Terlahir sebagai yang tidak dapat mengolah sihir, tidak menjadikan Camelia larut dalam keputusasaan. Di balik titik lemahnya, dorongan sebongkah semangat menuntun Camelia menggali semua potensinya. Garnisun garda terdepan telah menjadi cita-citanya sejak kecil. Ia tidak pernah berhenti sampai semua pedang dan panah takluk di bawahnya.
Namun pertemuannya dengan seorang pria asing saat menjalankan tugas membuat ambisi yang sudah lama ia kubur muncul kembali. Camelia tidak mengharapkan kecacatan sebagai 'penyihir gagal' dapat teratasi dengan mudah. Ketika merasakan reaksi aneh ditubuhnya yang membuat wanita itu berpikir meena di tubuhnya bisa dibangun kembali, lalu saat menyadari penyebab paling mungkin adalah bersentuhan dengan pria itu, Camelia mulai merubah tujuannya dengan terus mengikutinya.
Bisakah Camelia menjalankan tugasnya sebagai garnisun istana dan mengungkap kejahatan misterius yang ada di Zoeearth sementara obsesi untuk menjadi penyihir telah kembali menguasainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TLE 20
Cinta adalah emosi yang mengikat perasaan dalam bentuk kasih sayang atas unsur memberi dan menerima. Kendati itu merupakan fitrah yang pasti akan dirasakan setiap orang, karena beberapa alasan, cinta masih menjadi sebab terciptanya keserakahan bahkan kebodohan; menuntut untuk sesuatu yang tidak bisa dimiliki atau kehilangan harga diri demi sebuah tujuan semu.
Aletta menjadi buta akan hal itu, ia tidak tahu telah masuk pada jalan yang mana, tetapi yang pasti ia hanya ingin melakukan apa yang dikehendaki hatinya.
Jalan menuju rumah Aldwin masih menjadi hal yang selalu ia sukai.
Musim dingin akan segera datang. Itu artinya festival musim gugur hanya tinggal menghitung hari. Aletta sudah melaksanakan tugasnya sebagai keterlibatan di pesta itu. Namun, tugas yang paling harus ia lakukan adalah mengantarkan sendiri tas yang ia buat kepada sang pujaan hati, Aldwin.
"Lihat wanita j*l*ng itu datang lagi. Dia pasti ingin menggangu suami Liora."
Perasaan mungkin telah membuat Aletta buta, tetapi Camelia yang tidak sengaja lewat mendengar percakapan itu dengan jelas; cemoohan yang bahkan sudah terlalu familier untuk diabaikan.
Kendati ia tidak bermoral, Camelia masih benci tiap kali temannya dihina. Namun, apa artinya pembelaan yang diberikan jika Aletta yang menjadi tujuan makian itu malah tidak peduli?
Melihat Aletta masih teguh berdiri di halaman rumah Aldwin bahkan mengobrol dengannya, Camelia tidak tahan untuk tidak berkata, "Aku hanya tahu tentang orang yang keras kepala, aku tidak percaya kalau ternyata ada istilah keras hati."
Camelia berdecak tiga kali lalu memasang ekspresi skeptis."Menyukai orang lain haruskah seperti itu? Rasanya...mm bagaimana?"
Pikiran itu masih membayanginya hingga ke Hutan Forst. Memandangi langit senja sudah seperti rutinitas yang ia lakukan akhir-akhir ini. Sudah cukup lama Camelia memegangi dadanya sembari memikirkan apa yang mungkin Aletta rasakan. Namun, pada akhirnya ia hanya sampai pada kebuntuan.
"Lupakan, lebih baik tidak ikut menjadi bodoh."
Setelah mengatakan itu, Camelia bangkit mengambil busurnya. Satu persatu anak panah menancap pada titik yang ditargetkan. Setiap lesatannya mengusir kebosanan yang hampir ada. Ketenangan yang tercipta menghadirkan sebuah pemikiran baru. Wajah Gerald berputar seperti film di dalam kepalanya, mengurutkan semua moment pertemuan yang berakhir pada satu kesimpulan.
"Benar kucing itu..." Camelia membiarkan anak panah terakhir meluncur tanpa pengawasan. "Dia pasti bisa membangkitkan meenaku," lanjutnya.
Saat Camelia mengangkat kepalanya, mata itu sedikit melebar karena anak panah yang tadi ia lepas ternyata telah menyalahi sasaran. Alih-alih batang pohon, panahnya menancap di lengan seseorang.
Bukan karena ia kehilangan fokus, tetapi ... sejak kapan ada orang di sana?!
Camelia berlari untuk memeriksa.
"Bodoh." Camelia melihat lengan yang mengeluarkan cairan merah, anak panah itu baru saja dicabut. "Kenapa kau tidak menghindar?"
Setelah mengamatinya sebentar, Camelia menemukan jika sosok ini terlihat tidak asing. Ia memutar tubuh itu lalu wajah yang baru saja mengisi pikirannya telah muncul di depannya.
"Ternyata kau." Camelia awalnya tidak peduli, tetapi ia tiba-tiba berubah pikiran lalu menarik lengan itu saat mengingat tujuannya.
"Cepat ikut aku!"
...•••••...
Camelia berhasil membawa Gerald duduk di bibir danau. Namun, baru saja ia ingin mengobati luka itu, Gerald menepis tangannya dan membuang muka.
Camelia menjadi geram, tetapi berusaha menahan diri.
Setidaknya biarkan aku terlihat baik di matamu!
Camelia memaksakan untuk tersenyum. "Aku begitu baik ingin bertanggung jawab. Jadi kemarikan lenganmu."
Jawaban dingin Gerald menyambutnya. "Tidak perlu."
Emosi Camelia yang hampir meledak tertahan saat ia melihat bagaimana luka di lengan Gerald perlahan menutup.
"Ini...."
"Aku tidak perlu diobati."
ah begitu.
Tawa Camelia langsung benar-benar keluar. Menyadari jika tubuh pria di depannya ternyata dapat menyembuhkan diri, tangan Camelia gatal untuk menepuk lengan itu. "Ahaha, kenapa tidak bilang dari tadi."
Siapa sangka Gerald masih meringis dan memelototinya.
"Oh, maaf maaf. Aku terlalu takjub sampai lupa kalau penyembuhannnya masih belum selesai."
Melihat Gerald yang akan berdiri Camelia refleks menahan lengannya.
"Aw."
"Oh oh maaf lagi."
Salah sendiri, susah payah aku menunggu, kau malah seenaknya mau pergi!
Sekali lagi ia mendapat pelototan, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Paham itu sebagai ancaman, Camelia segera mengambil inisiatif.
Target sudah masuk perangkap, tidak boleh disia-siakan.
"Kau sudah punya kekasih?"
Wajah Gerald berubah dalam ritme cepat dari datar lalu mengerutkan alis. Ia melirik wanita di sampingnya, hanya sesaat sebelum kembali diam.
"Jawab." Camelia mendesak.
Manekin bahkan terlihat lebih hidup daripada orang ini!
"Kau dengar tidak?"
"Aku tidak akan tertipu." Gerald akhirnya menjawab, tetapi tidak menatapnya.
Mendengar kalimat itu, Camelia tersenyum. "Baiklah, aku anggap itu sebagai 'belum'.
Camelia lantas menarik tangan Gerald yang sudah sepenuhnya sembuh, memegangnya erat.
"Karena kau menolak menjadi temanku, aku bisa menawarkan hal lain."
"....Jadi kekasihku!" ucap Camelia lantang.
Tersentak, Gerald kehilangan kata-kata.
"Aku menyukaimu... jadi kekasihku," ulangnya.
Gerald tersedak. Butuh beberapa detik baginya untuk kembali berkedip.
Sebuah pendar biru dari arah lehernya membantunya memperoleh kesadaran.
"Kalungmu..." Camelia ikut melihatnya, desakan yang tiba-tiba itu sesaat terhenti.
Menyadari kilau itu adalah cahaya yang berasal dari kalungnya. Gerald berkedip dalam ritme yang cepat sebelum akhirnya melepas pegangan Camelia.
Ia pergi dari sana, tanpa berbalik sekali pun.
...••••••...
"Ratu sudah mengumumkan, lusa adalah perayaan festival musik gugur. Aku akan menjaga stan milik Pyrgos. Kau sendiri, apa yang kau lakukan?"
Aletta yakin ia melihat Camelia di ruangan ini, tetapi setelah jeda yang lama tidak ada yang menjawab pertanyaan. Hanya ketika Aletta berbalik, ia melihat Camelia sedang melamun sembari menopang dagu.
"Camelia?"
"Camelia?!"
Mendengar suara tinggi itu, wanita yang baru memperoleh kesadaran memegang telinganya.
"Kenapa kau suka sekali berteriak? Pelankan suaramu, aku tidak tuli."
Wajah polos itu ... Aletta menjadi geram dan tiba-tiba saja sebuah gelas keramik terbang menyapa Camelia.
"Uh, hampir saja." Beruntung Camelia menangkapnya dengan baik. "Jangan begitu, "katanya. "Kita sedang kekurangan gelas."
Mengembuskan napas, Aletta memaksakan senyum di wajah.
"Camel Sayang, aku berteriak karena kau tidak mendengarku—"
"Ah begitu." Camelia memotong bahkan mengabaikan wajah kesal Aletta. "Maaf aku sedang patah hati jadi tidak fokus."
Tadinya Aletta akan mengabaikan dan melanjutkan aktivitas. Namun, kalimat yang terakhir ia dengar menyita atensinya.
"Apa? Kau bilang apa tadi? Aku tidak salah dengar."
Camelia melirik tidak minat.
"Aku sedang p-a-t-a-h h-a-t-i. Jadi jangan ganggu aku. Aku masih harus memikirkan cara lain."
Aletta meninggalkan pekerjaannya dan berjalan cepat ke arah Camelia. Wanita itu menangkup wajah temannya.
"Sejak kapan kau bisa patah hati?" Setelah menilai lagi, Aletta tiba-tiba berkata, "tapi kenapa kau tidak terlihat seperti orang yang patah hati?"
...••••••...
Lebih gak berguna rupanya. Tapi mungkinkah.... ada rencana lain?
Lu apain itu wooooi!!!
Semua tau kamu kuat soalnya jadi sedikit basa basi bisa lah 😅😅
Tapi asli.... kapan Gerald bisa lembut dikit ke Camelia ya
Jadi mikir yang gak gak nih akoh
Fix cocok sama mereka
Kesabarannya mulai setipia tisu
Mereka asli jadi cocok banget sekarang