Indonesia
NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta Naura

Cahaya Cinta Naura

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:301.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: rahma khusnul

Naura Fina Mudya, seorang anak yang diharapkan menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarganya, dipandang telah menorehkan noda bagi orang tuanya, keinginan untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik ternyata dipandang salah oleh lingkungannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang di Yogyakarta...

HAPPY READING... 🌹🌹🌹

Suara klakson dari kereta yang aku tumpangi kembali terdengar memekik telingaku menandakan kereta akan segera berhenti, kurasakan laju kereta melambat dan semakin melambat sampai akhirnya berhenti di sebuah stasiun yang terpampang plang besar bertuliskan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

"Alhamdulillah kita sudah sampai, La! Ayo siap-siap, bereskan barang-barang mu!" Pinta Pamanku.

"Iya, Paman!" Jawabku sambil memasukkan rangkaian manik-manik yang tak pernah ku lepas dari tanganku sejak naik tadi pagi ke dalam saku gamisku. Lantas mengambil ransel yang ku letakkan di bawah dekat kakiku dan segera menggendongnya.

Kami keluar dari deretan kursi penumpang dan berjalan menuju pintu gerbong berdesakan dengan penumpang lainnya sambil membawa tas besar milikku. Dan aku pun dapat bernafas lega setelah berhasil keluar dari sana dan beristirahat sebentar di kursi kosong yang berjajar di lobi stasiun.

Ku dengar suara adzan berkumandang di mesjid terdekat menandakan waktu ashar telah tiba. Ku lihat jam dinding menunjukan pukul 15:05 menit. "Paman, masih jauh kah rumahnya dari sini?" tanyaku di tengah hiruk pikuk suara kereta, pedagang dan para penumpang yang turun-naik kereta.

"Masih sekitar 10 menit naik becak," Jawab Paman sambil membuka tutup botol air mineral di tangannya lalu meminumnya. "Nih! minumlah!" Paman memberikan botol air minum ke arahku.

Aku mengambilnya dan meminumnya seteguk saja, "Paman! kita ke mesjid dulu ya, Ola mau ke belakang sekalian menjamak Sholat Dzuhur yang terlewat tadi," Ucapku sambil menutup kembali botol air mineral dan menyerahkannya kepada Paman.

"Ayo!" ucap Pamanku, sambil berdiri dan menjinjing tas besar milikku. Aku pun mengikuti langkah Pamanku menuju mesjid.

Setelah kami selesai dengan kewajiban kami, dan hendak keluar dari mesjid untuk mengambil sepatuku, tiba-tiba saja bahuku berbenturan dengan tubuh tinggi seorang pemuda, "Aw...!" ucapku merasakan sakit di bahuku, dan orang itu pun berbalik melihatku.

"Naura?" tanyanya.

Aku segera menoleh ke arah pemilik suara, dan aku kaget melihat orang yang ku kenal berada di hadapanku. "Aaaa...?" Mulutku menganga, dan menatapnya dengan berbinar, rasa bahagia sekaligus tak percaya bisa bertemu dengannya di sini. Aku segera menjatuhkan tas yang ku bawa ke lantai, "Dikdik...!" Panggilku sambil mengepalkan tanganku dan meninjunya pada lengan kanannya.

"Haha..., Naura...Naura, kenapa kamu selalu ngintilin aku si?" tanyanya asal.

"Ish...! enak aja, kamu kali yang ngintilin aku," Ucapku tak kalah sewot darinya.

"Dasar Omet sejati ya kita, kemanapun selalu bersama," Ucapnya.

"Ha ha ha...," Tawaku bersamaan dengan tawanya.

"Eh..., ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?" tanyanya lagi setelah kami puas tertawa.

"Kamu inget yang kita ikut tes ujian masuk perguruan tinggi di sekolah waktu itu kan?" tanyaku, "Aku dapat panggilan beasiswa dari UNY, Dik!" Jawabku girang.

"Waaaah..., Selamat ya, aku juga daftar reguler di sana, Ra! meski tanpa beasiswa, aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan kampus itu sejak kunjungan senior ke sekolah kita waktu itu," Ucapnya tak kalah girang.

"Benarkah? Jadi kita akan bertemu di kampus yang sama?" tanyaku dengan bahagia.

"Iyyyesss...!" Jawabnya sambil mengacungkan jempolnya.

"Alhamdulillah..., akhirnya kita bisa bareng-bareng lagi, Dik!"

"Iya, Jadi aku bisa nyontek-nyontek lagi kayak di sekolah dulu, ha ha ha...," Ucapnya asal

"Isssh...! dasar tukang nyontek!" Ucapku sambil tertawa.

Aku memperkenalkan dia kepada Pamanku, dan dia memperkenalkan aku kepada kedua orang tuanya yang kini mengantarnya. Kami ngobrol banyak tentang tempat tinggal dan yang lainnya, dari sana aku tahu bahwa Dikdik akan tinggal bersama saudaranya yang kebetulan mempunyai stand Es Cendol Manohara khas Bandung di dekat kampus. Untuk lebih mudah berhubungan, Aku pun sempat meminta nomor telephon Dikdik yang ku simpan di ponsel Pamanku, karena saat ini aku tidak punya ponsel sama sekali.

Waktu terus berlalu dan kami pun berpisah, aku naik becak bersama Paman dan sahabatku itu naik taksi bersama keluarganya.

Becak yang ku tumpangi terus melaju membawaku dan Paman menyusuri jalanan Kota Yogyakarta di sore yang cerah ini. Ku lihat berbagai ornamen ciri khas kesultanan Yogyakarta di sepanjang jalan yang kami lewati, sampai becak itu melewati sebuah jembatan dan berhenti tepat di pinggir sebuah gapura yang bertuliskan Sayidan.

"Ayo, La! kita sudah sampai," Ucap Pamanku.

Kami pun turun dari becak yang kami tumpangi, Paman memberikan sejumlah uang dan berterimakasih kepada pengemudi becak. Kami berjalan menuju gang kecil di pinggiran kali yang berukuran cukup besar ini. "Sungai apa ini namanya, Paman?" tanyaku disela jalanku yang sedikit kesulitan karena harus menuruni tangga dari jalan raya menuju perkampungan.

"Ini namanya kali code, dan ini kampung Sayidan Kecamatan Gondomanan, ini termasuk pusat kota, mau ke pasar tinggal lurus dari sini, 5 menit juga sampai. Di Sana ada pasar Beringharjo, pasar tradisional terbesar di Yogyakarta, terus ke sananya lagi ada Malioboro, belok ke kiri, ada Alun-alun Utara dan Kauman, disanalah pusat kota Yogyakarta, kapan-kapan Paman ajak kamu main kesana bersama Bibimu dan adik-adikmu," Ucap Pamanku sambil terus berjalan di pinggiran kali code yang terhalang dengan dinding tembok besar yang memisahkan antara kali dengan pemukiman warga.

"Iya Paman," Ucapku sambil tersenyum senang.

Sekitar 5 menit kami berjalan dan sampailah kami di suatu rumah kontrakan sederhana yang mengarah langsung ke arah kali, rumah ini nampak bersih, sepertinya baru saja di sapu pemiliknya.

"Alhamdulillah, sampai, La! ini rumah kontrakan Paman," Ucap Pamanku sambil mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu. "Assalamualaikum," Ucapnya.

"Waalaikum salam," jawab seseorang dari dalam rumah, "Brak!" pintu terbuka, muncullah seorang ibu muda sedang menggendong anaknya yang menangis berusia sekitar 3 tahunan. "Naaaah..., Lihat, Dek! Bapak udah pulang," Ucap Ibu muda itu senang sambil menunjuk kepada Paman agar anaknya yang sedang menangis menoleh kepadanya.

"MasyaAlloh, cantiknya Bapak kenapa?" tanya Paman sambil menjatuhkan tas yang di bawanya, lantas mengulurkan tangan untuk menggendong putrinya. Seketika, anak itu pun berhenti menangis dan memeluk Pamanku.

"Assalamualaikum, Bi!" Ucapku.

Istrinya Pamanku yang baru sadar dengan kehadiranku segera menoleh ke arahku, dia memandangku dari atas sampai bawah dan fokus pada tas besar yang aku bawa. "Waalaikum salam," Ucapnya, keningnya nampak berkerut mengingat-ingat namaku. "Kamu...? Ola kan?" tanyanya kemudian.

Aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya.

"Iya, Bu! Ola dapat panggilan beasiswa kuliah di UNY, dia akan tinggal disini bersama kita," Jelas Pamanku sambil terus memeluk putrinya.

"Tinggal bersama kita?" tanya Bibiku sedikit kaget.

"Iya," jawab Pamanku meyakinkan.

"Tap..., Oh..., Sebentar!" Ucap Bibi sambil menarik tangan Paman masuk ke dalam rumah dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan rumah sendirian.

"Ada apa si, Bu?" kudengar pamanku bertanya.

dan setelah itu aku tidak lagi mendengar ucapan mereka yang sepertinya sedang berdebat sambil berbisik.

Cukup lama aku menunggu, aku pun meletakkan tas besar yang ku bawa di atas bangku panjang yang terletak di depan rumah kontrakan Pamanku. Aku melangkahkan kakiku menuju tangga yang tak jauh dari rumah itu, aku pun menaiki tangga itu dan berdiri di atas tembok besar pembatas kali. Hembusan angin dingin dari arah kali menghembus ke arah tubuhku dan mengibar-ngibarkan kerudung di balik ransel yang masih setia di belakang punggungku. Ku hembuskan nafas dalam-dalam, sambil memikirkan apa yang sebenarnya Paman dan Bibiku bicarakan di dalam.

*****************

Bersambung...

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Duh... Apa yang mereka bicarakan ya, Jangan-jangan...

Terimakasih sudah membaca 🤗

Tetap like, vote dan komentar ya Readers 😊

I LOVE YOU ALL...😗😗😗❤❤❤⚘⚘⚘

By : Rahma Husnul ☘️☘️☘️

1
Rahma Husnul
menarik
@InunAnwar
olla hamidun nich😁
@InunAnwar
aaaa.... mas Azzam,,,, kangen sama kamu mas😅😅
@InunAnwar
waduh kok ikutan grogi😅😅😅😅
@InunAnwar
iya bener itu bunda,,,, saya juga merasakan begitu😁
@InunAnwar
aaaa so sweet 😘😘😘
@InunAnwar
ah Mas Azzam bbrp thn ini sdh menjaga jodohnya Galih😅😅
@InunAnwar
sekarang kepergok ibu😅
@InunAnwar
pasti ini ibunya Galih
@InunAnwar
MasyaAllah, tar ketemu nya Naura n Galih di Tanah Suci kah????,,,, ini yg dinamakan Manusia yg berencana tp Allah SWT lah Yg menentukan....

ya.... siapa jodoh sesungguhnya yg baik utk Naura. jika niat Galih utk memantaskan dirinya, maka disaat sdh pantas Allah pasti mempertemukan mrk ber dua😷
@InunAnwar
jadi bingung mau milih, jd tim Galih atau Azzam 😅😅
@InunAnwar
ah Galih ternyata hadir di acara itu,,,,, huhuhu....
@InunAnwar
haduh ga cuma meleleh, tp bisa sesenggukan 😭😭😭😭
@InunAnwar
ah kannnn... air mata jadi meleleh 😭😭
@InunAnwar
jadi terharu 😂😂
@InunAnwar
nah benerkan itu si "DIA".... 😅😅
@InunAnwar
apakah taufiq ini si "DIA"....... wekaweka 😂😂
@InunAnwar
Galih masih dlm Fase memantaskan diri utk muncul kepermukaan 😅😅
@InunAnwar
ndok????
nduk kali ya thor? , tp ini utk sebutan anak perempuan,
kalau laki² itu kan Le😁
@InunAnwar
haduh serasa naik rollercoaster 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!