Indonesia
NovelToon NovelToon
Ujung Ukur

Ujung Ukur

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Reinsky4

Ujung Ukur itu jarak yang jauh dan mustahil untuk di tempuh atau di raih.

Hidup Alisha tidak sekejam itu, tetapi rasanya menyedihkan. Mulai dari ayahnya yang sering memukuli ibunya. Kematian sang Ibu yang sudah tidak sanggup hidup. Perekonomian yang sulit hingga berujung perundungan.

Semua itu membuatnya trauma dengan laki-laki. Ia hanya ingin bekerja keras sendirian tanpa bantuan siapapun.

Namun, perasaannya mulai tumbuh untuk seorang Pangeran berkuda putih yang selalu menyelamatkannya. Arazka.

Merasa hidupnya menyedihkan, Alisha hanya bisa mencintai secara diam-diam.

Terlalu jauh untuk di raih.
Aku tanpa sadar berlari jauh meraihmu.
Namun, ternyata semua itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinsky4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan-Jalan

Angin berhembus pelan, mengenai wajah Alisha yang sedang berada di atas motor tukang Ojek. Alisha menikmati hembusan angin itu dengan memejamkan matanya. Dia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, setelah tadi mengunjungi makam bunda tercintanya.

"Maafin, Kakak!"

Entah kenapa ucapan Azka di pemakaman tadi terus terngiang di dalam otak Alisha. Sebenarnya Alisha memang penasaran dengan kisah hidup Azka dan apa hubungannya mendiang anak kecil itu dengan Azka? Alisha ingin tau, tetapi dia tidak mungkin mencari tau karena itu adalah privasi kehidupan Azka.

"Neng, ini belok kiri apa kanan?"

Suara tukang Ojek menyadarkan Alisha dari pikirannya. Dia melihat ke depan, ternyata sudah sampai di jalan perempatan dekat rumahnya. "Belok kiri, Pak, nanti lurus aja terus, berhentinya di depan rumah warna biru ya, Pak!"

"Siap,"

Motor kembali melaju, Alisha juga kembali menikmati angin yang berhembus menerpa kulitnya. Kali ini dia tidak melamun dan melihat ke sekelilingnya. Walaupun tidak ada pemandangan apapun, tapi itu sudah cukup membuatnya terhibur.

"Nah, di sini, kan, Neng?"

Tukang Ojek itu menghentikan motornya, Alisha menatap ke sekelilingnya dan mengangguk, lalu turun dari motor.

"Makasih ya, Pak." Alisha memberikan beberapa lembar kepada Tukang Ojek itu.

Tukang Ojek itu tersenyum dan mengangguk. "Saya duluan ya," ucapnya sebelum akhirnya melajukan motornya pergi meninggalkan Alisha di depan rumahnya.

"Kakak!"

Langkah Alisha langsung berhenti ketika seseorang memanggil namanya, menoleh ke arah sumber suara Alisha langsung menampilkan senyumannya.

"Cie yang lagi pedekate, sama si Gina tetangga sebelah, kan?" goda Alisha sembari menaik-turunkan alisnya. Memang tadi Andi izin pergi ke rumah Gina--teman dari kecilnya untuk kerja kelompok dan tentu saja Alisha menyetujuinya. Alisha tau kalau Gina itu menyimpan perasaan untuk adiknya, namun Andi malah acuh tak acuh membuat Alisha geram sendiri.

"Apaan sih, Kak? Aku cuman kerja kelompok aja kok," elak Andi menatap bingung kakaknya.

"Iya deh yang cuman kerja kelompok aja,"

"Kakak!" Andi langsung saja membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan Alisha yang semakin gentar menganggunya.

"Beneran di kasih restu sama Kakak loh,"

"Bodo amat!"

Andi masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya sekeras mungkin.

Bukannya marah ataupun takut, Alisha malah terkekeh karena sudab berhasil membuat kesal adiknya itu. "Anak orang di baperin tapi gak mau tanggung jawab, turunan Ayah nih pasti."

Sama seperti Andi tadi, Alisha juga masuk ke dalam kamarnya. Tidak seperti remaja lain yang pasti langsung rebahan di atas kasur, Alisha malah duduk di depan kanvas miliknya. Dia akan melukis lagi untuk mendapatkan uang, karena keuangannya sudah menipis dan Alisha tidak mau menggunakan uang dari bundanya sekarang. Dia akan menggunakan uang itu di saat benar-benar membutuhkannya.

Tangannya tergerak mengambil kain putih yang akan di pakai di tubuhnya, lalu dia mulai mencampurkan beberapa warna cat agar menjadi warna yang indah. Setelah itu, tangannya mengambil sebuah kuas dan mulai melukiskan sketsa wajah seseorang yang telah berhasil mengambil hatinya. Alisha jadi ragu untuk menjualnya.

Tiba-tiba gawainya bergetar, tanda ada sebuah pesan yang masuk. Alisha berdecak, namun dia tetap mengambil gawainya untuk membaca pesan yang masuk itu. Ternyata hanya notif pesan dari operator. Alisha berdecak dan menyimpan gawainya asal. Tentu saja dia merasa sangat kesal sekarang.

"Nyadar diri aja kek, emangnya siapa yang mau hubungin gue kalau bukan operator." gumam Alisha pelan kemudian melanjutkan kegiatan melukisnya.

Baru saja Alisha menyelesaikan lukisannya, Andi tiba-tiba datang dan menarik tangannya dengan tergesa-gesa.

"Mau ngapain sih?"

"Kita jalan-jalan yuk, Kak!"

"Jalan-jalan? Dalam rangka apaan?" tanya Alisha tidak mengerti. Tumben sekali adiknya itu mengajaknya jalan-jalan.

Andi terlihat tidak terima dengan perkataan kakaknya itu. "Emangnya gak boleh kalau aku ngajak Kakak jalan-jalan? Harus pangeran berkuda putih Kakak itu dulu yang ngajak baru Kakak mau, gitu?"

"Eh, ya enggak gitu juga. Ya udah ayok!"

Andi terlihat senang dan segera menarik lengan kakaknya untuk pergi keluar. Alisha bahkan belum melepas kain yang melekat di bajunya dan membersihkan dirinya, tapi Andi sudah menariknya begitu saja. Sepertinya Alisha juga tidak sadar dengan penampilannya saat ini.

"Kita mau ke mana sih?"

"Makan satenya Mang Gono aja yuk!"

Mata Alisha langsung berbinar. Dia terlihat antusias sekali. "Ayok!" teriaknya sembari menarik lengan adiknya dengan semangat.

Andi hanya mengikuti langkah Alisha, dia masih belum sadar dengan penampilan kakaknya itu.

Alisha langsung menghentikan langkahnya saat melihat orang-orang pada menatapnya dan berbisik-bisik, bahkan beberapa dari mereka ada yang tertawa begitu melihat ke arahnya.

"Kenapa, Kak?" Andi menaikan sebelah alisnya bingung, ketika mendapati Alisha yanh tiba-tiba saja berhenti berjalan. Padahal tadi dia sangat bersemangat sekali.

Dengan cepat, Alisha langsung membalikan badannya menatap Andi dan saat itu juga Andi langsung menyemburkan tawanya. Dia benar-benar tidak sadar dengan penampilan kakaknya yang jauh dari kata baik, malah terlihat seperti orang gila. Wajah yang penuh cat dan juga kain yang melekat di pakaiannya.

"Ih, kamu kok malah ketawa sih!" kesal Alisha ketika adiknya itu malah mentertawakannya.

"Kakak mirip orgil," Andi masih saja terus tertawa.

Alisha malah melongo, masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. "Hah? Maksudnya apaan? Kamu ngatain Kakak gila?"

Andi langsung menghentikan tawanya, dia merogoh sakunya untuk mencarikan gawainya dan memberikannya kepada Alisha. "Coba ngaca, Kak!"

Alisha menurut, dia mengambil gawai milik adiknya dan berkaca. Matanya langsung membulat ketika melihat penampilannya. Alisha langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Andi sialan! Gara-gara kamu Kakak jadi kayak orang gila, kan. Pokoknya kamu harus tanggung jawab!" geram Alisha yang masih setia menutupi wajahnya.

Andi meneguk ludahnya kasar. "I-iya, nanti aku yang bayarin satenya deh!"

Kesalahan terbesar Alisha adalah mempercayai ucapan Andi dan selalu menurutinya. Seperti saat ini, padahal tadi adiknya itu sudah berjanji akan membayar sate yang Alisha makan. Namun, kenyataannya Andi malah melupakan dompetnya saat akan membayar satenya, mana Alisha juga tidak membawa uang dan mereka makan sate dengan porsi yang banyak.

Alisha sudah siap jika dia akan di marahi dan di suruh mencuci piring, akan tetapi Mang Gono penjual sate itu sama sekali tidak marah dan mengikhlaskan satenya, karena Alisha dan Andi adalah pelanggan setianya. Untung saja Mang Gono baik, karena kalau tidak maka sudah di pastikan Alisha dan Andi sekarang sedang mencuci piring yang menggunung, bukannya malah berjalan pulang.

Sedari tadi, Alisha terus saja mengumpati adiknya di dalam hati, sedangkan mulutnya malah tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk Andi.

"Maaf, Kak! Aku bener-bener lupa kalau gak bawa dompet tadi."

Entah sudah berapa kali Andi meminta maaf kepada Alisha, namun Alisha masih setia terdiam dan tidak menjawabnya.

"Kak! Jangan diem kayak gini dong! Maafin aku ya!"

"Kakak!"

"Kak!"

Alisha menoleh dan menatap tajam Andi yang kini menunduk. "Makanya lain kali, kalau mau ngelakuin apa-apa itu cek dulu yang bener!"

"Iya, Kak!"

Alisha menghembuskan napasnya pelan. Kini mereka berdua sudah sampai di depan rumah, namun yang membuat Alisha terheran-heran adalah kenapa pintu rumahnya terbuka. Karena seingatnya tadi, dia sudah menutup pintu rumahnya walaupun terburu-buru tadi.

"Andi, pintu rumah udah Kakak tutup, kan?" tanya Alisha yang masih setia menatap pintu rumahnya yang terbuka.

Meskipun bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh kakaknya, Andi tetap menjawab pertanyaan itu. "Iya, tadi Kakak udah nutup pintunya kok."

"Terus kenapa sekarang pintunya kebuka?"

Andi langsung menatap ke arah pintu rumahnya dan benar saja. Pintu rumahnya terbuka lebar, seolah-olah ada orang yang baru saja masuk ke dalam sana.

Alisha dan Andi langsung saling menatap satu sama lain, seolah saling mengirimkan sinyal.

Satu!

Dua!

Tiga!

Dengan cepat Andi maupun Alisha masuk ke dalam rumah itu dan alangkah terkejutnya mereka berdua ketika melihat seorang lelaki yang kini tengah duduk bersidekap dada di sofa ruang tamu.

"Kalian berdua dari mana saja?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!