Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 : PERTEMUAN HANDI DAN RIAN

...BAB 21...

...PERTEMUAN HANDI DAN RIAN...

Pagi itu, suasana kantor cabang PT Mahardika Group tampak lebih sibuk daripada biasanya.

Sejak pukul sembilan, para karyawan sudah berkumpul di ruang kerja masing-masing. Beberapa sibuk memeriksa laporan, sementara yang lain terlihat mondar-mandir membawa berkas.

Kabar bahwa direktur utama perusahaan akan melakukan kunjungan mendadak membuat semua orang bekerja lebih serius.

Handi, yang menjabat sebagai staf administrasi operasional, duduk di depan komputernya sambil memeriksa sejumlah dokumen pengiriman barang.

“Handi, laporan stok bulan ini sudah selesai?” tanya atasannya, Pak Surya, dari balik meja.

“Sebentar lagi, Pak. Tinggal saya cocokkan dengan data gudang.”

“Bagus. Nanti kalau Pak Rian datang, semua berkas harus sudah siap. Beliau ingin melihat laporan operasional cabang secara langsung.”

Handi mengangguk. “Baik, Pak.”

Nama Rian sebenarnya bukan nama asing baginya. Ia tahu perusahaan tempatnya bekerja dipimpin oleh seorang direktur utama bernama Rian Mahardika. Namun, selama ini Handi hanya mengenal nama itu dari pengumuman perusahaan, surat edaran, dan beberapa foto yang sesekali terpampang di ruang rapat.

Ia sendiri bekerja di cabang yang cukup jauh dari kantor pusat. Pertemuan langsung dengan petinggi perusahaan hampir tidak pernah terjadi.

Karena itulah, Handi tidak terlalu memikirkan kedatangan sang direktur utama.

Sampai sekitar pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, seorang staf bergegas masuk ke ruangan.

“Pak Surya, rombongan Pak Rian sudah tiba!”

Pak Surya segera berdiri. “Baik. Semua tetap tenang dan siapkan dokumen yang diperlukan.”

Handi ikut bangkit. Ia merapikan kemejanya, lalu kembali memeriksa berkas di atas meja.

Tak lama kemudian, beberapa orang memasuki area administrasi.

Di antara mereka, seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja putih dan jas gelap berjalan paling depan. Langkahnya tenang, wajahnya serius, dan tatapannya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Pak Surya.

“Selamat pagi, Pak Rian,” sapa Pak Surya sopan.

“Pagi. Kita langsung saja ke laporan operasional. Saya tidak ingin mengganggu pekerjaan kalian terlalu lama.”

“Baik, Pak. Silakan.”

Handi yang berdiri agak jauh mendongak.

Begitu melihat wajah pria itu, tubuhnya seketika menegang.

Rian? Matanya menyipit. Pria itu… Bukankah dia lelaki yang kulihat bersama Wulan di taman hiburan waktu itu?

Ingatan Handi langsung melompat pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu, ia sedang berada di taman hiburan bersama Sinta. Tanpa sengaja, ia melihat Wulan bersama kedua anaknya.

Dan di sana ada seorang pria yang makan bersama mantan istri dan anak-anaknya di rumah makan.

Pria yang terlihat akrab dengan Delon dan Astrid.

Pria yang bahkan sempat membuat Handi bertanya-tanya tentang kehidupan baru mantan istrinya.

Handi menelan ludah. Jadi, dia orangnya? Pantas saja selama ini aku seperti pernah melihatnya.

Ia baru menyadari bahwa pria yang pernah dilihatnya itu ternyata direktur utama perusahaan tempatnya bekerja.

“Handi.” Suara Pak Surya membuatnya tersentak.

“Iya, Pak?”

“Berkas pengiriman bulan lalu. Tolong bawa ke ruang rapat.”

“Baik.”

Handi mengambil map tebal dari mejanya. Ia berusaha menenangkan diri sebelum berjalan mengikuti Pak Surya.

Di ruang rapat, Rian duduk di salah satu kursi utama. Ia sedang memeriksa laporan keuangan cabang bersama beberapa kepala bagian.

Ketika Handi meletakkan map di atas meja, Rian mengangkat pandangan.

“Ini laporan pengiriman bulan lalu, Pak,” ujar Handi.

“Terima kasih.” Rian membuka map itu dan memeriksa beberapa halaman.

“Bagian ini ada selisih jumlah barang dengan catatan gudang.” Jarinya menunjuk salah satu kolom. “Siapa yang bertanggung jawab atas pencatatan ini?”

Handi segera menjawab, “Saya yang menyusun rekap administrasinya, Pak. Tapi data awal berasal dari gudang.”

“Sudah dikonfirmasi?”

“Belum semuanya, Pak. Ada beberapa dokumen yang masih menunggu tanda tangan.”

Rian menutup map itu sebentar. “Kalau begitu, jangan dulu disimpulkan sebagai selisih final. Cocokkan lagi dengan catatan gudang. Saya ingin laporan yang benar, bukan laporan yang sekadar selesai tepat waktu.”

“Baik, Pak. Saya akan periksa kembali.” Rian mengangguk singkat.

“Silakan.”

Handi mundur beberapa langkah. Namun, sebelum keluar, ia sempat melirik Rian sekali lagi.

Tidak salah lagi. Pria itu memang orang yang dilihatnya di taman hiburan.

Dan yang membuat Handi semakin gelisah, ia mulai memahami sesuatu.

Wulan ternyata tinggal di lingkungan orang kaya. Ia bahkan terlihat dekat dengan seorang direktur utama perusahaan besar.

Apa hubungan mereka sebenarnya Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

*****

Sementara itu, di rumah Rian, suasana sore terasa jauh lebih tenang.

Wulan baru saja selesai merapikan ruang keluarga ketika Delon datang membawa buku tulis dan sebuah lembar soal matematika.

“Mama…”

Wulan menoleh. “Iya, Sayang?”

Delon berdiri di dekat sofa dengan wajah kusut. “Delon nggak ngerti soal ini.”

Wulan menerima buku yang disodorkan putranya. “Coba Mama lihat.”

Ia membaca soal tersebut beberapa saat. Wulan sebenarnya memahami cara mengerjakannya, tetapi ia harus menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Di dapur masih ada beberapa hal yang perlu dibereskan, sementara Astrid sedang bermain bersama Rana.

“Sebentar, ya, Nak. Mama bereskan dapur dulu. Nanti kita kerjakan sama-sama.”

Delon mengangguk, meskipun wajahnya masih terlihat murung. Ia lalu duduk di sofa dan menatap soal matematika itu lagi.

Beberapa menit kemudian, Rian pulang.

“Papa!” Rana yang sedang bermain langsung berlari menyambutnya.

Rian membungkuk dan mengangkat putrinya. “Wah, ada yang kangen sama Papa, nih.”

“Kangen!” celoteh Rana.

Rian tertawa kecil, lalu mencium pipi Rana.

Setelah meletakkan tasnya di meja, ia melihat Delon duduk sendirian dengan buku terbuka di pangkuan.

“Kenapa, Delon? Kok mukanya seperti habis kehilangan uang jajan?” candanya.

Delon mendongak. “Enggak, Om.” ucap Delon yang kembali canggung, dia teringat pesan Ranti padanya untuk tidak memanggil Rian dengan sebutan Papa lagi.

Rian duduk di sampingnya. “Terus kenapa?”

“Ini ada PR matematika yang nggak Delon ngerti Om.”

“Oh.” Rian melirik buku itu. “Bagian mana yang susah?”

Delon menunjuk soal yang sejak tadi membuatnya bingung.

“Yang ini. Delon sudah coba, tapi jawabannya selalu salah.”

Rian mengambil buku tersebut. “Coba Papa lihat.”

Delon sempat terdiam mendengar panggilan itu. Namun, ia tidak membantah. Belakangan, panggilan Papa dari Rian sudah terasa akrab di telinganya, meskipun jauh di dalam hati ia tahu Rian bukan ayah kandungnya.

Rian membaca soal itu. “Hmm… ini sebenarnya gampang kalau kita pecah jadi beberapa langkah.”

Ia mengambil pensil, lalu mulai menuliskan cara penyelesaian di buku Delon. “Misalnya, kalau ada dua puluh empat kue yang dibagi sama rata kepada empat anak, masing-masing dapat berapa?”

“Enam,” jawab Delon cepat.

“Nah, betul. Sekarang kalau jumlahnya tiga puluh enam dan dibagi enam?”

“Enam juga!”

“Pintar. Berarti kamu sebenarnya sudah paham pembagiannya. Tinggal teliti membaca soalnya.”

Rian menjelaskan dengan sabar. Ia tidak langsung memberikan jawaban, melainkan membimbing Delon memahami langkah demi langkah.

Setiap kali Delon berhasil menjawab, Rian memberikan pujian kecil.

“Bagus. Sekarang coba kerjakan yang ini sendiri.”

Delon menggigit ujung pensilnya, lalu mulai menghitung. Rian menunggu tanpa mendesak.

Beberapa saat kemudian, Delon mengangkat wajah. “Jawabannya dua belas, Pah?”

Rian memeriksa hitungannya. “Betul.”

Wajah Delon langsung berbinar. “Yeay!” Ia spontan memeluk lengan Rian.

Rian sedikit terkejut, tetapi kemudian tersenyum dan mengusap rambut anak itu.

“Hebat. Ternyata Delon bisa kalau nggak buru-buru panik.”

Delon tertawa kecil.

Dari arah dapur, Wulan yang baru selesai membereskan meja sempat berhenti melihat mereka.

Ada sesuatu yang menghangatkan hatinya ketika melihat putranya tertawa lepas seperti itu. Delon jarang mendapatkan perhatian semacam ini dari Handi.

Dulu, ketika Delon meminta bantuan mengerjakan tugas sekolah, ayah kandungnya hampir selalu mengabaikan.

Kadang Handi hanya menyuruhnya diam. Kadang ia malah marah karena merasa terganggu.

Wulan masih ingat bagaimana Delon pernah duduk di sudut kamar, berusaha menyelesaikan tugasnya sendirian sambil menahan tangis karena takut dimarahi.

Kini, anak itu terlihat begitu bahagia hanya karena seseorang bersedia duduk di sampingnya dan mengajarinya matematika.

Wulan menghela napas pelan. Ia senang melihat Delon bahagia, tetapi ada bagian dalam dirinya yang tetap merasa khawatir.

Jangan sampai anak itu terlalu berharap. Rian bukan ayah kandungnya.

Dan Wulan tidak ingin suatu hari nanti Delon kembali terluka.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!