Pernikahan Seorang Ustadz yang sangat terkenal dikalangan remaja hingga paruh baya bernama Muhammad Taqa El-Fatih (25 tahun), ia biasa di panggil dengan sebutan Ustadz Taqa, dengan seorang wanita muda yang bernama Balqis Khansa (18 tahun). Pernikahan itu terjadi karena sebuah perjodohan yang memang sudah di rencanakan oleh kedua orang tua mereka sejak mereka sama-sama berusia kanak-kanak. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah mengenal sama sekali. Apakah ustadz Taqa bisa mendidik Balqis menjadi istri Sholehah? menjadi makmum sesuai harapan nya? apalagi perbedaan usia yang terpaut jauh selalu menjadi permasalahan pada pernikahan mereka.
Ayo ikuti terus update episode selanjutnya, untuk mengetahui lanjutan dari cerita novel ini.
Baca juga karya author yang lainnya.
Follow Ig Author @winda_srimawati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musim_Salju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Duka
"Kenapa tubuh ibu dingin banget, ibu juga pucat."
Balqis meletakkan ujung jari telunjuknya untuk merasakan deruan nafas sang ibunda tercinta, namun ia sama sekali tidak merasakan ada deruan nafas ibu Rahimah. Ia pun memegang pergelangan tangan sang ibu untuk merasakan urat nadinya, tapi nihil. Denyut nadi ibu Rahimah sama sekali tidak terasa.
Seketika Balqis berteriak memanggil sang ibu dan menggoyang tubuh ibu Rahimah. Suaranya yang cukup kuat dan terdengar hingga keluar kamar, membuat sang suami serta kedua mertuanya berlari ke arah kamar ibu Rahimah.
Saat tiba dikamar, mereka melihat Balqis sudah menangis dengan bercucuran air mata. Ustadz Taqa segera menghampiri sang istri dan menenangkan Istri kecilnya itu. Ibu Rahimah mencoba merasakan urat nadi sang besan, tetapi ia sama sekali tidak merasakan urat nadi ibu Rahimah berdenyut.
"Yah, ini tidak mungkin kan, coba arah periksa urat nadi besan kita."
Ayah Taufiq juga melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan sang istri. Hasilnya sama dengan apa yang di lakukan Balqis dan juga ibu Rahmah. Mereka terdiam sepersekian detik, hingga ustadz Taqa mencoba menyentuh hidung sang mertua dan juga merasakan denyut nadinya.
"Innalillahi Wa Innailaihi Raji'un, ibu sudah berpulang ke Rahmatullah. Yang ikhlas sayang, Aa tahu ini sangat berat, kita baru saja kehilangan ayah, dan sekarang kita juga kehilangan ibu. Sungguh ini semua adalah takdir dari Allah SWT. Ternyata Allah lebih menyayangi ayah dan ibu. Sehingga mereka dipanggil dalam jarak waktu tidak sampai semalam."
Balqis tidak percaya akan hal itu. Bagaimana mungkin ia kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi dalam waktu yang berdekatan. Kenapa Allah tidak mengambil nyawanya terlebih dahulu, kenapa harus ayah dan ibunya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan sang suami.
Ibu Rahmah juga menangis melihat menantunya itu, sangat malang sekali nasibnya, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Ternyata cinta ayah Bilal dan ibu Rahimah tidak ada yang bisa memisahkan, hanya keabadian yang dapat memisahkan mereka. Itupun hanya hitungan jam saja.
Sungguh jodoh, rezeki, maut semuanya telah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Kita sebagai hambanya hanya bisa berencana dan menerima segala takdir-Nya. Siapa yang bisa menerima kepergian orang-orang yang kita cintai untuk selamanya, apalagi dalam kurun waktu beberapa jam saja.
Balqis yang berada di dalam dekapan sang suami tiba-tiba saja pingsan. Ia tak dapat menerima semuanya ini dalam waktu yang bersamaan. Ustadz Taqa menggendong sang istri dan membawanya kedalam kamar mereka.
Sedangkan ayah Taufiq langsung mengabari ketua RW dan RT serta tetangga setempat. Para asisten rumah tangga langsung menyiapkan untuk acara tahlilan. Para warga beserta RT dan RW datang berbondong-bondong kerumah almarhum ayah Bilal. Kabar ini sungguh membuat mereka semua terkejut.
Ya, sewaktu ayah Taufiq mendatangi rumah pak RT dan RW ditemani satpam rumah itu, beliau langsung menyampaikan kabar duka tersebut. Pak RT juga syok dan tidak menyangka jika setelah kepergian almarhum ayah Bilal, kini menyusul kepergian ibu Rahimah. Tidak hanya berjodoh di dunia, mereka juga berjodoh di akhirat.
pak RT mengabari melalui toa masjid mengenai kabar duka meninggalnya ibu Rahimah. Mereka serasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Baru kali ini ada warga di tempat mereka suami istri meninggal dalam waktu tidak sampai 24 jam.
Setelah memberitahukan kabar duka tersebut. Ayah Taufiq dan satpam rumah almarhum ayah Bilal langsung kembali kerumah bersama pak RT serta RW dan juga para warga yang kebetulan baru pulang dari masjid setelah tadarusan.
Hari itu juga pemakaman ibu Rahimah di urus oleh mereka. Sedangkan Balqis masih belum sadarkan diri, ustadz Taqa setia menemani sang istri di kamar. Ia begitu sangat menghawatirkan kondisi sang istri saat ini.
Sedangkan ibu Rahmah membantu para asisten rumah tangga untuk mempersiapkan semuanya. Kain kafan juga sudah di beli, tempat pemandian juga sudah di siapkan. Tampak mereka yang datang juga ikut bersedih. Mereka juga iba dengan putri almarhum ayah Bilal dan almarhumah ibu Rahimah.
Dimana almarhum dan almarhumah hanya memiliki satu anak, dan sekarang harus menjadi yatim piatu. Tapi mereka ikut bersyukur bahwa Balqis sudah menikah, akan ada yang menjaga gadis remaja tersebut.
Jenazah ibu Rahimah kini sudah dimandikan dan juga di kafani. Tampak keluarga Balqis yang juga di hubungi ikut syok dan tidak menyangka dengan kejadian tersebut. Belum lama mereka kehilangan ayah Bilal, sekarang sudah kehilangan ibu Rahimah. Bagi semuanya ini masih terasa seperti mimpi.
Dua orang yang di kenal baik dan ramah di lingkungan tersebut meninggalkan dunia ini dalam waktu yang berdekatan. Bahkan mereka sepertinya tidak ingin di pisahkan walau hanya sehari saja.
...****************...
"Sayang ayo bangun, jangan buat Aa khawatir, Aa tahu ini hal yang paling berat untuk kamu. Jangankan kamu, Aa juga sangat kehilangan, pasalnya Aa belum lama bertemu dengan kedua mertua yang begitu baik, sekarang mereka sudah meninggalkan kita untuk selamanya."
Akhirnya Balqis bangun juga dari pingsannya. Ia memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing. Lalu menanyakan keadaan sang ibu, ia fikir ia tengah bermimpi buruk mengenai sang ibunda tercinta.
"A, Balqis mimpi buruk. Balqis takut A, ibu juga meninggalkan kita untuk selamanya. Aa ayo kita ke kamar ibu, Balqis mau melihat ke adaan ibu, Balqis tidak ingin ditinggalkan juga oleh ibu."
Ustadz Taqa merengkuh kedua pipi sang istri yang kini posisinya ia telah duduk dan bersandar di ranjang. Ustadz Taqa menatap lekat manik sang istri. Ada rasa khawatir, namun istrinya harus tahu, bahwa ia sedang tidak bermimpi.
"Balqis, sayang... Dengarkan Aa, kamu sama sekali tidak bermimpi. Ibu memang sudah tiada, kamu sendiri yang menyaksikannya tadi sebelum kamu tiba-tiba pingsan. Kamu harus mengikhlaskan kepergian ibu. Aa tahu ini begitu berat untuk kamu hadapi. Tapi ingat, kamu masih memiliki Aa, ibu dan juga ayah. Kamu tidak sendirian sayang."
Degh!
Jantung Balqis berpacu dengan kencang, ia merasa itu hanyalah mimpi, namun ia kembali teringat sederetan ingatannya mengenai Ibunnya. Ia ikut berbaring di samping sang ibu, dan paginya ia dibangunkan oleh ibu mertuanya, namun saat ia telah bangun dan berniat untuk membangunkan sang ibu, ia sama sekali tidak merasakan ibunya masih bernafas.
"Ibuuu.."
Balqis langsung berlari kebawah dan melihat orang-orang sudah ramai berdatangan, ia melihat ada jenazah yang sudah dikafani. Perlahan Balqis mendekati jenazah sang ibu, di ikuti oleh ustadz Taqa. Seketika Balqis menangis di hadapan jenazah sang ibu, membuat semua yang ada disana ikut menangis dan merasakan apa yang di rasakan oleh Balqis.
...****************...
...To Be Continued ...
kisah yg sangat indah dan cukup menguras emosi pembaca..
terima kasih atas kisah cerita mu yg satu ini thor...
mereka memaksakan kehemdaknpada anak"..tdk mau mengerti dgn,perasaan si kembar...
mereka sendiri yg membuang anak" nya..skrng sesdh hampir 10 thn baru tunjuk muka dan mengakui anak"mu...enak sekali hidupmu...ga mau tau persaan anak" dan balqis juga ustadz taqa yg sdh membesarkan anak" dgn ksh sayang,perahtian dan didikan yg sangat baik..dasar orang tua ga ada akhlak kalian berdua yq hanin,rio...sadar diri dan berhentilah memngganggu kehidupan kluarga ustadz taqa..
menjijikkan sekali sikap hanin dan rio ini...
berakhir dengan bahagia.
Akan ada siquel untuk season duanya, berfokus untuk cerita si kembar. Pada setuju gak ni?