Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: DumbDumb

Jatuh ke cinta yang lain ketika sudah ada cincin yang melingkar di jari manis, Allan dihadapkan pada pilihan sulit.

Sarah, wanita muda yang sangat cantik itu kembali mencuri perhatian Allan dari istrinya, Allan terdorong kembali ke pelukan cinta masa lalunya.

Rianti, sang istri yang telah memberikan anak lelaki manis bernama Saka padanya tak mungkin ditinggalkan. Allan membutuhkan Rianti.

Ketika Allan tertarik dua magnet, tak disangka ada pisau yang tengah tergerak. Perselingkuhannya menghasilkan darah! Allan hanya harus memilih, jika tidak ingin pisau itu dilumuri darahnya.

Namun, tidak ada yang mudah dalam memilih jika sesungguhnya..., Allan tak mengenal Sarah dan Rianti sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DumbDumb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf

Allan menemani Saka menonton kartun kesukaannya, sedangkan Rianti dan Sarah Sibuk menyiapkan makan malam.

Mereka berempat makan malam jam tujuh. Perlakuan Rianti ke Sarah tidak seperti kepada Bi Ima karena bagaimanapun Sarah hanya membantu mengasuh Saka sedangkan urusan rumah tangga lain Rianti sendiri yang mengerjakaan, berbeda dengan Bi Ima yang bekerja mengasuh Saka sekaligus urusan rumah tangga lainnya. Sarah lebih menjadi teman bagi Rianti dibanding sebagai pembantu.

"Tante Sarah, tadi siang dijambak, sakit tidak?" tanya Saka polos.

Sarah mengangkat wajahnya memandang Saka kecil.

"Saka, kau ini tidak sopan. Jangan menanyakan hal yang tidak-tidak!" omel Riantu pada anaknya.

"Sakit. Kamu ingin Tante jambak juga?" ucap Sarah menakut-nakuti Saka.

"Tante gila, itu harus dipenjala. Dia jahat" ucap Saka dengan nada kesal.

“Ada-ada saja kau ini, Sayang! Diam dan habiskan makananmu!" suruh Allan pada anaknya.

Saka menuruti kata-kata ayahnya dan muncul suasana canggung di antara mereka. Kata-kata Saka bisa saja menyinggung perasaan Sarah, tetapi Allan tahu kalau Sarah bisa mengerti sikap anak-anak yang kadang tidak diduga seperti pilot kecilnya itu.

“Sarah, apa Jimmy sudah minta maaf padamu?" tanya Rianti.

Sarah mengangguk. “Dia mengirim puluhan pesan minta maaf ke ponselku.”

“Apa kau membalasnya? Bukannya ingin ikut campur masalahmu, hanya saja aku kesal dengan pria itu!" ungkap Rianti menunjukkan ekpresi kesalnya.

"Ya, Aku membalasnya, aku katakan aku butuh waktu untuk memaafkannya,” jawab Sarah dengan senyum tenang.

"Aku rasa kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari pria kasar itu, Sarah,” sahut Allan.

"Aku juga berpikiran begitu. Kau sangat cantik, pria mana yang tidak mau denganmu. Benar bukan, Sayang?" Rianti melirik pada suaminya.

Allan terlihat gugup. "Ya, tentu saja. Semua pria pasti mau denganmu,” jawab Allan mengutip perkataan Rianti.

“Termasuk kau juga?" tanya Rianti dengan nada menyindir.

“Apa maksudmu, sayanv?” tanya Allan gugup. "Aku sudah memilikimu. Itu sudah cukup.”

“Itu permintaan terakhir pamanku,” kata Sarah memecah kegugupan Allan, “aku harus tetap menikahi Jimmy."

"Tante Sarah bisa menikah dengan Paman Tommy, dia pasti mau,” sahut Saka.

"Siapa Tommy?" tanya Sarah bingung.

“Dia sepupuku, kebetulan dia masih belum menikah," sahut Allan.

“Sepertinya ponselku berbunyi,” kata Rianti saat mendengar dering ponselnya yang berada di kamarnya.

"Ya. Angkat saja dulu, Sayang,” ujar Allan.

Rianti berdiri dan pergi menuju kamarnya, ia meninggalkan ketiga orang yang masih sibuk menikmati makan malam mereka.

"Istrimu menakutimu, Lan?" bisik Sarah.

Damian tak menjawab pertanyaan Sarah, tetapi memang benar bahwa Rianti menakutinya. Segala peristiwa yang terjadi dari mulai keberadaan istrinya ke Cavanna sampai dengan pertanyaan jebakan yang Riantu tujukan pada Allan. Semuanya memang bukan kebetulan, Allan yakin ada sesuatu yang disembunyikan

istrinya. Kecurigaannya datang lagi atau memang pada dasarnya dia sendiri yang tidak mantap dan mudah goyah. Pikirannya mudah sekali berubah, namun petunjuk-petunjuk tidak boleh ia lupakan. Ia masih ingat tekadnya untuk menjawab segala teka-teki yang telah ia temui.

"Sayang!" teriak Rianti memanggil suaminya dari kamar, mengisyaratkan agar Allan menyusulnya ke kamar.

Allan segera berdiri dan menghampiri Rianti di kamar mereka. Wajah Rianti terlihat senang, namun bisa dilihat ada kekhawatiran dari caranya memandang Allan.

“Fiona! Dia meneleponku, dia ingin bertemu!”" ucap Rianti agak berbisik.

“Adikmu?" jawab Allan bingung sembari memandang istrinya dengan pandangan tak percaya. “Aku akan mengantarmu,” tambahnya.

"Tidak! Biarkan aku sendiri saja yang menemuinya," bantah Rianti yang kemudian mengambil kunci mobil di atas meja dekat ranjang.

"Hati-hati! Aku selalu tidak tenang jika kau menyetir sendirian," ungkap Rianti.

"Aku akan berhati-hati, percayalah!" Rianti tersenyum pada Allan, mengambil jaketnya yang tergantung dan pergi.

Allan merasa penasaran. Fiona yang diketahuinya sudah tidak pernah memberi kabar apapun kepada keluarganya, tiba-tiba minta bertemu dengan kakaknya.

Pastilah ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak yang membuatnya memutuskan itu. Damian mengubur rasa penasarannya dan kembali ke ruang makan.

"Apa yang terjadi, Lan?” tanya Sarah yang tengah merapikan meja makan.

"Rianti pergi menemui adiknya,” jawab Allan.

“Mama tidak mengajakku!" ungkap Saka kesal.

Allan membopong anaknya yang tampak marah itu dan membawanya ke ruang tengah. la menurunkan Saka

ke atas sofa, mengambil remote, ia menyalakan televisi untuk mengalihkan pikiran anaknya dari ibunya. Wajah kesal anaknya sama saja, tidak berubah. Anak kecil itu cemberut dengan tangan bersedekap.

“Mamamu akan segera kembali, Sayang! Bagaimana kalau besok kita pergi?” kata Allan mencoba meluluhkan perasaan anaknya.

Saka menoleh ke arahnya dengan wajah cemberutnya, namun mata anak itu seakan bertanya ke mana ayahnya akan mengajaknya pergi. Damian membuka senyumnya lebar-lebar dan memberikan opsi pada anaknya ke mana mereka akan pergi minggu besok. Anaknya memang mudah luluh, dengan cepat wajahnya kembali ceria.

Sarah bergabung dengan Allan dan Saka, duduk di sofa bersama. la membawa semangkok popcorn yang baru saja ia buat. Mereka menonton televisi bersama sampai sekitar pukul sembilan. Allan menyuruh Sarah agar membawa Saka tidur, walau bocah itu tampak belum mengantuk, ia tetap mau menuju kamarnya.

“Tante! Apakah Tante Sarah benci dengan Mama?" tanya Saka.

Sarah menggeleng. "Saka, Tante  tidak membenci siapapun! Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Sarah sembari mengambil baju tidur Saka.

"Aku hanya ingin tahu,” jawab Saka. "Aku akan menggosok gigi dulu!" tambah bocah itu segera lari ke kamar mandinya.

Setelah gosok gigi Saka mengganti pakaiannya sendiri. Anak itu memang sangat pintar, di usianya yang belum genap lima tahun, Saka kecil sudah bisa membaca dan menulis. Anak itu juga mengetahui banyak hal, ia sangat aktif bertanya dan mudah menangkap apa yang orang lain katakan. Selain kepandaian anak itu dia memang tetap anak kecil yang bertingkah layaknya anak-anak.

“Saka ingin Tante ceritakan sebuah dongeng?" tanya Sarah yang terbaring dengan siku menumpu kepala.

Saka menggeleng. "Aku bosan! Bi Ima menceritakanku banyak dongeng. Semuanya berakhir sama! Tokoh dongeng selalu bahagia di akhir cerita. Tidak ada yang menarik lagi,” jawab Saka.

"Dongeng pastinya akan membuatmu tertidur, kau akan kebosanan dan mengantuk, ya ‘kan?" tanya Sarah.

Saka tak menjawab pertanyaan Sarah. Anak itu hanya diam memerhatikan poster-poster tokoh kartun yang menghiasi kamarnya.

"Saka, bisa kau ceritakan pada Tante tentang Paman Tommy?" tanya Saka dengan senyuman sumringah.

“Paman Tommy mirip dengan Papa, dia tinggi dan tampan, lebih tampan dari Papa, tetapi tidak setampan aku!" kata Saka.

"Tentu saja, kau anak paling tampan dan juga paling lucu!" Sarah menyubit pipi Saka saking gemasnya. "Ayo lanjutkan!”

"Paman Tommy akan menjadi doktel! Dia sangat baik denganku, dia sering membelikanku mainan! Aku bayangkan, Tante Sarah sangat cocok jika belsama Paman Tommy," kata Saka menoleh ke arah Sarah.

"Sepertinya dia setampan dan sebaik pangeran dalam dongeng, yah?” tanya Sarah.

Saka menggeleng. "Dia lebih baik dali pangelan!" ucapnya dengan yakin.

"Sekarang, tidurlah Saka sayang." kata Sarah segera mencium pipi Saka, menyelimutinya dan kemudian keluar.

Sarah kembali menghampiri Allan yang berada di sofa, dengan manja ia membaringkan tubuhnya dengan kepala berada di atas paha Allan.

“Lan! Apakah tidak ada kepastian darimu? Kapan kita bisa benar-benar pergi dari sini?” tanya Sarah memandang wajah Allan dengan penuh harap.

"Aku sudah bilang padamu, kita tidak mungkin kabur. Aku sedang memikirkan jalan lain,” jawab Allan.

"Kau takut dengan istrimu? Atau kau takut dengan Jimmy? Atau kau takut kehilangan semuanya? Aku tidak bisa mengerti apa yang ada di kepalamu itu,” kata Sarah dengan wajah muram.

"Kau harus bersabar, Sarah!”

"Tujuh tahun aku telah bersabar? Apakah itu tidaklah cukup?” tanya Sarah yang kemudian bangkit.

Belum sempat Allan menjawab perkataan Sarah, tiba-tiba bel berbunyi.

"Rianti pulang?” tanya Sarah kaget.

"Rianti tidak mungkin menekan bel pintu jika pulang,” kata Allan yang segera berdiri.

Sarah tidak mengikuti Allan yang berjalan sendiri untuk membukakan pintu. Dia hanya duduk di sofa dengan mengamat-amati lorong menuju ke pintu depan. Tak lama, Allan kembali dan menyuruhnya untuk menuju ke ruang tamu. Sarah tidak menanyakan siapa yang datang, ia menurut saja mengikuti Allan.

"Melly," ucap Sarah tidak percaya.

Gadis enam belas tahun itu berdiri dan tersenyum ke arah Sarah. Sekarang anak bungsu Tuan Smith itu tampak manis dengan dandanan minimalis. Jauh berbeda dengan siang tadi di mana rupanya buruk dan berantakan.

“Aku datang ke sini untuk meminta maaf padamu, Sarah,” kata Melly yang duduk saat Allan dan Sarah duduk.

Siapa yang menyuruhmu?’ tanya Sarah masih tidak percaya.

“Ini inisiatifku sendiri,” jawab Melly, " aku mengambil tindakan begitu bodoh tadi siang, aku benar-benar minta maaf karena telah menyakiti dan mempermalukanmu."

"ya. Aku bisa memamahami tindakamu. Aku orang baru di rumah itu, tentu kau akan berpikir akulah yang membunuh Paman Smith. Aku paham akan hal itu," jawab Sarah.

“Aku meminta maaf padamu untuk kebodohanku tadi siang. Bukan mengenai tuduhanku, aku sama sekali tidak menghilangkan kecurigaan itu. Ibuku belum mati dan selama itu aku masih bisa mencari pembunuh sebenarnya. Josse selalu yakin bahwa memang Ibu yang melakukannya, tapi aku bersumpah bahwa kaulah yang pembunuhnya. Tenang saja selama kau pintar menyembunyikan kedokmu itu, kau aman! Aku hanya mengingatkan sebaik-baiknya tupai meloncat pasti akan jatuh juga, Sarah cantik!" kata Melly.

Wajah Sarah berubah, ia benar-benar tidak menyangka Melly akan mengatakan itu.

"Kau tidak punya bukti apapun, Melly! Kau pun harus tahu kasus pembunuhan manapun, kebanyakan adalah orang terdekat yang melakukannya. Aku asing! Aku tidak punya motif apapun! Mana mungkin aku membunuh orang yang menolongku?" kata Sarah dengan emosi yang ia tahan-tahan.

“Kau mendapatkan warisan, di surat wasiat ayahku, kau mendapatkan warisan yang nilainya sangat besar. Kau tahu kau akan mendapatkan warisan itu sehingga kau membunuhnya!" kata Melly begitu yakin.

“Warisan? Aku mendapatkan warisan dari Paman Smith? Tidak! Kau pasti berbohong,” bantah Sarah.

"Terima saja uang itu, berfoya-foyalah! Sebelum aku menemukan bukti dan menjebloskanmu ke penjara!" kata Melly. "Aku mohon undur diri, Tuan Allan! Selamat malam!"

Melly berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Allan dan Sarah yang tampak bingung dengan perilaku gadis itu.

"Dia sudah gila, Sarah! Semua bukti dan saksi sudah mantap mengarah pada Nyonya Smith. Kau tidak perlu khawatir,” kata Allan menenangkan.

“Aku rasa semua bukti itu palsu! Ada orang yang merancang semua ini! Dia ingin kembali membalikkan fakta dan mengarahkan panahnya padaku! Itu sangat mungkin!" kata Sarah dengan menggebu-gebu.

Allan tampak bingung dan mulutnya menahan tawa. "Jangan mengada-ada! Tidurlah! Aku akan menunggu istriku pulang.”

"Iya. Ada orang di balik ini semua. Ada sutradara licik di balik cerita ini," gumam Sarah yang kemudian bangkit dan pergi ke kamarnya.

...****************...

1
Anonim
masih penasaran
kavena ayunda
apakah sarah ma.damian.udah kelonan ya thor
Anonim
aku benci perselingkuhan..di novel2 istri sah selalu dikorbankan oleh author....yg menang selalu pelakornya....
SugarplumChum
Lanjut dong Thor! Aku mah nangis kalau cerita ini gak lanjut :(
Anonim
jgn buat rianti menderita thor...kasihan dia bahkan sdh menolang sarah...
salt sand and smoothies
Lanjutannya yang banyak yang thor hahaha *banyak nawarnya
PrincessFuzzie
Thor, aku gamau jadi arwah penasaran karena nungguin thor lanjut hiks
Fallendf
ayo dong lanjut lagi ka' bagus ini
booksandpeonies
cerita ya bagus tapi harus lebih hati hati dengan tulisanya. jangan sampai salah Dan tertukar.
Anonim
aku benci perselingkuhan..mdh2an rianti tdk disakiti
Anonim
ada misteri apa ini thor...jgn bikin deg2an
blush.and.ochre
Thor makasih karena sudah berkarya!! Aku suka! Lanjutkan Thor!
Garang Anggriawan
Hari ini aku badmood banget padahal, tapi setelah baca cerita ini jadi goodmood! Tidur pun tenang, Thor!
LilCutie
Pokoknya author gak boleh sakit ya, supaya tetap bisa lanjutin cerita ini. Kalau sakit, bilang sama aku, siapa yang nyakitin kamu, Azekkk
Anonim
rianti menggali kuburannya sendiri...mdh2an rianti istri yg baik..tdk dibuat jahat oleh author..sehingga sarah ttp jd tokoh antagonis
ShySnicker
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
JellyCuddles
ceritanyah bagus aku suka lanjutkan karya mu thorr👍
Gechabella
penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!