Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Cetaaaaarrrrr!
Blaaaaarrrrrr!
Kilatan cahaya keperakan membelah langit malam, disusul gemuruh dahsyat yang menggetarkan dada. Langit Indonesia malam itu tampak mencekam, tertutup hamparan awan hitam pekat yang bergulung-gulung. Di tengah amukan badai dan sambaran petir yang saling menyahut, sebuah keheningan tipis mendadak pecah.
Wuuuusssshhhhh!
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki itu terdengar berat dan melemas. Rael menghentikan langkahnya tepat di tengah bidang luas berbahan beton. Ia mendongak, menatap langit yang kian menggelap. Napasnya memburu. Rambutnya acak-acakan, kemeja dan dasinya sudah sedikit berantakan akibat hantaman angin kencang.
Entah bagaimana caranya, Rael akhirnya berhasil sampai di tempat itu. Ia melacak titik keberadaan terakhir sang adik menggunakan sebuah cincin misterius. Kini, ia berdiri tegak di atas atap sebuah mal yang menyatu dengan gedung apartemen megah di kawasan Bandung. Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan waktu sudah larut malam.
I don't even know anymore, Bella! We have lost all hope!
"Entahlah, Bella! Kami sudah kehilangan segala harapan!" teriak Rael ke arah langit, suaranya parau beradu dengan gemuruh guntur.
If you truly are here, then show yourself! Tell your big brother where you are?!
"Jika kau benar-benar ada di sini, tunjukkan dirimu! Katakan pada kakakmu kau ada di mana?!"
Rael mencengkeram rambutnya sendiri. Air mata yang menyatu dengan rintik hujan mulai menyamarkan keputusasaannya.
Let me do it, Bella ... let me be the one to find you! You have never once come to see us all this time!
"Biarkan kakak yang melakukannya, Bella ... biarkan kakak yang menemukanmu! Selama ini kau tak pernah sekalipun datang menemui kami!"
Rasa frustrasi yang sangat besar dan mendalam mendesak dada Rael. Kenyataan pahit selama hidupnya terpeta jelas pada gurat wajah yang teramat lelah. Ia ingin menyerah, tetapi nuraninya menolak. Di hadapan takdir, Rael merasa tidak berdaya.
Satu-satunya cara yang tersisa di kepalanya adalah menemukan keberadaan Arbella. Dengan menggunakan cincin yang sebelumnya ditemukan oleh Vano, Rael menyematkan benda perak itu di jarinya. Ia memejamkan mata, mencoba fokus mengontrol dan merasakan sisa-sisa aura milik adiknya yang samar-samar masih mengalir keluar.
Rael membuka mata lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Such an unfamiliar place. There aren't many tall buildings around.
"Tempat yang begitu asing. Tidak banyak gedung tinggi di sekitar sini."
Namun, sedetik kemudian kedua alisnya bertaut.
But...
"Tapi..." Rael menggantungkan kalimatnya.
Ia mulai mengerutkan kening. Sambil mengangkat dan memutar pergelangan tangan, ia mengarahkan pandangannya lurus-lurus ke cincin milik adiknya. Keraguan mendadak menyusup ke dalam benak. Jangan-jangan, koordinat yang diarahkan oleh cincin ini salah?
No!
"Tidak!" Rael menggeleng kuat-kuat, menepis keraguannya sendiri.
The aura flow I have felt has proven everything!
"Aliran aura yang kurasakan telah membuktikan segalanya!"
Tatapan mata Rael kembali menajam, menembus kegelapan malam kota Bandung.
All I have to do is find you, my little sister. I will definitely find you, no matter where you are!
"Yang harus kulakukan hanyalah menemukanmu, Adikku. Kakak pasti akan menemukanmu, di mana pun kau berada!"
Dengan keyakinan mutlak yang tersisa, Rael menegakkan tubuh. Ia mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga yang terkuras habis akibat melakukan teleportasi tingkat tinggi—sebuah sihir ruang yang memindahkan dirinya langsung dari titik koordinat di dalam pesawat pribadi yang ditumpanginya bersama Matteo, Vano, dan Eren, hingga menembus badai tepat ke titik koordinat di atas gedung ini.
Petir kembali menyambar, menerangi senyum tipis Rael yang siap menantang malam.
...****************...
Hari-hari baru Arien, Alan, dan Arumie berjalan damai tanpa sisa drama. Arien sibuk menawarkan menu pendamping nasi dari toko ke toko di pasar tradisional sebelum pulang memasak untuk keluarga. Sementara itu, Alan dengan usil mencairkan suasana kerja lewat gurauan konyol pada rekannya saat meminta izin pulang lebih awal.
Hari-hari selanjutnya berjalan dalam damai dan ketenteraman bagi Arien, Alan, serta Arumie. Segala salah paham, silang pendapat, dan drama panjang yang sempat menguras hati serta pikiran, kini lenyap seolah ditiup angin lalu.
Arien menjalani rutinitas hariannya dengan penuh ketekunan. Ia menawarkan beraneka ragam menu pendamping nasi ke setiap toko di pasar tradisional yang dilaluinya. Selepas itu, ia pulang ke rumah untuk meracik hidangan makan malam hangat bagi suami dan buah hati tercinta.
Sementara di tempat kerja, jarum jam baru menunjukkan pukul 18.00 sore ketika Alan melangkah menghampiri atasannya. Tanpa prosedur berbelit, ia berniat meminta izin untuk pulang lebih awal. Padahal, jam kerja masih berlangsung dan rekan-rekan setimnya tampak masih sibuk di pos masing-masing. Di luar dugaan, sang bos langsung mengiyakan permintaan itu tanpa omelan atau nada sinis seperti kebiasaan sehari-harinya.
Ko, abi mulang heula ayeuna,
"Ko, saya izin pulang dulu sekarang," kata Alan seraya mengambil baju ganti dan melangkah mendekati bosnya.
Ah! Alan, mulang wen bisi ek mulang mah! Pagawean mah, antepkeun wen ku nu sejen!
"Ah! Alan, pulang saja kalau mau pulang! Pekerjaan itu, biarkan saja yang lain kerjakan!" balas sang bos santai.
Sontak, rekan-rekan sekerjanya terkesiap mendengar kemudahan yang didapat Alan. Berdasarkan pengalaman mereka, tidak seorang pun pernah diizinkan pulang tanpa alasan yang benar-benar mendesak. Melanggar aturan itu biasanya berujung pada pemecatan.
Nu Gelo!
"Sakit jiwa!" umpatan salah satu rekan kerjanya dengan nada geram.
Milih-milih pisan jelema teh!
"Dia pilih-pilih orang!"
Ia masih melanjutkan kekesalannya,
Kamari wen urang nu menta ijin balik ti heula, teu diijinan! Naha giliran si Alan nu menta, weuh babibu na padu nya wen?
"Kemarin saja waktu aku yang minta izin, sama sekali gak dapet izin! Kenapa giliran si Alan yang minta, tanpa babibu langsung disetujui begitu saja?"
Tanpa sengaja, Alan melintas di hadapan mereka dan mendengar gerutuan penuh dengki itu. Sambil merapikan barang-barang ke dalam tas kerjanya, ia terkekeh mengejek.
Sabener na mah teu langsung diijinan urang ge. Ngan pedah, urang ngomong ka maneh na urang tas pasea jeung pamajikan, ayeuna keur hayang diusapan,
"Sebenarnya aku juga tidak langsung diizinkan pada mulanya. Hanya saja, aku bilang padanya kalau aku baru saja bertengkar hebat dengan istriku dan sekarang sedang ingin dimanja," ujar Alan meledek, lantas bersiap mengenakan sepatu dan kaus kakinya satu per satu.
Alan yang sudah rapi dengan sepatu di kedua kakinya, tiba-tiba berhenti sejenak. Ia menoleh dan berkata kepada rekannya yang masih menatapnya dengan penasaran.
Hei, hoyong terang kumaha carana supaya gampang menta wangsul ka bos waktu jam lembur?
"Hei, mau tahu tips agar gampang minta izin pulang ke bos saat jam lembur?" bisiknya misterius.
Rekan kerjanya refleks mendekatkan telinga, tergiur oleh rahasia yang tampak ampuh itu.
Naon sok? Sok Ngomong!
"Apa itu? Cepat katakan!" tanyanya penasaran.
Dengan seringai usil, Alan membisikkan kalimat pamungkas,
Jug sampeur keun ku maneh ayeuna! Terus gorowok keun dina cepilna 'Nu Edaaaaan!' yakin da, maneh langsung dititah balik!
"sana samperin sama kamu sekarang! Lalu teriak dengan suara keras lewat telinga: 'Orang Gilaaaaa!' Aku yakin, kamu pasti langsung disuruh pulang!"
Selepas melontarkan candaan itu, Alan melesat berlari, meninggalkan tawa terbahak-bahak yang kian menjauh dari pandangan rekan-rekannya.
Rekan kerjanya yang tersadar hanya bisa mengelus dada.
Nu burung! Hanas di dengekeun! Heueuh balik, balik na teu bisa balik deui ka dieu! langsung kaluar!
"Orang gila! Udah serius di dengerin! Iya pulang, memang pulang, tapi gak bisa kembali lagi ke sini! langsung dipecat!"
^^^Bersambung...^^^