Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Selena

Bab 22

# Rahasia Selena #

"Hey bro... waiters baru ya?"

Amukan Sora yang tak terima dengan perkataan Axcel yang ingin menjadikannya budak seumur hidup harus terpaksa berhenti karena kecerobohan waiters cafe yang sedang gugup membawa gelas di nampannya. Nada kesal Sora semakin membuat waiters itu gugup.

Terburu-buru ia segera meminta maaf, karena takut Sora melapor ke manajer dan membuatnya kehilangan pekerjaan di hari pertama. Sora melepaskan cengkramannya dari kerah Axcel, menurunkan kembali kaki yang semula bertengger di kursi samping kaki Axcel, dan kembali duduk dengan tenang. Kedua tangannya melipat di dada dengan posisi tegap melirik Axcel yang masih tersenyum-senyum tanpa dosa.

"Kawaaann... Kamu ini hidup di zaman apa sebenarnya? Kok bisa-bisanya mikir mau jadiin aku budak kalau gagal di misi ini? Jelas itu melanggar hak asasi manusia, tahu..."

Axcel tersenyum, tak menyangka Sora akan seserius ini menanggapi candaannya. Sora cukup beringas kali ini, terlihat dari ekspresinya yang galak.

"Oke... oke... Kalau gitu jadi asisten pribadiku aja deh. Urusin semua keperluan sekalian handle Ino kalau lagi kumat, biar dia nggak lama-lama nongkrongnya. Tenang aja, kamu tetap dapat gaji bulanan kok."

BUK... BUK... BUK...

Axcel tak menyangka kalau usulan hukuman yang barusan ia kemukakan malah membangkitkan aura dendam kesumat Sora. Secara beringas Sora memukul-mukul lengan Axcel dengan menggebu-gebu menggunakan tas kecilnya. Bagaimana bisa seorang business woman dan calon seniman jenius yang secantik ini menjadi seorang asisten pribadi dari pria labil yang tak bisa mempertahankan dirinya sendiri?

Bukankah ayahnya akan menggantung dirinya di alun-alun tengah kota sebagai bahan peringatan keras?

"Hey... hey... Iya... oke... oke... stop... Jadi istriku aja kalau gitu."

Pernyataan terakhir Axcel berhasil menghentikan sikap anarkis Sora. Tangannya yang menggenggam kuat tas masih terhenti di udara dan terdiam beberapa saat. Melihat Sora yang membeku dengan tatapan memburu masih tak menyadarkan Axcel. Ia malah berpikir kalau Sora senang dengan keputusannya yang akan menikahi Sora sebagai tanggung jawab kegagalan misi.

"Sssst... sssst... Bro... Eh, Tuan... Mau saya bantu panggilkan 833? Cepat kabur!"

Waiters baru tadi merunduk di dekat pintu masuk cafe dan dengan suara berbisik menyarankan Axcel untuk kabur, karena jelas-jelas nyawanya sedang dalam ancaman Sora. Karena Axcel tak paham dengan maksudnya, waiters itu mengatakan dengan lantang menyuruh Axcel lari sebelum Sora meledak. Dengan masih kebingungan, Axcel berlari setelah meletakkan uang tunai di mejanya.

"Axceeeeel... Jangan kabur kamu! Arrrgh... Manusia menyebalkan nggak tahu aturan! Tunggu ya... Jangan harap bisa lepas gitu aja!"

Sora juga mengancam waiters baru yang masih meringkuk di samping pintu dengan menudingnya sebagai biang kerok yang membuat Axcel kabur gitu aja. Melihat Axcel yang berlari semakin menjauh dan hilang masuk gang, membuat Sora tak punya waktu mengurus si waiters. Sora meraih tasnya lalu berlari mengikuti jejak Axcel yang masuk ke salah satu gang kecil.

"Hah... hah... Nah kan, nggak bisa kabur lagi! Ketangkap kamu sekarang. Heh... Kenapa...? Ada apa...?"

Sora memperhatikan Axcel yang terdiam berdiri di salah satu cafe hidden gem sambil menatap sesuatu yang tak tampak jelas di mata Sora. Seketika Sora kehilangan amarahnya. Ia lebih khawatir kalau-kalau Axcel yang sekarang ini sudah berubah jadi Ino. Sora mengguncang pelan lengan Axcel yang belum bereaksi apa pun. Kemudian ia berjinjit melambaikan tangannya di depan mata Axcel, mencoba mengalihkan perhatian Axcel.

"Sora... Apa kau lihat gadis pakai gaun orange itu? itu... yang duduk sendirian di meja bartender."

Sora berusaha melongok ke arah telunjuk Axcel, dan ia tak menemukan siapa pun yang duduk di sana. Memang pandangan Sora terhalang pot-pot tanaman besar yang menutupi jendela cafe. Tapi saat ia berjinjit pun, Sora tak menemukan siapa pun. Bahkan bartender pun tak ada, dan di pintu masuk juga masih terpasang tanda tutup, dengan keterangan jam operasional cafe dari jam tiga sore sampai jam tiga pagi, itu artinya mereka masih siap-siap buka toko. Sebab saat ini jam di ponsel Sora masih menunjukkan pukul dua siang lewat dua puluh tiga menit.

Sora mengajak Axcel pergi karena ia mulai cemas. Kemungkinan Axcel sedang berhalusinasi, tapi Axcel menolak dan menepis tangan Sora. Axcel berjalan mendekati pintu masuk dan berencana untuk tetap masuk. Ia ingin memastikan gadis bergaun orange itu, apakah benar-benar seseorang yang sangat ia kenal dan selalu ia rindukan selama ini, atau hanya mirip saja. Tapi gadis itu terlalu nyata untuk mata Axcel yang sudah tergenang air mata.

"Woy lah, Cel... Lihat itu mereka belum buka. Kamu ini malah ganggu kerjaan orang nggak sih? Ayooo pergi dulu! Nanti kita balik lagi, kan cuma nunggu beberapa menit aja."

KLING...

Axcel tak mau mendengarkan perkataan Sora. Rasa rindu sudah meledak dalam jantungnya saat ini. Axcel tak ingin kehilangan momen ini.

"Maaf Tuan, Nona... Cafe kami belum buka. Kami belum bisa terima pesanan."

Penolakan dari manajer cafe pun tak bisa menghentikan langkah Axcel. Sedikit bulir air matanya tak bisa terbendung, tangannya gemetar, dan sebenarnya langkah kakinya pun mulai melemas. Tapi dorongan kuat hatinya tetap memaksanya maju. Untuk pertama kalinya ia tak pingsan saat melihat gadis yang ia rindukan itu. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Axcel seperti ini. Di tahun kemarin dua kali ia pingsan mendadak dan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya.

Jeritan jantungnya terlalu kuat, rasa ingin menyapa dan memeluk gadis bergaun orange itu membuncah. Kali ini ia mendapatkan kesempatannya lagi. Gadis yang terkadang muncul dalam mimpi indahnya yang selalu berubah menjadi mimpi buruk.

Axcel tak kuasa lagi menahan tangisnya. Perlahan ia berhasil duduk di samping gadis itu, membuat para staf cafe dan Sora menatapnya keheranan. Manajer cafe pun mengizinkan Axcel berada di sana, lalu menyuruh para stafnya melanjutkan pekerjaan masing-masing karena sudah mendekati jam buka.

Wanita itu tersenyum ke arah Axcel dengan pipi yang memerah, seperti seseorang yang tengah mabuk. Cahaya sore yang menembus kaca dengan bayangan-bayangan tanaman gantung menyinari wajah ayu gadis bergaun orange itu. Tampak begitu indah. Axcel memperhatikan setiap detail gadis yang ia rindukan.

Mereka saling pandang dengan senyum yang terbingkai air mata. Mata gadis yang awalnya bercahaya berubah menjadi sendu saat tangannya membelai pipi Axcel. Dan saat Axcel ingin meraih tangan yang membelainya itu, tiba-tiba gadis itu menarik tangannya sembari mengatakan kalau dirinya selalu merindukan Axcel yang tak pernah mau mengingatnya lagi.

"Axcel nggak boleh sedih lagi... Axcel nggak boleh sembunyi lagi... Axcel jangan hilang arah lagi. Temui aku terus dan jangan kabur lagi yaaa..."

Mendengar kalimat itu, hatinya teriris-iris luar biasa. Tangisnya semakin tersedu-sedu dan saat ia sibuk mengusap air matanya, gadis bergaun orange itu menghilang begitu saja. Sosoknya berganti dengan Sora yang sedang mengelus-elus lengan Axcel, berharap bisa menenangkan Axcel yang menangis seperti anak kecil berumur delapan tahun.

Axcel terkesiap, mengerjapkan matanya beberapa kali. Axcel menyingkirkan badan Sora, dan mulai panik kebingungan mencari gadisnya. Tangis yang sempat terhenti kini menggema lagi, bahkan Axcel berteriak tampak begitu frustrasi. Bukannya diusir, para staf dan manajer cafe justru sibuk menenangkan Axcel, memberinya semangat dan membujuknya untuk bangun dari lantai yang belum selesai mereka pel.

Sementara Sora hanya memandangnya dari jauh. Ia menghela napas, berdecak lirih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam pikirannya, pasti Ino lah yang saat ini sedang merasuki Axcel lagi.

Suara tangis Axcel mulai mereda, dan staf cafe berhasil membujuk Axcel untuk duduk kembali di kursi bar. Sora meraih kotak tisu lalu memberikannya pada Axcel yang mencoba menyembunyikan wajahnya. Mungkin ia merasa malu karena baru kali ini meluapkan segala emosi terpendamnya.

SREGGG...

"Terima kasih, tapi maaf kami tidak minum alkohol. Bisa tukar yang lain? Emm... Kamu Axcel atau Ino?"

Sora menolak koktail yang dibuatkan bartender. Mungkin mereka berpikir Axcel membutuhkan alkohol untuk menenangkan hatinya. Dengan hati-hati Sora menanyakan sosok yang duduk di sampingnya, agar tak salah mengambil sikap. Tapi Axcel tak ingin menjawab pertanyaan Sora. Ia malah memperingatkan Sora untuk melupakan apa yang ia lihat barusan.

Tanpa mengaku pun Sora bisa tahu kalau manusia ini adalah Axcel, karena hanya Axcel lah yang selalu peduli dengan citra prianya. Pasti Axcel tak ingin Sora mengungkit-ungkit momen di mana dirinya menangis seperti anak kecil.

Tentu saja Sora jadi punya banyak ide untuk menggoda Axcel untuk tahun-tahun ke depannya. Bahkan ia menyeringai di balik wajahnya yang hanya tampak serius di depan Axcel. Sora mencoba membuat lelucon kecil, tapi Axcel tak merespons. Akhirnya Sora memberanikan diri untuk menanyakan tentang gadis gaib yang ia kejar tadi.

Tanpa mengatakan apapun Axcel merogoh ponsel dari saku celananya dan menunjuk gadis muda yang sedang memeluk Axcel kecil dengan gemas. Senyum Sora mendadak pudar, merasa kalau kebodohan otaknya semakin parah karena telah menyepelekan kondisi Axcel yang sedang bergelut dengan masalalu kelamnya.

Sepertinya kakak Axcel memang menyukai warna orange. Dari wajahnya yang tampak selalu ceria, warna orange itu selalu tampak menyegarkan segala suasana, seperti buah jeruk mandarin di musim panas. Potret-potret kebahagiaan masa kecil Axcel disinari keceriaan kakaknya.

"Oh! Ini Nona Selena kan? Tuan, apa tuan kenal juga dengan Nona Selena? Dia ini tamu VIP kami, tapi sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah ke sini lagi."

Manajer cafe yang dipanggil dengan nama Pak San tak sengaja lewat di belakang Axcel dan Sora, lalu tanpa sengaja melihat foto-foto kakak Axcel. Tentunya itu membuat Axcel terkejut. Bagaimana bisa kakaknya yang sangat alim dengan aura yang selalu cerah disebut sebagai tamu VIP di cafe dewasa ini?

"Iya benar, saya sudah kerja di sini bertahun-tahun dan hafal semua tamu VIP kami. Setiap jam satu malam Nona Selena selalu datang ke sini. Dia selalu duduk di sini, kadang pesan ruangan VIP jika ia tak ingin diganggu, dan memesan banyak jenis minuman, terus tertidur sampai jam kami tutup. Saya sendiri yang selalu memesankan taksi online buat antar pulang."

Mata Axcel tampak nanar, tak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Mana mungkin kakaknya yang polos dan ceria itu suka minum alkohol, terlebih di tempat yang tak begitu jauh dari kediamannya. Bahkan saat itu usianya juga masih di bawah umur. Kenapa cafe ini tidak ada aturan pembatasan umur untuk tamu-tamunya?

"Oh... Jadi namanya Selena. Nama yang can... Eh... eh... Axcel stop... stop... Hey... Lepasin Cel!" Sora berusaha menghentikan Axcel yang mencengkeram kuat kerah Manajer San, mengangkatnya keatas dan nampak guratan otot emosi mencuat dileher dan lengan Axcel.

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH KIRAVERS! RAHASIA KELAM MASA LALU MAKIN TERBONGKAR! 😱💥

Siapa sangka, sosok Selena, kakak Axcel yang selama ini dikenal polos dan ceria, ternyata punya sisi gelap sebagai pelanggan VIP cafe dewasa dan sering mabuk-mabukan di tengah malam?!

Apakah hal ini ada hubungannya dengan alasan Selena menghilang atau bahkan pemicu awal kemunculan sosok Ino di dalam raga Axcel?! Terus gimana nasib Pak San yang kerahnya dicengkeram emosi oleh Axcel?!

Yuk, tumpahkan teori gokil dan spekulasi kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇

Jangan lupa ya Kiravers:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Sora yang makin kewalahan menghadapi rahasia kelam keluarga Axcel!

SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 23!

FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!