"Kamu membawa seluruh hatinya, bagaimana mungkin aku bisa bersamanya." Haira
Menjadi wanita karir dan sukses tidak membuat kehidupan asmaranya berjalan dengan baik. Julukan perawan tua sudah melekat pada dirinya. Namun, tidak membuat Haira berputus asa. Dia sama sekali tidak peduli dengan sebutan itu.
Hingga akhirnya saat setelah sang adik meninggal, kedua orang tuanya meminta dirinya untuk menikah dengan adik iparnya. Awalnya wanita itu menolak, tetapi pada akhirnya menyerah juga dan menyetujui pernikahan ini.
Bagaimana perjalanan pernikahan Haira dengan adik iparnya saat tidak ada cinta di hati keduanya. Ini semua murni demi bayi yang tidak berdosa. Sanggupkah Haira melewatinya atau mungkin akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Keisha pulang
Sampai pagi menjelang Haira tidak kembali. Padahal tadi wanita itu pamit untuk membeli minuman. Fatih sudah mencoba menghubungi istrinya berkali-kali. Namun, tidak diangkat, tentu saja hal itu membuatnya khawatir, takut terjadi sesuatu.
Haira yang memang sedang dalam keadaan sedih memilih untuk pulang ke rumah. Di rumah sakit juga sudah ada Fatih dan juga kedua orang tuanya. Dia juga tidak dibutuhkan lagi di sana karena semua orang menyalahkan dirinya. Fatih memang tidak marah padanya, tetapi dengan diamnya pria itu seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Mama Zahra.
"Apa Haira sudah mengangkat panggilanmu?" tanya Papa Robi pada Fatih yang dijawab gelengan oleh pria itu.
"Dia sudah pulang, Pa. Tidak usah mencari dia," sela Mama Zahra yang baru saja keluar dari ruangan.
"Dari mana Mama tahu?"
"Tadi Mama hubungin Bibi di rumah dan katanya Haira ada di sana jadi, Papa tidak perlu mengkhawatirkan dia lagi."
Papa Robi menghela napas lega, berbeda dengan Fatih yang tengah mengepalkan tangannya karena kesal pada sang istri. Di saat putrinya sedang sakit dan membutuhkan dirinya di sini, kenapa Haira memilih untuk pulang? Bukannya semalam wanita itu mengatakan jika akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi kenapa saat Keisha sedang sakit wanita itu malah pergi begitu saja, tanpa melihat keadaan putri sambungnya.
Bukankah itu membuktikan jika ucapannya semalam hanyalah bualan semata. Fatih tidak tahu harus percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan oleh Haira. Nyatanya wanita itu malah membuktikan yang sebaliknya.
"Sudah, tidak perlu terlalu memikirkannya. Sekarang yang paling penting demam Keisha sudah turun, keadaannya pun sudah lebih baik. Mama juga berharap kalau dia bisa pulang setelah ini. Mama juga sudah membuat keputusan, mulai sekarang Keisha akan tidur bersama Mama saja."
"Ma, jangan begitu. Fatih 'kan ayahnya, dia lebih berhak untuk menjaga putrinya," sela Papa Robi yang merasa sikap istrinya berlebihan.
"Siapa bilang Mama melarang Fatih bertemu anaknya. Kalau Fatih mau ajak Keisha silakan saja, tapi kalau malam Keisha akan tidur sama Mama saja, biar Mama yang jagain cucu Mama. Haira juga tidak bisa menjaga Keisha."
Papa Robi ingin membantah ucapan sang istri, tetapi kedatangan dokter membuat pria itu urung berbicara. Nanti saja saat di rumah, dia akan berbicara dengan sang istri. Lagi pula bukankah Keisha demam itu adalah sebuah hal yang wajar, tetapi kenapa Zahra membesarkan masalah itu.
Setelah Keisha diperiksa, dokter mengizinkan anak itu untuk pulang karena memang keadaannya sudah membaik. Namun, tetap dokter memberikan obat agar bayi itu benar-benar sehat. Fatih tersenyum lega karena keadaan putrinya sudah benar-benar membaik. Mereka pun membawa bayi itu pulang dengan berbahagia.
Begitu sampai di rumah mereka langsung masuk dan alangkah terkejutnya mendapati Haira yang sedang bersantai, malah sedang menikmati makanan di meja makan. Fatih mengepalkan tangannya, ingin marah pada sang istri. Namun, pria itu mencoba untuk menahannya karena di sini juga ada mertuanya.
Mama Zahra yang sedang kesal dengan putrinya pun segera mendekat dan berkata dengan ketus. "Anak sambungmu sedang berada di rumah sakit, sementara kamu enak-enakan berada di sini dan menikmati makananmu. Di mana hati nuranimu?"
Haira yang sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya pun seketika terhenti. Terlihat di sana sudah ada Mama Zahra, Papa Robi dan juga Fatih. Wanita itu memejamkan mata sejenak demi menghilangkan sesak di dadanya. Setidaknya sekarang dia merasa lega karena Keisha sudah membaik.
"Apa kedatanganku masih diperlukan, sementara Mama sejak tadi terus saja memojokkanku?" sahutnya.
"Oh, jadi kamu mau balas dendam dengan kata-kata yang Mama ucapkan tadi malam. Mama tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepalamu. Mama benar-benar kecewa. Seharusnya jamu sadar jika kamu sudah melakukan kesalahan, tetapi sepertinya kamu tidak merasa bersalah."
Mama Zahra pun segera berlalu menuju kamarnya, diikuti oleh Papa Robi, sementara Fatih masih menatap tajam ke arah sang istri. Pria itu masih mengepalkan tangannya, berusaha agar tidak meluapkan emosinya pada wanita itu.
"Kemarin kamu mengatakan ingin menjadi ibu dan istri yang baik, tapi nyatanya semua hanya bualan saja. Anakmu berada di rumah sakit, keadaannya pun mengkhawatirkan kenapa kamu dengan sangat mudah di sini menikmati makananmu? Padahal setiap Ibu pasti tidak akan bisa menelan makanannya. Nyatanya kamu tidak sama seperti mereka. Kamu memang tidak memiliki hati nurani seorang ibu. Aku sangat-sangat kecewa padamu. Lupakan tentang niatanmu untuk menjadi istri dan ibu yang baik."
Fatih segera pergi dari sana sebelum dia berbuat kasar. Sementara itu, Haira terdiam di mejanya, selera makannya yang memang tadi sudah tidak ada pun sekarang semakin hancur.
Bibi Siti yang berada di sana pun merasa tidak enak. Dia pun mendekati Haira dan berkata, "Maafkan, Bibi, tadi Bibi yang maksa Non Haira untuk makan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti maksud Bibi. Aku ke kamar dulu, Bik. Jangan terlalu dipikirkan."
Haira pun segera beranjak dari sana. Bibi hanya bisa memandangi kepergian Haira. Ada rasa bersalah yang begitu besar yang dirasakan. Sejak semalam Haira pulang dari rumah sakit, wanita itu memang sama sekali belum makan apa pun. Tadi saat bangun tidur bibi menawarnya makan.
Namun, dia selalu menolak bahkan Bibi sudah membawa makanan ke dalam kamarnya, tetapi dengan tegas Haira menolak karena memang wanita itu tidak bisa memakan apa pun disaat pikirannya tidak tenang. Apalagi dia khawatir pada keadaan Keisha. Bibi pun bingung harus bagaimana. Sampai akhirnya Bik Siti mencoba membujuk Haira untuk makan dan mengajak pergi ke rumah sakit bersama.
Haira tidak mungkin pergi dalam keadaan lemas begini, akhirnya dia setuju. Baru satu suap makanan masuk ke dalam perutnya, ternyata keluarnya sudah pulang dari rumah sakit. Seandainya tadi bibi tidak memaksa Haira untuk makan, sudah pasti tidak akan terjadi kesalahpahaman seperti ini. Bik Siti jadi merasa kasihan pada anak majikannya yang selalu salah di mata keluarga.
Haira masuk ke dalam kamarnya dan tidak mendapat Fatih di sana. Namun, dia mendengar suara gemericik air yang ada di dalam kamar mandi. Wanita itu pun berinisiatif untuk mengambilkan pakaian untuk sang suami. Meskipun tadi Fatih telah menyakiti hatinya, tetapi Haira tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik seperti yang diucapkan semalam.
Fatih keluar dari kamar, sedikit terkejut mendapati Haira yang sudah duduk di tepi ranjang. Dia melihat pakaian dirinya yang sudah siap di sofa, tetapi tidak ada niat sedikit pun untuk memakainya. Pria itu pun mengabaikannya dan memilih pakaian yang lain.
hehehe d tungguin lanjutan nyaa
Arini gatellll🤮
..🤩
udah tau istrinya salah
masih aja dibelain
Pergi aja dari rumah neraka itu
Fix Haira bukan anak kandung mereka