keinginan Irapanusa-putri Panglima Kerajaan Na hanyalah sederhana: membatalkan rencana pernikahannya dengan putra Panglima Kerajaan tetangga~Kerajaan Re yang bernama Samadara. Sayangnya keinginan itu tidaklah mudah karena untuk mewujukannya Irapanusa harus menyamar jadi pria mengikuti kompetisi dua kerajaan, menjadi pemenang agar permintaannya bisa dikabulkan oleh Sultan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahesvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK KETIGA PART 1
Karena merasa bersalah pada Rati, Dawan mengawal kereta kuda yang membawa Rati sampai ke kota terdekat sebelum akhirnya menyerahkannya kereta kuda yang membawa Rati pada salah satu orang kepercayaannya.
“Maaf, Rati.” Dawan meminta maaf pada Rati karena merasa bersalah dan juga merasa menyesal karena membuat Rati harus mengalami luka yang cukup parah.
“Ini bukan salah, Tuan. Ini keputusan saya sendiri, Tuan. Mungkin Nona Irapanusa marah pada Tuan, tapi saya sama sekali tidak marah pada Tuan.”
“Seperti kata Ira, kamu menjadi pengawalnya karena ide dariku. Padahal aku tahu kamu adalah gadis, tidak seharusnya aku memikirkan ide seperti itu hanya demi menjaga Irapanusa.”
“Saya paham maksud Tuan. Saya tahu Tuan hanya mengkhawatirkan Nona Irapanusa dan saya pun juga merasa begitu. Maka dari itu saya berusaha keras untuk lolos hingga ke babak ketiga agar bisa menjaga Nona. Sayangnya kemampuan saya hanyalah sebatas ini saja, Tuan. Mohon maafkan kekurangan saya ini, Tuan.”
“Kamu sudah menunjukkan kemampuan terbaikmu pada kami semua, Rati.” Setelah mengatakan itu Dawan tadinya ingin segera meminta kereta kuda yang membawa untuk segera pergi agar Rati bisa segera mendapatkan perawatan terbaik. Hanya saja … Dawan kemudian teringat sesuatu yang membuatnya penasaran selama beberapa hari ini. Dawan menghentikan kereta kuda Rati lagi dan bicara pada Rati lagi. “Rati, tunggu!”
“Ya, Tuan.”
“Pria yang bersama kalian itu, apa dia bisa dipercaya?” Dawan bertanya dengan wajah cemas. “Aku merasa hubungannya dengan Ira terlalu dekat padahal selama ini aku tahu semua teman-teman Ira di ibu kota. Aku ragu apakah pria itu bisa dipercaya atau tidak, padahal dia mengenakan seragam bertanda Kerajaan Re.”
“In hanya pendapat pribadi saya, Tuan. Mohon maafkan jika ucapan saya mungkin salah.” Rati bicara dengan bijak sebelum mengatakan pendapatnya.
“Ya, bicaralah, Rati.”
“Tuan Mada mungkin berasal dari Kerajaan Re, tapi Tuan Mada adalah orang yang bisa dipercaya, menurut saya.” Rati menjawab.
“Alasannya??” Dawan masih tidak percaya bahwa Rati pun mempercayai Mada yang saat ini dekat dengan Irapanusa.
“Jujur saja … “ Rati menjelaskan segala hal yang Irapanusa katakan padanya, dari pertemuan tidak sengaja dengan Mada hingga Irapanusa yang sengaja membeli informasi dari Mada hanya demi Rati. “Meski kelihatannya terkadang Tuan Mada itu bicara dengan nada menyebalkan, tapi Tuan Mada itu punya mata yang jeli dan otak yang cerdas. Sebelum bertanding tadi, Tuan Mada bertanya mengenai strategi yang Nona Irapanusa buatkan untuk saya. Tuan Mada menimbang sebentar strategi sebelum mengoreksi dengan tujuan dampak yang saya terima lebih kecil. Kalau bukan karena strategi Tuan Mada, mungkin saya sudah kehilangan nyawa saya, Tuan.”
“Apa dia sehebat itu??” Dawan masih tidak percaya.
“Tuan ingat bagaimana Nona Irapanusa mengambil dua senjata dan memanggil kudanya ke arena duel?” Rati mencoba menjelaskan lagi.
“Ya, tentu aku ingat. Ira benar-benar membuat kehebohan tentang keputusannya itu. Tribun di mana pejabat dan penonton melihat benar-benar heboh dan meriah berkat Ira.”
“Itu adalah ide Tuan Mada, Tuan.”
“Apa?? Itu ide dari dia??” Dawan benar-benar tidak percaya dengan cerita Rati.
“Ya, Tuan.” Rati mengiyakan. “Tuan Mada itu mungkin adalah informan dari Kerajaan Re, tapi informasi dan penilaiannya benar-benar tepat.”
“Tapi bagaimana jika dia melukai Ira?” Dawan mengatakan apa yang membuatnya khawatir dengan kedekatan Irapanusa dan pria yang dipanggil Mada.
“Untuk satu itu, Tuan Dawan bisa sedikit percaya pada Tuan Mada.”
“Kenapa aku harus percaya padanya?” Dawan mengerutkan alisnya merasa heran.
“Tuan Mada membuat janji pada Nona Irapanusa. Jika mereka berdua berada di kelompok yang berbeda dan dipaksa untuk saling menyerang satu sama lain, Tuan Mada berjanji tidak akan membnuh Nona Irapanusa apapun yang terjadi.”
“Apa janji itu bisa dipercaya?” Dawan masih meragukan cerita dan penjelasan Rati mengena Mada yang telah banyak membantu Irapanusa.
“Saya yakin bisa. Hingga saat ini semua yang Tuan Mada ucapkan selalu benar dan sampai hari ini dialah yang terus melindungi Nona Irapanusa meski dengan caranya sendiri.”
Setelah cukup berbincang, Dawan akhirnya membiarkan Rati dan kereta kudanya pergi menuju ke ibu kota.
Apa dia benar-benar bisa dipercaya?? Dawan masih terus meragukan Mada setelah mendengar cerita Rati. Deg. Jantung Dawan berdetak kencang secara tiba-tiba. Entah kenapa perasaanku mengatakan jika pria itu tidak bisa dipercaya.
*
Babak ketiga dimulai sedikit siang karena beberapa keadaan peserta lain yang masih terluka karena duel satu lawan satu di babak kedua. Sama seperti sebelumnya, pagi tadi Sultan Kerajaan Na dan Kerajaan Re sudah membagi 35 orang yang tersisa dalam tujuh kelompok dengan masing-masing anggotanya 5 orang.
Keberuntungan Irapanusa sepertinya belum habis karena kali ini dirinya berada di kelompok tujuh bersama dengan Mada, dua orang dari Kerajaan Na dan satu orang lagi dari Kerajaan Re.
“Jika ada pengatur jodoh di sini, aku ingin bertanya padanya.”
Irapanusa mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mada yang saat ini sedang mempersiapkan peralatan untuk babak ketiga yang akan dilakukan siang nanti hingga besok pagi. “Apa yang ingin Tuan tanyakan padanya??”
Mada mengangkat jari kelingkingnya dan berbisik pada Irapanusa. “Mungkinkah benang jodoh yang terlilit di jari kelingkingku ini terhubung denganmu?”
“Hah??” Irapanusa kaget. “I-itu jelas tidak mungkin!”
“Yah kan aku hanya ingin bertanya. Sejak kejadian itu kita terus bersama di sini, mungkin ada hubungan jodoh antara aku dan Tuan.”
“I-itu jelas tidak mungkin!” Irapanusa langsung menegaskan meski entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dan tubuhnya terasa sedikit panas.
“Hahaha!!” Mada tertawa kecil menyadari wajah malu-malu Irapanusa karena ucapannya. “Aku hanya bercanda, Tuan. Jangan menganggapnya serius!”
Huft!! Irapanusa menghela napas panjang berusaha menahan rasa kesalnya karena Mada mempermainkannya. “Bisakah sekali saja saya memukul Tuan?? Saya benar-benar ingin memukul Tuan!”
“Nanti … kapan-kapan akan aku ijinkan. Saat aku mengijinkan kamu bisa memukulku sampai puas. Bagaimana??” Mada menjawab sembari dengan senyum jahil pertanda dirinya sedang menggoda Irapanusa.
Huft! Irapanusa menghela napas lagi masih berusaha menahan rasa kesalnya karena masih belum terbiasa menghadapi Mada yang terkadang bisa sangat menyebalkan.
Sudahlah! Irapanusa hanya bisa membatin menghadapi Mada.
“Karena kita berada di tim yang sama, kamu ingat rencana yang aku katakan padamu semalam?” Mada tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadin serius sekarang.
“Aku ingat.” Irapanusa bicara sembari mengingat apa yang dibicarakannya dengan Mada semalam saat berada di hutan.
“Aku ingin minta bantuan Tuan!” Setelah memakan nasi gulungnya, Irapanusa tiba-tiba bicara dengan nada serius pada Mada.
“Apa ini soal pengawalmu, Rati?” Mada menebak dengan mudah apa yang ada di dalam benak Irapanusa.
“Ya, aku ingin membalas pria bernama Moreo itu!”
“Apa bayaran yang akan aku terima untuk bantuanku, Nona Ira?”
Seperti biasa Mada langsung menanyakan harga dari bantuan yang akan diberikannya.
“Apa yang kamu mau, Tuan Mada?”
“Jawaban.”
“Jawaban?” Irapanusa mengerutkan keningnya heran. “Jawaban untuk apa?”
“Pertanyaan yang akan aku ajukan.”
“Pertanyaan apa?”
“Seandainya suatu hari nanti Kerajaan Na dan Kerajaan Re berperang dan kita berdua ada di kubu yang berbeda, apa yang akan Nona lakukan ketika berperang dengan aku sebagai komandonya?”