pak,” ucapku tersenyum, dibalas senyum ramah olehnya.
“Gimana persiapan kalian?” tanya Reno sambil menyeruput teh botolnya. Pertanyaan itu membuat pikiranku kembali melayang pada rencana pernikahan.
“Masih belum ada, Kak. Mungkin setelah Alvian balik, baru kami bahas lebih serius,” jawabku menatap wajahnya yang tetap dingin tanpa ekspresi.
Setelah makan siang selesai, Reno mengantarku kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, kami tak bertukar sepatah kata pun. Aku hanya sibuk menebak-nebak isi kepalanya, beban apa yang mungkin sedang ia simpan dalam sikap tenangnya.
“Sepertinya dia masih sibuk,” gumamku sambil menatap layar ponsel yang menampilkan beberapa pesan yang kukirim pada Alvian. Aku memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas, lalu kembali menenggelamkan diri dalam tumpukan kertas di meja kerjaku.
“Serly, kamu dipanggil ke ruang Bos,” ucap Sinta, rekan kerjaku. Aku membalasnya dengan anggukan kecil, lalu segera bergegas menemui atasan kami sebelum kembali melanjutkan pekerjaanku.
Tok… tok… tok...
“Bapak memanggil saya,” ucapku setelah pintu terbuka.
Di hadapanku berdiri Reihan Sinaga, lelaki yang usianya hanya terpaut tiga tahun dariku. Di usia tiga puluh, ia sudah mampu memimpin perusahaan besar. Wajahnya memikat, namun sikapnya selalu dingin. Sekilas, ia mengingatkanku pada Reno. Aku bahkan bertanya-tanya, seperti apa rupa senyum tulus mereka berdua.
“Saya ingin kamu mewakili perusahaan untuk mengikuti proyek ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar dokumen.
“Tapi, Pak… bukankah masih banyak yang lebih ahli dalam desain seperti ini?” ucapku setelah membaca sekilas isinya. Aku berusaha menolak dengan halus. Pekerjaanku saja belum selesa, mengapa bebannya kembali ditambah?
“Saya sudah memutuskan, dan keputusan ini tidak bisa dibantah,” tegasnya.
Bulu kudukku meremang. Ada ketakutan samar bahwa ia tak akan ragu memecatku saat itu juga.
“Ba… baik, Pak,” jawabku pelan, berharap bisa segera keluar dari ruangan yang terasa menyesakkan.
“Bagus. Kamu boleh kembali bekerja dan persiapkan dirimu,” ucapnya sambil tersenyum tipis. Senyum menyeringai, seolah tengah merancang sesuatu yang tak ingin kutahu.
berarti mang pengecut dia, ngambil kesempatan dlm kesempitan.
kalo sherly sampek tau tuch... ajur lho ren...
pasal berlapis lo... /Smile//Grin/
semua pasti baik-baik saja...
thank,s bgt triple upnya thor...
tetep semangat n sehat selalu ya...
lanjut... /Drool/
saat teno sadar, yakin bgt sherly pasti bimbang antara reno n dion...
mkch bgt thor...
tetep semangat n lanjut/Drool/
c4 sadar yo ren...
mkch upnya thor..
tetep semangat selalu.. lanjut...
gmn sich thor?...
jd bener salipan di jln mrk...
ndang dipertemukan yo thor... sakne reno...
syukur 2 sherly gelem nerimo,.. tp ez kadong tdd surat cerai...
piye trus thor...
sesuai judul ae ez... jodohku(reno-sherly)
aq manut thor...
semangat....
harusnya klrgnya kasih tau reno...
tp mang reno aj az yg bego bin goblok...
jd crtnya reno nyari sherly n sbliknya nich...
tp kalo mang jodoh... lanjut thor..
reno pecundang, pengecut... ih sebel...
harusnya reno yg tau diri..
harus ketemu bnran ma reno lho thor...
mkch double upnya ya...
tetep semangat n lanjut..
/Drool//Drool/
kayaknya aq se-7 sherly ma dion aja, drpd ma pecundang reno thor...
bagaimanapun jg reno msh lom tau kalo dia dah punya liam...
pak Herman, alvian, ksh tau reno yg sbnrnya donk...
thank,s bnyk2 double upnya thor..
tetep semangat n lanjut... /Drool/
harusnya reno tau pas sherly mau lahiran...
reno pecundang sejati pake bgtz... /Panic/