Seorang gadis yang hidup dalam keluarga yang hangat, tiba-tiba di benci oleh anggota keluarganya akibat hal yang tidak pernah dia lakukan.
Ibunya meninggal dan membuat Ayahnya sangat membenci sang Gadis, hingga menjadikan sang Gadis memutuskan untuk bisa mengungkapkan kebenaran kematian sang Ibunya.
dapatkah sang Gadis mengungkap kebenaranya?
bisakah sang ayah kembali menyayangi sang Gadis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Dewa mengabari Stella bahwa dia akan menikah dengan Aulia tahun depan lebih tepatnya 3 bulan lagi, karena Aulia sudah memaksa Dewa untuk memberitahu Stella lebih awal agar dia bisa pulang.
ON CALL
"hai baby girl apa kabar? lama tidak memberikan kabar pada ku,"
"iya kak maaf, aku tidak sempat mengabari kalian kabarku baik-baik saja, begitu juga dengan Bara,"
"Bara? siapa dia?apa boyfriend mu girl?"
"enak aja kakak kalau bicara sembarangan, dia anak dari orang kepercayaan ayah,"
"oh, apa mereka tinggal bersama mu?"
"bukan mereka, tetapi hanya Bara saja, nanti saja kak saat aku kembali akan aku ceritakan semuanya,"
"ya baiklah, aku cuma ingin memberitahumu kalau aku dan Aulia akan menikah 3 bulan lagi, kamu ingat janjimu 3 tahun yang lalu pada Aulia bukan?"
"iya kak tenang saja aku ingat, aku akan pulang satu bulan sebelum acara,a ku masih menunggu Bara menyelesaikan pendidikannya,"
"yasudah kalau kamu masih ingat janjimu dengan Aulia, ingat jangan sampai tidak pulang! kalau tidak bisa-bisa aku tidak diberi jatah malam pertama oleh Aulia,"
"iya, Kakak tenang saja,"
CALL AND
"Bara kapan kelulusanmu?" tanya Stella menghampiri Bara yang tengah berada di depan komputernya.
"mungkin 1 setengah bulan lagi kak, memangnya ada apa?"
"kita akan kembali setelah kelulusan mu, dan apa kau sudah memikirkan jurusan kuliah mu nanti?"
"ia kak aku ingin mengambil jurusan Teknik informatika saja,"
"baiklah belajar lah yang rajin, jangan mengecewakan mereka yang menyayangimu, kamu harus bisa membanggakan mereka," ujar Stella menunjuk bingkai foto yang ada di meja Bara.
"iya kak,"
"oke kalau nanti kamu sudah jadi sarjana bekerjalah di perusahaan Kakak, Kakak butuh bantuan dari seseorang sepertimu,"
"kakak tidak perlu meminta, aku akan senang jika Kakak memperbolehkan aku bekerja di perusahaan Kakak yang terkenal itu nantinya,"
"ya baiklah, lanjutkan tugasmu.Kaka ingin memesan makanan kau mau makan apa?"
"pesan makanan?"
"iya aku sedang malas memasak jadi kamu mau ku pesankan apa?"
"seafood saja kak,"
"malam-malam begini kamu ingin seafood?"
"memangnya kenapa kak?"
"tidak apa, aku hanya kaget saja kamu bisa tau apa yang sedang ingin Kakak makan.Baiklah kita akan makan seafood untuk malam ini,"
makanan yang di pesan oleh Stella sudah datang, mereka kemudian menyantap makan malam mereka bersama.
"kak apa aku boleh bertanya?" ditengah makannya.
"apa?" masih serius dengan makannya.
"apa Kakak tau siap pembunuh orang tua ku kak?" serius.
"kehm," mengambil air minumnya "belum saatnya kamu tau, Kakak ingin kamu fokus pada pendidikan mu terlebih dahulu Bara, jika sudah saatnya Kakak janji akan memberitahukan semuanya padamu mm," kembali memakan makanannya.
"baiklah kak aku akan menunggu waktu itu tiba,"
"jika kau ingin balas dendam, lebih baik kamu urungkan niat mu Bara, kakak sejujurnya tidak setuju dengan hal itu, biar masalah ini kakak yang akan mengurus mereka,"
"iya kak,"
sebenarnya Bara sangat memendam dendam yang sangat dalam pada pembunuh orang tua nya, namun dia tidak ingin Stella mengetahui dendamnya, Bara tidak ingin Stella kecewa padanya, bagaimana pun Bara sudah menganggap Stella seperti Kakak kandungnya sendiri, dia bersyukur karna memiliki Stella saat ini.
"kalau sudah selesai tolong bantu Kakak cuci piringnya,"
"iya kak siap," Bara tidak pernah manja pada Stella, dia selalu membantu Stella mengemas rumah saat dia ada waktu luang, walau mungkin bagi orang lain itu adalah pekerjaan perempuan, namu Bara tidak enggan untuk melakukan tugas rumah.
bahkan jika Stella pulang larut dia akan membantu menyiapkan makan malam untuk Stella, yah walau dia tidak bisa masak banyak, hanya nasi goreng kimchi, sandwich,atau Gimbab saja, itupun karna selalu di ajari oleh Stella cara membuatnya, namun dia lebih jago untuk memasak berbagai jenis dari kalangan ramyon dan sejenisnya.
\=\=\=\=
Bara semakin giat belajar, karena akan menghadapi ujian kelulusan. Dia tidak lagi bermain keluar bersama teman-teman nya seperti biasanya. Stella yang sepanjang hari memperhatikan Bara merasa bangga karena tanpa harus menyuruh Bara belajar, anak itu sudah belajar dengan sendirinya, dia yang semakin giat belajar sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
"serius amat belajarnya," mengacak rambut Bara.
"Kaka kapan pulang?" masih fokus pada layar monitor nya.
"tadi belum lama, kamu di apartemen terus Kaka perhatikan akhir-akhir ini?"
"iya kak aku lagi persiapan untuk ujian kelulusan ku,"
"aku rasa kamu sudah jadi seperti perempuan, kerjaannya di rumah terus," gida Stella.
"enggak lah kak, aku ingin mendapat nilai terbaik jadi aku harus giat belajar nya,"
"yasudah jangan terlalu memforsir otakmu nanti bisa-bisa korslet loh," ejeknya
"kakak ini kalau ngomong suka ngasal," cemberut.
"iya, maafin Kakak, ayo kita jalan-jalan keluar, kakak sedang ingin makan di luar."
"iya ayo jalan," berjalan malas.
"yang semangat dong kan kita mau pergi makan,"
"iya Kakak cantik,"
"nah gitu dong," mencubit hidung Bara.
"Kak! Jangan perlakukan aku seperti adik perempuan mu, aku ini laki laki kak!" protes Bara yang merasa selalu di manja Stella layaknya adik perempuan.
"iya, iya dek, kakak gak bakalan perlakukan kamu kayak adik perempuan di luar sana, tapi kalau di rumah boleh kan?" memainkan alisnya naik turun untuk mengoda Bara.
Bara hanya diam, dia berjalan disamping Stella dengan gaya cool nya, wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang lebih tinggi dari Stella, membuat siapa saja akan salah paham dengan hubungan mereka, bahkan pernah teman sekolahnya Bara mengatakan kalau Stella itu adalah kekasihnya.
"mau cari makan apa kak?"
"kakak lagi pengen makanan di toserba dek,"
"bukannya stok di rumah masih ada ya?"
"itu hanya mie instan dek, Kaka ingin makan yang ada di toserba itu," menarik tangan Bara memasuki sebuah toserba Yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Stella mengambil semua makanan yang dia inginkan dan menyuruh Bara untuk membawa keranjangnya.
"kamu mau apa dek? eh ini merek ramyon terbaru dek sebaiknya kita beli ini juga,"
"horang kaya kok makannya ramyon Mulu," ujar Bara yang kesal karena sedari tadi membawa keranjang belanjaan.
"tidak ada peraturannya horang kaya harus makan makanan mahal dan tidak boleh makan ramyon," timpal Stella mengikuti gaya bicara Bara.
"iya kak bercanda," mengalah pada Stella.
"kita makan di sini aja yah,"
"hah gak kak malu ada banyak siswi-siswi sekolah disini aku tidak mau,"
"heh memangnya mereka akan memarahi dirimu jika kamu makan disini?"
"bukan begitu kak, aura ketampananku ini akan mengundang mereka untuk bersua foto denganku,"
"huh pede sekali dirimu," menjitak kepala Bara.
Bara mengaduh sakit namun dia hanya bisa mengikuti keinginan kakaknya itu, saat mereka akan makan benar saja ada beberapa siswi yang mengenali Bara, mereka adalah teman sekolahnya.
memang disekolah Bara adalah seorang idola, di samping wajahnya yang tampan dia jago bermain basket, dance, bermain musik, bahkan nilainya selalu bagus.
"wah beneran dong omongan nih anak, aku pikir dia hanya bercanda saja," batin Stella ingin menjerit.Adik laki-lakinya itu tengah sibuk dengan para siswi-siswi yang mengagumi dirinya.Untung saja dia masih bisa makan yah walau dia merasa kurang nyaman karna ulah para remaja itu, namun di lain sisi Stella merasa kasihan adiknya itu belum jadi makan sedari tadi.
Di jalan pulang bara hanya diam saja tampa berbicara.
"kenapa kamu diam saja dari tadi?"
"ini semua karena kakak yang tidak mempercayai ucapan ku untuk makan di rumah saja, hasilnya kakak kenyang karena puas makan, aku yang lemas karena tak bisa memasukan satu makananpun ke dalam mulutku," ucapnya ketus.
"hehe, ya maaf kakak pikir kamu hanya bercanda, sebagai permintaan maaf kakak hari ini, kakak akan membelika apapun yang kamu inginkan," ucap Stella.
tanpa menjawab Bara berjalan lebih cepat meninggalkan Stella yang kalah cepat dengan langkah kaki lebar milik Bara.
"Bara tungguin kakak," Stella akhirnya berlari untuk mengejar adiknya itu.
maaf atas ketidak nyamanannya saat membaca.
segera akan di perbaiki dalam penulisannya