Saat Reyhan menerima jabatan yang sudah ia kejar. Ternyata Mama sudah menyiapkan calon istri untuknya. Lalu bagaimana Rere yang sudah 2 tahun ini bersamanya?
Pernikahan itu pun sangat hambar. Tak ada kehangatan didalamnya. Bahkan jiwa Reyhan rasanya ingin membludak saat Aisyah sudah berani memarahi Rere. Apa salah jika Rere selalu bersamanya? Rere kekasihnya! pertengkaran setiap harinya tak mereka hindari. Hingga keduanya putus asa dan tak kuat dengan pernikahan mereka, mamah malah mengirim sebuah tiket bulan madu.
Saat senja menjadi siluet bagi Aisyah, Reyhan terdiam, desiran halus dihatinya terasa. Keringat dingin dan deru nafasnya tak beraturan menjadi bukti kepanikannya. Ia teringat mimpinya sendiri, Aisyah meninggalkannya, hatinya menjadi hampa dan begitu sakit. Ia tak ingin merasakan itu lagi, ia pun bangkit dan berjalan dengan tergesa kearah balkon. Aisyah tengah menatap senja dengan damai, wajah cantik itu seakan menyentuh hatinya.
"Jangan tinggalkan aku Aisyah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Hadirnya Masa Lalu
Reyhan mengangguk cepat dangan raut wajah yang sedikit ceria. Semoga setelah ini mereka dapat saling merelakan dan Reyhan seutuhnya mencintai Aisyah tanpa bayangan Rere yang terkadang hadir jika ada yang menyinggung nama Rere. "Ya udah kalo gitu sore kesini lagi, atau lo mau jemput gue di apartemen?"
"Lo aja yang kesini." Raut wajah Evan kini menjadi datar. Ini yang ia kesal dengan Reyhan, selalu memilih hal yang tidak membuatnya rugi.
"Ya udah gue sore kesini. Gue balik ya. Bye." Tangan Evan terangkat hendak menjabat tangan Reyhan.
"Wa'alaikumsalam." Reyhan menyambut tangan Evan. Seketika cengiran terlihat di wajah pria itu.
"Gue baru mau ngomong." Evan tertawa kecil. "Bye, Assalamu'alaikum," ralat Evan cepat.
...🦋...
Beberapa berkas sudah Reyhan tandatangani, bahkan email masuk penting pun harus ia baca dengan teliti. Tak terasa waktu pulang pun sudah tiba, membuat Reyhan memeriksa ponselnya. Pukul lima lebih beberapa menit, namun Evan belum menunjukkan batang hidungnya. Sebuah ketukan membuat Reyhan mengalihkan pandangannya dari ponsel, Evan masuk dengan wajah tenangnya. Kini pakaiannya lebih rapi dari yang siang ia kenakan. "Gue tepat waktu kan?" Ujar Evan dengan santainya.
"Telat sebelas menit," sahut Reyhan. Ia merapikan sedikit jasnya dan berjalan mendekati Evan, sedikit rasa tidak wajar itu kembali menghantui Reyhan, ia akan bertemu Rere kembali.
"Yaelah, cuma sebelas menit ini. Sejam baru telat," balas Evan membuat Reyhan menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah, sekarang kita langsung kerumah sakit aja, gue belum ijin ke Aisyah soalnya."
"Ya kali lo mau minja ijin nengok mantan," protes Evan.
"Ini kita mau ngobrol apa kerumah sakit?" Tanya Reyhan mulai kesal. Perasaan Reyhan sedang tak menentu, namun Evan terus saja bersikap seperti ini.
"Ya kerumah sakit. Tapi lo gak akan nyuruh dulu gue duduk atau ngasih minum gitu? Gue macet-macetan mana pake ojek online demi lo."
Reyhan menarik nafasnya pelan, memegang bahu belakang Evan dan mendorongnya keluar dari dalam ruangan. "Gak ada waktu."
Diperjalanan, Reyhan membeli sebuah parcel buah berukuran sedang. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, rasa ragu kembali hadir. Reyhan keluar dari dalam mobil bersama Evan. Pria itu berjalan terlebih dahulu, tanpa menyadari gelagat ragu dari Reyhan. Selama melewati lorong rumah sakit pun tak ada percakapan diantara mereka. "Dimana Van?" Tanya Reyhan, mereka sudah berjalan jauh dari area lorong, namun tidak ada tanda-tanda mereka akan berbelok kesalah satu ruangan.
"Kamar Rere dilantai tiga," sahut Evan. Hingga mereka memasuki lift, dan keluar dilantai tiga. "Tuh kamarnya yang paling pojok. Kamar inap VIP," jelas Evan.
Tiba didepan kamar inap itu, Evan membuka pintu dengan pelan. Hingga keluarlah seorang perempuan yang sudah Reyhan kenal dengan baik. "Ada nyali juga lo kesini," sindir Devi, menatap penuh kemuakan pada Reyhan. Membuat Reyhan mengalihkan pandangannya kedalam kamar, tidak memperdulikan ucapan Devi.
"Sttt, gak boleh gitu Dev. Ini Reyhan juga mau minta maaf, sekalian ngebujuk Rere biar mau makan lagi," lerai Evan.
"Udah deh gak usah, malah bikin Rere drop yang ada." Tatapan Reyhan mulai menajam pada Devi, rasanya terlalu membuang waktu Reyhan. Kata-kata pedas yang sudah biasa Reyhan dengan dari perempuan ini seakan tidak memberikan efek apapun dari sindirannya tadi.
Sambil berdecak, Reyhan melanjutkan langkahnya yang terhenti. Menerobos dua orang yang menghalangi jalan masuk. "Kenapa sih De-" ucapan Rere menggantung. Lelaki yang membuat hatinya hancur kembali, berdiri dengan wajah dinginnya. "R-Rey?!" Pekik Rere. Hatinya berdebar tak menentu, rasa senang dan perih kembali terasa.
luuuu kan yg udah manggil reyhan buat nemiun Rere....