Trijaya sakti adalah sebuah organisasi pelindung dunia yang memiliki pendamping tiga dewa utama yaitu dewa Brahma sebagai pencipta,dewa Wishnu sebagai pelindung dan Siwa sebagai penghancur.
Adapun nama anggota organisasinya yaitu Wijaya, Sekar dan Bayu. Mereka adalah keturunan dari raja-ratu tanah Jawa. Sekar merupakan putri dari ratu pantai selatan bersama dengan seorang Shogun hebat dari desa Toyama. Wijaya merupakan putra dari raja Hayam Wuruk yang berkuasa di kerajaan Majapahit bersama dengan seorang selir dari negeri China. Sementara Bayu merupakan putra dari prabu jaya Sena dari Kediri dengan permaisurinya ratu ayu Dyah Pitaloka.
disinilah sang karakter utama adalah Sekar yang akan menegakkan keadilan bersama teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septia Kikuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari segalanya
Ini adalah lima tahun setelah kelahiran mereka, seorang gadis kecil berlari ditaman Akihiro dengan riang gembiranya.
“lihat ibu,ayah sangat indah sekali bunga-bunga itu.” pekik gadis kecil itu, sambil menujukkan sebuah bunga matahari.
“tentu saja, akira. Rupanya kau penyuka bunga ya.” Sahut Harumi, tangannya mengelus surai Panjang sekar dengan lembut.
Ayahnya, hatayaki mitsuhide, suaminya Harumi mitsuhide, memperhatikan akira, anak yang ia temukan di sungai, iwate Bersama Harumi saat perang samurai,okaido terjadi.
Hatayaki Bersama Harumi berlari melwati pepohonan yang tinggi, sampailah di sebuah sungai iwate, sungai itu mengalir sangat deras dan dalam, mereka bbersembunyi di sebuah pepohonan dan beristirahat.
“hatayaki…” panggil suara itu yang rupanya kakaknya, akechi.
Sontak hatayaki yang tertidur dengan Harumi, pada saat itu mereka belum menikah, mengerjap. Matanya langsung terpaku pada sosok memakai pakaian jawa bangsawan yang sangat asing dimatanya. Hatayaki memiliki trauma yang sangat mendalam dimasa lalunya yang membuat dia membenci saudaranya, akechi. Saat itu ia masih sangat kecil.
Akechi perlahan berjalan kearahnya, yang membuat hatayaki mundur, matanya terbelalak ketakutan,tak percaya dan kebencian. Akechi perlahan berjongkok, tangan kanannya menangkup kepala hatayaki bagian belakang dan menempelkan dahi ke dahinya.
“kau tidak perlu takut. Kau berhak tahu.” Ucap akechi dengan penuh kasih sayang.
Diperlihatkannya kejadian yang sebenarnya, hatayaki yang saat itu masih sangat kecil, melihat kedua orang tuanya ditikam saat tidur oleh kakaknya sendiri, traumanya Kembali muncul.
“AKHHHH!!! HENTIKAN!”
“akechi…” rintih ayahnya, itu adalah suara terakhir ayahnya.
Terjadi keheningan pada akechi, air matanya mulai bercucuran keluar, membasahi pipinya. Ia menatap kedua tangannya yang bercucuran penuh darah.
“maafkan aku…demi hatayaki…” ucapnya dengan suara serak dan penuh penyesalan. Ia kemudian bersujud di tepi alas Kasur lipat tersebut, sambil menangis sejadi-jadinya.
Hatayaki hanya terdiam membisu diambang pintu, matanya mengalir air mata yang turun disepanjang pipinya, saat itu ia tidak mengerti dan kebencian hanya menjadi semakin panas.
Dengan keheningan malam dan membaranya udara, seluruh ruang mengalir darah, air merah tersebut mengalir keluar dari tubuh kedua orang tua mereka.
Akechi bangkit dan melompat dalam keheningan malam, ia pergi kekaisaran oda, masuk kedalam ruang pribadinya. Di dalam sesosok pria yang kejam dan berkarismatik duduk, dikursi yang berhiaskan perak, menunggunya.
“aku sudah membunuh mereka, tuan Nobunaga.” Ucap akechi dengan penuh penghormatan yang palsu.
Nobunaga menyeringai puas, “baguslah, kau sudah membunuhnya, mereka pantas mendapatkannya karena sudah beraninya membocorkan informasiku dengan liciknya pada leyasu.”
Akechi hanya terdiam, mendengarkan apa yang penguasa kejam itu katakan. Tetapi, dia perlahan berbivara lagi dan memohon. “tuan Nobunaga, aku tidak membunuh adikku.”
“APA?!! BAGAIMANA KAU TIDAK MEMBUNUHNYA?!”
“maafkan aku, aku hanya ingin adikku mendapatkan kesempatan hidup. Dia tidak terlibat dalam pembocoran informasi itu.”
Nobunaga terdiam, mendengar permohonan prajurit setianya, ia menimbang-nimbang dan berpikir, setelah beberapa menit, akhirnya ia berbicara.
“baiklah, aku akan membiarkan adikmu hidup. Aku juga akan memberikan fasilitas yang layak, seperti anak-anak desa lainnya, karena kau sudah menunjukkan kesetianmu padaku dan rasa hormatmu padaku, aku memberikannya kesempatan hidup dan aku juga akan mengangkatmu sebagai tangan kananku.”
“terimakasih, tuan, sudah memberikan adikku kesempatan, aku berjanji tidak akan mengkhiatimu.”
Gelar itu tidak akan pernah dibanggakan, ini semua yang ia korbankan demi desanya dan adiknya, biarlah ia dibenci adiknya daripada orang-orang desa kelahirannya menderita karena penguasa kejam itu.
Dimalam harinya ia Kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan adiknya, hatayaki sedang meringkuk Bersama jasad kedua orang tuanya, matanya terus melotot hebat karena traumanya. Tidak setelah itu pentagon membentuk bulan sabit dimatanya mulai bersinar di kegelapan malam. Simbol itu milik klannya, mitsuhide, bulan sabit.
Akechi menyeringai, “rupanya kau sudah membangkitkan matamu,” jeda. “aku sangat bangga padamu.”
Dia melompat keluar dari gubuk itu dalam banyangan.
“maafkan aku.. ini demi kebaikanmu.”
Penglihatan itu berakhir, hatayaki pada akhirnya mengerti, tetang kebenarannya, matanya hanya menatap kakaknya, kemudian bercucuran air mata, kebenciannya telah mengalahkan rasa cinta yang dahulu dimiliki kakaknya.
“tidak apa-apa adikku, menangislah, aku telah menunggu ini dan akhirnya kau tahu.” Ucap akechi.
Akechi melanjutkan, “maafkan aku, pada saat itu sedang dalam keadaan genting,nyawamu terancam dan jika aku menjelaskannya kau tidak akan mengerti, maka dari itu aku memilih untuk meninggalkanmu.”
Harumi yang lirih dari tidurnya, tidak menyadari bahwa kekasihnya, bertemu dengan akechi. Ia bangkit Ketika mendengar mereka dan melihat dari kejauhan.
“dia ada disini…”
Akechi yang menyadari harus Kembali ke segoro kidul, ia pelahan mundur. “hatayaki, aku tidak lama lagi, aku akan Kembali ke pantai selatan.” Mendesah “kau sudah menjadi seorang pria yang sangat cakap, aku bangga padamu.” Ucapnya sambil tersenyum lembut.
Ia lalu menunjuk kearah sungai. “disana, anakku di buang dan di hanyutkan, tolong kau rawatlah dengan baik, mereka akan menjadi awal dari manusia.”
Setelah mengatakan itu, sebuah kereta kuda berbentuk ular, milik segoro kidul muncul dari air, akechi berbalik menghadap kereta kuda tersebut, pelahan berjalan dengan anggun dan berwibawa. Ia menaiki dan menatap pengawalnya.
“jalanlah.”
Kuda-kuda itu seketika langsung berlari masuk kedalam peraiaran, menarik kereta beroda dua itu membawanya.
Hatayaki yang terdiam, berusaha memahami kejadian itu. punggungnya bersandar di batang pohon yang besar, kepalanya tertunduk dan terus berpikir, hingga pikiran itu hancur karena Harumi mendekatinya.
“sayang, ada apa? Apa itu tadi kakakmu?”
Hatayaki mendongak. “ya, itu tadi kakakku.” Ia menatap tanah. “dia memperlihatkan kebenaran itu padaku, yang membuatku sadar dan mengubah pola pikirku tentangnya.”
Harumi menjadi penasaran, ia mengerutkan alisnya, “apa yang kau lihat, sayang?”
“aku melihat pembunuhan kedua orang tuaku yang dilakukan oleh kakakku, yang selama ini adalah salah satu trauma terbesarku.” Ia menatap langit malam. “namun yang selama ini aku tidak ketahui, itu adalah untuk melindungiku. Ia terpaksa melakukannya karena perintah dari Nobunaga, raja bengis itu.”
Harumi mengulurkan tangannya ke bahunya dan menenangkannya dengan tulus. “sayangku, janganlah kau diliputi rasa bersalah yang amat mendalam pada masa lalumu.”
Ia menangkup wajah kekasihnya memaksanya untuk menatap matanya, “masa depanmu dan masa depanku saling bertautan. Kita ini satu hati, satu jiwa, satu raga.”
Suaranya penuh tekad, hatayaki perlahan senyuman tersungging di bibirnya, tangannya terangkat dan menepuk-nepuk kepala kekasihnya. “terima kasih, kau sudah ada untukku selalu.” Ucapanya dengan tulus.
Harumi pun langsung menutupi wajahnya yang memerah. “ahahaha… jangan seperti itu aku menjadi malu.” Ia melakukan guling-guling karena salah tingkah. Membuat kekakasihnya tertawa kecil, mengggeleng melihat kelakuan konyol kekasihnya.
Namun, momen kemesraan itu pecah karena suara tangisan bayi, mereka langsung kembali kesemula dengan waspada. Hatayaki yang teringat perkataan akechi menatap Harumi dengan serius. “ayo bantu aku.”
Tanpa aba-aba mereka langsung mendekati aliran sungai dan melihat keranjang kecil yang berisi bayi. Hatayaki mengambil bayi itu. sementara itu Harumi yang tampak sangat terkejut.
“ini adalah bayi milik kakakku. Dia memintaku untuk merawatnya.”
“tunggu…bayi itu miliknya?”
“ya.”
“baiklah kita akan merawatnya Bersama.”
Harumi mengambil bayi itu dari pelukan hatayaki, ia tersenyum dan mengagumi setiap keindahan wajah bayi mungil tersebut. “anakku…”
Dari segoro kidul, nyi blorong mengawasi putri kecilnya, ia tersenyum sedih. “maafkan aku…putri kecilku, aku selalu berdoa pada dewata agar kau tumbuh dengan baik.”
“aku rela dibenci olehmu, asalkan kau terlindungi dan aman dari segala ancaman.”
~akechi mitsuhide~